What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag cerpenkohar
KEPALA pening. Kedua belah pelupuk mata terkatup. Hitam kelam. Kunang-kunang datang terbang melayang bolak balik berputar sekitar. Telingaku menangkap suara percakapan perlahan nyaris samar-samar, namun ada sepatah kata yang jelas terdengar : « Bon. Ca coule bien.,» ujar seorang. Bagus. Alir-tetesannya lancar. « Oui, » bilang yang seorang lagi. Keduanya nada suara perempuan. « Iya. Nampaknya dia letih. Biarkan ngasoh… Sejam lagi kita cek kembali. » Yang pertama menyetujui : « D’accord. »
Sesaat lagi. Entah kenapa. Apakah selagi pelupuk mata merem-melek, ataukah sedikit terbuka dalam menanggung rasa lemah kelemahan teriring sakit kesakitan di dalam perutku. Ataukah juga lantaran efek sampingan obat dari pengobat alias para juru-rawat. Dampak yang aku rasa sepertinya jiwa-ragaku tidak lagi dalam keadaan statis. Dari celah pelupuk mata yang mengabur menggelap aku masih sempat menampak pipa-pipa plastik elastis yang mungil transparan pengalir cairan dari botol-botol infus yang menggelantung. Botol-botol berisi zat nutrisi dan obat berwarna bening, selain ada sebotol berwarna meah. Merah darah. Tanpa semua itu, pun tanpa oksigin yang disalurkan via pipa plastik yang mungil transparan ke lubang hidungku, yah iya, memang iya aku tak kan mampu mengetahui di mana jiwa dan ragaku sedang berada.
Beberapa saat aku berupaya untuk lebih jelas melihat semua botol-botol obat yang disiap-sajikan oleh para pengobat – pemberi obat atau juru-rawat. Juru-rawat yang semuanya mengenakan busana serba putih. Dari ujung penggantung botol-botol obat pengobatan itu, tatap-pandangku mengarah lebih tinggi. Ke langit-langit. Lantas menembus terus ke langit. Jiwa-ragaku tergerak beranjak melonjak terbang mengawang didampingi perempuan-perempuan cantik yang datang tanpa diundang. Datang begitu saja sebagai relawan. Secara bergiliran mengiring-dampingi diriku. Makhluk-makhluk yang beragam macamnya. Ada yang berkulit putih berambut pirang berhidung mancung. Ada yang berkulit kuning langsat berambut hitam polos berhidung mungil bermata sipit. Ada yang berkulit sawo-matang berambut hitam ikal berhidung tak mancung. Ada yang berkulit hitam seperti penyanyi Shade. Ada yang berpenampilan anggun dan bersuara merdu seperti penyanyi Anggun Ciptasasmi dan seperti juga Oumi Kalsum.
Perempuan-perempuan cantik itu meskipun berbeda-beda namun sama juga secara hakiki dalam hal perihal keperhatian maupun keprihatinannya, keramah-tamahannya, kesopan-santunannya, ketulus-ikhlasannya, kesabarannya dan keterampilannya dalam kiprah. Kiprah berupa pelaksanaan misi yang mulia selaku pengiring-bimbing dan penolong manusia yang lemah, manusia yang membutuhkan pertolongan dan atau bimbingan. Pertolongan dan bimbingan untuk melewati ataukah mengatasi ragam-macam aral perintang maupun rajaman derita-nestapa. Untuk mengatasi kelemahan yang dirasakan manusia dengan mengubahnya menjadi kekuatan. Kekuatan untuk bisa memulihkan kembali kesehatan hingga bersemangat dalam menelusuri perjalanan kehidupan. Hidup kehidupan yang bermakna dan indah – meski teriring selang-seling aral perintang atau mesti melewat-lompati batu ujian. Misi para makhluk yang cantik-cantik itu, sebaliknya pun mungkin kemungkinannya yang bisa terjadi. Kebalikan dari mengiring membantu meneruskan perjalanan hidup kehidupan. Yakni jadi pengantar makhluk manusia dalam perjalanan menuju pintung gerbang keabadian. Ke alam baqa. Yang disebut orang : Mati. Ke-mati-an yang sewajarnya. Sebagai akhir derita sakit di alam fana ini.
Seketika, sekali ini, perempuan cantik berkulit kuning langsat berambut hitam polos berhidung mungil bermata sipit, dengan lincah siap-sigap mendampingiku. Kesopan-santunannya bertanda nada irama suaranya yang merdu nyaris merayu yang begitu pas mengganti rasa was-was yang sering mencengkam diriku. Was-was sebagai kelanjutan penasaran akan obat pengobatan yang aku terima semenjak masuk ruang servis urgent sampai jadi penghuni kamar pasien ; terbaring telentang di atas ranjang. Dan seketika menghampiriku dengan sapaan sekalian tatapannya, seketika itu pula sudah terasa ada kesejuk-nyamanan meresap ke sekujur jiwa-ragaku. « Ah, makhluk perempuan cantik, dikau lah bidadari rupanya, » kata hatiku. Dan seperti membaca hatiku, Sang Bidadari itu tersenyum. Ringan memberi aba-aba dengan lirikannya yang dengan mudah saja aku taati untuk mengikutinya. Membawaku terbang mengawang-layang melintasi kawasan pegunungan, sungai panjang dan sepanjang-panjang Tembok Besar yang menghiasi Kerajaan Tengah. Berkisah tentang penemuan akar-akaran, rerumputan dan dedaunan yang dijadikan obat pengobatan penyakit semenjak tujuh ribuan tahun. Obat pengobatan tradisional yang bermanfaat bagi kalangan rakyat sampai pada kaisar atau pembesar.
Sekali, kemudian, Sang Bidadari nan indah bermata sipit iut melambaikan tangan dengan gemulai. Tertuju ganda setelah jarak memisah diriku seraya ke arah Sang Bidadari lainnya yang segera datang sebagai pengganti untuk mengiring-dampingi diriku. Kali ini, Sang Bidadari berkulit sawo matang berambut hitam berhidung tak mancung. Sepintas pandang parasnya mengingatkanku pada Jenifer Lopez dan Anggun Ciptasasmi ; seketika pula mengingatkanku pada citra manusia purbakala yang hidup berkembang biak di kawasan Trinil dan sekitarnya. Maka betapalah girangnya hatiku tatkala beberapa saat lamanya Sang Bidadari itu mengajak aku terbang melayang menerawangi kawasan panjang sepanjang panjangnya Katulistiwa. Terutama sekali dengan melintasi daerah pegunungan Andes sampai Bukit Barisan, Tangkuban Perahu, Merpati-Merbabu, Tengger, Bromo dan Lawu. Dengan wajah sumringah Sang Bidadari mengarah telunjuk mungilnya ke bumi di bawah seraya berkisah akan kekayaan alam, terutama sekali rerumputan, dedaunan dan pepohonan yang kulitnya amat bermanfaat maka dijadikan obat pengobatan yang muzarab. « Lihatlah, bukankah Mbak-mbak Tukang Jamu itu bukti pembawa tradisi sejak zaman bahari ? » ujar Sang Bidadari bersuara merdu seperti Anggun Ciptasasmi. Dan sebagai pengikut yang taat-setia aku hanya bisa mengiyakan saja dengan rasa gembira bercampur bangga. Belum kesempatan memberi jawab atau mengajukan pertanyaan, Sang Bidadari lebih dahulu cepat memberi isyarat pamit seraya melambaikan tangan mengundang yang lain untuk menggantikannya.
Iya. Segera bergantian dengan Sang Bidadari yang seperti penyanyi Shade dan seperti Oumi Kalsum. Dengan gerak-gerik yang menarik menggelitik dan suara yang ramah lagi benada irama merdu membahana menyampaikan dakwah akan kekayaan alam yang tersimpan di hamparan bumi di bawah sana. Dari wilayah Persia sampai Palestina dan Mesir serta Gurun Sahara dan sekitarnya. « Tidakkah di sana pun sudah sejak zaman kuna manusia mencari menemukan menggunakan obat pengobatan bagi sesama manusia yang membutuhkannya ? » Maka, sebagai pengikut aku hanya menuruti petunjuknya. Mengamininya saja. Meski sesaat datang firasat untuk mengajukan pertanyaan sarat menggugat akan obat pengobat yang berkenaan dengan pendarahan, kekurangan atau kehilangan darah dari dalam rubuh sendiri. Namun, belum lagi aku sempat berucap-tanya, Sang Bidadari sudah melambaikan tangan dengan gemulai dan seperti dengan sepontan mengundang yang lain datang menggantinya. Sang pengganti adalah Bidadari berkulit putih berambut pirang berhidung mancung. Mendampingiku juga dengan keramah-tamahan yang menyejukkan hati dan pikiran sepanjang lawatan bersamanya. Lawatan melewati kawasan mulai dari Eropa Selatan sampai Eropa Barat dan Eropa Utara. Dari negeri Plato, Leonardo sampai Rosseau ; dari negeri Bosch sampai Andre Vésal, Rubens dan Rembrant. Malah akhirnya sampai Magritte dan lantas memasuki pintu gerbang Akademi Senirupa Brussel. Tempat dimana aku merampungkan studi. Mengkaji teori juga mempraktekkannya sekaligus. Termasuk dalam hal perihal anatomi : dari dakwah kuliah guru, dari lembar halaman buku sampai kepada sentuhan model-model hidup. Agar supaya selain bisa melukis atau menggambar yang nampak terlihat, pun mengetahui apa yang tak langsung nampak oleh pandang mata – seperti ruas-ruas tulang dan jaringan otot atau urat serta gumpalan daging yang terikat melekat.
Perlawatan itu membikin aku semakin menyadari akan makna memaknai pentingnya perihal anatomi, bukan saja berkenaan dengan aktivitas-kreativitas senirupa dan bagaimana mengapresiasinya, tapi juga berkenaan dengan hidup kehidupan. Baik hidup kehidupan sebagai manusia biasa maupun sebagai seniman yang justeru menderita rajaman sakit yang bukan saja menyakitkan melainkan juga mengerikan. Lantaran bisa sampai pada titik kematian. Salah satunya lantaran kekurangan, kehilangan atau sampai pada kehabisan darah. Anemia. Maka, tanpa adanya pengenalan akan darah dengan ragam jenisnya, tanpa pengenalan urat atau pembuluh darah, mana bisa kemudian ditemukan cara pengobatan dengan infusi, istimewa sekali tranfusi darah ?
Oh ! Betapa anggun, betapa luhur indahnya Sang Bidadari itu. Kata hatiku menyambut pandang mata pikiranku. Semakin bangga campur bahagia diiring-dampingi sang makhluk pengasih penyayang penolong tanpa pamrih. Apa pula, manakala Bidadari-bidadari yang mengiring-dampingiku terbang mengawang melayang-layang bersma Sang Kala menelusuri ruang kawasan luas layaknya tak berbatas, sekalian juga membawaku ke satu titik tumpuan lukisan seorang penyair Palestina. Bahwasanya : « Peradaban ummat manusia itu hanya satu yang diperkaya senantiasa dari zaman ke zaman. »
SESAAT kedua belah pelupuk mataku gerak bergerak berkejap, hanya untuk terbuka perlahan-lahan. Bareng dengan suara tertangkap telingaku. Tatkala tanpa sepengetahuanku pintu kamar terbuka lebar-lebar. Begitu sigap-siapnya, dalam sekejap sepasang juru-rawat sudah berada dekat di samping kanan ranjang pasien tempatku terbaring telentang. Keduanya sibuk saling-bantu mengurusi botol-botol infus yang kosong untuk diganti dengan yang berisi, sedangkan yang tak diperlukan lagi dicabut dari gantunganya.
« Monsieur, » kata seorang yang berkulit sawo-matang dengan aksen Melayu mirip Anggun, « Tuan, infus darah ini yang kelima dan terakhir. Besok Tuan tentunya sudah merasa lebih baik. Cukup kuat untuk pemeriksaan lebih intensip lagi… »
« Apakah nantinya saya akan mengalami pembedahan ? Dioperasi ? » tanyaku memberanikan diri.
« Itu berdasarkan hasil diagnosa dan keputusan Dokter, » jawab Sang Jururawat yang satunya lagi, yang berbahasa Perancis dengan aksen Arab.
« Iya, » desisku. Nyaris tersambung : « Iya maklum, wahai bidadari ! » Jadinya aku hanya bisa mengangguk. Mengamini keduanya. Pasrah. Terserah pada team kedokteran sekalian juru-rawatnya. Kepasrahan atas dasar kepercayaan akan kebijaksanaan yang diambilnya selaras pengetahuan, kecakapan, peraturan dan etika serta kecanggihan sarana maupun obat pengobatan yang digunakannya. *** (15.06.08)
(Dari rangkaian kisah "Sitoyen Saint-Jean: Antara Hidup Dan Mati" oleh A.Kohar Ibrahim)
SIANG. Terbaring. Terlentang. Lengan tangan sebelah kiri tertancap jarum suntikan sebotol cairan infusi warna merah. Darah. Selain ada sebotol lagi berisi cairan warna air bening yang berupa infusi nutrisi. Keduanya menggelantung di cantelan cabang empat cantelan tiang pipa besi. Cairan pun mengalir tetes menetes perlahan lewat pipa plastik transparan mungil. Zat yang masuk merasuk ke urat lenganku langsung ke seluruh jaringannya di dalam tubuhku. Pipa plastik mungil lainnya mengalirkan oksigin via kedua lubang hidung. Kesemuanya itu perlahan-lahan mampu menimbulkan rasa kesejuk-tenangan dan membangkitkan kekuatan badan. Sementara telingaku masih mampu menampung suara yang kadang kala datang berisi pertanyaan sarat penasaran yang teramat sangat.
Pertanyaan itu bisa saja datang dari jauh ataukah dekat terbelah pisah sekitar semeter, sekilo atau sepuluh kilo meter, pun yang dari jauh jarak terbelah pisah sebanyak lebih dari dua puluh ribu kilo meter. Berbunyi : « Comment allez-vous ? Apa kabar ? Bagaimana keadaan kesehatan …? » Yang bersambut jawaban bervariasi namun hakikinya serupa : « Lagi kurang enak badan. Sakit. »
Dalam hal sakit menderita sakit, aku merasa tak ada manfaat untuk merahasiakannya. Kenapa merahasiakan hal ihwal yang wajar wajar saja dalam menelusuri perjalanan hidup kehidupan selaku makhluk manusia ? Yang selain sehat bisa pula tak sehat atau jatuh sakit. Wajar kewajarannya seperti halnya kewajaran adanya pagi sore siang malam ; seperti halnya juga merem melek, dan hidup mati.
Barang tentu nada kata hati dan benak yang sederhana ini diterima oleh pendengar atau pembacanya bisa mengundang macam-macam rasa pula. Bisa dengan rasa terang dan jernih, bisa pula dengan rasa gundah bahkan sedih. Tambah lagi ketika aku jelaskan derita sakit yang boleh dibilang termasuk gawat. Seperti dalam keadaan kekurangan darah lantaran kehilangan darah yang disebut anemia itu.
« Kenapa mendadak sampai begitu ? » tanya Hasanudin, selah seorang mantan teman sejawatku penuh keheranan. Lantaran selama ini menurut penglihatannya kesehatanku termasuk yang lumayan juga adanya. Terbuktikan aku jarang absen dengan alasan gangguan kesehatan.
« Iya, siapa sangka, untuk pertama kali dalam hidupku merasakan begini, » ujarku, seraya menambahkan soal gawat tak gawatnya sakit memang bisa saja diderita oleh makhluk hidup yang namanya manusia. Siapa dan di mana pun juga adanya. Tanpa pandang usia tua muda, bahkan sejak masih bayi dalam kandungan. Tanpa kenal anutan agama atau aliran kepercayaan. Tanpa pandang apapun kedudukan – dari orang biasa, wong cilik, orang lemah sampai orang berkedudukan tinggi, seperti Perdana Menteri bahkan Raja. Begitu pun, tak terkecuali, penyakit bisa menghujam orang kuat macam jenderal diktator yang baru-baru ini wafat setelah sekian lama sekarat.
« Benar itu, » kata Hasan. Atas penjelasan bahwa aku harus menjalani serangkai pemeriksaan medis, temanku itu hanya mengulang bilang : « Benar itu ». Dengan penegasan : « Supaya bisa diketahui sebab musababnya dengan jelas. Semoga kau kuat dalam menghadapi ujian berat ini. » Akhirnya sekaitan dengan Sang Jnderal Diktator, Hasan berpesan : « Sudah. Aku mengerti betapa sikap pendirianmu terhadap sang Jenderal Tukang Senyum itu ; tapi kini sudah wafat. Jangan terus menjadi bahan pikiran yang menyakitkan hati ; menambah parah sakitmu sendiri. Kalau bisa lupakan sajalah. »
« Lupakan saja ? Ah, mana bisa ? » protesku, tapi hanya tertahan di tenggorokan. Yang bisa keluar adalah : « Aku coba melupakannya, tapi tak gampang, Hasan. »
Memang bagi Hasan, mantan teman sejawatku asal Maroko itu, bisa mudah saja bilang demikian. Tapi bagiku tidak. Tak bisa begitu saja melupakan sang diktator dengan segala kejahatan yang menyengsarakan jutaan manusia Indonesia. Derita ragam macam kesengsaraan sampai pada kematian. Mati tewas dalam pembunuhan perorangan maupun pembunuhan massal. Derita sengsara lantaran rajaman dusta sekalian fitnah ; lantaran penangkapan, pemenjaraan, penyiksaan dan pembuangan ; lantaran ragam macam penyakit akibat kesewenangan kekuasaan. Penyakit kelaparan baik di dalam maupun di luar penjara ; kelaparan lantaran kehilangan pekerjaan dan dikucilkan ; lantaran rajaman penyakit tanpa kemampuan memperoleh pengobatan atau perawatan demi menjaga kesehatan. Ragam macam sakit, termasuk penyakit gangguan urat syaraf, sinting atau gila. Sakit lantaran menderita kesedihan dan was-was yang keterlaluan yang menyebabkan timbulnya penyakit kangker usus. Seperti yang dialami oleh Ibu kandungku. Gara-gara anak tunggalnya jadi salah seorang korban kekuasaan ; terpaksa jadi perantau yang berkepanjangan. Ibuku, yang selalu bergegas keluar rumah, ke pelataran, kalau mendengar suara kapal terbang melintasi rumah sembari bergumam : « Anakku pulang. Anakku nunggang kapal terbang pulang… » Tapi sang anak yang ditunggu-tunggu pulang tak jua kunjung datang, sampai dia berpulang bersama penyakit yang dideritanya. Meski kemudian hari sang anak yang dinanti-nantikan akhirnya bisa juga pulang. Kepulangan yang hanya berkemampuan untuk bersujud di depan nisan makamnya. Nisan yang tertanam belasan tahun sebelumnya.
« Iya. Tak mudah melupakan penjahat kemanusiaan itu, Hasan, » ujarku menandas-jelaskan dengan nada sendu. Dan temanku itu akhirnya yang berupaya untuk memahami alam perasaan dan pikiranku seraya berpesan, bagaimanapun juga jangan sampai jadi penambah parah rasa sakit penyakit yang aku derita. Semoga aku bisa lebih menjaga kesejuk-tenangan dalam diriku. Ketika aku mengamininya, Hasan menutup komunikasi dengan ucapan : « Salamah. » Hanya untuk disusul beberapa detik kemudian dengan suara dering telpon lagi. Tapi kali ini datangnya dari jarak yang jauh, sejauh duapuluh ribu kilometer. Namun demikian, suaranya begitu nyaring, begitu jelas, begitu mesra, begitu menggugah., bahkan begitu menghiba. Hibaan yang merupakan reaksi atas penjelasan dariku berbalas penjelasannya perihal sakitnya penyakit yang aku derita.
Suara komunikasi dari seorang perempuan itu memang mampu menyejuk-tenangkan jiwaku, meski tak urung juga dengan sendirinya menimbulkan rasa penyesalan sekaligus kesedihan lantaran keterpisahan oleh jarak yang luar biasa jauhnya. « Duhai ! » jerit hatiku. Sakit. Menahan rasa sakit. Janganlah pula, soal persoalan ini berubah menjadi bibit penyakit atau malah jadi penambah sakit penyakit yang diderita. Sakit penyakit yang tumbuh berkembang merajam jantung hati. Seperti yang dialami Ibu kandungku. Hingga dijemput maut. Maka dari itu, ketika mendengar suara perempuan terkasihku memohon supaya aku bisa menjaga ketenangan hati dan pikiran, akupun membalasnya dengan nada serupa. « Iya, sayang. Sama-sama kita mengupayakan. »
SELAGI terbaring terlentang di atas ranjang pasien rumah sakit, memang terasa betapa bermaknanya komunikasi antara manusia yang selayaknya. Baik di dalam lingkungan terbatas tempat perawatan maupun dengan yang dari luar, langsung maupun tak langsung seperti via telpon itu. Meskipun hanya sebentar sebentar saja sebagai pertanda keperhatian sekaligus keprihatinan sesama manusia, sesama anggota keluarga dan apa pula dari yang terkasih. Nada suaranya yang mesra mengandung kesejukan yang aku butuhkan tak ubahnya sebagai obat bermanfaat penambah kuat jiwa raga dalam berlawan melawan rasa sakit yang sedang merajam kejam.
Barusan, sebentar tadi, suara perempuan terkasihku bukan hanya mampu menggugah hatiku melainkan juga segera menyegarkan ingatanku selagi kami menikmati masa kebersamaan. Kebersamaan di dalam ruang maupun waktu. Dalam keadaan sehat badan maupun dalam keadaan sakit. Sama sama jatuh sakit, seperti terkena flu – meriang panas dan batuk-batuk. Yang semula adalah isteriku, kemudian aku sendiri yang terkena. « Bapak ketularan Ibu, yah ? » begitulah antara lain ujar kata Bu Dokter yang juga kenalan baik isteriku itu, sembari senyum yang aku balas dengan senyuman pula. Senyuman dari pengantar lantas giliran diantar oleh isteri ke kliniknya. « Kohar emang badung, » gumam isteriku sarat akan keluhan campur kolokan kepadaku. Bukan tak mungkin, sekalipun tak terucapkan, namun sama-sama terbayang akan suasana mesra kebersamaan kami berdua. « Ah, kalau cuman sakit enteng aja, mana gue bisa nahan nyium lu… » kataku mengaku gamblang dengan logat Betawi. Dalam menatapnya, senyumku nyaris berubah cekikikan. Dan isteriku hanya bisa mengulang bilang, tapi sarat nada kolokan juga : « Dasar badung… » Beberapa waktu kemudian, kami kesempatan bersama-sama lagi ke tempat pusat pengobatan. Tapi bukan lantaran sama-sama jatuh sakit. Bukan pula ke sebuah klinik. Melainkan ke Rumah Sakit, lantaran ayahnya, mertuaku, yang jatuh sakit. Seminggu kemudian, kembali bersama-sama ke Rumah Sakit lagi, menjenguk seorang paman yang jatuh sakit. Dan yang paling belakang, kami sama-sama lagi berhubungan dengan tempat perawatan di Rumah Sakit, bahkan bermukim selama dua hari dua malam. Isteriku yang jatuh sakit cukup gawat karena keracunan makanan, sepulangnya dari perlawatan-dinas di Surabaya. Padahal, selama berada di Kota Pahlawan itu, setiap kali makan bersama, jenis masakan yang kami makan nyaris sama. Baik ketika di hotel, restoran maupun di warung makanan pinggir jalanan. Termasuk sama-sama merasakan enaknya tahu-tek ala Suroboyo. Yang dicurigai jadi gara-gara keracunan makanan yang disantap isteriku. Makanan yang menyebabkan rasa mules di dalam perutnya, kepala pening dan ke toilet untuk buang air pun sering. Sehingga badannya menjadi lemah. Sedemikian lemahnya sempat matanya berkunang-kunang, gelap dan akhirnya tumbang. Pingsan. Cepat diangkut ke Rumah Sakit itu untuk menerima perawatan urgen. Peristiwa itu cukup mengenas-amblaskan hatiku. Meskipun aku tak merasakan sakit kesakitan yang dideritanya. Kecemas-was-wasanku memang semata-mata lantaran ketakutan akan terjadinya hal yang tidak kuasa dielakkan, kecuali oleh dan berkat Yang Maha Kuasa. Jelasnya : aku ketakutan akan kehilangan yang paling bermakna dalam hidup kehidupanku. Syukurlah hal itu tidak terjadi. Namun demikian, pengalaman sakit dan berhubungan dengan klinik atau rumah sakit itu memang tak mudah bisa terlupakan begitu saja. Kesedihan dan keprihatinan senantiasa jelas dalam kenangan, bukan saja berkenaan dengan keadaan kesehatan orang yang terkasih atau sanak-keluarga, juga pada sitoyen atau penduduk negeri lainnya. Semua mereka yang sangat membutuhkan pengobatan atau perawatan demi menjaga kesehatan. Penjagaan kesehatan yang luar biasa susah atau betapa mahalnya. Kemahalan sedemikian rupa hingga nyaris tak kesampaian oleh kebanyakan orang yang tak beruang. Banyak kebanyakannya bukan seorang dua orang, bukan sepuluh atau belasan, bukan seratus atau ribuan, melainkan jutaan bahkan berpuluh-puluh juta manusia yang dalam derita kemiskin-sengsaraan. Pasalnya bagaimana mereka bisa berobat atau beli obat, jika harganya tak terjangkau bagi mereka yang berpendapat seharinya hanya satu atau dua Euro saja ? Bagaimana bisa ke rumah sakit untuk mendapat perawatan, jika untuk sehari semalam saja biayanya sejuta sampai dua juta Rupiah bahkan lebih dari itu ? Dan ketika tersediapun biaya untuk mendapatkan perawatan di RS, belum tentu bisa masuk lantaran sudah penuh. Maka bukan jarang mereka harus bersabar menunggu dalam derita, di luar gedung RS atau di luar kamar pasien. « Mereka itu penunggu, atau pengunjung, » jelas isteriku, ketika aku bertanya-tanya keheranan kenapa banyak orang sampai waktu malam hari mengisi ruang tunggu, bahkan juga couloir gedung kamar-kamar pasien. Dan pemandangan yang menimbulkan rasa sakit di jantung hati bagai teriris sembilu itu pun masih berkelanjutan ketika berada di luar gedung RS dan di jalanan dengan bergentayangannya sosok-sosok tubuh kurus dan rapuh serta lusuh dari bocah sampai dewasa. Kaum yang menderita sakit kesakitan ragam macam, termasuk sakit perut karena lapar kelaparan. Sebagian ada yang bisa terus bertahan, mengayomi asa seraya berdaya-upaya mengatasi ancam-rajaman sakit dan maut ; sebagian pasrah dengan segala kesabaran, dan sebagian lagi terutama bocah-bocah itu pontang-panting mengais rezki dengan jadi penyemir sepatu, ngamen atau malah menadahkan tangan mengharap belas-kasihan selaku pengemis. « Bangsa ini sakit… ! » jerit hatiku keras layaknya setinggi langit lantaran tak tahan menahan sakit yang menyakitkan hati dan pikiranku.
Tapi, jeritan itu hanya berkisar di dalam hati ; tak sanggup aku keluarkan di hadapan isteriku. Khawatir jadi penambah gundah kegundahan hati dan pikirannya yang bisa berubah jadi penyakit atau penambah sakit kesakitannya pula. Sekalipun demikian, entah sejauh mana dampak situasi dan kondisi hidup kehidupan masyarakat yang sedemikian memprihatinkan itu ke dalam dirinya. Sedangkan yang menyelusup ke dalam diriku sendiri, bukan tak mungkin aku sudah dan sedang merasakannya. Meski sementara ini masih beruntung bisa berbaring di ranjang pasien dari klinik besar atau RS yang serba modern dalam segala makna fungsinya sebagai salah sebuah pusat perawatan kesehatan. Begitupun, sekalipun selagi pejamkan mata atau malah selagi merem-melek saja sembari melawan rejaman sakit penyakit, jaringan perasaan dan pikiran serta ingatanku tak luput lepas dari suasana nun jauh di sana. Di tanah tumpah darahku Indonesia.
Beberapa saat kemudian, tiba-tiba aku terjaga dari cengkaman perasaan dan pikiran serta bayang-bayanganku, tatkala terdengar suara pintu terketuk, seorang jururawat masuk seraya mengisyaratkan supaya aku bersiap-siap untuk menjalankan pemeriksaan lanjutan. Maka aku hanya bisa pasrah mengiyakan saja. Mentaati pengaturannya. Kepasrah-taatan atas dasar kepercayaan akan tujuan yang mulia demi pengobatan dan perawatan serta pemulihan kesehatanku.*** (01.06.2008)
(Dari berkas naskah kisah A. Kohar Ibrahim : « Sitoyen Saint-Jean : Antara Hidup & Mati ») Ilustrasi: Foto karya lukis Abe alias A.Kohar Ibrahim, cat akrilik di atas kanvas.
BADAN terasa semakin letih, meski tak melakukan pekerjaan yang berat apapun harini. Kecuali sana sini menjalani pemeriksaan, lantas terbaring di atas ranjang pasien. Ranjang yang berwarna serba putih, baik kasur, seprei, selimut maupun bantal empuknya. Lantaran keletihan, maka seketika mataku terpejam. Terlena. Hanya untuk seketika kemudian kembali terjaga, mendengar suara juru rawat membuka pintu lebar-lebar, membawa nampan berisi makanan dan meletakkannya di sebuah meja kecil, seraya berkata :
« Oui, merci beaucoup, » jawab pasien yang terbaring di ranjang sebelah kiriku, dengan nada gembira.
« Maaf, tak ada jatah untuk Tuan Kohar, » ujar sang Jururawat sekaligus penyaji makanan yang nampak masih gadis itu. Lanjutnya sembari senyum : « Masih harus puasa… »
« Oui, d’accord, » balasku menyetujui sang Jururawat yang segera beranjak meneruskan jejak menyajikan nampan berisi santapan makan-siang dari satu ke lain kamar.
Seketika itu pula, pasien sebelah kiriku yang disebut Riko itu sudah sigap siap menyantap sajian makan-siang untuknya. Santapan yang berupa seporsi kentang goreng, sekerat daging, sepiring kecil selada dan semangkuk sup. Dilengkapi sebotol air bening Spa dan sebutir buah apel. Gaya caranya mengunyah makanan itu benar benar menunjukkan orang kemaruk. Begitu bersemangat. Begitu lahap. Begitu menikmatinya. Memancing timbulnya rasa ngiler dan keroncongan di dalam perutku. Perut yang memang sejak beberapa hari sering menimbulkan kengiluan. Perut yang sejak kemarin tak terisikan makanan apapun. Puasa. Puasa untuk pemeriksaan dan pengobatan badan. Untuk di-skan atau difoto demi mendapatkan gambar gambaran keadaan di dalam tubuhku yang jelas sejelas-jelasnya ; terutama sekali justeru yang berkenaan dengan isi perutku. Sebentar lagi, jam setengah empat sore, aku harus mengalami pemeriksaan yang disebut : gastrocopie. Maka itu perut mesti dikosongkan ; dicuci malah.
Melirik seberapa detik Riko yang sedang menikmati makanan dan sesekali meneguk-reguk air bening, rasa laparku kian menjadi-jadi. Aku coba mengalihkan perasan yang juga jadinya menyiksa, dengan memejamkan mata. Tapi sia-sia. « Ah, makan makanan, ah lapar kelaparan, » ujar kata hati bersambutan dengan pikiranku. « Bukankah ragam macamnya sudah kenyang aku rasakan dalam perjalanan hidup kehidupanku ? »
Kata Mbahku, sejak masa bayi aku termasuk orang yang tidak susah atau tidak merepotkan dalam soal makan dan minum ; meski suka makan makanan yang enak, namun tak tergolong kaum yang gembul. Lebih suka mencicipi macam-macam masakan yang enak-sedap namun tidak memanfaatkannya dengan bimbingan pikiran « mumpung-mumpung ». Meskipun di rumah Ibu kandung pintar masak ; malah terkenal sebagai « tukang masak » yang sering diundang untuk mempersiapkan makanan untuk pesta khitanan atau perkawinan. Mempersiapkan masakan dan minuman untuk para tetamu yang jumlah dari puluhan sampai ratusan orang.
« Makanan yang dibikin Ibu selalu enak, » begitulah kesanku. Iya, aku ngaku : mulai dari susu, bubur sampai pada ragam macam masakan lainnya. Terutama sekali sayur masak asem, tumis bayam, gado-gado, karedok, pecak atau pecel lele, pindang bandeng, semur dan opor. Sudah tentu juga : lalap-lalapan dengan sambal terasinya. Ibu juga pintar bikin macam-macam kue., termasuk dodol dan kue lapis yang paling aku senangi. « Dengan Ibu aku selalu enak makan dan tak pernah merasakan kelaparan, » begitulah kesan kesimpulanku.
TANPA Ibu, bisa saja makanan yang aku santap rasanya tidak selalu pas ; kadang kala, aku merasakan kurang makan bahkan lapar kelaparan. Seperti yang terjadi dalam periode singkat dua-tiga bulan menjalankan kegiatan dalam rangka turba atau turun-ke-bawah. Turba yang pernah aku lakukan dalam tahun 1963 ke daerah pertanian dan nelayan Indramayu. Bila mana beberapa kali selagi di kawasan nelayan Rawa Merni yang terpencil itu kami hanya bisa makan makanan tambahan berupa ikan namun tanpa makanan pokok seperti nasi. Untuk lauk-pauk semacam ikan memang bisa dicari dengan mengail di rawa-rawa lingi di situ atau turun ke laut. Namun untuk bahan makanan pokok pada saat itu orang sering kesusahan untuk memperolehnya. Tetapi perihal kekurangan makan makanan itu bukan hanya terjadi di kawasan Rawa Merni atau Kabupaten Indramayu saja, melainkan di daerah-daerah lainnya seperti Gunung Kidul yang terkenal itu. Tetapi juga, keadaan kurang makan atau lapar seperti itu, tidaklah sampai membikin putus asa. Sebaliknyalah. Kami – aku dan teman-teman terus meneruskan kegiatan selayaknya. Begitupun kaum tani atau para nelayan di daerah itu. Terus menjalani kegiatan hidup sehari-hari, lantaran hidup itu sendiri tidak hanya kemudahan melainkan pula kesusahan. Seperti kata orang, bahwa hidup itu perjuangan. Lagi pula, dalam kenyataannya, akan kesusahan, akan kekurangan makan atau lapar kelaparan itu, bisa dialami bukan saja oleh orang penduduk ujung gunung atau pedesaan, melainkan juga oleh orang penduduk kota, bahkan Ibukota ? Seperti yang pernah dirasakan oleh teman-teman sejawatku : Zubir, Iskandar, Nurlan, Amarzan, Fauzi dan Tabrin serta Rahendra. Di antara teman-teman penulis sekaligus jurnalis kotaan itu, yang paling tenar dengan julukan « orang tahan lapar » itu adalah Zubir. Zubir anak Medan yang cukup produktip sebagai penulis tapi sering tongpes alias kantong kempes. Lantaran dia hanya mengumumkan karya tulisnya hanya untuk koran atau terbitan yang tidak memberikan honorarium atau hanya sedikit saja. Agak beda dengan aku, memang, yang mengirimkan tulisan ke beberapa koran nasional dengan honorarium yang lumayan. Seperti koran Bintang Timur atau Bintang Minggu dan Wartabhakti. Maka dari itu, tiap kali ada karya tulisku yang tersiar, yang senang bukan saja diriku sendiri, melainkan juga teman-temanku itu. Senangnya, lebih-lebih lagi terasa, ketika kesempatan untuk pergi ke warteg atau warnas Padang untuk menyantap bersama nasi rames atau sepiring nasi putih dengan lauknya yang paling aku senangi : rendang. Ah, betapa asyik-nikmatnya makan makanan berupa masakan yang memang disenangi ; apa pula mengingat bisa begitu berkat hasil karya tulis ; lebih-lebih lagi bisa mentraktir sobat sejawat. Lebih sering karya tulisku diterbit-siarkan, lebih sering aku kesempatan menikmati makan masakan yang enak dan yang aku senangi. Yang senang dan turut senang bukan saja sobat-sobat sejawat atau terdekatku, tapi juga Ibu kandungku. Setiap kali aku pulang, selalu dibrondong pertanyaan sekaitan dengan kesehatan yang tak lepas dari soal makan makanan yang layak., yakni yang cukup bergizi. Pertanyaan yang selalu aku jawab untuk menenangkannya : « Nggak perlu kuatir, Bu. Soal untuk makan, selain punya gaji juga tambahan hasil tulisan. »
« Syukurlah, kalau gitu, » ujar Ibu, meski nampaknya selalu penasaran. Lantaran menyaksikan betapa gayaku menikmati sajian makan hasil masakannya sendiri. Selalu seperti orang lagi kemaruk.
Aku maklumi Ibu merasa resah kalau saja tahu kesehatanku lagi terganggu pun kalau lagi dalam keadaan ketidakcukupan makan. Kalau sebaliknya, tentulah Ibu merasa senang, bahagia malah bangga. Sekalipun hanya mendengar penjelasanku yang itu-itu juga : soal makan tak usah dikhawatirkan lantaran aku punya pendapatan lumayan -- sebagai jurnalis dan penulis sekalian.
Begitulah, berkat aktivitas-kreativitasku itu pula, betapa Ibu kandungku itu merasa gembira campur bangga menerima suratku dari luarnegeri. Istimesa sekali perihal yang berkaitan dengan kesehatanku dan juga perihal makan makanan. Lebih istimewa sekali semasa berstatus sebagai salah seorang dari rombongan tamu negara. Selain tinggal dari hotel ke hotel kelas satu, juga sering kali menikmati makanan pada jamuan makan-makan ; yang menu-nya memenuhi meja makan yang lebar bundar. Dan yang tak terlupakan, baik kwantitas maupun kwalitasnya, tentulah ketika menerima jamuan makan pada 1 Oktober malam 1965. Pada jamuan makan resmi di ruang Gedung Rakyat di Tienanmen Peking, yang dihadiri para pembesar RRT dan ribuan tamu dari berbagai negeri-negara, termasuk kepala-kepala negara, yang kesempatan menghadiri perayaan ultah ke-16 berdirinya negara Republik Rakyat Tiongkok itu. Dengan ragam makanan dan minuman entah berapa macam jumlahnya, silih ganti selama sekian jam jamuan besar yang bertujuan mempererat tali persahabatan antara rakyat-rakyat sedunia itu.
Meskipun di atas meja makan banyak tersajikan macam-macam masakan seperti pada jamuan makan itu, namun kebiasaanku tak berubah. Aku memang suka makanan enak, tapi kecenderunganku hanyalah lebih suka untuk mencicipinya. Artinya, dengan makan menyantap makanan tersedia secukup-pantasnya saja. Dari kami berlima – Azis, Afif, Sukaris, Kusni dan aku sendiri – Azis lah yang paling bergairah, disusul Sukaris dan Afif. Agak berbeda dengan Kusni dan aku sendiri. Apakah lantaran tinggi-besar badan masing-masing yang menentukan ? Entahlah. Tapi aku punya teman-teman yang sama tinggi dan malah lebih pendek, seperti Fauzi, yang tergolong bukan saja gemar makan tapi sekalian gembul juga. Bahkan tergolong orang yang « berfilsafat : mumpung-mumpung ».
Makan makanan berupa sajian dari tukang masak hotel dari ragam macam perhotelan itu, apakah makan-makan pada acara jamuan makan dari tuan rumah, ataukah bayar sendiri, memang selalu enak-enak. Selagi di Tiongkok, makan makanan sedemikian itu aku alami hampir setahun lamanya. Semasa kesempatan menikmati makan makanan berupa masakan yang enak-enak. Meski kadang kala timbul kerisihan di dalam diri sendiri. Jika mengingat biayanya yang cukup mahal, kebanding upah kaum pekerja yang masa itu, kalau tak salah antara 30—40 Yuan perbulan. Kebanding dengan upah yang aku terima sebanyak 400 Yuan -- ketika untuk beberapa lama dipekerjakan di Majalah Tiongkok Bergambar. Juga risih, teriring rasa resah gelisah, jika ingatan tergugah-gugat keadaan gawat di tanahair. Teringat pada jutaan rakyat yang lapar kelaparan ; pada rekan-sobat sejawat yang pernah lapar dan tentunya sedang susah mencari makan bahkan kelaparan. Seperti Zubir dan kawan-kawan lainnya itu.
Ah, kalau saja orang macam Bang Zubir « sang tahan lapar » ikut rombongan kami, tentulah diapun tergolong seperti aku dan Kusni yang makan enak ya suka, tapi tak gembul.
Makan makanan berupa masakan yang enak-enak dari perhotelan yang cukup mewah selama hampir setahun itu memang tak terlupakan lantaran kecukupan tak pernah terancam kelaparan, meski kerap tergugah-gugat rasa risih dan gelisah. Juga tak pernah terancam kelaparan, lantaran kecukupan makan, ketika aku lebih memilih pindah dari berdiam di perhotelan masuk asrama atau tangsi di Nanking. Berubah status dari pakar kembali sebagai pelajar. Pelajar untuk lebih menambah kecakapan supaya bisa lebih memberikan sumbangan dalam menelusuri perjalanan kehidupan. Maka aku putuskan untuk mengundurkan diri dari pos yang aku duduki ; dengan meninggalkan kamar hotel untuk menghuni kamar tangsi. Sisa gaji yang aku terima tiap bulan, setelah bayar penginapan dan makan di hotel Minzu Fandian itu aku serahkan seluruhnya pada orang yang aku hormat dan percayai : Bung Heru. Sebagai sumbangan untuk mereka yang membutuhkan. Terutama kaum yang tak tahu apa yang hendak dimakan lantaran derita kesusahan yang terpaksa dialaminya.
Makan dan keperluan hidup lainnya seperti pakaian dan perumahan serta pengobatan tidaklah menjadi persoalan selama berada di tangsi Nanking itu memang. Dengan kata lain soal sandang-pangan semuanya tersediakan dari tuan rumah, bahkan kami yang jumlahnya ratusan itu, masih diberi uang saku pula tiap bulannya. Tapi keserba-cukupan itu masih terasa tidaklah mencukupi jika menurut takaran kebutuhan keseluruhan manusia yang normal. Yang justeru menyadari bahwa hidup itu perjuangan. Termasuk yang penting adalah perjuangan justeru untuk cari makan atau memperoleh rezki dengan daya upaya atau dari hasil keringat sendiri. Juga, tak kurang pentingnya jenis makanan lainnya demi kebutuhan sekaligus kesehatan biologis – sebagai lelaki ataupun sebagai perempuan. Sekalipun kami harus tahu diri dan layak selayaknya memiliki kesabaran dalam menanti perubahan situasi supaya bisa pulang kembali ke Indonesia dengan aman, akan tetapi jika penantian berkepanjangan, ah, kesabar-uletan bisa berubah kejenuh-letihan. Siapakah yang tak akan merasa kejenuhan jika setiap bangun pagi situasinya tak juga berubah ubah. Seperti berjalan hanya melangkah di tempat saja. Kalau hanya sebentar, boleh boleh saja. Setahun rasanya cukup lama. Apa pula bertahun tahun sampai tujuh tahun lamanya. Dalam suasana kejenuh-gelisah-resahan itu, ada rasa kerinduan yang sepertinya teramat sangat, yakni justeru dalam soal rasa merasakan makanan sehari-hari. Bayangkan saja, sekian tahun lamanya tak pernah lagi makan dengan menyantap makanan berupa masakan Indonesia. Ragam macam masakan dengan ragam macam bumbu-bumbuannya yang gurih. Pada saat itulah aku menyadari akan makna pentingnya seni-kuliner atau masak-masakan negeri sendiri itu. Suatu bagian yang tak terpisahkan dari kebudayaan Indonesia. Rasa kekurangan bahkan kehilangan rasa sekaitan dengan makan makanan itu memang terasa sekali bukan hanya ketika bermukim di Tiongkok sana, pun ketika dalam perlawatan dengan keretapi Trans Siberia. Selama seminggu, dari ragam makanan atau hasil masak-masakan Rusia yang tersedia di gerbong restoran, hanya semacam yang paling aku suka, yakni yang disebut : gulash.
Rasa yang khas ala Indonesia baru bisa kembali aku nikmati ketika sudah berada di Eroa Barat, istimewa sekali dalam kesempatan berkunjung ke negeri-negara bekas panjajah : Belanda. Negeri yang sekaitan dengan perihal masak-masakan ala Indonesia itu tak ubahnya sebagai gudang bumbu serba ada. Segala bumbu-bumbuan yang bisa diperoleh di mana saja asal uang ada. Apa pula, ketika kesempatan mengunjungi teman-sobat asal berbagai suku. Seperti keluarga Bung Didi yang asal Sunda. Keluarga Bung Noersmando yang asal Minangkabau. Keluarga Mas Djo yang asal Batak. Semua hasil masak masakan Ibu Ibu itu rasanya selalu pas dan lezat untuk dinikmati. Sekalipun tidak bisa disamakan dengan hasil masak masakan Ibu kandungku sendiri. Tak pula seperti hasil masakan perempuan yang aku hormat-sayangi lainnya… Yang justeru asal daerah pencipta masakan pedas-pedas yang lezat, seperti salah satunya merupakan kesenanganku : rendang.
Akan tetapi dari perempuan kekasih terkasih yang jadi biniku ini bukan masakan ala kedaerahannya yang sering terbayang-bayang dalam ingatanku, baik selagi merasa lapar ataupun selagi merasa kangen semata. Makan hasil masakannya yang tak mudah terlupakan itu adalah : pecal lele. Masakan yang dia sendiri suka sekali, dan aku pun begitu pula jadinya. Baru lebih menyadari setelah kesempatan pulang kemabi ke Indonesia dan bersamanya sering ke mana-mana. Sering pula mencapai kesepakatan memilih masakan… « Pecal lele, » begitulah jawabanku pasti dengan suara suka sekaligus kolokan, kalau ditanya olehnya : « Mau makan apa harini, Kohar ? » Meski aku ngaku : pada awal mula pertemuan kami, kalau ke warteg, dia dengan pilihan pecal lele-nya, sedangkan aku memilih sate atau pepes ikan. Tapi berangsur-angsur, kami lebih sering memilih pilihan yang sama. Sekalipun kadang kala aku bilang : « Wah, kalau dah dihadapan sepiring nasi dengan pecal lele, dikau jadi anteng banget, malah seperti lupa daratan aja. Sampai lupa sama mertua… » « Tapi nggak sampai melupakan puteranya, » tukasnya ringkas tangkas. Rupanya, sebenarnya dia tahu selagi makan aku sering menatap memperhatikannya. Bagaimana gaya-caranya yang apik dan betapa menikmati makanan yang tersajikan atas pilihannya sendiri. Dan dia setuju saja ketika aku mengusulkan supaya nambah lalap daun kemanginya. Persetujuan yang dipahaminya sedemikian rupa, meski teriring balasan tatap sekejap berhias senyum kemesraan. Dan juga dia paham sekali, akan keinginanku yang aku utarakan dalam baris kata-kata yang bukan bersifat « tongkat komando » melainkan kolokan saja : « Ah, tentu aku akan lebih menikmati lagi kalau pecal lele bikinan Lisya sendiri… »
Masukanku segera dijawabnya dengan anggukan dan senyuman seraya bilang : « Iya. Nanti kalau sudah lebih sering ada di rumah, tidak lagi dalam perjalanan peninjauan seperti sekarang ini, yah ? Bikin pecal lele gampang, kok. Kita masak sama-sama, yah ? » Giliran aku yang ganti mengangguk sembari senyum pula. Dengan keyakinan apa yang diingin-renacakan akan terwujudkan. Dan benar-benarlah kesempatan itu terbuktikan. Bukan hanya di dapur masak-masak bersama, juga bersama pergi belanja. Belanja yang bukan saja di pusat pertokoan modern, tapi juga di pasar. Seperti Pasar Mitra Raya yang letaknya di belakang rumah kediaman kami di Batam ; hanya terpisahkan oleh jalur jalan raya dan beberapa pertokoan saja. Ketika belanja, aku ingat sekali, Kasih-ku itu membeli, selain mentimun muda dan tomat segar, juga dua ikat daun kemangi.
« Beli dua ikat daun kemangi… ! » desisku, tapi hanya di dalam hati. Yang terenyuh oleh sentuhan kehalusan perasaannya juga. Perasaan seorang perempuan yang aku hormat-sayangi lagi pula begitu perhatian akan apa yang aku suka atau ingini. Seperti yang kini aku gandrungi itu : selain memang suka lalap-lalapan, juga jadi suka sekali lalap daun kemangi. Daun yang bermanfaat bagi kesehatan, juga enak dilahap.Sedangkan harum wanginya bukan saja enak ketika dirasa oleh lidah selagi mengunyah, tetapi juga terasa dalam cium harum keindahan yang dianugerahinya dalam ayunan gelombang irama asmara. Ketika aku kepergok menatapinya dengan mesra, dia hanya mengulas dengan senyum sepintas. Teriring sepatah kata yang pantas : « Kohar suka sekali, kan ? »
Aku jadi gagap gugup, hanya mampu mengangguk. Kegagap gugupan yang berubah menjadi gairah begitu megah, baik dalam menikmati makan dari masakan bikinan sendiri maupun selagi menikmati kemesraan sesudah itu. Dalam kebersamaan yang indah keindahannya tak mudah dilukiskan dengan kata-kata yang biasa. Lantaran luar biasa adanya. Padahal, apalah masakan yang dimakan ketika itu kecuali hanya yang sederhana berupa ikan lele dan lalapan seperti daun kemangi ? Namun dalam kesederhanaan semacam itu terkandung maknanya yang amat mendalam dan senantiasa mudah dinikmat selagi di-ingat-selam. Bahkan bisa terhanyut dalam untaian imajinasi berkawinkan variasi kenangan.
KETIKA suara telpon disisi kananku berdering, seketika itu pula kedua pelupuk mataku baru bisa kembali terbuka. Segera mengangkat gagang telpon itu, hanya untuk mendengarkan suara yang terasa begitu dekat dan begitu mesra. Kedekat-mesraan jenis perempuan yang begitu perhatian yang hakikatnya sama dimiliki oleh Ibu kandungku. Suara yang sarat perhatian dengan urusanku, terutama urusan kesehatan dan makan makanan yang aku santap.
Bahkan lebih dari itu. Suaranya terasa penuh getaran magnetis seperti deklamatris yang membawakan kreasi puisi ciptaanku sendiri yang secara istimewa kepadanya aku dedikasi. Meskipun yang aku ungkapkan hanyalah kata-kata yang biasa-biasa saja. Ketika aku menjawab, bahwa hari ini aku mesti meneruskan masa puasa, perempuanku itu masih bertanya sepertinya ingin bercanda yang aku balas dengan nada yang pantas. Bahwa : « Kohar ingin makan pecal lele, lalap timun dan tomat, terutama sekali daun kemangi… »
« Iya. Maklum, deh, » terdengar suaranya kian mesra sarat kolokan. « Nanti kita sama-sama pergi belanja ke pasar lagi ; masak-masak dan makan-minum bersama lagi, yah ? »
Seketika senyumku tersembul sepertinya lagi berhadapan langsung dengan isteriku yang sedang berada di kawasan zamrud katistiwa Kepri itu. Riko, sang pasien teman sekamarku yang barusan usai makan itu hanya bisa menatapku dengan penuh keheranan. Kemungkinan sekali bertanya-tanya sendiri mengenai caraku berkomunikasi via telpon itu : dengan menggunakan bahasa Apaan ?
Tak tahulah dia, meski suaraku kedengaran gembira, tapi sebenarnya perutku sedang menjerit sakit seperti terlilit. Lapar. Sedangkan Riko itu wajahnya sumringah lantaran barusan makan kenyang. Senang. Besok dia sudah boleh pulang ke rumah untuk mengkonsolidasi pemulihan kesehatan.*** (25 05 2008)
MALAM Panjang Servis Urgen. Untuk beberapa lama kadang kala aku merasa entah di mana, di sini ataukah di negeri entah berantah. Kepalaku seperti berputar mengitari planit bumi, membawa tubuhku terbang mengawang melayang-layang tak ubahnya seperti sehelai bulu burung atau seperti daun kering runtuh melayang dari ranting kering. Maka dari itu aku lebih sering memejamkan mata. Meski telinga masih bisa menangkap suara namun kadang kala terasa pula pendengaran melemah, samar atau lamat-lamat saja. Namun demikian, ketika dibangunkan atau disapa oleh orang-orang berbusana puith-putih di sisi kanan dan kiriku, aku bisa memberi jawaban selayaknya yang diperlukan. Seperti apakah aku alergi pada ini dan itu; obat apakah yang lagi aku gunakan belakangan ini; apakah pula aku menggunakan gigi-palsu -- suatu pertanyaan yang membuat aku nyengir, meski hanya dalam hati. Pertanyaan-pertanyaan itu aku jawab dengan kata "Non. Tidak." sembali menggelengkan kepala perlahan. Tapi ketika ditanya apakah aku pernah di-operasi, aku mengangguk, bilang pelan-pelan: "Oui. Iya. Tahun 2006. Lantaran....prostat."
"Golongan darah Anda?" tanya seseorang di sebelah kiriku, jururawat wanita rupanya.
Aku terdiam seketika, lupa-lupa ingat. Kataku: "Kalau tak salah: O...."
"Golongan darah O plus," ujar si penanya, seperti lagi senyum ramah, berupaya mengurangi cengkaman rasa was-wasku. "Terimakasih, hanya untuk konfirmasi," lanjutnya, seraya beranjak pergi. Rekan-rekannya, juga jururawat perempuan yang mengenakan pakaian putih-putih datang silih berganti -- entah untuk mencek temperatur tubuhku ataukah untuk mendeteksi debar jantungku. Pun entah untuk memeriksa apakah aliran oksigin lewat lubang hidung terletak secara baik. Entah pula sudah berapa kali aku menerima suntikan. Yang pasti ada jarum suntikan yang tetap menancap di ujung lekuk lengan kiriku. Ketetap-tancapannya yang terbalut tiga perban. Jarum suntikan itu bersambungkan pipa plastik kecil bak kabel transparan pengalir cairan dari botol plastik yang menggelantung di tiang-pipa-besi bercabang empat alias tempat sangkutan botol plastik. Botol yang juga transparan, berisi cairan bening, entah apa nama isinya, yang pasti semacam obat atau zat nutritif untuk ditranfusikan ke dalam tubuh pasien. Aku tak ambil pusing. Maksudku: aku pasrah menerima pengobatan apa dan dengan cara apa saja. Karena aku percaya akan keprofesionalan mereka -- dari dokter sampai pada tim jururawatnya. Maka begitulah aku hanya memperhatikan dalam ke-diam-an ketika botol-botol plastik itu bertambah menjadi dua, untuk selanjutnya datang yang ketiga. Sebenarnya, untuk botol yang ketiga ini, yang disangkutkan oleh seorang jururawat perempuan dengan didampingi oleh seorang jururawat lelaki, keningku berkerut, bibirku tergerak-gerak hendak mengucap sepatah kata. Tapi belum lagi terucap kata pertanyaanku, lelaki yang aku duga juga jururawat itu ternyata seorang dokter. Nampak dari insinyal berupa kartu-plastik yang tersemat di atas kantong baju putihnya. "Karena anemie, maka tranfusi darah ini Anda perlukan. Setelah habis, besok pagi akan dilanjutkan. Tenangkan diri dan coba istirahat, meski tak mudah. Maaf, kamar hotel klinik kami sudah komplit. Besok baru bisa pindah menggantikan kamar pasien yang pulang."
"Kalau Anda membutuhkan bantuan kami, untuk apa saja, tekan tombol yang berwarna merah ini," ujar jururawat perempuan sembari menaruh alat yang mirip tombol untuk pesawat televisi itu. Hanya saja, alat ini khusus untuk manggil bantuan, mematikan lampu dan kaitan kepetingan praktis lainnya, yang sesaat itu aku tak mau pusingkan adanya.
Setelah mereka pergi, aku pejamkan mata. Tapi bukan pejamkan mata untuk tertidur, melainkan menahan perasaan ngilu dan dikerumuni ragam macam perasaan dan pikiran yang menggelisahkan. Sebenarnya baik dokter maupun jururawat tidak benar-benar meninggalkan ruang perawatan urgen atau ruang Service des Urgences yang cukup luas itu. Mereka kembali ke ruang kantor mereka atau ke ruang-ruang khusus para pasien. Jelasnya: ke tempat-tempat tidur dimana para pasien masing-masing terbaring, yang hanya dilindungi oleh gorden-gorden putih sebagai dinding pemisah satu dengan lainnya. Aku baru tahu kemudian, bahwa tempat tidurku hanyalah salah sebuah dari deretan lima tempat-tidur untuk orang dewasa. Sebelah sana, selang-seling ruang kantor, ada ruangan untuk perawatan pasien anak-anak. Meski belum pernah aku lihat atau kunjungi, tapi kentara sekali perbedaannya dengan ruangan untuk orang dewasa. Yakni, terutama sekali dalam perbedaannya dengan suara tangis atau teriak kesakitan atau bahkan umpatan dari sementara pasien yang baru datang atau yang sudah lebih dulu datang. Yang tiada beda adalah suara tik-tik dan tak-tak alat pendeteksi detak jantung yang kadang sebentar saja, tapi kerap kali lama juga. Suara-suara yang sungguh tidak untuk menenangkan, selang-seling suara langkah bergegas teriring percakapan meski tidak riuh namun cukup jadi penumbuh suasana sebentar-sebentar gaduh. Lantaran adanya pergi-datang atau keluar-masuk-nya para pasien dengan derita sakit atau penyakit yang merajamnya masing-masing. Ada yang lantaran sakit penyakitnya dari dalam dirinya sendiri. Ada pula yang sakit lantaran kesakitan akibat kecelakaan. Celaka akibat kecelakaan disebabkan tingkah-ulahnya sendiri, seperti cekcok-kelahi ataupun karena akibat orang lain -- sengaja maupun tak sengaja, seperti tabrakan kendaraan di jalanan. Ada pula lantaran kecelakaan yang terjadi di dalam rumah atau tempat kediaman, seperti kebanyakan kecelakaan yang dialami bocah-bocah tersiram air panas atau tersulut api lantaran keteledorannya sendiri pun keteledoran orangtua mereka. Kerap pula terjadi kejadian dramatis cekcok rumahtangga suami-isteri saling tikam-bacok hingga darah tak terelakkan tertumpah. Dengan konsekwensi salah satunya ataukah kehilang-habisan darah hingga mati selagi masih di rumah ataukah yang lainnya masuk rumah-sakit, dengan terlebih dulu menerima perawatan di ruang Service des Urgences seperti ini.
Tubuhku masih saja lemah, payah, tanpa pedulikan waktu yang terus berjalan seperti biasanya. Entah sudah pukul berapa. Tapi kiranya malam sudah merangkak jauh. Mungkin pula sudah dinihari. Tapi aku, meski bisa pejamkan mata namun tidak bisa tidur nyenyak. Lantaran penyakit yang aku derita? Lantaran penyakit-penyakit para pasien lainnya yang mengisi ruang Service des Urgences itu? Yang pergi datang keluar masuk tanpa henti. Ah, malam nampaknya seperti tanpa ujung. Dalam kesendirian terbaring di atas tempat-tidur-pasien yang mobil itu -- yang bisa digerakkan ke sana-sini ke luar-masuk ruangan, termasuk ruang lift -- sesekali aku memasang telinga dan melirik melepas pandang lewat belah-celah dinding-gorden. Hanya untuk meyakinkan diri, betapa sibuknya para pekerja kesehatan -- dokter, kepala jururawat dan tim perawat sekalian -- yang begitu siap-sigap dan cakap-cakap dalam pelayanan perawatan kesehatan para pasien yang datang secara urgent itu di situ. Sejak sore tadi sampai larut malam bahkan dinihari, belum pernah aku dengar ada keluhan atau sikap salah-kaprah apa pula marah-marah dari mereka. Sebaliknyalah, mereka senantiasa menunjukkan keseriusan, kesabaran dan keramah-tamahan. Hanya sekali telingaku menangkap suara jururawat laki-laki, yang rupanya kepala jururawat, bilang kepada pasien yang cerewet:
"Sabarlah, Madame. Jangan kuatir, pasti dapat giliran -- satu persatu, ya...."
"Saya sudah beberapa kali manggil minta bantuan," tukas sang Madame alias sang Ibu-ibu bersangkutan.
"Kami tahu, saya perhatikan, Madame," balas sang kepala jururawat, tegas tapi dengan nada tenang, "Anda masih bisa dikit bersabar. Ada yang minta lebih dulu dan lebih gawat, oke? Dan tak usah menggerutu dalam bahasa asing yang macam-macam...."
"Siapa yang menggerutu?" sang Ibu-ibu itu bertanya keheranan.
"Siapa, ah, siapa siapa saja lah... Tak usah menggerutu apa pula ngomel -- meski dalam bahasa asing," jelas sang kepala-juru-rawat. "Kami mengerti sih -- kerna umumnya kami bisa dua tiga bahasa lebih. Saya bisa tujuh bahasa, termasuk Italia...."
Sang Ibu-ibu itu, yang terkesan dari aksen-nya asal Italia, terdiam seketika. Segera sang kepala jururawat mendekati tempat-tidur Madame Italiana itu seraya bertanya: "Madame perlu bantuan apa?"
"Tolong saya ke depan pintu toilet itu....," jelas Sang Ibu-ibu itu dengan nada perlahan seperti kemalu-maluan. Yang segera mendapatkan bantuan yang diingininya.
Beberapa saat kemudian, sang kepala jururawat yang dipanggil rekannya dengan nama Mijnheer Jan, datang sejenak menjengukku; mencek apakah segalanya beres. Terutama sekali alir-tetes-an dari botol-botol plastik yang bergelantungan itu. Melirik aku belum pejamkan mata, dia senyum ramah: "Tak bisa tidur, yah? Tapi tenangkan diri lah."
"Ya Mijnheer Tujuh-bahasa," jawabku sepontan dengan nada usil. Terkesan bahwa orang ini gampang komunikasi. "Tapi ada orang lain yang aku kenal bisa tigabelas bahasa," kataku, namun hanya dalam hati. Selintas aku teringat sosok berbadan besar kekar. Ahli bahasa itu seorang Indo: bapaknya asal Breda sedang ibunya asal Purwokerto.
"Benar, Monsieur Ibrahim. Saya bisa tujuh bahasa, disamping bahasa Perancis dan Belanda; termasuk bahasa Arab. Kerna saya pernah dinas di negeri Arab Saudi. Dan Anda asal Asia, yah?"
Aku mengangguk, seraya memperjelas: "Iya. Asal Indonesia."
"Wah! Negeri yang indah," ujarnya dengan wajah sumringah.
Melihat gelagatnya itu membikin aku terdorong untuk mengungkap-ucap apa yang tadinya hanya sebagai kata hati akan perihal seseorang yang melebihi kelebihannya dalam soal bahasa. Terbukti bisa tigabelas bahasa, termasuk bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. "Tuan itu namanya Schoonhoven," jelasku.
"Schoonhoven?" tanyanya dengan nada sarat keheranan. "Jan Schoonhoven? Itu dari keluarga kami. Persisnya: Oom-ku..."
"Jan, Jan," tiba-tiba terdengar suara perempuan memanggil. Dalam tempo sebentar saja, seorang jururawat perempuan datang mendekatinya, seperti bisik-bisik, minta dia ke ruangan untuk anak-anak.
"Oke," katanya, lalu mengulang kata itu juga kepadaku seraya pamit sembari bilang: "Sudah jam tiga pagi. Coba istirahat dengan tenang, yah? Besok Anda akan di pindah, ke tingkat lima, dan akan mengalami pemeriksaan intensip lebih lanjut."
Aku mengangguk. Anggukan orang yang selain tercengkam rasa penasaran juga sudah letih dan ngantuk sekali. Dalam sekejap terlelap, kedua belah pelupuk mataku berubah seperti dari layar hitam jadi lukisan pemandangan. Suatu kombinasi komposisi ruang angkasa antara bumi dan langit. Gumpalan-gumpalan mega mendung mengitari gumpalan-gumpalan mega putih ke-abu-biru-biruan, sedangkan beberapa bidadari wara-wiri sana-sini kadang seperti bergegas kadang seperti lagi riang menari-nari. Aku jadi begitu tergelitik, terpesona malah: bidadari-bidadari itu ada yang berwajah putih, ada yang berwajah cokelat bersih dan ada pula yang berwajah hitam legam. Tapi semuanya begitu cantik, begitu ramah yang tertandakan dari wajah-wajah semuanya yang sumringah dan pandang mata yang cerah penuh perhatian senantiasa. Perhatian yang dengan ragam caranya masing-masing untuk memecah kebekuan, mengurangi ketegangan, melonggarkan cengkeraman rasa kesakitan ataupun kewas-wasan. Perhatian selayaknya kaum perawat jururawat dalam menunaikan profesi yang manusiawi.
Di sepanjang malam -- malam yang aku rasakan seperti tanpa kenal ujung itu -- para pelayan kesehatan sitoyen yang ragam macam itu menunaikan missi keprofesiannya sepertinya juga berkiprah tanpa kenal lelah. Hingga cahaya pagi hari merekah cerah. ***
LIDAH seketika itu jadi kelu tak kuasa menjalani fungsinya untuk mengeluarkan sepatah kata sekalipun. Pasalnya? Kerna darah yang sudah mulai membekukah? Sudah sedemikian rupa jauhnya dampaknya, hingga mau mengucap kata hanya tinggal ngap-ngap, tarikan nafas megap-megap tanpa bisa mengeluarkan suara. Tapi sepertinya memang begitulah tatkala telingaku menangkap suara Dokter Delille mengutarakan diagnosa:
"Anda kekurangan darah. Terkena anemie."
Aku melongo kayak orang bego. Iya, hanya bisa ngap-ngap tapi sungguh tak sepatah kata pun keluar lewat kedua belah bibirku. Rasa was-was menrajam diri semakin mencengkam. Lebih-lebih ketika sang dokter traitant itu bilang:
"Anda kekurangan darah, lantaran kehilangan darah."
Kekurangan darah lantaran kehilangan darah? Aku berupaya memutar otak, memras ingatan. Tapi terasa payah sekali. Yang bisa keluar adalah pertanyaan yang bagi sang dokter itu mungkin sekali kurang pas.
"Kekurangan karena kehilangan darah; apakah akibat operasi yang pernah saya alami, dua tahun lalu, Tuan Dokter?"
"Tidak," katanya penuh keseriusan: "Bukan begitu. Kerna tiga bulan lalu, pada kunjungan terakhir Anda, kesehatan Anda masih normal, kan?"
Aku jadi tambah gugup dan gagap. Hanya mengangguk pelan. Dalam percakapan, sang dokter juga mengulang bilang pengakuanku, bahwasanya selama tiga bulan belakangan ini aku tak mengunjunginya untuk konsultasi kesehatan, pun tidak pernah ke rumah-sakit untuk berobat. Juga tak pernah mengalami kecelakaan yang menyebabkan kehilangan darah. Aku meng-iya-kan semua konstatasinya, seraya menambah, mengulang-utarakan : "Iya, benar, Monsieur, tak pernah ke rumah-sakit, pun tidak datang untuk konsultasi. Selama tiga bulan belakangan ini."
Sesaat itu Dokter Delille yang mengangguk-angguk ringan.
"Jadi lantaran apa kiranya, Tuan Dokter?"
"Pendarahan," ujarnya. "Pendarahan dalam. Apa-bagaimananya, persisnya, itu yang mesti diketahui. Maka dari itu tak ada jalan lain, Anda harus mengalami pemeriksaan secara intensip di rumah-sakit...."
Begitulah detailnya dialog kami ketika konsultasi pada hari Rabu sore itu, teriring kesimpulan dan kesepakatan akan perlunya aku segera berangkat pergi ke rumah-sakit, dengan membawa notisi berupa informasi tentang keadaan kesehatanku yang disiapkan oleh dokter traitant Delille itu.
KETIKA terbaring di atas ranjang berselimut-seprei warna putih yang khusus untuk pasien, setelah diterima di ruang Service des Urgences Klinik Saint-Jean -- yang segalanya menunjukkan ke-serba-siap-sigapan itu, cengkaman perasaan dan pikiran yang campur baur terasa begitu kuat dan keras tak mau lepas. Perasaan kegelisah-resahan yang teramat sangat diselang-slinggi akan sadar kesadaran tentang diri sendiri yang lagi tersendiri meski dalam kesibukan keadaan sekitar. Kesibukan para pekerja alias pelayan kesehatan orang-orang yang datang lantaran gangguan kesehatan yang macam-macam tingkat kegawatan yang dideritanya. Tiap-tiap orang dengan penderitaan sakit yang dialaminya masing-masing. Dan hanya oleh masing-masing pula dirasa betapalah penderitaan itu sebenar-benarnya. Yang pasti, tiap orang dan masing-masing pula, masih harus ditambah rasa sakit lainnya yang tak terelakkan. Yakni: rasa was-was. Rasa penasaran akan sebab-musabab apa-kenapanya derita itu sampai merajam diri. Seperti yang aku alami sendiri: kekurangan karena kehilangan darah akibat pendarahan di dalam tubuhku sendiri? Wah! Kapan kapan saja sih aku pernah mengalami pendarahan atau kehilangan darah? Kapan terjadi peristiwa berdarah di bagian dalam maupun yang asalnya dari luar tubuhku sendiri? Kejadian yang tak lepas dari ingatan ataupun yang meninggalkan bekas tak terhapuskan?
Maka, dalam terbaring di ranjang-pasien tubuh telentang pandang mata kadang kala jalang menerawang ruang, layaknya menembus dinding dan langit-langit sampai terbang mengawang ke ruang angkasa tinggi, namun segala mata hati dan mata pikiran pun mata imajinasi hanya bertumpu pada perihal darah dan rangkai-jaringan atau kaitannya dengan soal yang menjadi persoalanku: Anemie. Sepatah kata yang baru jadi tumpuan perhatianku. Iya: Anemie alias Kekurangan Darah. Napa? Lantaran kurang makan? Seingatku pernah atau kadang kala merasakan lapar memang iya. Tapi tak pernah mengalami kelaparan yang gawat dan berkepanjangan. Lantaran penghisapan? Seingatku, tak pernah ketemu makhluk macam Drakula atau sebangsa penghisap darah lainnya -- baik jenis laki-laki ataupun perempuan. Tak seorangpun, seingatku, yang mampu menghisap darahku. Yang pernah dan lebih sering aku alami adalah hisap penghisapan nyamuk. Hahaha...! Tapi itu dahulu, ketika aku masih muda, ketika masih bocah malah. Di Indonesia tanah tumpah darahku -- bumi dimana aku dilahir-besarkan. Iya. Semasa itu pula kadang kala, sesekali, aku kena hisap penghisapan lintah ketika kiprah mengolah sawah atau mencari ikan di kali atau di sawah. Tapi semua itu merupakan kehilangan darah yang kiranya tak seberapa adanya. Dan sang nyamuk seringkali kena ganjaran yang selaras oleh tabokan tapak tanganku. Sedangkan sang lintah yang kurang-ajar jadi penghisap betisku pun dapat ganjaran setimpal. Ganjaran, ketika aku biarkan melakukan kejahatannya sampai pulang ke rumah, lalu menerima hukuman mati dengan mandi sekaligus tentunya juga minum air tembako yang aku siapkan seperlunya. Setelah menggeliat-geliat lantas sang lintah melepas gigit-hisapannya, terjatuh menggelinding sendiri dengan perut gendutnya seperti lagi bunting saja nampaknya. "Laknat! Dasar penghisap darah...!" tambah rajamanku terhadap binatang menjijikkan itu dengan menghujamnya berupa umpatan.
"Tapi, sebelum itu, ketika masih bocah, bukankah pernah mengalami kehilangan darah yang lumayan juga?" mendadak sontak muncul pertanyaan yang mencoba menyegarkan dari sang Ingatan. "Ketika untuk selama dua-tiga minggu tidak bisa lagi bertepuk tangan menyambut pasukan kaum gerilyawan, maupun berlari-lari bersama kanca-konco ngintilin mereka dengan gembira campur bangga. Tidak bisa secara leluasa menampak kaum pejuang kemerdekaan itu begitu bersemangat, gagah berani, kendati hanya beberapa orang saja yang memanggul bedil sedangkan selebihnya kebanyakan hanya bersenjatakan bambu-runcing. Pemanggul bambu-runcing yang paling depan, yang di tengah dan paling belakang, sekaligus juga pembawa kibaran bendera merah putih -- dengan senjata tajamnya itu sebagai alat pengibarnya. Iya, untuk beberapa lama kau tak bisa lagi mengelu-elukan mereka sembari tepuk tangan melonjak-lonjak. Setelah kehilangan darah. Tegasnya: setelah berdarah-darah lantaran disunat..."
"Hahaha..." gelak tawaku meledak, tapi juga hanya dalam hati; nyatanya hanya menyeringis. Cengis-ringis bermakna dobel: senang kesenangan atau sakit kesakitan. Pasalnya, pada masa itu aku masih bocah, belum banyak tahu seluk-beluk hidup kehidupan -- seperti perihal pasukan pejuang rakyat itu. Iya, belum pula menyadari bagaimana persisnya suasana medan pertempuran malawan pasukan bersenjata kaum penjajah Belanda; bagaimana kaum lasykar rakyat itu berlaga membela kemerdekaan tanah-rumpah-darah Indonesia. Bagaimana mereka menghadapi berondongan senjata api atau tusukan ujung bayonet musuh. Dan bagaimana pula serdadu musuh kena hujaman ujung senjata bambu-runcing pasukan bersenjata rakyat itu. Bayanganku, dari tubuh pihak yang saling berjibaku itu, darah pasti keluar akibat tembusan peluru ataukah tusukan ujung bayonet atau ujung bambu-runcing. Tapi segala konsekwensi tidak membuat kaum yang berdarah juang itu jadi kendur apa lagi mundur, sebaliknya malah maju, selaras nada irama lagu yang dinyanyikan mereka sendiri selagi baris-berbaris itu: "Maju tak gentar, membela yang benar". Nada irama lagu yang mampu pula membikin massa rakyat tergugah untuk mendukung para pejuang itu meski hanya di garis belakang. Dalam pada itu, sekaitan dengan ketajaman ujung bambu itu? Oh, iya. Ini dia: yang pasti, lantaran aku yang rasa merasakan sendiri: ujung bambu atau belahan bambu yang ditipiskan atau malah kulit bambu bisa sebagai alat pemotong yang tiada bedanya dengan golok atau pisau. Iya, begitulah adanya: masih jelas dalam ingatanku. Ah, betapa aku sumringah tersenyum, meringis ria dan bahkan tertawa-tawa ketika menyaksikan malam pesta khitanan dengan tanggapan wayang-kulit. Terutama sekali ketika menyaksikan adegan dagelan Cepot-Udel. Dan betapa ringis-ria bangga menyaksikan tokoh Gatotkaca yang dengan gagah mengalahkan lawan-lawannya yang durjana. Sejak bocah aku memang jadi pengagum sang Gatotkaca yang gagah perkasa dan bisa terbang mengawang di angkasa itu. Maka dari itu, aku enggan kalau diminta untuk meninggalkan adegan seru sang Gatotkaca berlaga.
"Biar saja jagoan itu terus berperang, kini sudah tengah malam, Gatotkaca cilik mesti tidur," begitu telingaku menangkap suara seorang perempuan, yang aku kenal sebagai penyabar -- suara Bibi Ruminah yang lazim aku panggil "Mbi Iyum". Lanjutnya: "Ibu sudah siapkan tempat tidur, Cecep musti ngasoh. Supaya siap bangun pagi-pagi sekali besok. Lakon pertarungan Gatotkaca akan berkelanjutan, makin hebat deh....!"
Antara mau dan tidak aku hanya bisa cengis-ringis. Meski baru dikemudian hari aku bisa memahami kedalaman makna ujar kata bibiku itu, namun ketika itu, aku akhirnya menuruti saja. Sebenar-benarnyalah kedalaman makna ujar katanya itu adalah bahwasanya memang benar terjadi. Kejadian yang merupakan pertanda penting keberadaanku sebagai manusia, sebagai lelaki, meskipun masih kanak-kanak. Setelah waktu subuh, menjelang jam lima pagi aku sudah dibangunkan untuk dimandikan. Mandi bukan di ruang mandi dekat sumur, tapi dibawa ke kali digendong oleh Ki Santri alias ahli penyunat, dengan diiringi oleh Wak Eneng yang mewakili Abah dan sekaligus tuanrumah pesta upacara khitananku, dan beberapa pengiring lainnya.
Sungguh terasa dinginnya udara pagi buta itu, begitu dinginnya pula air kali. Setelah dimandikan aku dibawa pulang juga dengan digendong; bukan oleh ahli penyunat, melainkan oleh Wak Eneng. Aku rasakan sekali kehangatan kasih-sayangnya terhadapku, yang memang dianggapnya sebagai anak-kandungnya sendiri. Kehangatan kasih-sayang yang membikin rasa senang, menghilangkan rasa ketakutan, meski terasa badanku lagi menggigil lantaran kedinginan. Rasa dingin yang masih amat dingin meski sudah ganti pakaian dengan mengenakan kemeja dan sarung baru, tanpa celana dalam; terduduk dikursi, dengan di kawal kanan kiri. Sedang Wak Eneng di posisi belakangku, memegangi kedua belah bahuku, seraya berpesan supaya aku tenang dan tabah. Aku berupaya untuk tenang, memang, meski masih menggigil kedinginan. Namun, rasa kedinginan ini pula yang mungkin sekali membikin aku seperti tidak terlalu merasakan hilangnya ujung kulit yang membungkus alat kemaluanku. Meskipun alat pemotongnya tak lain kecuali kulit-bambu yang tajam ketajamannya seperti melebihi pisau biasa. Aku sedikit mengaduh. Tentu saja darah keluar. Meski tak pula aku rasakan benar. Doa teriring pembubuhan obat serta pembalutan yang siap-sigap dari Ki Santri yang benar-benar menunjukkan keahliannya itu, hanya membikin aku nangis sebentar saja. Tangis yang terhenti seketika pada saat Ibu kandungku datang dengan tatapan penuh kasih sayang. Senyum sembari menyangkutkan tas-kain-tebal yang talinya cukup panjang menggelantung di pinggang kiriku. Wajahnya sumringah tapi kentara bola matanya lantas membasah. Mencium dahiku. Meski tanpa mengeluarkan ujarkata tapi aku yakin hati sanubarinya sedang terus mengucap kata doa, supaya anak lelaki tunggalnya senantiasa tabah. Tabah menghadapi ujian: masa kekinian pun di hari kemudian. Aku yakini itu, lantaran aku kenal sekali Ibuku. Kelemah-lembutannya pertanda yang tak dapat diragukan selaku seorang ibu, selaku wanita sejati. Dan aku juga tidak ragu akan doa restu seantero anggota keluarga besar kami lainnya. Apa pula yang dari Mbi Iyum, yang datang seraya bilang dengan nada girang: "Cep, tabah yah? Lakon Gatotkaca masih terus berlangsung-sambung...." Suara bibiku ini lagi-lagi membikin aku cengis-ceringis nyaris tawa kecil campur tangis. Tawa kecilku keluar lantaran sembari mengucap kalimatnya sedemikian itu diapun memasukkan segenggam uang receh ke dalam kantong besar bak tas dari kain bikinan Ibu itu. Disusul susul menyusul orang yang lain-lainnya. Entah berapa orang banyaknya yang memberikan restu sembari mengisi tas-kain yang cukup besar buatan ibu-kandungku itu. Sehingga beratnya tak bisa aku angkat sendiri dan capek untuk menghitungnya.
Iya. Tentu saja: aku memang senang, memang bangga, dikhitan dengan disertai pesta silaturahmi sekalian keluarga dan handai-taulan serta para tetangga sekampung. Apa pula menerima restu sekalian hadiah uang receh dan bentuk-bentuk hadiah lainnya yang jadi penambah ketabah-gembiraan hati sekaligus pengurang derita sakit lantaran sunatan itu. Yang katanya hanya seminggu atau sepuluh hari akan sembuh dan bisa berjalan secara normal kembali, tapi yang aku alami iyalah hampir tiga minggu lamanya. Setelah itu baru benar-benar aku bisa berjalan dan bahkan berlari-lari seperti biasa lagi. Bahkan kian hari kian lama sudah bisa melupakan hari yang terasa begitu dingin sehingga tubuhku mengigil berat sesudah dimandikan di kali di pagi buta.
Meskipun bekasnya membekas abadi, ah, semenjak itu, darah yang tertumpah untuk pertamakalinya dari dalam tubuhku tak pernah terpikirkan lagi. Tak pernah pula ada perasaan akan kehilangan darah. Sepertinya itu sudah menjadi keharusan sejarah dalam menelusuri perjalanan hidup kehidupanku. Sebagai lelaki. Dengan segala kelelakianku. Sepanjang panjang usia dewasaku juga jarang teringat saat yang bersejarah selagi bocah itu. Layaknya memang sudah lumrah saja. Hanya belakangan ini saja aku jadi teringat dan kerap mengingat-renungkannya lagi dan lagi. Betapa makna pentingnya. Terutama pentingnya makna memaknai akan darah itu sendiri. Darah yang merupakan cairan essensil yang amat diperlukan bagi hidup kehidupan manusia. Manusia dewasa laki-laki memerlukan darah sebanyak lima liter, sedangkan perempuan empat-setengah liter.
"Kekurangan darah: anemie; kehabisan darah: mati!" kata sang Ingatan tenang tapi benar kebenarannya jelas, kuat dan keras, nyaring seperti canang. ***
(Digubah dalam bentuk cerpen dari sebagian catatan harian selaku pelaku kisah biografis: "Sitoyen Saint-Jean. Antara Hidup Dan Mati" A.Kohar Ibrahim, April 2008)
RABU 19 Maret 2008 Sore. Diliputi rasa khawatir, bahkan was-was itu bisa saja, wajar dan manusiawi. Bagi orang yang perhatian seperti perempuanku itu, meski berada jauh nun di negeri Jambrud Katulistiwa Nusantara, pun bagi diriku sendiri. Iya begitulah itu. Was-was itu bisa membikin orang bertindak serba-salah atau bicara salah kaprah malah bisa mudah marah-marah, sebaliknya bisa tidak mudah tidur apalagi nyenyak terlena. Kurang tidur, bahkan tak bisa tertidur, membikin badan lemah, mudah payah. Seperti kejadian beberapa hari yang lalu -- pada hari Rabu sore itu.
Bukan lantaran tekanan polusi atau langit mendung yang seperti mau runtuh saja layaknya. Bukan pula lantaran jalanan licin barusan tersiram hujan dan temperatur yang masih dalam musim-dingin, melainkan lantaran lututku seperti mau patah dan nafasku sesak. Maka dari itu rasanya payah sekali untuk beranjak langkah melangkah sekalipun hanya untuk menempuh jarak seratusan meter saja -- dari tempat kediamanku ke depan pintu dokter traitant Delille. Dokter yang selama belasan tahun sebagai tempat untuk konsultasi mengenai keadaan kesehatanku. Meskipun aku ngaku selaku orang yang malas untuk melakukannya, kecuali jika aku rasa sakitku memang berat atau gawat. Tapi rasanya segan sekali, ah, jika hanya merasa pening saja, batuk-batuk atau flu ringan saja. Mending langsung ke apotik dan beli obat sendiri. Lebih cepat dan lebih menghemat. Lantaran kalaupun ke dokter, paling-paling hanya ditanya ini dan itu dan disuruh mangap, lantas sudah mesti membayar ongkos konsultasi dan cuma dapat secarik kertas daftar obat yang harus dibeli di apotik.
"Mangap sekejap sudah mesti bayar delapan belas Euro," begitu biasanya aku menggerutu, sama seperti kebanyakan orang yang juga enggan ke dokter, meski sebagian besar ada penggantian dari kantor Mutuelle atau assuransi kesehatan.
Tetapi sekali ini, ketika badanku nyaris tumbang di depan pintu sang dokter karena terasa lemas sekali, nafas terengah-engah dan mata kunang-kunang, ada rasa penyesalan memiliki kebiasaan malas ke dokter itu. Aku hanya bisa masuk dan duduk di kursi ruang tunggu hanya karena mendapat bantuan papahan dari seseorang yang datang dan juga berkonsultasi kepada dokter traitant itu.
"Syukran, merci," kataku mengucap terimakasih pada sang penolong, lelaki potongan Arab, kemungkinan besar asal Maroko, seraya menampak sekilas seorang perempuan muda kira-kira umur duapuluhan yang sudah lebih dulu mengisi ruang tunggu itu.
"De rien," balas lelaki itu. "Tak mengapa."
Lelaki itu kemudian duduk di sisi sang perempuan berbusana muslimah, yang kuduga sebagai isterinya. Ketika jam lima tepat Dokter Delille muncul, memberi salam seraya menanya siapa yang lebih dulu, pasangan Arab itu menyilakan supaya aku dilayani lebih dulu. Sekali lagi aku mengucapkan kata "syukran" seraya melangkah mengikuti sang dokter masuk ke ruang-periksa-nya. Menanyakan pertanyaan yang kujelaskan apa adanya. Bahwa belakangan ini aku sering cepat merasa letih, kurang tidur karena kerap kali terbangun untuk buang air kecil. Juga mudah terengah-engah sekalipun hanya untuk mengayunkan langkah menelusuri jalanan yang sedikit agak menanjak. Seperti menelusuri Avenue Rogier atau Avenue Dailly.
"Sejak kapan?" tanya Dokter.
"Sejak kurang lebih tiga bulan lalu," jawabku. "Seingat saya, sejak kunjungan saya yang terakhir."
"Tapi ketika itu kesehatan Anda masih cukup lumayan," kata Dokter sambil menyimak layar-kaca ordinaturnya. "Normal. Tak ada indikasi yang mengkahawatirkan."
"Iya," aku menurutinya. "Bahkan Monsieur menasihati supaya saya mengurangi berat badan, supaya tidak melebihi 70 kilo. Ketika itu 74 kilo. Supaya terhindar serangan diabet."
"Betul. Nampaknya Anda lebih kurus dan pucat," kata Dokter seraya menyilakan aku mengukur berat badan kembali, setelah menanggalkan jaket dan pakaian luar lainnya. Untuk duduk agak berbaring di kursi pemeriksaan kesehatannya. Dan aku menuruti saja. Pemeriksaan mulai dari kelopak mata, temperatur badan, tekanan darah, air kencing dan darah. Alhasil bukan sekedar konsultasi tanya-jawab dan memangapkan mulut saja. Hebatnya, kabinet medikal atau ruang-kerja-periksa kesehatan Dokter ini dilengkapi dengan peralatan modern yang diperlukan olehnya. Meskipun tidak begitu luas, tapi sudah seperti mini-klinik saja adanya. Selagi sang dokter melakukan analisanya, kembali aku kenakan pakaian dan duduk menunggu. Dia nampak begitu serius. Begitulah beberapa lama kemudian, ketika dia kembali duduk di hadapanku, seraya menjelaskan dengan suara berat: "Dari analisa pengambilan darah Anda, nampak Anda menderita kekurangan butir-butir darah merah. Anda perlu segera sekarang juga ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih baik dan lebih intensip. Anda terkena anemie. ..."
Seketika aku terperanjat. Meski lidahku terasa kelu. Rupanya dia menyimak wajahku yang pucat tambah pucat dan cahya mataku redup tercengkam waswas.
"Tak usah terlalu gundah," katanya meyakinkan. "Belum terlambat. Saya siapkan surat dan formulir supaya Anda diterima di bagian Le Service des Urgences sekarang juga."
"Oui, Docteur," ujarku nyaris berbisik.
Dan dia segera pula menghubungi Rumah Sakit disebut Clinique Saint-Jean yang terletak di pusat kota Brussel. Bicara dengan seseorang Dokter, dengan nada begitu serius tapi tetap menjaga keramah-tamahan dan nyaris memohon meski secara profesional. Bahwa hendaknya sang dokter yang berdinas di sana, meski waktunya sudah sore dan banyaknya pasien yang berdatangan, mau menerimaku. Lantas dia menatapku, senyum lega, katanya: "Beruntung sekali, mereka mau menerima Anda sekarang juga. Karena kalau harus menunggu besok, saya khawatir... Sekarang Anda kembali pulang, siapkan apa-apa yang diperlukan kalau-kalau Anda harus bermalam di RS. Tentu seperlunya saja, yah? Lantas segera berangkat ke sana. Courage...!"
"Merci, Docteur. Infinimment," ujarku seraya beranjak pamit, mengayun langkah dengan payah diiringinya sampai ke depan pintu ruang-tunggu dan pintu ke luar. Ucapan kata "courage"nya, jadi penumbuh ketabahanku.
Di depan pintu ruang tunggu itu, pasangan pasien Arab sudah berdiri, tiba-tiba sang perempuan menyapa: "Monsieur..."
"Oui?" aku menatapnya sekilas.
"Mungkin Tuan sudah lupa, saya tidak," kata perempuan muda itu. "Saya Minah. Yasminah. Dulu pernah satu grup dengan rombongan anak-anak yang pernah Anda pimpin. Grup atelier kreatif-rekreatif. Kita pun pernah rekreasi ke Taman Diest...."
"Oh, iya? Iya...?" kataku terbata-bata, mencoba memeras ingatan, namun sia-sia.
"Au revoir, Monsieur," ujarnya seraya beranjak melangkah mengikuti Dokter masuk ke ruang-kerja-nya. "Sampai jumpa lagi."
"Oui, au revoir," aku sempat membalasnya. "Ah, ada-ada saja," desisku, dalam keragu-raguan. Tapi suara ujar kata sang perempuan muda itu begitu jernih, begitu lugu. Menggelitik hati dan pikiranku. Sampai aku kembali ke appartemen dan sampai usai menyiapkan apa-apa yang diperlukan, seperti pakaian pengganti dan odol, sikat-gigi dan sandal, wajah anak Arab itu terus mengisi kelopak mataku. Tapi aku belum juga berhasil mengingat masa kanak-kanaknya yang pernah ikut serta rombongan untuk tamasya ke Taman Diest. Aku agak terkejut, sesaat hendak berangkat ke luar, telpon berdering. Dokter Delille memberitahukan, supaya aku segera siap berangkat. Tak boleh nyetir mobil sendiri. Pun tak usah panggil taxi. Ada yang mau mengantarku ke RS Klinik Saint-Jean. "Di depan pintu Anda sudah ada yang menunggu," katanya.
Aku agak terheran-heran. Siapa pula adanya. Ah, sungguh di luar dugaanku: yang menunggu di depan pintu dan siap mengantarku itu ternyata lelaki potongan Arab yang menolongku tadi dan si perempuan muda bernama Minah itu. Lelaki usia kurang lebih tigapuluhan itu ternyata memang suaminya. Pemegang setir, didampingi Yasminah. Aku duduk di bangku belakang. Di sepanjang perjalanan menuju RS Klinik Saint-Jean yang berjarak kurang dari sepuluh kilometer itulah, sekalipun kepala terasa pening dan nyaris tertidur, aku bisa menangkap penjelasan Yasminah lebih jauh. Bahwa mereka barusan menikah, boleh dikata masih pengantinan baru. Suaminya bilang, kejadian di Taman Diest, dimana Minah dan juga temannya Nora nyaris mati tenggelam di kolam renang, tak pernah terlupakan olehnya. "Suatu kejadian yang tak mungkin terlupakan, Wawlah," ujar Yasminah. "Maka dari itu, Minah takkan pernah bisa melupakan Tuan," suaminya menegaskan. "Karena Tuanlah penolongnya...."
Seketika aku mengkerutkan kening, berusaha menyegarkan ingatan. Tapi aku tak mampu mengingat kembali secara jelas sejelas-jelasnya. kejadian yang diutarakan oleh pasangan suami-isteri itu. Kunang-kunang semakin mengerumuni kelopak mataku. Pening. Nafas terasa kian menyesak. Letih sekali. Yang masih bisa kembali aku ingat iyalah, di suatu hari, hari Sabtu musim panas, selalgi wara-wiri mengamati anak-anak rombongan kami yang lagi mandi di kolam renang, seketika aku menampak sesosok tubuh kecil ramping melonjak-lonjak. Bukan dalam kegirang-riangan menikmati air bening lagi hangat, melainkan sedang megap-megap gelagapan lantaran sudah banyak menelan air. Bocah gadis cilik itu memberontak, mencoba lolos dari gelut-dalamnya air kolam, di tengah-tengah para pemuda-pemudi lainnya yang sibuk sendiri-sendiri. Secepat kilat aku lompat untuk mengangkat-selamat-kannya. Dibantu oleh kolega lain yang sigap memanggil team palang-merah yang berdinas di tempat pusat rekreasi itu. Sungguh, sulit memperbandingkan betapa perasaan si bocah Minah ketika mengalami insiden itu; ketika air masuk lewat tenggorokannya dan dengan paksa menggelembungi perutnya. Ketika dia tergeletak, pejamkan mata, direjam kelemahan setelah air kolam renang dikeluarkan kembali dari perut mungilnya.
"Ya Allah. Tuhan Maha Pengasih Lagi Penyayang," kataku nyaris berbisik. Persis mengulang ucap-kata-ku ketika kejadian duabelas tahun lampau.
"Amiiin....yarabbal alamin," masih sempat kutangkap lamat-lamat suara Yasminah dan suaminya nyaris bareng. Kedua belah kelopak mataku rapat tertutup. Gelap. Hanya kembali terang ketika sudah terbaring di atas salah sebuah tempat tidur pasien. Di ruang besar perawatan urgent. Le Service des Urgences. ***
Catatan: Digubah dalam bentuk cerpen dari naskah kisah biografis A. Kohar Ibrahim: "Sitoyen Saint-Jean -- Antara Hidup Dan Mati". Docteur traitant : dokter yang berurusan dengan pasien bersangkutan. Anemie : kekurangan darah. Monsieur : tuan, pak. Merci : terima kasih. Syukran : terima kasih. Oui : iya. Non : tidak. Service : layanan, bagian. Courage : berani, tabah. Euro : mata uang Uni Eropa. Au revoir : sampai jumpa lagi.
API ! Itulah bukti Api! Tulisku barusan saja via SMS, begitu usai mendengar suara via HP dari kekasihku nun jauh di Anggreksari kawasan Zamrud Katulistiwa. Suara yang begitu lugu begitu mesra melukiskan suasana jiwaraganya yang sedang direjam rindu. Kerinduan yang membuatnya tak bisa tidur nyenyak dengan segera. Begadang di tengah taman warna-warni kenang-kenangan indah kehidupan yang pernah dijalani. Sampai waktu subuh baru bisa menenangkan diri kembali. Hanya baru bisa pejamkan mata, terlena setelah melakukan ibadah solat dan melepas mukena.
"Aku tidur dengan berselimutkan handuk lebar yang dulu kita gunakan sebagai pelengkap alas di atas seprei terakhir kali kita saling anugerah rasa indah," jelasnya dengan suara begitu mesra, dan nyaris terbata-bata: "Iya, keindahan tiada taranya. Handuk itu juga terakhir kali kita gunakan untuk mengelap tubuh setelah mandi pagi hari bersama...Masih ingatkah semua itu, Suami?"
Suara tanyanya yang mesra itu campur nada lirih. Membikin aku tercenung menung seketika. Tenggorokanku cepat terasa seperti tersumbat. Jantung hatiku keras berdebar. Sejenak kupejamkan mata. Menyegarkan kembali ingatan akan kelakuan kami yang terjadi setelah sekian lama, namun sepertinya baru kemarin dulu. Maka aku lanjut-tegaskan via SMS: "Handuk selimut itu pertanda bukti keberadaan Api, Kasihku !"
Seketika aku kembali tertegun. Diam. Hanya untuk lebih memusatkan ingatan pada seorang perempuan kekasihku. Isteriku. Salah satu sosok makhluk indah ciptaan Yang Maha Kuasa Pengasih Penyayang. Meski raga kami terpisah jarak sedemikian jauh, namun terasa rasanya begitu dekat melekat. Suaranya begitu mesra. Sejuk lagi hangat menyamankan jiwa-ragaku. Tak ubahnya seperti percik api, lidah api, jadi penambah semangat kian gairah, segar dan girang malah. Jadi pengkondisi suasana yang amat berfaedah bahkan mampu mengundang imajinasi dan menghidupi kenangan sejak masa bocah. Seperti masa betapa gairah dan girangnya setiap kali menyaksikan Mbah, Mamang atau Abahku memanipulasi geretan hingga muncul percik-percik api berubah nyala untuk membakar tabunan. Spontan kontan hatiku pun melonjak kesenangan menggerak anjak kedua belah tapak kaki dan menari-nari riang bersama bocah-bocah lainnya. Gerak gerik riang itu selaras irama retak-mertak ranting dan dedaunan kering yang menjelmakan lidah-lidah api. Lidah-lidah api yang juga begitu gagah lincah sentuh bersentuhan, ringan-ria berdamping-gandengan, bergerak kiri kanan meninggi merendah tiada henti ubah berubah dengan gairah. Duhai! Betapa gembiranya masa bocah seperti yang aku alami itu. Lebih gembira dan bahkan lebih mengesankan lagi adalah ketika kobaran api mereda, hanya untuk memperagakan merahnya warna bara membara dengan masih berhias rangkai lidah-lidah api di sana sini. Seketika itu Mbah dengan dibantu oleh Ibu membawa bakul kecil berisikan apakah ubi, jagung ataukah singkong untuk dibakar. Ah ! Betapa lezat rasanya menikmati hasil bakar-bakaran Mbah itu. Lebih-lebih lagi nikmat dan asyiknya bila Mbah kembali mengutarakan dongeng tentang Api. Seperti api tabunan yang telah menjadi tradisi sejak zaman purbakala. Sejak manusia secara primitip menemukannya dengan menggosok-gesekkan benda keras berupa kayu atau bambu atau batu. Dari dan dengan pergosok-gesekan benda keras itu sedemikian rupa hingga menjadi hangat, hingga menjadi panas, lantas rumput atau kulit kayu yang sudah kering-lembut dilembutkan diletakkan diantaranya. Hingga meruap asap pertanda terbakar yang secara sigap dan cakap ditiup dengan mulut hingga nyalapun menjelma. Maka sang Api pun tersedia apa adanya. Api yang selalu disambut dengan penuh kebangga-gembiraan, bahkan dirayakan dalam pesta apa adanya pula -- selaras situasi dan kondisi manusia pada zamannya itu. Tak syak lagi, menurut Mbah, penemuan api adalah penemuan ummat manusia di zaman purbakala yang teramat penting. Bukan cuma untuk membikin tabunan, hingga bisa membakar bahan makanan berupa ubi-ubian atau daging binatang hasil buruan dan tempat kumpul berkumpul menikmati hangat kehangatan sang Api, terutama di waktu malam dan di musim yang dingin. Tapi juga untuk alat terang penerang sebagai obor dalam kegelapan, baik di perjalanan maupun ketika manusia bermukim di dalam gua-gua.
"Begitulah," ujar kata Mbah seraya menekankan, "semenjak zaman purbakala, entah berapa jutaan tahun lampau, manusia sudah tahu makna memaknai Api. Yang menurut kepercayaan tersimpan di perut Bumi. Bumi yang juga terdiri dari Tanah dan Air dan Udara juga Api di kedalaman perutnya. Dan kemudian, entah berapa juta tahun kemudian, setelah terjadi proses panjang zaman perubahan, timbul kepercayaan bahwa sang Api datangnya dari Kayangan. Sang Api itu sedemikian rupa maknanya bagi hidup kehidupan ummat manusia dan sekalian alam dunia, sehingga dari satu ke lain zaman sampai dihormat-puja-puji sebagai Dewa. Penduduk dunia yang berasal dari Persia, Yunani, Osaka atau Mesir pasti tahu sekali apa dan bagaimana makna memaknai sang Api Agung disebut Matahari itu. Lagi pula, dalam perjalanan sejarah ummat manusia, dengan cara-gaya beragam macam, orang pun bisa menyimak tentang maknanya di tiap kitab-kitab yang menjadi tradisi kajian."
KETIKA mendengarkan kisah-kisah sang Api atau yang berkaitan dengannya, selagi masa bocah itu, aku hanya bisa menggeleng-anggukkan kepala saja. Bukan lantaran bosan ataupun ragu, meski mendengarnya berulang-kali, melainkan lantaran keasyikan teriring rasa kagum pada sang Api -- salah satu dari ciptaan Yang Maha Kuasa itu. Tak juga pernah merasa bosan, setiap kali tabunan tinggal bara, lantas ditambahi beberapa ranting dan tumpukan rumput atau dedaunan. Maka, sesaat sebelum meninggalkannya, aku sempatkan menatap betapa indahnya ruap meruap keputihan asap yang beruntai menggapai langit malam bertabur bintang.
Iya. Memang iya. Sejak masa bocah aku suka tabunan, ketika api mengobarkan nyala atau meninggalkan bara, bahkan ketika ruap meruap keputihan asap untai beruntai. Aku suka menampak tabunan di kebun atau di ladang; di lembah atau lereng bukit dan gunung, sebagai pertanda adanya kiprah dalam kehidupan manusia. Seperti di Ciputat, Cimanggis, Cinangka, Kerawang, Bekasi atau di kebun dan ladang Abah di Kampung Setu, Cikarang, Cilengsi. Seperti di "zaman dulu" selagi bocah atau remajaku. Seperti juga belakangan ini ketika di Sawangan, di Kuningan dan di Subang. Maupun di sepanjang perjalanan Cirebon--Karawang--Bekasi. Begitulah pula, api tabunan senantiasa menggelitik hati dan pikiran serta imajinasiku ketika bersama kekasihku melakukan peninjauan ke Minangkabau. Dari Padang menelusuri Bukit Barisan dengan Gunung Merapinya yang agung, ke Bukit Tinggi dan Pagar Ruyung sampai ke Pekan Baru untuk akhirnya sampai pulang ke Batam Kepri. Nyala ataupun asap Api Unggun memikat hatiku senantiasa.
Apa pula lantaran perlawatan itu ditunaikan bersama seorang perempuan pujaan hatiku. Perempuan yang ketika aku temukan, sejak awal mula sudah mampu menarik-gugah hatiku. Tak ubahnya sepercik percikan api yang sarat asa dan kehangat-nyamanannya asyik dirasa patut dijaga. Menghangat-gairahkan semangatku. Nama panggilannya saja bagiku amat bermakna dan puitis. Menambah kenyaman dan keteguhan teriring rasa kebetahan bersamanya. Sekalipun, pada awal mulanya kami berlum pernah saling jumpa muka. Baru terlaksana hal itu beberapa tahun kemudian. Dan selama beberapa tahun itu terisi intensitas komunikasi yang nyalanya begitu mengesankan: mulai bak api dalam sekam hingga menjadi api unggun yang nyalanya terang benderang menghiasi kegelapan malam.
Iya. Dan memang iya. Perempuanku yang nampaknya lebih bertandakan diam pendiam dengan penampilan anggun berbusana selayaknya kaum Muslimah itu, tapi terbukti ke-kalem-diem-annya sebenarnya mengandung gelora-gairah luarbiasa. Wajah dengan senyumnya pun terhiaskan sepasang pelupuk beralis tebal dengan bulumata lentik penambah cantik. Sedang pandang mesranya, oh, cahya kemesraan yang dianugerahinya untukku itu, tak ubahnya seperti cahya api lembut yang paling lembut yang mampu menyulut semangat-gairah jiwaragaku. Bahkan ia mampu menanam-tumbuhkan kepercayaan sekaligus keyakinan akan kekuat-indahan cinta-kasihnya yang memang benar sebenar-benarnya. Sebagai Kekasih. Dan juga sebagai seorang isteri: Ketulus-Ihkhlasan serta Kesetiaannya yang luar biasa. Tangguh teguh dan ulet serta sabar dalam menghadapi ragam macam ujian. Tak ubahnya seperti Dian nan tak kunjung padam. Terangnya kecemerlangan cahaya kebenaran yang benar-benar selaras kata hatinuraninya.
Maka tak seinci pun aku merasa ragu ketika untuk kesekian kalinya perempuan-swarga-ku itu mengaku direjam rasa rindu dendam. Rejaman yang kerapkali keterlaluan hingga membikinnya tidak bisa mudah memejamkan mata. Seperti tadi malam. Menyebabkan dia begadang selama berjam-jam dari tengah malam sampai menjelang waktu subuh. Begitupun, dia baru bisa terlena dengan nyaman dan nyenyak lantaran membaringkan tubuh indahnya di atas seprei berselimutkan handuk lebar. Handuk yang kami gunakan jadi penambah alas selagi bercengkerma menikmati masa ke-pengantin-baru-an kami yang baru saja dijalani. Handuk yang juga kami gunakan untuk saling lap-mengelap tubuh yang basah setelah menikmati acara mensucikan diri bersama di kamar mandi. Kamar mandi yang putih bersih bersimbah cahya yang menyimbah kesuburan Tanah Garapan Indahku yang kian indah saja setelah tersiram kesejuk-segaran air pancuran seraya hirup menghirup harum sabun wangi dan segarnya udara pagi hari.
Handuk itu sarat akan kehangat-nyamanan nyala api cinta-kasih. Api nan tak pernah kunjung padam. Semoga. *** (29.03.2008)
UDARA, bisikku mesra dengan penuh kesungguhan pula. Udara, menjelang beranjak berangkat terbang di Bandara Udara dengan Pesawat Udara, tak pernah aku begitu merasa sadar betapa maknamu bagi hidup kehidupanku. Pun bagi hidup kehidupan segala ragam mahluk dan penghuni bola bumi sekalian alam semesta. Dan aku merunduk layaknya sedang berdoa khusuk sarat syukur sarat asa teriring kangen kepada yang terkasih senantiasa.
"Kau memang seorang anak bumi yang sejati," terdengar bisik mesra di relung telinga. "Pemilik kesabaran, keyakinan dan kesetiaan dan kerendah-hatian. Seperti Ibu Pertiwimu."
Aku terdiam, tersipu, meski nyaris senyum tak sengaja. Belum lagi aku mengucap "Terima kasih atas perhatianmu, Dara," dia sudah mendahului:
"Iya. Maka dari itu, kapan saja dikau ingin pulang menjelang kekasihmu melepas rindu, sekuat bisa aku siap membantumu. Kini saatnya yang tepat kau berangkat. Masuklah ke Pesawatmu dengan tenang dan jangan terlalu gundah sekalipun nanti terjadi guncangan-guncangan. Hal itu tak terelakkan...."
Seketika aku tertegun kaget. Mengangkat mukaku. Menoleh kanan dan kiri. Tapi segera aku sadari bahwa mendongak ke langit pun aku tak akan bisa mampu menampaknya. Itulah salah satu perbedaannya dan merupakan kelemahanku, meskipun sesama ciptaan Yang Maha Kuasa. Sejenak kemudian dengan ringan aku ayunkan langkah menuruti nasihatnya. Seraya memperhatikan peraturan selayaknya. Dari pemeriksaan tiket dan paspor, melintasi ruang pengamanan sampai masuk ke dalam perut pesawat bak burung elang raksasa perkasa. Beruntung sekali aku bisa menempati kursi persis di sisi jendela mungil. Penjelasannya jelas dan benar. Keberangkat-terbangan dari Bandara Udara Brussel ke Heathorn London terasa begitu ringan lamanya selama sejam bak sekejap saja. Begitupun selama belasan jam dari Bandara Udara Kerajaan Inggris itu menuju Cangi Singapura terasa ketenang-santaian sekalipun dalam kecepatan melaju cepat bagikan kilat. Hanya 3 jam menjelang landing mendadak sontak terasa pesawat yang kami tumpangi terguncang angin kencang. Amat kencang dan amat kuat terguncang. Ke kiri ke kanan ke atas ke bawah. Pesawat meluncur dengan kekerasan getar gemetar seperti mau hancur buyar. Lewat pengeras suara terdengar peringatan untuk tetap tenang dan jangan biarkan ada tas atau bawaan lainnya dibiarkan tergeletak di lantai. "Pegang erat atau masukkan segera ke kotak yang disediakan pesawat! Sebuah tas bisa memiliki kekuatan bak pecahan bom yang meledak!" Tentu saja, kekuatan itu terjadi ketika kapal terbolak-balik dalam upaya menjaga kembali keseimbangan seraya melanjutkan laju kelajuan yang harmonis. Ah, untung saja, mayoritas penumpang mentaati saran dan informasi para Srikandi Pramugari. Dan taat terkena peringatan keras: "Kembali segera ke tempat duduk Tuan!" ketika ada yang memaksa diri bangkit dari kursi seraya beranjak mencari toilet Meskipun demikian, terjadi guncangan keras beberapa lama itu memang bukan hanya seorang, melainkan banyak juga yang merasa pusing atau sakit perut atau keduanya. Termasuk aku sendiri. Ketika giliran kesempatan ke toilet, aku melangkah tertatih-tatih. Hanya merasa agak lega setelah muntah dan melepas lilitan perutku. Sebenarnya kelegaan itu datang setelah di relung telingaku terngiang pesan: "...Jangan terlalu gundah sekalipun terjadi guncangan yang tak terelakkan. Sabar. Bukankah itu milikmu?"
Aku mengangguk perlahan, seperti tergayuti berat beban. Penasaran. Apa iya aku seorang penyabar atau paling tidak tertandakan memiliki kesabaran. Ketika aku kembali terduduk di tempatku lagi, setelah mengucap "Sorry" pada dua penumpang yang duduk di pinggir dan di sisi kiriku, seketika ku lempar pandang menembus jendela kaca mungil. Di luar cuaca menampakkan kecerahan.
"Iya. Kau memang memilikinya," terdengar bisik di relung telingaku. "Kesabaran itu sifatmu, meski sesekali sepertinya sirna dalam suasana kepengapan yang kau alami. Yang terpenting kau mampu pula menjaganya seraya mengiringinya dengan daya-upayamu sendiri juga. Jika hanya sabar bersabar saja tanpa upaya kau tak akan mencapai apa-apa. Serentetan ujian telah kau hadapi. Terbukti, kau telah lampaui satu demi satu mata ujian dalam perjuangan selama ini. Sedang mereka, bahkan orang kuat yang katanya paling kuat namun dalam tindak kezaliman, ada yang sudah mengalami kehancuran sendiri. Seperti kau tahu, orang kuat yang paling kuat dan yang paling kau kutuk pun dalam kenyataannya sedang mengalami masa sekarat dengan rejam kesakitan teramat sangat yang berkepanjangan."
Tiba-tiba aku menjelangak, seperti sedang berhadap-hadapan, dan memberi kesan yang meyakinkan atas dasar kenyataan. Bilang: "Kau benar, Dara. Kesanku atas dasar informasi dari kekasihku memang kenyataannya begitu: Orang kuat yang paling kuat, yang selama ini jadi penyabut nyawa jutaan jiwa dan pembikin sengsara ratusan juta manusia lainnya, kini malah sedang mengalami kesusahan bagi kematian dirinya sendiri. Kezaliman tatkala dengan serakah mengangkangi kekuasaan bersama kroni-kroninya telah membinasa-sengsarakan bukan saja manusia juga lingkungan alam yang selayaknya dijaga."
"Kau mengutarakan kebenaran," bisiknya. "Bukan saja tanah-airmu, tanah tumpah darahmu, juga Aku turut tercemar dicemari lantaran kerakus-serakahan dan arogansi kekuasaannya yang keterlaluan."
"Benar. Dampaknya sampai kepada alam pikiran kekasihku, yang ogah bermukim di Ibukota. Dia sampai berani bilang, bahwa berkunjung sebentar ke Betawi tak keberatan, namun untuk bermukim di sana tak mau dia. Jakarta termasuk salah sebuah kota terpolusi di dunia! Yang menelan korban ribuan jiwa manusia -- terutama anak-anak dan orang-orang tua atau yang lemah kesehatannya."
"Karenanya dikaupun lebih memilih kota Batam, begitu yah?"
Tak terasa seketika senyumku tersungging. Isyarat sarat keyakinan sekaligus kebanggaan: "Faktanya kekasihku memang penduduk Batam. Faktanya memang polusi belum merajalela merajam Batam. Faktanya juga memang, kekasihku itu perempuan idamanku yang mampu menganugerahi kesejuk-nyamanan dan keindahan tiada taranya."
"Oh, begitulah. Seperti pernah juga dikau nyatakan tak bisa mengayomi hidup kehidupanmu tanpa Dia,. Tanpa Cinta. Tanpa kasih-sayangnya. Dengan kata lain: untuk hidup kehidupanmu kau membutuhkannya seperti halnya kau membutuhkan Udara untuk bernafas. Tak bisa tanpa... Begitu, yah?"
Lidahku mendadak terasa kelu. Membisu. Terharu. Aku ingin mengaku bahwa pengakuanku diketahui kekasihku yang lagi menunggu di Bandara Udara Cangi sudah tentu. Bahwa aku memang sedang dirajam rindu dendam yang menggebu. Aku ingin segera bertemu muka. Saling bertemu pandang. Saling berpeluk-ciuman. Saling menghirup kesejuk-nyamanan serta keindahan cinta-kasih.
"Don't worry, be happy!" terdengar bisikan di relung telingaku. Terasa agak geli sepertinya mengiang lagu merdu Bob Marley. Lanjutnya meyakinkan: "Semua yang dikau ingin sampaikan sudah dirasakannya. "Cemana...?" protesku, meski hanya dalam hati. Namun dia punya kekuatan argumentasi: "Sesungguhnyalah. Sepasang kekasih sejati yang saling merindu sesungguhnya sama-sama tahu dan sama-sama merasakan yang selayaknya dirindu dan dirasakan".
Seketika itu aku tercenung menung. Belum lagi bereaksi bisikan sudah terngiang menyambung: "Ketahuilah, kau memang sudah berulang kali lolos dari ujian. Seperti guncangan dahsyat barusan itupun merupakan bentuk ujian. Dahsyat mengejut bahkan menyakitkan ujian itu memang. Tapi bukan suatu kesengajaan. Itu merupakan salah satu bentuk perjuangan -- dampak bentrokan kepentingan dari kalangan ummat mu yang mendewakan kekuasaan, arogan dan rakus serta egois mengangkangi kepentingan. Tanpa mengingat kepentingan ummat manusia keseluruhan pun mengabaikan lingkungan alam semesta. Akan tetapi, roda kehidupan menggelinding senantiasa dengan layak selayaknya dialektika kehidupan itu sendiri. Cepat atau lambat tiap tiap posisi yang memposisikan diri akan menerima giliran ganjaran."
Aku terdiam. Hanya untuk lebih asyik maksyuk mendengar bisikan Sang Udara: "Percayalah. Tiap ujian yang berhasil dikau lampaui pasti sarat akan hikmahnya yang akan dikau nikmati nanti. Seperti ujian yang tadi dikau lalui. Kau akan lebih tinggi lagi dalam memaknai anugerah kesejuk-nyamanan dan keindahan Cinta-kasihmu."
Iya. Benar saja. Ketika mendarat di Bandara Udara Cangi Singapura terasa rasanya seperti jauh lebih ringan kebanding bertolak-anjak. Iya lebih ringan, seketika landing Pesawat Udara, maupun ketika melangkah keluar melintasi pintu Ruang Tunggu berhiaskan bunga anggrek warna-warni. Jejak langkahku terasa begitu ringan seperti penari lagi menari-nari riang. Dan begitu bertemu muka pandang mata berpadu maka wajahpun sumringah bersimbah cahaya bahagia. Kesejuk-nyamanan begitu terasa, teriring keindahan yang tak terlukiskan dengan kata-kata. Keindahan cinta-kasih yang bersemi selagi musim semi.
Sungguh. Salah satu pertanda hikmahnya takkan pernah terlupakan. Seperti sekali itu -- oh, surprise ! -- untuk pertama kalinya kekasihku pamit sebentar masuk kamar mandi hotel hanya untuk menemuiku kembali tanpa kerudung. Langkahnya gemulai mendekat dengan wajah sumringah dan pandang begitu mesra. Sedangkan aku tertegun sulit mengeluarkan kata kerna terpesona menampak keindahan wajahnya yang berhiaskan rambut hitam ikal panjang. "Janji 'kan mesti ditepati, Kohar. Iya tak?" ujar katanya memecah keheningan, cepat memahami kekagumanku. Ketika seketika salah satu yang aku impikan menampaknya seutuhnya, dengan wajah terhias rambut hitam ikal panjangnya yang teurai siaga aku belai. Maka seketika itu, tak urung impian itu pun menjadi kenyataan.
Betapa terasa rasa kesejuk-nyamanan dan keindahan berupa kemesraan yang didambakan itu, Dara. Terasa rasa lebih dari yang sudah-sudah kemesraan Udara Cinta-kasihku. *** (15.03.08)
GERAK bergerak anjak cepat mengangkat tubuh melompat jauh memasuki ruang burung raksasa terbang tinggi mengkasa. Setelah kurang lebih sejam lamanya dari kota Brussel sampai ke London lalu terulang lagi hanya untuk melambung terbang mengawang lebih tinggi lagi. Laju melaju lebih cepat lagi. Meski dalam kecepatan luarbiasa sedemikianpun ketenangan terasa. Lebih-lebih lagi setelah mendapat sambutan sekalian penjelasan berkenaan dengan keamanan teriring senyum tersunting wajah-wajah srikandi pramugari. Disusul hidangan cemilan lezat pengantar minuman segar penyegar.
Kursi yang aku duduki terasa empuk meski mesti mengenakan sabuk namun tiada mempengaruhi ketenang-nyamanan dalam ketinggian terbang mengangkasa raya. Ah, apakah lantaran kecanggihan teknik zaman ini semata? Meski sang burung raksasa menanggung di atas punggung beban lebih dari limaratus manusia namun sepertinya ringan saja malah bak anak panah meluncur laju gairah ke titik tuju yang diarah? Menuju senter wilayah katulistiwa hamparan Nusantara -- persisnya bandara udara Cangi Singapura?
Ketika pandangku ke luar menembus jendela kaca yang kecil mungil persis di sisi kananku, seketika itu pula aku menyadari telah berada jauh tinggi dari bumi. Dari Eropa. Dari Tanah Pijakan Kaum Eksil: Brussel, Belgia. Menyadari akan panjangnya perjalanan terbang sepanjang kurang-lebih duapuluh ribu kilometer jaraknya dari satu titik tolak sampai titik tuju. Dan seketika itu juga aku menyadari -- ah lebih tepatnya aku teringat kembali akan rasa perasaan ketika berangkat dari Kemayoran sekian puluh tahun lalu. Pada tanggal 27 September 1965. Setelah berada di angkasa tinggi dalam kelajuan luarbiasa burung raksasa bak garuda perkasa, baru pada saat itu pula aku menyadari keberangkatan meninggalkan bumi. Meninggalkan tanah tumpah darahku. Meninggalkan Tanahairku. Meninggalkan Ibu Pertiwiku. Meninggalkan Ibu kandung dan sanak-saudaraku serta handai-taulanku. Ah, sungguh aneh, pada saat-saat baru saja berangkat terangkat terbang mengangkasa segera timbul perasaan yang campur baur gembira-bangga dan sendu pula. Karena seketika aku sudah merasa rindu dan timbul keinginan kembali pulang dalam pangkuan Ibu Pertiwiku! Dalam segala maknanya yang terdalam dan terindah.
"Legakan hati dan pikiran," bisikku tapi hanya di dalam hati, sembari terus menyimak pemandangan dari ketinggian angkasa kebanding bola bumi nun jauh di bawah sana. Bisik penawar gundah mengingat sepatah kata pepatah: "Setinggi-tinggi terbang bangau surutnya ke kubangan juga." Betapapun jauhnya orang merantau kembali ke tempat asalnya juga. Aku senyum. Tersenyum sembari mengingat tanah tempat kelahiranku. Teringat Betawi. Teringat Tanah Abang. Petamburan. Ciputat. Cimanggis. Kedaung. Depok. Kerawang. Bekasi. Cikarang. Kampung Setu. Cileungsi. Dan hamparan kawasan tanah datar pun tanah tinggi sekitar-putar perbukitan dan gunung-gunung seperti Gunung Gede, Gunung Semeru, Gunung Merapi-Merbabu dan lain-lainnya lagi.
Dan tanah macam "dan lain-lainnya lagi" itu terutama sekali adalah tanah-tanah garapan baik sawah maupun ladang. Tanah yang setiap saat aku berada di dekat atau di tengah-tengahnya segera aku merasa betah. Iya. Betah. Sebetah sang burung bangau berada di kubangannya? Tak salah. Pas sekali malah kandungan makna kata pepatah itu. Karena aku memang suka tanah. Demen sekali tanah malah. Demen menjamah, membelai, meremas-remas kelembutannya, bahkan mencium baunya yang wangi -- apakah wanginya wangi tanah ladang yang gembur ataukah tanah sawah berupa lumpur. Apakah pula ketika menebar-tanam benih ataukah bibit, apakah pula ketika mencabuti rumput rerumputannya yang kadang tegar kadang lembut meski lagi semrawut. Dan apakah pula bau wanginya tanah ketika masa musim panen. Lebih-lebih lagi ketika lelaki-perempuan tua-muda kiprah menuai hasil jerih payah olahan tanah garapan dengan senantiasa mengayomi semangat gotong-royong. Ketika kaum perempuan -- ibu-ibu atau cah perawan -- memperlagakan ketrampilan menggunakan ani-ani memotong tangkai padi yang merunduk berisi. Kemudian merangkum-ikatnya dengan rasa gembira terlukis di wajah cerah mereka. Segembira dan secerah wajah kaum lelaki, termasuk daku, sang pengumpul sekaligus pengangkut ikatan padi dari pematang sampai ke halaman rumah dekat lumbung yang siap diisi.
Iya. Memang iya. Berada di tanah baik di ladang maupun di tengah sawah aku merasa betah. Karena aku suka. Karena aku demen. Karena aku bukan hanya merasa suka atau demen saja, melainkan juga mau dan tahu bagaimana mengolahnya. Mengolah tanah garapan dari awal sampai siap ditanam bibit atau disebar benih sampai pada saat panennya. Juga, aku suka pesawahan karena pada saat-saat tertentu merupakan tempatku mencari menangkap memancing ikan. Sedangkan kali-kalen-annya yang jernih adalah tempat kesukaanku sejak kecil mandi dan berenang-renang riang.
IYA. Memang iya begitulah. Ketika berada tinggi terbang melayayang di ruang angkasa seketika itu aku sudah merasa begitu kangen pada bumi. Pada Ibu Pertiwi. Pada tanah tumah darah. Pada tempat kelahiranku. Pada tanah garapan tempat berkiprah mengolah menanam menebar bibit atau benih hingga tumbuh berkembang membesar berbuah sampai dipanen dengan rasa penuh gembira campur bangga. Dan rasa kangen ini terus mengidap di dalam diriku. Sejak keberangkatanku mengudara dari bandara Kemayoran Jakarta sampai melanglang buana: dari benua Asia sampai Eropa. Sampai saat kekinian. Tatkala kembali berangkat mengudara menunggang burung raksasa dari Brussel via London menuju Singapura. Rasa rinduku malah lebih menggebu-gebu lagi. Karena kerinduan yang sudah sekian lama mengidap-ayomi idaman hati pula. Kerinduan yang maknanya semakin luas dan semakin dalam. Oleh karena itulah pula kiranya, selama lamanya perjalanan-terbang mengarungi jarak duapuluh ribu kilometer terasa begitu luarbiasa cepatnya. Selama duapuluhan jam perjalanan itu, kecuali lagi terlena, perhatianku sedikit sekali pada seisi pesawat yang mengangkut lebih dari lima ratus manusia itu. Perhatianku lebih banyak keluar -- melemparkan pandang lewat jendela kaca di sisi kananku.
Iya. Memang iya. Pasalnya rasa rindu kerinduan kali ini memang sungguh-sungguh luarbiasa. Luarbiasanya justeru lantaran kerinduan yang memang bermakna multidimensi: cinta kasihku pada Ibu Pertiwi, pada Tanah Tumpah Darah, pada Tanah Air itu telah berisi paduan dengan kerinduan pada perempuan idamanku, pada cinta kasih impianku. Pada Dewiku. Perempuan yang aku yakini kini sedang menanti kepulanganku. Iya, keyakinanku kuat begitu. Meski baru untuk pertama-kalinya 'kan bertemu langsung, sejak perkenalan selama beberapa tahun hanya berkomunikasi via tulisan dan telpon. Iya. Meski begitu, namun daya magnetisnya luarbiasa.
Luarbiasanya, juga tertandakan, ketika aku mendarat di Bandara Cangi, malah si dia lah yang lebih dulu mengenali seraya menyapaku ramah dengan senyum menghias wajahnya yang sumringah: "Kohar? ... Selamat datang, Kohar."
"Akhirnya... akhirnya kita ketemu juga, Dewiku!" ujarku nyaris terbata-bata dalam nada bahagia campur haru, seraya menatap wajahnya yang begitu ayu. Lugu. Untuk sementara tak banyak tukar ujar kata. Pasalnya soal isi hati kami sudah saling tahu saling mengerti saling padu dalam merindu. Dalam menanti dan dalam menjemput bukti yang sedang terjadi. Maka dari itu kami -- terutama aku sendiri -- lebih sering hanya saling pandang memandang, dari depan atau dari samping atau malah curi pandang dari belakang. Ah, Dewiku -- gadis pengena busana berupa baju rok panjang sampai mata-kaki dan kebaya serta kerudung itu nampak begitu anggun. Lebih-lebih ketika berdiri maupun selagi duduk di deretan kursi berdekorasi bunga anggrek warna warni. Termasuk anggrek bulan warna putih suci -- bunga kesukaannya sendiri.
Jika setibanya di Bandara Cangi tidak banyak tukar ujar kata kecuali isyarat rasa kangen dengan duduk berdekatan melangkah jalan berdampingan. Juga begitu dan lebih-lebih lagi rasa rindu campur haru mencengkam ketika mendarat di Pelabuhan Batam, setelah menyeberangi selat dari Pelabuhan Singapura. Ketika sang Dewi mengucap kata: "Selamat datang, selamat kembali pulang di Tanah Air sendiri, Kohar", seketika aku tertegun sejenak. Menatap wajahnya begitu mesra. Rongga dadaku terasa begitu penuh. Bola mataku basah. Bibirku bergetar namun lidahku terasa kelu. Membisu. "Iya, ini beginilah tanahairmu, Kohar," tegasnya, senantiasa dalam nada mesra.
"Iya," sambutku dengan sepatah kata meng-iya-kan, nyaris setengah tertelan. Lantaran bauran ragam macam perasaan dan pikiran bangga, bahagia, kagum -- kekaguman antara impian, idaman dan kenyataan. Setelah empat dasa warsa lamanya menyimpan mengayomi ragam macam perasaan dan pikiran tersebut. Lantas terbukti kembali memijakkan kaki di atas bumi Nusantara seraya mereguk air dan udaranya yang segar menggairahkan raga. "Iya," ulangku dengan nada rendah namun jelas, sembari menatap sang Dewi pujaan hatiku. "Akhirnya idaman-impian jadilah kenyataan. Berkat dikau, kasihku."
Iya. Memang iya. Sesaat kami saling berpandangan mesra. Begitu mesra. Berpadu pandang nyaris berpadu pelukan badan dengan kemesraan luarbiasa. Namun kami bisa menahan diri. Sampai saatnya di kemudian hari. Ketika berkelanjutan jalan perjalanan kunjung-kunjungan silaturahmi antar keluarga dan handai taulan selang seling perjalanan peninjauan serangkaian daerah wilayah Nusantara. Di Suamtera dan di Jawa. Sampai pada pencapaian salah satu target teramat signifikan di ujung perjalanan pengantinan di lereng bukit dan gunung Tanah Periangan.
Dan sungguh takkan terlupakan, saat-saat sesampainya suasana yang paling ultim keintiman malam pertama pengantinan di Subang, aku tidak sampai lupa daratan atau seperti orang kesurupan, melainkan semakin menyadari sekali betapa makna yang multi-dimensi kepulanganku. Yakni pulang kembali ke dalam pangkuan dan pelukan Ibu Pertiwi Ku. Di Tanah Air Ku. Di Tanah Garapan Ku. Tanah Garapan Perawan Ku. Dalam pelukan Perempuan Swargaku. Isteri Ku nan indah keindahannya tak mudah aku lukiskan dengan kata-kata. Sekalipun sejuta kata adanya. *** (08.03.2008)