What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag esaikohar
Sekitar Aktivitas Kreativitas Tulis Menulis Di Luar Garis (9)
Oleh: A. Kohar Ibrahim
*
Selagi kita asyik bercakap adakah kaudengar angin bersiur suara yang lama senyap semalam kembali menegur
(Suprijadi Tomodihardjo)
*
Datang ketika memancar benih-benih lembut, manis dan indah kami tempuh seluruh jalan benua kita jiwa telah menyatu sampai saat bertemu
(Ruth Havelaar)
*
Pandanglah musim cinta dan tabahnya Kini mekar di sungei dan ladangladang Cahaya yang menembus kabut dari balik hujan semesta
(Sitor Situmorang)
*
JUDUL catatan memoar STM Ke-9 kali ini sedemikian rupa saya rangkai, semata-mata selain untuk lebih menggaris-bawahi pentingnya makna hasil upaya penerbitan itu sendiri, juga keistimewaan isi majalah Kreasi N° 2 1989. Meskipun tebalnya hanya 72 halaman saja; alhasil hanya 20 halaman lebih dari Kreasi nomor perdana. Namun simbola dan metamorfora kreasi prosa maupun puisinya benar-benar merupakan suara pertanda eksistensi lagu merdu kemanusiaan yang luarbiasa. "Suara yang kembali bersiur dari anak dua benua bersimbah cahaya yang menembus kabut dari balik hujan semesta".
Iya. Seperti halnya Kreasi nomor perdana, Kreasi nomor dua pun adalah bukti yang merupakan pertanda nyata akan eksistensi pekerja seni, sastrawan dan sastrawati seperti HR Bandaharo, Sitor Situmorang, Suprijadi Tomodihardjo, Emha, Putu Oka Sukanta, Aziz Akbar, Alan Hogeland, PH Muid, I. Patriani dan Ruth Havelaar. Merupakan pertanda yang menggemakan suara aktivitas-kreativitas para penulis yang berada di luar garis politik hegemonis penguasa fasis Orde Baru. Gema yang menerbit-siarkan harapan terbaik hari depan.
Betapa tidak? "Dalam waktu relatip singkat usaha sederhana kita untuk menyambut, menghargai dan menyebarluaskan kreasi telah mencapai dan memperoleh sejumlah sambutan publik," tulis saya pada halaman 2 (Sekedar Pengantar) selaku Penyaji. Sambutan itu datang dari dalam maupun luar negeri. Dari yang awam sampai berbagai cendekiawan dan pekerja kebudayaan. Telah pula menambah kegairahan para pencipta. Terbukti dengan datangnya sejumlah kreasi prosa dan puisi.
Kenyataan ini membuktikan kekuatan pengertian kita akan ucapan Pramoedya "menjadi pengarang itu mengerikan" bukanlah untuk menakut-nakuti melainkan mesti berani. Kerna, memiliki keberanian betapapun kadarnya adalah mutlak bagi seorang pengarang atau seniman. Berani berkreasi dan berani menghadapi berbagai reaksi serta konsekwensi. Dalam skala nasional kita telah dan sedang merasakan pahit-manisnya hal ini: dengan Pram sebagai contoh kasus eks-tapol dan Resobowo, Suprijadi dan lainnya sebagai bukti kasus eksilan. Dalam skala internasional, dalam sejarah bukti-bukti tak terbilang banyaknya, sedangkan yang aktual adalah kasus Salman Rusdi.
Sungguh, memiliki keberanian itu perlu. Juga benar keberanian tiap orang itu tidak seragam. Ketegaran Pram dalam hal ini tak bisa disangsikan. Memang bisa saja, dalam memihak atau mengaguminya orang penasaran terhadap mereka yang dalam aktivitas dan kreativitasnya tidak seperti Pram. Lantas dengan kejujuran atau pura-pura melontarkan pertanyaan naif, pikun atau sebagai teguran. Hanya saja lontaran pertanyaan itu tidak selalu mendapat sambutan yang diharapkan. Malah bisa balik serupa -- seperti bumerang!
Kenyataannya memang tafsiran orang atas suatu kreasi itu tidaklah seragam. Bukan bagi yang awam saja, bahkan bagi para kreator sendiri demikian. Seperti yang diketengahkan oleh salah seorang ahli bahasa dan sastra sekaligus penulis Alan.
"Dalam hal penyampaian opini -- khususnya kritik seni dan sastra," lanjut saya menegaskan: "kita memelihara tradisi yang baik, yaitu konsepsi kerakyatan, sikap adil, mencari kebenaran dari kenyataan dengan mengemukakan argumentasi meyakinkan. Hal ini harus dianggap mutlak perlu bagi kehidupan dan kemajuan budaya." Pasalnya justeru: "Aktivitas kita secara umum dan yang secara khusus kreativitas seni itu tak lain dari usaha untuk kehidupan dan kemajuan budaya. Kiranya dalam prosa maupun puisi Kreasi nomor dua ini para pembaca dapat merasakan percikan semangat kita itu." (hlm 3)
*
Suara Seorang Anak Semang Suprijadi
PADA halaman-halaman yang memuat rubrik "Catatan & Berita Budaya" (hlm 4-12) yang saya susun, tersunting perihal Suprijadi Tomodihardjo dan hasil kreasinya. Selanjutnya perihal pelukis Basuki Resobowo; perihal Inside Indonesia dan juga perihal kasus Jdanov & Glasnost. Disusul karya opini Alan Hogeland berupa esai berjudul: Bombas? Saya Kira "Tidak!" . Serangkai nama yang tak urung merupakan pelengkap melengkapi rangkaian seniman dan sastrawan yang layak menghias bukan hanya mengisi halaman Kreasi nomor dua ini, melainkan juga layak menghias lembaran sejarah kebudayaan Indonesia yang utuh menyeluruh.
"Di awal tahun 1989 sampai ketangan kita sebuah buku cetakan sederhana berjudul Suara Seorang Anak Semang Suprijadi," tulis saya. Sebuah buku dengan cara penyajian rangkuman prosa dan puisi. Kongkritnya berupa kumpulan sajak dan kumpulan cerita pendek. Suatu cara yang baik bagi pembaca sastra yang luas -- terutama bagi mereka yang belum memiliki kebiasaan menikmati puisi.
Buku yang tebalnya 78 halaman ini terdiri dari 24 sajak dan 7 cerpen. Suatu sajian yang menyegarkan hati dan pikiran. Karena Suprijadi memang bukan pendatang baru di arena kesusastraan Indonesia, terutama bagi arek Suroboyo. Sekalipun dengan ini baru kita dapati 2 buku kreasinya. Yang pertama adalah kusajak "Ilalang" (1987). Yang kedua inipun -- Suara Seorang Anak Semang -- kita sambut kehadirannya dengan gembira selaras dengan semangat "seratus bunga mekar bersama".
Tak diragukan lagi, bahwa buku-buku Suprijadi merupakan pembuktian jejak-langkahnya selaku penulis. Salah seorang seniman yang akibat berlangsungnya tragedi yang disutradarai oleh klik militer fasis Indonesia pada awal Oktober 1965 dan selanjutnya, terpaksa menjadi seorang eksilan!
Selanjutnya, saya tegas-jelaskan, bahwa sejak tahun 60-an Suprijadi memang telah menonjol. Salah satu dari aktivitasnya selaku manusia budaya yang tak terlupakan ialah tatkala dengan lantang dia memproklamasikan pemihakannya ke barisan seniman rakyat di depan Sidang Lembaga Sastra Indonesia pada tahun 1963 di Surabaya. Hal mana dibuktikan pula pernyataan tersebut dalam kreativitas seninya. Sekalipun untuk beberapa lama dia tak nonjol lagi, tapi kreasi mutakhirnya ini telah meyakinkan kita bahwa dia adalah salah seorang seniman yang konsisten. Salah seorang sastrawan yang memihak rakyat dan yang memiliki daya pengamat yang cermat. Itulah sebabnya dia mampu menggugah hati dan pikiran kita.
Pada baris akhir catatan tersebut saya utarakan: "Maka kita juga mengharapkan sumbangannya pada khasanah budaya Indonesia tidak mesti berhenti di sini." Suatu percikan asa yang tak sia-sia adanya. Jika diingat, sejak itu, selama dua dasawarsa ini, Suprijadi Tomodihardjo senantiasa setia mempertandakan eksistensinya sebagai penulis. Yang berbakat.
*
Pelukis Resobowo Penulis
MAU berprilaku seperti burung unta? Tanya saya mengawali catatan (hlm 6-7) mengenai pelukis Resobowo yang dalam perkembangannya pada masa tertentu mempertandakan diri sebagai penulis. Sebagai kesan dari observasi betapa reaksi atas fenomena seorang seniman senior Indonesia yang terpaksa jadi perantau berkepanjangan di mancanegara. Sebagai salah seorang dari sekian banyak yang beritikad untuk mengekspresikan diri dengan tulisan seperti yang dicanangkan oleh esayis Byasa (Kreasi Perdana). Dan reaksi atas aktivitas-kreativitasnya yang ragam macam -- ada yang adem ayem ada pula yang memberi sambutan dengan rasa gembira dan hangat. Maka tanya sekaligus jawab saya: "Mau berprilaku seperti burung unta?" Ah, boleh saja. Tapi itu sia-sia saja. Lebih baik kita mencatat beberapa hal dalam lembaran pengertian kita. Bahwa seorang pelukis betapapun produktipnya tapi tidak melakukan pameran, pastilah beberapa gelintir orang saja dapat menyaksikan kreasinya. Tapi seorang penulis itu relatip lebih mudah untuk menyebar-luaskan karya tulisnya. Apalagi jika ia bukan hanya menulis tapi juga menerbitkannya sekaligus -- betapapun sederhana cara maupun oplahnya -- maka kreasinya pastilah lebih banyak sampai ke tangan orang. Beredar. Dan inilah memang tujuan utamanya. Lahir, beredar, berkomunikasi. Sebagai aksi dari penciptanya karya itu telah beraksi. Maka sewajarnyalah timbul reaksi -- berupa sambutan yang pasti tidak seragam. Untaian dan hukum dari pada aktivitas-kreativitas ini berlaku bagi siapa saja. Termasuk juga bagi penulis pendatang baru seperti B. Resobowo, yang amplop besar berisi karya tulisnya baru datang ke meja kita di awal tahun ini.
Tak keliru. B. Resobowo penulis itu B-nya adalah Basuki. Ki yang dilahirkan di atas kuburan di bawah sinar rembulan. Terkenal sebagai salah seorang pelukis senior Indonesia. Tapi yang hampir seperempat abad ini tidak muncul lagi di arena senirupa. Beda dengan pelukis-pelukis senior Indonesia lainnya yang seangkatan maupun yang dikenalnya secara baik sejak masa muda seperti "Djon" Sudjojono, Affandi, Trisno Sumardjo, Usman Effendi, Zaini, Rusli, Agus Djaya, Rustamadji, Sudarso dan seterusnya. Yang membedakannya terutama bukan lantaran kreativitas seninya, melainkan aktivitasnya sebagai insan politik dalam hubungannya dengan penguasa di Indonesia. Lepas dari segi-segi kekurangan maupun kelebihannya sebagai manusia biasa maupun sebagai seniman, aktivitas-kreativitas Resobowo secara hakiki memang berbeda dengan yang lain-lainnya itu. Menurut gaya dan caranya sendiri ia konsisten dalam sikap dan pengabdiannya kepada rakyat, kepentingan dan perjuangannya.
Meskipun sudah berusia 75 tahun, nampaknya Basuki Resobowo memiliki semangat muda dalam kreativitas barunya. Dari tahun 1987 sampai akhir tahun 1989 ini sudah berjilid-jilid buku ditulisnya. Diterbitkannya sendiri. Judul-judulnya: Bercermin Di Muka Kaca, Riwayat Hidupku, Karmiatun (jilid 1 Januari 1988, jilid ke-6 Januari 1989) dan cerita gambar Cut Nyak Din (jilid ke-1 dan ke-2). Selain itu disiarkannya pula tulisan-tulisan berbentuk "jurnal" dan serentetan karikatur yang cukup tajam teriring humornya yang pahit....bagi yang tersasar.
Kesan sementara kita -- karena baik roman maupun cerita gambarnya belum rampung -- ialah bahwa karya lukisnya tetap jauh lebih mengungguli karya tulisnya. Dan buku Cut Nyak Din itu lebih memikat kebanding yang lainnya.
*
Inside Indonesia: Rendra Downunder
CATATAN pada halaman 8-9 Kreasi nomor 2 ini saya dahului dengan paragraf pertama yang sesungguhnya ingin saya garis-bawahi. Bahwa sudah sejak saat itu, "hubungan antara Indonesia dengan Australia makin menarik hati dan pikiran." Terutama hubungan antara manusia dari berbagai kalangan. Dari turis biasa sampai para cendekiawan. Konon kabarnya semakin kerap pula terbinanya hubungan kekeluargaan -- perkawinan antara orang Indonesia dengan Australia.
Dalam hubungan antara cendekiawan yang tak bisa diabaikan adalah peranan penting sekelompok cendekiawan yang berada di sekitar majalah Inside Indonesia.
Meneliti daftar isi sejak nomor 1 yang terbit pada bulan Nopember 1983 sampai nomor-nomor terakhir yang kita terima, dan cara penyajiannya, tak disangsikan lagi bahwa Inside Indonesia adalah sebuah terbitan yang menarik hati dan serius. Karenanya amat berharga bukan saja bagi orang outside tapi juga inside Indonesia sendiri. Rubrik-rubriknya meliputi macam-macam bidang dan yang paling menarik perhatian kita tentulah rubrik The People's Culture. Dalam mana tertera tandatangan dari penulis, seniman dan para ahli seperti Max Lane, Keith Foulcher, David Hill, Paul Tickel, Helen Jarvis, Rossi von der Bosch, Barbara H, Ruth Havelaar, Z. Afif, W.S. Rendra, Putu Oka Sukanta, Semsar Siahaan dan sebagainya.
Nomor 17 adalah contoh tipikal dengan Rendra pengisi kulitmuka dan Special Report. Rubrik wawancara dengan Arief Budiman: "Democratisation is possible". Rubrik politik dan hak azasi diisi oleh Max Lane "The Golkar Congress" dan Dr. Keith Suter "The Timor Gap" serta Delia Richard "Suharto's human rights record". Rubrik the people's culture oleh Ruth Havelaar "Quatering", suatu kisah perkawinan campuran Indo-Belanda (silakan simak juga sajak Ruth Havelaar: "Anak Anak Dua Benua" -- AKI). Sedangkan laporan istimewa "Rendra Downunder" ditangani oleh Riki Stevens, Chistine Wheeler, Jenni Dudley, David Hill dan diketengahkan pula dua sajak Rendra berjudul "Sajak orang kepanasan" dan "Paman Doblang".
Dalam wawancara Rendra antara lain mengatakan bahwa seorang seniman boleh saja meng-engage-kan diri. Jika orang punya bakat politik seperti Pramoedya atau Sitor Situmorang, apa salahnya? Seperti halnya juga orang yang pintar bisnis. Sedangkan dia sendiri tak punya macam-macam bakat, hanya seniman doangan.
Rendra telah membuktikan pemihakannya antara lain dalam kaitan peristiwa di tahun 1978.
"NGOs feel the pressure" adalah artikel Halinah Todd yang mengisi halaman-halaman terakhir Inside Indonesia nomor 17 itu.
*
Kasus Jdanov & Glasnost
KIAN hari kian banyak hal yang terungkap mengenai apa-apa yang terjadi di masa lalu dalam kehidupan Uni Soviet. Demikian baris pertama catatan yang saya susun berkenaan dengan "Kasus Jdanov & Glasnost", Kreasi n° 2 hlm 10-12. Baik dalam masyarakat maupun dalam negara dan teristimewa sekali dalam Partai yang memimpinnya -- PKUS. Partai yang dibina oleh kaum Bolsyewik di bawah pimpinan Lenin, yang pertama mampu memimpin dan mencapai kemenangan revolusi proletar pada tahun 1917. Dengan meruntuhkan mesin negara lama dan menegakkan diktatur proletariat. Dengan itu, bukan saja wajah Rusia telah berubah, tetapi juga wajah dunia. Sejak itu tegak secara beruntun negeri-negeri sosialis dan negeri-negeri yang mencapai kemerdekaan dari belenggu kolonialisme dan imperialisme. Inspirasi atau pengaruh yang datang dari kaum Marxis-Leninis dan rakyat pekerja Uni Soviet itu luar biasa besarnya. Pengaruh yang berjalin dengan bagian-bagian dunia lainnya.
Sementara itu, apa yang telah terjadi sesungguhnya di Uni Soviet itu tidak seluruhnya orang tahu. Bukan saja yang di negeri lain, di negeri itu pun sebagian besar orang tidak mengetahuinya. Bukan hanya bagi rakyat biasa, bukan hanya anggota Partai biasa, bahkan kader-kader tinggi pun tidak banyak mengetahui masalah-masalah penting yang kemudian ternyata berupa penyelewengan dari prinsip-prinsip besar Marxisme-Leninisme. Penyelewengan yang selama puluhan tahun berlangsung, sejak Lenin lumpuh secara fisik sekaligus pelumpuhan wibawanya oleh klik Stalin pada saat-saat terakhir hidupnya. Penyelewengan-penyelewengan yang menimbulkan tragedi berupa represi massal di bawah Stalinisme yang kemudian berlanjut dengan periode yang tidak kurang pula negatipnya. Setelah meninggalnya Stalin. Periode yang kini dikenal sebagai periode stagnasi sebagai akibat dari subyektivisme dan volontarisme -- berlangsung selama beberapa dasawarsa -- selama pimpinan Khruschov dan Breznev. Perubahan-perubahan bagi pengoreksian kesalahan di masa lalu, sebagai pentrapan secara konsekwen prinsip-prinsip Leninis, baru terjadi sejak musimsemi 1985 di bawah Sekjen PKUS Gorbatsov dengan program besarnya yang menggemparkan dunia: Perestroika dan Glasnost.
Dalam suasana gegap-gempita itulah kita dapat mempelajari dosir-dosir dan kasus-kasus yang luarbiasa seperti sekitar testamen Lenin, represi dan kultus individu Stalin, kasus Beria, laporan rahasia Khruschov, kasus Jdanov dan sebagainya.
Di antara semua itu, tentu saja yang paling menarik perhatian kita adalah kasus Jdanov. Karena ia menyangkut bidang kebudayaan. Minat kita ialah untuk memahami akibat buruk tongkat komando Stalin lewat tangan-kanannya di bidang kebudayaan itu.
Sebagaimana kepala polisi Beria yang tangannya berlumuran darah, Jdanov juga seorang aparacik yang tipikal. Seorang kariris yang berhasil memegang tampuk kekuasaan selaku "kepala polisi" kebudayaan yang telah mengakibatkan kerugian besar. Sejauh manakah tindakannya dalam menyelewengkan semangat Marxis-Leninis di bidang kebudayaan? Selaku penjaga dan penjaja "kemurnian ideologi" ala Stalin? Sejauh mana pengaruh negatipnya di bidang kebudayaan yang begitu luas baik di Uni Soviet maupun di arena internasional?
"Dengan prinsip bebas dan kritis," demikian penegasan saya layaknya menggaris-bawahi alinea terakhir catatan itu, "perlu kiranya kita ikuti apa yang terjadi di arena internasional umumnya, khususnya arena kebudayaan Uni Soviet. Karena gerakan kebudayaan rakyat Indonesia itu tak terpisahkan dengan gerakan kebudayaan internasional."
*
Alan Hogeland: Bombas? Saya Kira Tidak!
TULISAN selanjutnya yang merupakan ekspresi opini adalah dari esayis Alan Hogeland alias Kamaludiin Rangkuti, berjudul: "Bombas? Saya Kira Tidak!" Yang mengutarakan ragam macam pernyataan daya apresiasi atas kesusastraan. (hlm 13-20)
"Tiap kali kita menghadapi karya sastra, baik puisi maupun prosa," tulis Alan antara lain, "kita harus memakai pendekatan kode sastra karena kita menghadapi kreasi homo fabulans, manusia yang bersastra. Menghadapi hasil sastra tidak bisa hanya menggayuti satu kata atau sebaris kalimat lalu meninggalkan keseluruhan hasil karya itu. Hasil karya sastra selalu harus kita hadapai sebagai hasil yang kompak dan terpadu. Pendekatan yang kita lakukan tidak cukup dengan kode bahasa saja melainkan lebih dari itu kadang-kadang juga dengan kode kebudayaan -- pendeknya dengan keseluruhan kode yang disebut kode sastra."
Jika kita menghadapi sanjak Chairil Anwar "Aku", lanjut Alan Hogeland, " yang diantara kalimatnya terdapat "Aku mau hidup seribu tahun lagi", kita tidak dapat menyebut sanjak itu bombas, tidak sesuai dengan kenyataan. "Masak, manusia mau hidup 1000 tahun, 100 tahun saja belum tentu bisa!" Ya, begitulah kesimpulan kita kalau kita hanya menggunakan kode bahasa. Dengan kode bahasa saja akan timbul tuduhan bahwa Chairil Anwar mengada-ngada. Tapi cobalah dekati sanjak "Aku" Chairil dengan kode sastra, akan terasa bahwa Chairil lewat sanjak itu menyatakan daya hidup yang vital.
Demikian antara lain tulis Alan dalam salah sebuah esainya yang terbaik itu, yang kemudian tersunting dalam buku kumpulan esainya berjudul "Esai sastra", terbitan Stichting ISDM Culemborg Nederland 1994. Sebagai bukti pertanda kreativitasnya yang juga layak kita simak-soroti di kemudian hari.
Begitu juga kita akan simak-sorot pada gilirannya nanti, 2 kreasi prosa berupa cerpen masing-masing berjudul "Gelandangan" oleh Emha dan "Batu" oleh Putu Oka Sukanta.
*
Puisi Suara Anak-anak Dua Benua dan Perpisahan Dengan Jitske
KREASI N° 2 1989 ini menyajikan 9 kreasi puisi berupa sajak-sajak karya HR Bandaharo "Orang Telah Menebas Semua Pohon Bunga"; karya I. Patriani "Bagi Saudara-saudariku" dan "Yang Pahit & Yang Manis"; karya Peha M.D. "Senja Berlumut"; sajak karya Suprijadi Tomodihardjo "Suara" dan "Cakrawala Terbuka"; karya Putu Oka Sukanta "Siapa"; karya Ruth Havelaar "Anak-anak Dua Benua" dan karya Sitor Situmorang "Perpisahan dengan Jitske".
Baris-baris puitis Suprijadi Tomodihardjo, Ruth Havelaar dan Sitor Situmorang telah mengawali sajian naskah ini. Maka ada baiknya saya turunkan kembali selengkapnya ke-3 sajak mereka itu.
Suara
Oleh: Suprijadi Tomodihardjo
kesadarankah itu yang datang menegur lembut membelai telinga jiwa yang tidur dalam jaga
kesadarankah itu kejutan di hati alpa kerna bayangan mimpi keyakinan datangnya hari mekar tanpa akar di bumi
angkatan yang berangkat senja angkatan yang sarat dosa adalah semua kita yang pongah enggan mengerti luap darah dan keluh bumi
rasa murung bila kita berpaling: bumi yang agung tuan yang asing menanam resah anak-anak yang jadi tiri di rumah
selagi kita asyik bercakap adakah kaudengar angin bersiur suara yang lama senyap semalam kembali menegur
musim ini, saudaraku cukup hangatkah bajumu dalam dingin mengayun kembali langkahmu
1987
*
Anak Anak Dua Benua
Oleh: Ruth Havelaar
Dari pintu terbuka belum bicara dan jabat tangan kutatap tubuhmu rambutmu dan matamu
pancaran semangat dan penderitaan menyentuhku
Pasang dan surut gelombang-gelombang damai berdebur dan gulung-bergulung siapa dia? pasang dan surut pasang dan surut
Datang ketika memancar benih-benih lembut, manis dan indah kami tempuh seluruh jalan benua kita jiwa telah menyatu sampai saat bertemu
Dengarlah dalam menunggu lembut angin laut dan riuh suara Jakarta bicaralah mereka tentang kemerdekaan dan larangan dan harapan kami terbentang di antaranya
harapan setiap anak manusia
*
Perpisahan Dengan Jitske
untuk Ken + Hersri
Oleh: Sitor Situmorang
Tataplah bila masih mampu Siapa masih mampu pandanglah Dengarlah diamnya kini Bicara di kembang musim
Pandanglah musim cinta dan tabahnya Kini mekar di sungei dan ladangladang Cahaya yang menembus kabut dari balik hujan semesta
Hari ini musim bunga Jitske telah pergi Gelaktawanya sumber kenangan
Hari ini ia pergi Di musim bunga, kembali Di ladangladang kecintaan.
Breukelen, 6 April 1989.
*
BEGITULAH, oh iya, memang sungguh begitulah halaman Kreasi puisi yang mampu menyentuh pikiran dan hati. Lebih-lebih lagi kerna dilengkapi dengan halaman berisi maklumat yang membikin perasaan ngilu seperti tersayat sembilu:
Selamat Jalan
Dag lieve Jitske Selamat jalan Jitske tercinta
Jitske Mulder is op 2 april 1989 op 46-jarige leeftijd overleden pada 2 april 1989 Jitske Mulder telah tiada dalam umur 46 tahun
(yang berduka cita)
Hersri, Ken Marijke. Henk. Lucia. Eep. Martijn. Jitse. Griet. Lous. Marleen. Joris. Alida. Paul. Jouke. Elco. Reina. Rob. Lisa en de Indonesische familie dan keluarga besar Indonesia.
Zij is opgebaard in de rouwkamer Van Dijk, Kerkplein 1 te Breukelen, alwaar geen bezoek. Jenazah disemayamkan di rumah duka Van Dijk, Kerkplein 1 si Breukelen.
De begrafenis zal plaatsvinden donderdag 6 April op de Algemene Begraafplaats te Kockengen om 14.00 uur. Pemakaman pada hari kamis 6 april di pemkaman umum di Kockengen pukul 14.00.
*
Iya. Memang iya begitulah adanya. Hampir dua dasawarsa lalu, aku pun salah seorang yang hadir di pemakaman umum desa Kockengen Breukelen itu, diliputi suasana duka cita di bawah langit mendung menyebar kabut dan rintik-rintis gerimis. Persis seperti lukisan puitis penyair jenius Sitor Situmorang itu, yang didedikasi-deklamasikannya sendiri mengantar jenazah seorang puteri terbaik Negeri Kincir Angin: Jitske Mulder. Yang tak lain adalah Srikandi pembela hak-hak azasi manusia, penulis sekaligus penyair humanis pengguna nama-pena: Ruth Havelar. Isteri penyair Setiawan Hs alias Hersri. Ibu sang putri tercinta: Ken.
Ketika menulis baris-baris ujung catatan memoar ini, seketika aku lempar pandang keluar. Sungguh! Suasana menjelang musim semi saat ini pun lagi dirundung mendung berhias rintik-rintis gerimis.
Maka seketika pula rasa duka-cita berbauran dengan sukacita dan bangga. Dalam mengenang Jitske alias Ruth Havelaar terkenang pula para penulis dan penyair pengisi Kreasi nomor dua ini, yang kemudian meninggalkan kita pula untuk selamanya: Basuki Resobowo, HR Bandaharo, Emha, Alan alias Kamaludin Rangkuti, Astama alias Aziz Akbar dan Intan Patriani.
Tentu saja ingatanku pun terpaut pula pada para seniman dan sastrawan serta penyair Indonesia lainnya yang telah berjasa memperkaya khazanah kesusastraan Indonesia. Sedang di relung telinga terngiang baris-baris kata puitis Sitor Situmorang akan lukisan: " cahaya yang menembus kabut / dari hujan semesta." Layaknya penyegar alam seputar bertandakan ranting-ranting yang nampaknya kering mengering namun sebenarnya senantiasa basah malah kini mulai menghias diri dengan warna-warni menjelang datangnya kembali musim semi. *** (15.03.2008)
Sekitar Aktivitas Kreativitas Tulis Menulis Di Luar Garis (8)
Oleh: A.Kohar Ibrahim
*
Salam
kutinggalkan pematang menabur salam memahat perjalanan, di dinding dinding benoa.
Greetings
i stepped out of the rice-fields and scattered my greetings carving a journey on the walls of a continent.
(Putu Oka Sukanta)
DEMIKIAN baris-baris puitis penyair Putu Oka Sukanta yang tertulis dari perjalanannya Jakarta-Adelaide dalam bulan April-May 1985. Baris-baris yang sarat kedalaman maknanya yang simbolistis, yang kiranya juga pas bagi perjalanan kami di Mancanegara, sebagai perantau yang terpaksa. Dipaksa oleh situasi-kondisi yang dalam skala nasional lantaran terjadinya kudeta militer fasis dengan tegaknya rezim Orde Baru, sedangkan dalam skala internasional berkecamuknya Perang Dingin Yang Panas teriring Perang Ideologi dalam lingkungan Gerakan Komunis Internasional.
Iya. Baris-baris puitis Putu Oka Sukanta itu memang pas untuk kami cantumkan pada halaman satu nomor perdana majalah KREASI Lingkaran Budaya, WCP Amsterdam, ISSN 0923--4923, format 21 x 28 senti, setebal 52 halaman. Dalam batas-batas tertentu, hasil terbitan yang mempertandakan eksistensi para penulis-jurnalis di luar garis macam Kreasi itu pun menabur salam ke benua-benua Eropa, Amerika, Asia dan Australia.
Dalam Sekedar Pengantar berjudul "Kebebasan dan Keanekaragaman KREASI" pun sudah nyata pertanda tentang apa-mengapa-nya sarana tersebut diselenggarakan. Saya telah tulis dan garis-bawahi, bahwasanya: "Keteledoran, kedunguan, kemasabodohan dan ketaatan yang membuta adalah beberapa perilaku yang dapat mengakibatkan kemunduran, kemandekan dan bahkan malapetaka bagi manusia. Perorangan maupun kolektip atau suatu bangsa. Semua itu merupakan tanah subur bagi tertanam-tumbuhnya kekuasaan yang despotik atau fasistis dalam segala format dan variasinya. Tanah subur bagi kelangsungan sistim penghisapan atas manusia oleh manusia. Tanah subur bagi pelanggaran atas hak-hak azasi manusia. Perjuangan melawan segala bentuk penghisapan dan penindasan atas manusia adalah juga perjuangan dalam melawan perilaku manusia yang buruk itu. Dalam mana peranan cendekiawan, seniman dan sastrawan serta pekerja kebudayaan umumnya sangatlah penting. Baik yang baru tumbuh, yang masih muda maupun yang sudah dewasa atau senior atau kawakan."
"Bidang kebudayaan sangat luas", tulis saya selaku Penyaji (Editor) lebih lanjut, hlm 4. "Bagian dari pada bagiannya sajapun seperti kesusastraan cukup bersegi banyak. Itulah makanya, seorang penyair dan kritikus seperti Byasa bilang bahwa menulis itu "tidak seperti membuang ingus, tidak menulis asal menulis saja". Untuk itu diperlukan ketrampilan, selain pengetahuan, sikap dan pendirian yang tepat."
Benar. Juga memang benar, bahwa: "Bagi penulis atau pencipta pada umumnya, selain berjuang merealisasi komposisi ciptaannya juga mesti berjuang untuk menyajikannya. Agar supaya kreasinya itu sampai ke tujuan. Ini yang sering kali merupakan problim besar dan cukup pelik. Jika tidak karena penguasa dengan tingkah-ulah atau peraturannya, tentu karena soal pengorganisasian penyajian, dimana soal biaya memegang peranan penting. Adanya semacam "tradisi" penyajian dan penyebaran kreasi secara lisan, dalam bentuk sederhana dari tangan ke tangan atau hanya beroplah terbatas sekali adalah akibat dari situasi dan kondisi demikian itu." (hlm 5)
Seterusnya, sebagai pengelola terbitan juga menjadi penerima hasil terbitan dari beberapa penjuru datangnya, yang merupakan bukti akan sambutan sekaligus penghargaan atas hasil aktivitas-kreativitas tulis menulis: "Dari telpon angin, mulut ke mulut, tangan ke tangan dalam bentuk fotokopi atau buku cetakan sederhana maka kreasi dari sejumlah pencipta sampai ke tangan kita. Caranya berbeda-beda. Gaya maupun temanya aneka ragam. Jadi, terbukti dari tempo doeloe sampai kini para penulis atau seniman rakyat Indonesia tidak seragam. Dan memang tidak akan seragam sampai kapanpun. Konstatasi atau ilusi untuk itu adalah sia-sia belaka. Karena, kendati pengabdian serupa tapi tiap pencipta itu berbeda-beda baik usia, pendidikan, pengetahuan maupun pengalaman aktivitas-kreativitasnya. Dan sebagainya lagi. Misalnya, orang yang secara langsung berjuang menghadapi ketidak-adilan penguasa itu lain dengan orang yang hidup santai, aman dan tidak kurang suatu apa. Antara bohemin Ibukota, Yogya atau Surabaya beda dengan yang menyatakan diri sebagai "bohemin" tapi menerima tunjangan sosial 500 dollar Amerika tiap bulannya. Bahkan antara mereka yang senantiasa diincar diburu, dipenjara dan di Buru pun kreasinya tidak sama satu dengan lainnya. Seorang Banda beda dengan Putu, Hersri lain dengan Pram, dan sebagainya. Ini hanya menunjukkan bahwa kebebasan individual dalam berkreasi itu adalah suatu tradisi yang tak dapat dipatahkan. Dan tak akan mungkin dapat dipatahkan. Sebagai suatu hal yang vivas dan dinamis. Menggembirakan dan menyegarkan." (hlm 6)
"Hal itu bukan cuma di kalangan seniman rakyat, demokrat atau patriotik lainnya saja, tapi juga mereka yang mengibarkan panji 'seni untuk seni'. Dan bukan cuma di bidang sastra, melainkan juga di bidang-bidang seni lainnya," jelas saya lebih lanjut. "Kenyataan akan keanekaragaman ini harus diakui adanya. Dalam suatu kesatuan Indonesia. Dalam suatu kesatuan Dunia." Dan bahwasanya: "Hal yang menyegarkan ini tercermin dalam nomor satu Kreasi 1989, dan nomor-nomor selanjutnya."
*
KREASI nomor perdana itu memuat Catatan Budaya berupa "Pameran Besar Pelukis Nasional" (hlm 7-11) dan terbitnya "Gadis Pantai" Pramoedya Ananta Toer (hlm 12-14). Kedua catatan itu disusun oleh DT alias Dipa Tanaera alias saya sendiri. Selanjutnya tertera cerpen berjudul "Bongkar" oleh Putu Oka Sukanta (hlm 15-20). Disusul karya puisi (hlm 21-29): "Selamat Jalan, Kawan" dan "Pengembara" oleh Intan Patriani; "Menyusul Guntur" dan "Hatiku Gembira" oleh D. Tanaera; "Biola Gayatri" dan "Langkah" oleh Putu Oka Sukanta. Sedangkan dari HR Bandaharo 2 sajak yang masing-masing berjudul: "Di Malam Gelap Yang Dingin" dan "Malam Telah Larut". Sebagai pelengkap, saya sajikan kembali keduanya sebagai berikut.
Di Malam Gelap Yang Dingin
Oleh: HR Bandaharo
di malam gelap yang dingin sisa-sisa kejantananku menggelepar megap-megap laksana ikan terlempar ke darat disentakkan pancing
musim dan tahun cepat melampau tiada terasa tiada terduga menjadi tua hanya mimpi yang tinggal tersisa sekalipun mengabur tetap memukau
bagai potret lama yang buram lama tersimpan beban warisan masa silam
1983
*
Malam Telah Larut
Oleh: HR Bandaharo
malam telah larut, aku tak bisa menanti lagi.
besok akan datang hari baru dan malam ini akan lalu tanpa bekas. memang ada harap, tapi harap tak meninggalkan bekas tidak pada wajah dan tidak dalam hati. besok barangkali ada teman baru teman menyongsong malam. dan cinta manis sekali jika direguk bersama tanpa curiga. dan bebas, tak ada beban harapan yang dusta.
kesalahanku masa lalu yalah memberikan janji yang kutulis dengan jari di atas sprei, di atas bantal dan di atas dadamu. jajnji itu sama dengan harap, bagimu dan bagiku dan harap sama dengan mimpi dinanti tak datang-datang, dikejar tambah jauh. akhirnya semua sirna, menghilang seperti bahtera yang mengangkat sauh kelihatan dekat sekali, dengan tangan terjangkau tiba-tiba layarnya terkembang disambar angin lalu meluncur laju ke laut lepas, tanpa pamit.
dan kami berpisah.
1983
* Senirupa Indonesia
DALAM catatan budaya berkenaan dengan "Pameran Besar Pelukis Nasional" yang diselenggarakan oleh Bentara Budaya Jakarta bulan Nopember-Desember 1988 itu, ada beberapa point yang layak disimak ulang. Pertama-tama akan ambisinya, yakni, untuk mendapat gambaran yang lebih mendalam yang lebih mendalam tentang harapan dan cita-cita bangsa Indonesia lewat seni lukis. Dengan menampilkan karya 26 pelukis senior yang mewakili empat pusat seni lukis modern yang hidup di Indonesia, yaitu Jakarta, Bandung, Yogya dan Surabaya. Mereka adalah: Affandi, Abas, Pirous, Agus Djaja, Amang, Bagong K., Barli, But Muchtar, Dullah, Sidik, Handrio, Harjadi, M. Apin, Nashar, Nasyah Djamin, OH Supono, Otto Djaja, Popo Iskandar, Rudyat, Rustamaji, Sudarso, Sudjana Kerton, Suparto, Srihadi S, Widayat, Wahdi.
Yang cukup signifikan iyalah adanya serangkai opini dari para pelukis itu sendiri tentang sikon seni rupa Indonesia pada zamannya. Seperti dari pelukis Sudarmaji, sehubungan dengan ambisi dari penyelenggaraan pameran, dalam kata pengantarnya antara lain mengkonstatasi, bahwa: "Sayangnya kita kurang sering, atau hampir nol malah mengikuti aktivitas seni rupa antar bangsa... Mobilitas para pelukis dari daerah satu ke daerah yang lain; dari negeri yang satu ke negeri yang lain kurang tinggi. Efeknya, kita jadi kurang menghayati (dus bukan hanya melihat) perkembangan antar negara itu. Kurang bisa memanfaatkan apa yang bisa dimanfaatkan dari perbenturan nilai-nilai. Dari sejarah kita mengetahui, bahwa Manet, Picasso, Vincent van Gogh, Paul Gauguin, Kandinsky, Vasarely dan banyak lagi, tercatat sebagai 'Penemu', sedikit banyaknya karena perbenturan nilai-nilai yang mendorong ke proses inovatif bahkan inventif."
"Rendahnya mobilitas dan hampir nol-nya konfrontasi nilai-nilai di gelanggang aktivitas-kreativitas seni rupa, baik di dalam maupun di luarnegeri, teriring pula kelangkaan sarana bagi pertumbuhan penulis seni rupa Indonesia. Dalam masalah inipun kurang menggembirakan, kata Sudarmadji. Alternatifnya banyak. Buku hampir tidak ada untuk menambah pengetahuan. Media yang khusus untuk seni rupa tidak ada. Apresiasi masyarakat mengenai seni rupa dan penulisan amat lemah. Penghargaan secara materiil untuk penulisan rendah sekali sehingga tidak bisa diharapkan untuk hidup. Kesempatan untuk 'melanglang buana' hampir nol."
Begitulah realitas bidang seni rupa Indonesia mutakhir, yang tercatat masa itu. Tak kurang menariknya pula opini Popo Iskandar, mengenai seorang seniman. Pelukis kelahiran Garut 1927 itu antara lain menyatakan bahwa "Seorang seniman harus memegang teguh keyakinan seninya, sebagaimana ia tidak boleh goyah mempertahankan sikap hidupnya apapun terjadi."
Melukis? Srihadi Sudarsono salah seorang pelukis Indonesia yang tak seberapa jumlahnya yang sempat melakukan banyak kali pameran, baik di dalam maupun di luar negeri, lahir di Solo 1931, bilang: "Melukis adalah semacam dialog yang abadi antara batin dan impian-impian yang disertai mobilitas fikiran. Lalu gagasan-gagasan terbentuk dari dorongan-dorongan dalam yang paling intens sebagai reaksi keterlibatan dengan seluruh ruang lingkup dalam arti yang sangat luas ini adalah semacam semangat meditatif, suatu proses kristalisasi."
"Melukis itu sama dengan bekerja," kata Affandi. "Tidak melukis atau tidak bekerja sama dengan tidak makan." Pelukis kelahiran Cirebon 1907 ini, dari aktivitas-kreativitasnya yang luarbiasa selama setengah abad memang patut menerima julukan pelukis raksasa Indonesia. Kekayaan yang diperoleh dari hasil kerjanya juga memang patut pula. Harga lukisannya kini antara 20 sampai 50 juta rupiah. Kalipun kini ia kaya berkat kreasinya, tapi tetap hidup sederhana dan tidak boros. Kerna dia tidak melupakan masa kanak dan mudanya yang dilewati dengan penuh penderitaan.
Dalam hubungan penderitaan dan perasaan serta kreativitasnya, Affandi bilang: "Kalau melihat barang aneh yang menderita, yang menyentuh hati, keluarlah sentuhannya. Kalau saya keluar sentuhan, itu mungkin jadi obyek, jadi motif untuk dilukis. Jadi tugas saya sebagai pelukis adalah mengeluarkan yang isi hati. Yang isinya saya katakan perasaan. Hanya itu. Toh bagus perasaannya. Kalau dikeluarkan pasti bagus. Kalau yang dikeluarkan yang jelek, bukan berarti menyuruh jelek. Misalnya saya senang menonton dan melukis adu ayam. Ini demi memperingatkan umum, janganlah menjalankan begitu... Selama di dunia ini masih ada penderitaan, selama itu saya tidak bahagia. Bahwasanya ada cangklong, ada bale-bale, ada mobil bagus, itu materi. Dan karena itu umum mengatakan saya bahagia, karena materi penuh. Tapi walau materi penuh, kalau isi hati tidak ada hasilnya? Bagaimana saya senang kalau di jalan masih ada orang lapar?"
Mengenai kebebasan seniman? Dalam kesempatan yang lain Affandi bilang: "Melukis bisa bebas, tetapi hidup perlu diatur."
Sedangkan Handrio, pelukis kelahiran Purwakarta 1926, mengaku secara gamblang: "Kebebasan mengungkapkan diri tanpa berusaha menutup-nutupi, merupakan kiat saya dalam berkarya. Kebebasan ini saya tuangkan dalam goresan-goresan warna, dengan harapan memberi makna yang cukup berarti."
*
Gadis Pantai Pramoedya
CATATAN atas "Gadis Pantai" Pramoedya Ananta Toer, tertera pada Kreasi nomor perdana halaman 12-14 itu, dimulai dengan baris pertama berupa kutipan ucapan sang pujangga besar Indonesia itu sendiri, sekaligus sebagai canang bagi semua orang, terutama kaum pengarang.
"Jadi pengarang itu mengerikan"! Ini bukan ucapan seorang amtenar memperingatkan anak-anaknya, tapi oleh seorang pengarang itu sendiri -- Pramoedya Ananta Toer. Dan dia tidak omong kosong. Melainkan berdasarkan pengalamannya sendiri. Di zaman Orla pernah dipenjara. Lebih-lebih lagi di zaman Orba: dihina, difitnah, dirampok, dipenjara dan dibuang ke Pulau Buru. Tanpa proses pengadilan. Semua itu bukan lantaran korupsi atau tindakan kriminil lainnya, melainkan lantaran aktivitas-kreativitasnya yang luarbiasa selaku budayawan. Dari ruang penjara format kecil, lalu dikeluarkan tapi pada hakekatnya masuk balik ke ruang penjara format raksasa: rumahkaca bernama Nusantara. Mengenai buku-bukunya, bukan saja yang lama, tapi juga yang baru yang terkenal dengan sebutan roman karya Pulau Buru alias seri Bumi Manusia dibrangus. Tak cuma itu. Sebuah karya yang dicipta di zaman Orla yang baru sekarang dibukukan pun dibrangus. Begitulah nasib "Gadis Pantai"nya.
Gadis Pantai, menurut penyunting terbitan Hasta Mitra 1987, adalah salah sebuah buku dari serangkai trilogi, maka itu merupakan suatu novel yang tak selesai. Rampung ditulis 1962. Buku pertama ini sempat dipublikasi sebagai cerita bersambung di ruang kebudayaan harian Bintang Timur bernama "Lentera" yang dikelola Pram, pada tahun 1962-1965. Untunglah, karenanya tersimpan selamat pada bagian dokumentasi Australian National University Canberra. Sehingga bisa sampai balik ke tangan penciptanya. Jika tidak, maka hilang lenyap pula seperti bagian kedua dan ketiganya. Sebagaimana juga nasib buruk yang menimpa kekayaan budaya Pram lainnya yang tak ternilai itu.
Sekalipun suatu unfinished novel, Gadis Pantai sungguh suatu karya yang mengagumkan. Karenanya pula membikin kita tetap tak puas. Bukan lantaran membosankan, sebaliknyalah. Setelah menikmatinya, kita masih ingin lagi. Kelanjutannya. Begitu selesai baris-baris terakhir, setelah "sebulan, tak pernah lagi ada dokar berhenti, tak ada lagi wajah mengintip dari kirainya" maka justru timbul tekateki yang meminta jawaban. Dan kita hanya terpaksa membayang-bayangkan apa yang terjadi selanjutnya. Selagi di telinga terngiang suaranya:
"Ah, bapak. Bapak! Aku tak butuhkan sesuatu dari dunia kita ini. Aku cuma butuhkan orang-orang tercinta, hati-hati yang terbuka, senyum tawa dan dunia tanpa duka, tanpa takut."
Gadis Pantai karya yang melukiskan perjuangan keluarga nelayan, perjuangan rakyat melawan ketidak-adilan adalah karya yang bermutu tinggi. Bahkan, menurut Savitri Prastiti Sherer dalam thesis Ph.D.-nya, antara lain dinyatakan:
"His unfinished novel is one of Pramoedya's best works surpassing (in my opinion) his clasics, Perburuan, Keluarga Gerilya dan Bukan Pasar Malam."
Gadis Pantai, saya tegaskan dalam catatan budaya itu, bersama seri Bumi Manusia telah lebih memperteguh lagi posisi Pram di arena kesusastraan Indonesia dan dunia. Hasil kerja yang dengan sendirinya membantah ocehan sementara orang, seolah-olah sejak masuknya Pram kedalam barisan seniman rakyat dia tak mampu lagi menghasilkan karya tulis yang bermutu.
Sungguh, hasil kerja atau kreasi kongkrit itu lebih kuat dari omong kosong macam apapun dan dari siapapun serta dari manapun datangnya.
*
Esayis Byasa Yang Luar Biasa
SALAH satu dari isi Kreasi nomor perdana itu adalah esai berjudul "Riwayat Hidupku" ? yang ditandatangani oleh penulis menggunakan nama samaran Byasa. Tetapi sesungguhnya tidaklah biasa-biasa sahaja, melainkan luarbiasa adanya. Luarbiasanya lantaran sang penulis itu selain salah seorang esayis yang utama di kalangan kami, juga adalah seorang penyair, penulis cerpen pun penulis karya drama. Penulis yang entah lantaran "nyentrik" atau atas pertimbangan sikon politik menggunakan beberapa nama samaran, yang dalam masa tertentu hanya aku sendiri yang tahu lantaran posisiku sebagai Editor atau pengelola utama bagian penerbitan yang dipercayakan oleh sementara kawan. Luarbiasanya juga, lantaran pada masa awal mula upaya penebitan kami itu, dialah yang berani mentgemukakan soal kejujuran dalam aktivitas-kreativitas tulis menulis. Teriring sambutannya atas adanya gejala antusiasme dari sementara kawan-kawan untuk mengekspresikan diri dalam ragam macam bentuk tulisan.
"Sekarang ini ada gejala bahwa banyak kawan-kawan ingin menulis," demikian baris pertama tulisan Byasa, pada halaman 30 majalah Kreasi n° 1 1989 itu. "Ada yang ingin menulis sajak, novel, roman, drama, essay dan otobiografi. Ada yang sudah menerbitkannya, ada yang sedang mempersiapkannya, ada pula yang masih merencanakannya. Ini gejala positif yang baik sekali. Rupanya lamanya waktu 'berdiam diri', setelah bisu oleh terpukul mundurnya barisan revolusioner, bukanlah waktu yang terbuang dengan sia-sia. Ia nampaknya merupakan waktu untuk mengendapkan pengalaman-pengalaman yang akhirnya berkristalisasi dan sekarang ini mendorong timbulnya keinginan untuk menulis. Tentu saja hal ini menggembirakan dan kita sambut dengan baik. Kawan-kawan ini menulis didorong oleh rasa tanggung-jawabnya sebagai penulis-penulis yang berpihak kepada kepentingan massa rakyat, kepada kewajiban dan tugas-tugas revoluisonernya atau bahkan kepada sumpahnya sendiri: sekali menulis tetap terus menulis."
"Beberapa problim timbul dalam masalah penulisan ini," tulis Byasa selanjutnya, hlm 31: "Umpamanya ada kawan yang tadinya belum pernah samasekali menulis, karena bukan bidangnya, tapi sekarang ini ingin menulis. Ada pula yang sudah 'keburu' menulis, karena merasa sudah tua dan merasa perlu memberi peninggalan uraian informatif mengenai diri, lingkungan dan perjuangannya serta ditambahi sedikit dengan wejangan di sana-sini kepada generasi berikutnya."
Namun, "tentunya menulis tidak semudah membuang ingus, tidak menulis asal menulis saja. Jikapun dibuangnya kesempatan untuk melihat TV, belum tentu waktu yang luang itu mampu digunakannya untuk menulis. Setidak-tidaknya ada problim tentang bagaimana menulis, tentang sastra, bahasa, gaya, bentuk dan sebagainya. Mengobrol memang mudah, tapi untuk menulis apa yang diobrolkan itu saja sudah menghendaki suatu kecekatan yang tertentu. Jadi memang ada problim. Tapi ini bukan masalah yang besar. Tentang hal ini bisa kawan tersebut meminta bantuan kepada kawan-kawan yang telah berpengalaman menulis atau kepada kawan-kawan yang mengerti soal-soal bahasa dan sastra."
Byasa selanjutnya mengurai-tegaskan sekitar perihal yang mendasar, yang selayaknya diperhatikan dan bahkan bisa dijaddikan bahan diskusi yang luas-mendalam, bahwa: "Problim yang lebih penting lagi ialah masalah sikap dalam hal mengarang, terutama bagi mereka yang ingin menulis otobiografi, menulis riwayat hidup sendiri. Tentang sikap ideologi dan sikap politik tak perlu kita bicarakan di sini, karena sebagai penulis revolusioner ia harus menulis sesuai dengan tuntutan kewajiban dan tugas-tugas revolusionernya. Yang menjadi pertanyaan adalah: Mustikah kita jujur dalam penulisan ini? Jawabannya tegas: ya! Kita musti jujur terhadap diri kita sendiri. Menerangkan apa sesungguhnya yang telah kita perbuat dalam perjuangan dan kehidupan kita, apa sesungguhnya yang kita inginkan, kita harapkan dan kita impikan. Kita tegak sebagai manusia menghadapi kaca-diri kita sendiri." (hlm 32)
*
Langkah Mula Langkah Lanjutan
KREASI nomor perdana itu halaman-halaman ujungnya memuat catatan sekitar "Penerbit" sebagai "langkah mula langkah lanjutan". Dengan mengutarakan situasi penerbitan nasional, di Indonesia, yang sangat memprihatinkan. Dimana, menurut Jakarta Post: "Penerbit di seluruh Indonesia tidak produktip lagi, jumlahnya hampir 50% dari 294 badan penerbit". Bahwa, dalam tahun 1987-1988 di toko-toko buku cuma terdapat 400 judul buku, yaitu suatu kemunduran dibanding dengan tahun sebelumnya yang menunjukkan angka 5.000. Terbitan majalah yang cukup serius seperti Prisma sulit mencapai 30.000 eksemplar. Majalah sastra Horison, kendati berusia hampir seperempat abad di bawah rezim Orba, oplahnya tak seberapa beda dengan pendahulunya Kissah atau Sastra di zaman Orla. Seorang penerbit dan budayawan kawakan di Jakarta menyatakan bahwa penerbitan puisi Indonesia dalam bentuk buku, tampaknya sudah seakan langka, sekalipun kelangkaannya itu belum mencapai komodo. Dalam pada itu buku-buku terbaru Pramoedya "Rumah Kaca" (buku keempat seri Bumi Manusia) dan "Gadis Pantai", dibrangus. Seiring dengan itu, buku "Teologi Pembebasan" karya salah seorang anggota Ordo Serikat Yesus yang tinggal di Kolese St. Ignatius Yogyakarta mengalami nasib yang serupa. Serupa pula peringatan keras yang diterima Harian Merdeka dan Majalah Tempo karena masing-masing berani memuat tulisan yang oleh rezim Orba dianggap merugikan.
"Demikianlah beberapa fakta penting yang memperlihatkan realitas tidak menggembirakan bagi ruang penerbitan dalam rumahkaca yang pengap," catat saya seterusnya (hlm 40). "Maka tuntutan untuk kemerdekaan berpikir, berkreasi dan menyatakan pendapat serta hak-hak azasi manusia lainnya kian memekik... Dalam situasi demikian, maka penyampaian segala kreasi dan opini secara lisan, penyebaran-penyebaran karya tulis dari tangan ke tangan atau dalam bentuk (terbitan) sederhana dan oplah yang terbatas jumlahnya telah menjadi semacam "tradisi". Suatu usaha agar kreasi itu tidak selamanya terkubur dalam laci atau lenyap dimakan tikus. Jika tidak dimusnahkan oleh fandalisme atau pembrangusan seperti disebutkan di atas... (Juga merupakan kelanjutan) Suatu usaha dengan semangat berdikari dan salingbantu untuk menyambut bukan meremehkan, turut menyalurkan bukan membendung, menyebarluaskan bukan membrangus hasil kerja budaya. Dengan harapan semoga bisa menambah kegairahan aktivitas-kreativitas para pencipta. Maka dengan demikian akan dapat lebih banyak lagi memberi sumbangannya bagi khasanah kebudayaan rakyat Indonesia dan dunia." (hlm 40-41).
Demikian catatan dari serangkai catatan atas kegiatan penerbitan -- aktivitas tulis menulis di luar garis -- khususnya terbitan Majalah Kreasi nomor perdana, yang akan dilanjutkan dengan nomor-nomor selanjutnya. Termasuk catatan atas terbitan Majalah Arena dan Mimbar yang juga dieditori oleh saya sendiri: A. Kohar Ibrahim. *** (07.03.2008)
Ilustrasi : foto karya lukis Abe alias A.Kohar Ibrahim.
Sekitar Aktivitas Kreativitas Tulis Menulis Di Luar Garis (7)
Oleh: A.Kohar Ibrahim
*
"La parole s'envole, l'écrit reste"
SELAMA Transit, memang wajar saja timbul pertanyaan: Mengapa? Mengapa dalam variasi multidimensi. Ragam macam pertanyaan "Mengapa" dari yang sederhana saja sampai yang paling rumit. Ragam macam pertanyaan "Mengapa" yang begitu mendesak-desak menuntut jawaban. Seperti salah satunya adalahmacam pertanyaan: "Mengapa penguasa zalim selalu memonopoli sarana komunikasi seperti penerbitan atau media massa?" Dan mengapa pula untuk itu penguasa zalim tak segan-segan melakukan pemberangusan dan pemusnahan bukan saja terhadap sarana bersangkutan tapi sekalian juga manusianya? Manusia yang melakukan aktivitas-kreativitas tulis menulis?
Lebih jauh: Mengapa pula, untuk itu penguasa zalim secara tak tahu malu membina budaya dusta dan kepura-puraan atau kemunafikan?
Iya. Memang iya. Pertanyaan-pertanyaan itu saja sudah amat menggelisahkan, menimbulkan kemasygulan dan tentu saja menuntut jawaban.
Jauh sebelum ada orang-orang yang menututku untuk memberikan penjelasan akan sikapku terhadap kebebasan pers, kongkretnya terhadap pembakaran buku-buku atau hasil penerbitan -- seperti yang digemakan via "Art-Culture Indonesia" atau ACI -- kami, aku bersama sejumlah jurnalis dan penulis Indonesia eksilan, sudah berupaya memberi jawaban kongkret. Jawaban bukan hanya dengan sekedar omongan, namun justeru dengan tulisan. Selaras kebenaran fakta berkiaskan: "la parole s'envole l'écrit reste." Tegasnya merupakan fakta nyata: berupa penerbitan sejumlah berkas-berkas tulisan yang tercetak secara resmi. Sekalipun dalam bentuk sederhana dan oplah terbatas, namun nyata adanya. Tak mudah terhapus atau dihapuskan oleh kekuasaan apapun di kolong langit ini! Lantaran sudah tersiar-sebar ke beberapa tempat; menjadi penghuni sejumlah perpustakaan pribadi maupun kolektip atau instansi-instansi resmi. Seperti antara lain di Cornell Library, Cornell University, Ithaca, USA.
Artinya, betapapun sederhana dan terbatasnya, bukti berupa hasil penerbitan kami itu bisa dilacak-simak oleh siapapun yang berminat pada bidang ini. Khususnya pada sejarah pers dan kesusastraan Indonesia. Pada sejarah yang menyeluruh, bukan yang sepotong-sepotong atau dipotong-potong. Iya, betapapun keadaannya, fakta itu bisa dilacak-simak.Bisa dengan mudah dilaca-simak, bahkan hanya dengan menemukan satu dua naskah berupa catatan yang berkenaan dengannya. Seperti yang termuat di majalah KREASI n° 32 Th 1997 dan n° 40 Th 1999.
Untuk itu, ada baiknya saya turunkan di bawah ini naskah berupa catatan yang saya susun, berjudul: "Penerbitan. Sumbangan alakadarnya sejak 1989." Yang dimuat dalam Kreasi nomor 32 tersebut:
*
Kekuasaan Terbitan Buku dan Kekuasaan Negara
KETIKA hidup sebagai seorang eksilan, Bertolt Brecht pernah menulis sajak yang membayangkan kegusaran seorang pengarang yang mengutarakan bahwahasil kreasinyatelah terlupakan oleh Nazi tatkala pada tanggal 10 Mei 1933 mereka melakukan pembakaran buku-buku di sebuah api unggun :
« Ia bergegas menujumeja-tulisnya,
kemurkaan membikin kesigapannya melambung
dan ditulisnya sepucuk surat kepada para penguasa :
‘Bakarlah aku, tulisnya dengan pena yang melayang-layang,
bakarlah aku ! Janganlah perlakukan aku sedemikian rupa,
bukankah aku selalu mengungkapkan kebenaran
dalam buku-buku ku ?
Dan kini kalian memperlakukan diriku sebagai pendusta ?
Kuperintahkan kalian : bakarlah aku ! »
Di mana-mana dan kapan saja, penguasa yang zalim selalu memusuhi buku-buku yang menjadi tandingan kekuasaannya. Atau yang hanya diperkirakan akan bisa mengganggu-gugat kekuasaannya. Demi « kelanggengan » kekuasaannya, yang lazimnya hasil tipu-daya atau rampokan, maka dilakukanlah pembrangusan, pemburuan, peng-karantina-an dan malah pembakaran habis-habisan buku-buku atau hasil terbitan lainnya. Goethe (1749-1832), penyair besar Jerman, perasaan dan pikirannya terganggutatkala ia menyaksikan sendiri pemenggalan-kepala buku-buku yang dilakukan olehorang yang memegang kekuasaan. SedangkanShakespeare (1564-1616) mengecam tindakan serupa itu seperti yang dikemukakan oleh salah seorang tokoh dalam karyanya yang berjudul « Prahara ». Caliban, tokoh yang pemabuk dan menjijikan dalam karya Shakespeare itu, menganjurkan temannya agar membunuh Prospero,seorang humanis, dengan menegaskan : « Terlebih dulu, rampaslah buku-bukunya; tanpa buku-bukunya, dia tak beda bodohnya denganku. »
*
Keadaan pengarang Indonesia
Kebiadaban yang terlukiskan di atas terjadilah pula di Nusantara, sejak tahun 1965 dimana kelompokan militer dengan « G30S »nyaLetkol Untungditumpas oleh « GESTOK »nyaJenderal-jenderal Suharto-Nasution. Contoh yang paling gamblang adalah Pramoedya Ananta Toer. Kaum penguasa militer fasis bukan hanya merampok membrangus buku-buku atau hasil karya tulisnya sendiri, melainkan juga perpustakaannya dan hak-milik pribadinya serta perampasan atas hak-hak asasinya. Sejak itu, seiring dengan itu, beratus-ratus penulis dan jurnalis yang progresip, buku-bukuserta terbitanlainnya punmenjadikorbankebiadabanrezimzalim Orde Baru. Beberapa puluh diantaranya kebetulan sedang berada di mancanegara. Termasuk penulis catatan ini. Sebagai korban,kita tidakbisa melupakanfaktabahwadi Indonesia, pembantaian buku-buku oleh orang-orang pemegang kekuasaan diiringi pula dengan pembantaian massal manusia yang luarbiasa besarnya. Dalam pada itu, di bawah rezim Orde Baru, nasib para penulis dan jurnalis lainnya pun tak begitu menggairahkan keadaannya: ada yang memang bertindak sebagai budak kekuasaan, ada yang menjadi banci, oportunistis dan melempem. Dalam perkembangan selanjutnya, sekalipun tak banyak, muncul pula penulis-penulis yg kritis dan militan, yang hakekatnya berada diluarkantong kekuasaan Orde Baru.
*
Serba darurat
BAGI seseorang yang berekspresi dengan menggunakan pena dan penerbitan itu adalahbukan hanya untuk memenuhi kebutuhannya yang fundamental melainkan juga sebagai matapencaharian (profesional), tindakan penguasa zalim Orde Baru itu memang merupakan pukulan yang melumpuhkan atau mematikan. Sesungguhnyalah, di Indonesia sendiri, sebagian penulis atau jurnalis yang dilumpuhkan penanya sekaligus juga fisiknya : dijebloskan dalam penjara atau dilempar ke tanah pembungan sepertipulau Nusakambangan dan pulau Buru. Sedangkan bagi mereka yang di mancanegara, terpaksa menjadi orang-orang eksilan. Dan celakanya lagi, bagi sejumlah penulis atau jurnalis Indonesia, di mancanegara pun mengalami kesukaran untuk mengekspresikan dirinya selaku penulis - apalagi untuk menjalani profesinya seperti di Tanahair. Tidak bisa ketika di Tiongkok, pun tidak ketika di Moskow atau di negeri-negeri lainnya yang dianggap « sahabat » atau « sekawan »yangketikaitulazimnya disebut « Blok Timur ».
Lebih-lebih lagi, selama bermukimdi Tiongkok, kesulitan-kesulitan yang dihadapi itu bukan hanya dalam hal aktivitas atau
kreativitas tulis-menulis dan penerbitannya, tapi juga (dalam periode tahun 60-70-an)bahkanuntukhidupsebagaimanusia
yang normal saja pun tidak bisa. Maka akhirnya, sebarisan penulis dan atau jurnalis yang merupakan potensi cukup pentingpun menjadi « impotensi ».
Itulah sebabnya, antara lain, kenapa pada awal tahun 70-an saya dan sejumlah kecilorangIndonesialainnya berdaya-upaya untuk meninggalkan kehidupan « sosialisme tangsi » di balik Tembok Besar denganmelalui Trans-Siberia hingga sampai ke ujung Barat sini.
Di sini, di dunia bebas Barat pun pada kenyataannya problematika yang dihadapi oleh para penulis dan atau jurnalis itu tidak terpecahkan. Di sini problematika yang besar pertama-tama bukanlah yang berurusan dengan kekuasaan atau para pemegang kekuasaan negaraseperti di Indonesia; tidak pula yang berurusandengan kekuasaan negara atau partai seperti di Tiongkok atau di« Blok Timur », melainkanyang berurusan dengan kekuasaan uang atau modal. Yang kedua, kita tidak punya massa pembaca dalam bahasa Indonesia yang luas. Yang ketiga, dan barangkali juga yangsangat menentukan, adalah problimatika yang menyangkut kemauan dan kemampuan masing-masing penulis, selain soal bakat juga kapasitasnya dalam menguasai bahasa asing, terutama yang digunakan secara internasional. Nyatanya sampai harini di kalangan kita di mancanegara tidak ada seorangpun yang berkaliber seperti Pramoedya, pun tidak ada yang seperti Garcia Marquez.
Kelemahan dalam penguasaan bahasa asing itu juga, antara lain, kenapasejak awal tahun 70-an hingga kini saya lebih banyakmenggunakan koas dari pada pena. Untuk apa ?Ya, tak lain kecuali untuk kebutuhan fundamental saya, menggunakan hak-hak asasi saya, selain untuk hidup menghidupidiri dankeluarga sendiri juga untuk aktivitas lainnya, sekalipun terbatas. Dibatasi oleh waktu, tenaga, biaya dan kemampuan yang dimiliki. Seperti kegiatan tulus-menulis khususnya, penerbitan umumnya.
Keadaan seperti tersebut di atas itulah (dengan segala problematikanya dan seluk-beluknya, ditambah lagi dengan kemelut « peta perasaan dan pikiran yang diakibatkan oleh perseteruan dalamge-ka-i dan dalam barisan sendiri » ) yang sering saya ulang ucap sebagai keadaan « serba darurat » bagi kaum esksilan, khususnya para seniman atau para penulis dan jurnalis.
*
Apa yang dapat dikerjakan
Lantas mau apa ?Dalam keadaan yang « serba darurat » seperti itu ?Mau gelak ketawa mentertawakan diri? Mau menggerutu, merintih atau menangis tersedu-sedu? Dalam kaitan ini saya teringat akankata-kata yang diketengahkanseorang publisis Ignazio Silone dalam menghadapi kerumitan keadaan, terutama sekali kerumitan hubungan antara kekuasaan dengan pengarang. « Janganlah menangis, jangan pula tertawa, tapi pahami » , tulisnya.
Pahami ! Pelajari ! Tanya ! Misal : Kenapa terjadi RBKP di Tiongkok ? Kenapa terjadi peperangan ideologi dan politik serta bersenjata bukan saja dalam Perang Dingin ? Dalam ge-ka-i ? Kenapa terjadi prahara di dalam « Blok Timur » sendiri ? Bahkan di dalam URSS sendiri? Kenapa terjadi malapetaka sedemikian rupa di Nusantara ? Apa sebab-musababnya? Siapa yangberdosa?Kenapasesudahsecararampungmerebut dan menguasai kekuasaan negara, penguasa Orde Baru masih terus saja melakukan tindakan biadabnya dengan melancarkan teror negara di berbagai bidang kehidupan masyarakat ?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menuntut jawaban. Menuntut studi. Menuntut adanya pertimbangan. Ringkasnya, memang, semuanya menuntut pemahaman. Untuk melakukan sesuatu, tentu saja. Atau apa-apa yang bisa diusahakan, disumbangkan, diperjuangkan.
Maka dari itu, antara lain, melakukan kegiatan tulis-menulis dan penerbitan terasa menjadi tuntutan yang mendesak-desak. Kegiatan mana yang dalam prosesus pengelolaan dan penyebarannya sudah mengandung kegiatan mencari dan menyebarkan informasi, studi dan diskusi, dalam rangka mencari kebenaran dan kenyataan. Dengan itu secara langsung, turut serta melakukan perjuangan melawan kediktatoran penguasa Orde Baru, perjuangan untuk tegaknya demokrasi dan dihormatinya hak-hak asasi manusia, perjuangan untuk keadilan dan kebenaran yang hakiki.
Melakukan kegiatan tulis-menulis dan penerbitan memang menjadikeharusan untuk dimulai kembali, untuk memperbaiki yang telah pernah ada. Selain untuk kebutuhan memahami persoalan-persoalan seperti disebutkan di atas, juga secara kongkret dari Tanahair berdatangan naskah-naskah yang minta dipublikasi. Naskah-naskah yang ketika itu memang tidak mungkin bisa diterbitkan di Indonesia karena pers atau badan penerbitan telah sejak Oktober 1965 dimonopoli oleh penguasa Orde Baru. Juga ada naskah-naskah dari beberapa penulis yang bukan saja ingin dipublikasi tapi tersirat harapan untuk mendapat bantuan keuangan sekalipun ala kadarnya saja demi meringankan penderitaan mereka. Selain itu juga, sejak paruh keduatahun80-an,semakinbertambahsajakehadiranpara penulis eksilan Indonesia di ujung Barat sini. Yang dari Tiongkok dan dari negeri-negeri « Blok Timur » lainnya. Denganbeberapapenulisyangdatangterlebihdahulu,kami mengadakan « jumpa muka » kembali atau berkonsultasi untuk kemungkinan sama-sama melakukan kegiatan. Setelah melakukan perjumpaan secara perorangan,di awal tahun 1989, semacam « konsultasi budaya » yang terdiri dari beberapa penulis yang bermukim di Belgia, Jerman dan Belanda, beserta sponsor atau peminat lainnya, berlangsung di Kempering.Stichting Budaya didirikan, dengan bagian penerbitan « World Citizen Press » (kemudian sebutan ini tidak digunakan lagi), dimana pengelola utamanya saya sendiri. Maka terbitan yang resmi (yang ber-ISSN/ISBN) pun muncullah, berupa majalah-majalah Pembaruan (mulai nomor 18 sd 23) dan Kreasi (mulai nomor 1, musimsemi 1989, sampai sekarang) serta beberapa buku kumpulan tulisan perorangan. Semuanya dikelola secara sederhana dan serba terbatas. Begitupun, secara kongkret diperlukan cukup banyak waktu, tenaga dan berbagai macam ongkos pengeluaran untuk alat tulismenulis, bahan-bahan, pencetakan dan pengiriman serta korespondensi, hubungan lisan via telpon atau konsultasi. Sedangkan, kenyataannya, modal utama kami hanyalah modal semangat. Ber-modal-dengkul saja. Segalanya dilakukan secara gotong-royong sukarela dari pengambil inisiatip dan para penulis sendiri, dan dalam hal pengeluaran biaya terutama dari Stichting Budaya dan darisaya sendiri sebagai pengelola utama serta sejumlah kecil pembaca. Sedangkan untuk penerbitan buku atau kumpulan tulisan perorangan, kecuali yang dari Tanahair atau yang tak mampu,biaya pencetakan pada pokoknya ditanggung oleh penulisnya sendiri. Sumber lain tidak ada. Kami telah mencoba mengharapkansumbangan dari instansi-instansi Belanda yang memberi dukungan pada badan-badan non-pemerintah, tapi sia-sia hasilnya, kerna mereka hanya membantu yang di Tanahair.
*
Hasil kongkret : 88 jilid/nomor/judul
DENGAN semangat: «menyambut menghargai menyebarluaskan kreasi (termasuk karya opini), direalisir dengan cara sama-sama kerja atau kerjasama gotong-royong,saling-bantu sukarela dan tanpa ikatan apa-apa », kegiatan penerbitan non-profit yang tergolong pers alternatipitu ternyata secara berangsur-angur mendapat sambutan yang menggembirakan. Dari para penulis lainnya, terutama dari Paris, Belanda dan Jerman, juga dari beberapa budayawan dan pakar Indonesia dan luarnegeri serta sejumlah pembaca pada umumnya. Saran, usul, kritik dan yang sangat menggembirakan ialah berdatangannya sejumlah naskah yang minta dipertimbangkan dan diterbitkan.
Selanjutnya, seiring dengan itu keadaan di arena Indonesia dan internasional punterus berkembang bergolak mendengungkan teriakan untuk ditanggapi. Akan tetapi, sarana yang telah tersedia tidak mampu untuk memenuhi hasrat keinginan untuk memberi sumbangan lebih banyak. Maka saya pun bersama beberapa penulis lainnya terus berdaya upaya untuk mengadakan sarana-sarana lainnya, dengan mengayomi semangat yang sama. Maka terjadilah kerjasama-kerjasama dengan Stichting Indonesia Media untuk menerbitkanmajalah Mimbar (n° 1 / 1990 sampai dengan n°5 / 1992) dan dengan Stichting ISDM untuk menerbitkan majalah Arena (sejak n°telah 1 September 1990 hingga sekarang mencapai nomor 22) dan sejumlah buku atau brosur.
Sejak awal 1989 hingga Agustus 1997 ini, kegiatan penerbitan kita yang resmi, dengan segala kekurangan dan keterbatasannya itu telah mencapai 88 jilid/nomor/judul, berupa majalah-majalah Pembaruan (6 nomor),Mimbar (5 nomor), Arena (22 nomor) dan Kreasi (32 nomor), dan berupa buku atau brosur sebanyak 23 buah.
Tak bisa disangkal, bahwa semua hasil tersebut tak lain adalah berkat terlaksananya semangat pengelolaannya, berkat pengambil inisiatip dan pendukung utamanya, berkat sumbangandari para redaktur (penyusun tulisan) atau pengarang, berkat sambutan dari sejumlah pakar atau budayawan serta dari sejumlah pembaca umumnya.
Tak bisa disangkal, betapapun sederhana, kecil, terbatas, bahkan sebagai setitik air di lautan saja kebanding dengan tuntutan situasi perjuangan yang besar, tetapi hasil-hasil tersebut adalah kongkret. Dan yang bagaikan setetes air itu, dapat menjadi pelengkap atau penambah bagi tetesan-tetesan air lainnya yang ada di mana-mana, terutama di Tanahair. Mau tak mau, menurut logika dan kodratnya, kesemuanya mengarah ke satu titik tujuan. Kesemuanya menjadi aliran untuk mencapai muara. Bukankah, seperti kata pepatah : « Semua yang menuju titik yang sama pasti bertemu? »
Itulah sejumlah hasil terbitan kita dan sekaligus sebagai sumbangan kita ala kadarnya bagi perjuangan besar Rakyat Indonesia dan dunia. Perjuangan antara kekuatan demokratik dengan kekuatan kediktatoran. Perjuangan antara kekuatan atau kekuasaan tulisan, buku, penerbitan di satu pihak dengan pihak lain yakni pemegang kekuasaan yang zalim. Perjuangan antara kekuatan yang menghendaki kecerahan dengan yang melakukan penggelapan dan pembodohan.
Perjuangan masih jauh dari selesai, masih panjang dan berlika-liku. Tugas kita, seperti kata seorang penyair, adalah untuk selalu: hadir dan mengalir.
*
Demikian sepenuhnya catatan tentang penerbitan -- tentang aktivitas kreativitas tulis menulis di luar garis -- seperti yang saya susun dan disiar-sebar Majalah Kreasi nomor 32 tahun 1989-1997. Catatan yang selayaknya kelak dilengkapi dengan catatan senada dalam Kreasi nomor 40 tahun 1989-1999, dalam mana diutarakan fakta nyata jumlah hasil penerbitan kita seluruhnya sebanyak 100 Jilid/Judul berupa kumpulan tulisan dalam bentuk terbitan berupa majalah, buku dan brosur. Fakta nyata akan kebenaran pribasa Perancis: "La parole s'envole, l'écrit reste". Omongan mabur tulisan tetap menetap. *** (02.03.2008)
Sekitar Aktivitas Kreativitas Tulis Menulis Di Luar Garis (6)
Oleh: A.Kohar Ibrahim
TRANSIT. Ada yang bilang hidup ini tak ubahnya seperti Transit. Meski makna transit selayaknya memang sebagai tempat persinggahan yang dalam ruang maupun waktunya terbatas. Dalam kesementaraan. Kesementaraan dalam suatu perjalanan yang relatip panjang. Namun, apa dan bagaimanapun adanya, tak urung Transit itu sendiri bukan tak mungkin sarat akan problematika karenanya menimbulkan ragam macam tanda-tanya yang berkaitan dengan situasi-kondisi hidup kehidupan masyarakat manusia di mana pun adanya. Tak peduli di negeri-negara Kerajaan dengan sang Raja dan Pangerannya; di negara-negeri Kekaisaran atau Keimperialan ataupun Kerepublikan. Tak peduli pula ragam macam oto-proklamasi yang disiar dan warna panji-panji yang dikibar-kibarkannya.
Dari pengalaman perjalanan hidup kehidupanku adalah ekspresi diriku berkenaan dengan Transit dan saling selang seling kait berkaitannya.
Transit
bagiku transit pertama kali di bulan september'65:
pnompenh kamboja menuju kanton china.
transit kedua di bulan juni'72:
moskow uni soviet menuju ujung eropa.
di kamboja kami tak disambut keturunan pangeran
di moskow nomenklatura datang dengan rayuan.
ah, tidak, ah, ogah...
kalau cuma untuk menyanyikan lagu itu itu juga
hakekatnya 'kan sama saja.
kami tak sudi lagi jadi pelopor dalam lingkaran setan
dididik jadi aparacik pemuja kekuasaan.
kami mau meneruskan perjalanan
sekali pun berlika liku namun wajar dalam kehidupan.
Stasiun KA-Metro Moskow, 1972.
*
Demikian salah sebuah karya tulis yang tercatat di: Stasiun KA-Metro Moskow 1972. Tapi baru disiar kemudian dalam"Berkas Berkas Sajak Bebas" A.Kohar Ibrahim,Kreasi N° 13 1998, halaman 28.Sedangkan pada halaman 29 tertera sajak berjudul "Toko Negara"; disusul yang berjudul "Pemerikasaan" (hlm 30) dan "Cahaya" pada halaman 31.
Toko Negara
sehari semalam di moskow
himbauan lagu ikan duyung tak mampu memukau.
selain ke metro yang indah kokoh, juga lumumba
sedang di toko negara mataku lebar terbuka:
di peking benar-benar serba ada, di sini serba langka.
Moskow, 1972.
*
Pemeriksaan
keretapi meluncur deras
tapi pernafasanku sesak dicengkam waswas.
di perbatasan negeri-negeri ini selalu terjadi
pemeriksaan karcis sekaligus penggeledahan.
kami disangka pencuri ataukah penjahat buronan ?
padahal kami hanya pengungsi dari "sosialisme tangsi".
keretapi meluncur membawa gerbong kegelisahan
tak terdengar lagi lagu "sekawan" maupun "persahabatan".
Perbatasan "Blok Timur", Medio 1972.
*
Cahaya
di timur cahaya suram dalam kelengangan
di barat gemerlapan dalam kebisingan.
di timur militer dan polisi di mana mana:
polisi berseragam polisi preman polisi kawan sendiri.
di barat militer dan polisi begitu sigap-sigap:
polisi polisi jerman dan pendudukan zone zone internasional.
di mana dan siapa sih yang sebenar-benarnya
menikmati alam bebas merdeka ?
yang pasti, di berlin barat, aku dan bung didi
tidur gelisah di kamar sempit bersama kelinci !
di berlin barat, kutangkap seberkas cahaya:
kehidupan itu perjuangan dalam beragam warna.
Sprengelstrasse, musimpanas 1972.
*
TRANSIT dan 3 buah karya tulis lainnya dari kumpulan"Berkas Berkas Sajak Bebas" itu merupakan bagian tak terpisahkan dari ekspresi diri berdasarkan pengalaman kehidupan, yang dirasa dan yang dipikirkan. Sebagai bagian dari rangkaian perasaan dan pikiran yang berintikan pada manifestasi pemberontakan berupa pertanyaan: "Mengapa ?" Pertanyaan yang bisa diajukan secara multi-dimensi atas bidang-bidangkehidupan.
Iya. Betapa tidak. Bukan saja tatkala menjalani kehidupan sehari-hari dalam keadaan normal, tapi juga dan justeru dalam ketidak-normal-an, dalam tiadanya ke-bebas-merdeka-an atau malah dalam ke-terkurung-an, pemberontakan terjadi berawal mula dari alam pikiran. Dalam berpikir. Dalam memanfaatkan anugerah bermakna disebut: nalar. Dan bertanya: "Mengapa?" terhadap hal ihwal, segala hal ihwal, dalam situasi-kondisi kehidupan yang dijalani.
Mengapa? Misalnya: Eksis Planit Biru yang disebut Dunia ini? Dan bagaimana pandangan manusia atas dunia sekalianalam semestanya?Mengapa tidak serupa melainkan beragam? Seperti adanya yang menuruti pandangan materialisme selain ada pula yang menuruti pandangan idealisme?
Mengapa? Misalnya: Baik kaum idealis maupun kaum materialis sama-sama mengaku humanis, namun dalam kenyataan aksi manifestasinyaseringkali bertolak-belakang?