Group's posts with tag: catatandaribrussels

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag catatandaribrussels

 

Catatan Dari Brussel:

 

DARI BUMI PIJAKAN KAUM EKSIL

 

Esai Sastra

 

Oleh

A. Kohar Ibrahim

 

 

 

Dari Penulis

 

1.  Semua pikiran menuju ke atas bertemu di puncak

2. Yang Menderita melahirkan Max Havelaar

3. Kaum eksilan budayawan vs kekuasaan

4. Yang menghina yang memuliakan manusia

5. Vandalisme pertanda kebiadaban

6. Perampok penginjak-injak hak azasi

7. Lentera dimatikan dosa siapa

8. Penggelapan : dosa apa ?

9. Gelap terang Bintang Timur

10. Yang berpihak yang salah

11. Cap pembinasa nista

12. Budaya dusta cap palsu

13. Organisasi Lekra Joebaar Ajoeb

14. Literatur seniman engage

15. Keteladanan yang memihak

16. Berpihak hingga berpulang

17. Berpulang meninggalkan belang

18. Selaras panggilan zaman

19. Tiga penulis penyair Aidit

20. Aidit pelita Nusantara ?

21. Ziarah kepada yang tak bermakam

22. Cerita sastrawan Sobron Aidit

23. Suara hati sanubari penyair

24. Ziarah Asahan Alhamdulillah

25. Tinggallah cita-cita keyakinan

26. Hidup itu sekedar goresan mimpi?

27. Kawan lawan sesama seniman

28. Sikap kemerdekaan persahabatan seniman

29. Seorang pribadi seniman Ajip Rosidi

30. Politik seniman politik

31. Politik penyair penggugat

32. Fenomena Si Burung Merak

33. Negara merdeka bagaimana bangsa ?

34. Keberanian di alam kegelapan

35. Menghargai penyair berjiwa merdeka: Wiji Thukul

36. Anugerah tertinggi jiwa raga

37. Belanda yang terpuji: Wertheim

38. Wertheim guru besar pembela yang benar

39. Wertheim-Magusig: Tahun-tahun Pembunuhan

40. Sikap terhadap kebenaran sejarah : korban pembunuhan

 

Biodata A. Kohar Ibrahim

 

 

*

 

 

Dari Penulis

 

Serangkaian tulisan « Catatan dari Brussel » yang diberi judul « Dari Bumi Pijakan Kaum Eksil » ini disusun berkat dorongan dari Ajip Rosidi yang disampaikan baik lewat hubungan surat dan telpon maupun obrolan langsung ketika berkunjung ke domisili saya di Brussel. Ajip menganjurkan agar bisalah saya menyusun tulisan semacam memoar. Mumpung ingatan masih segar, katanya.

 

Selanjutnya, juga atas dorongan Lisya Anggraini, seorang penulis dan jurnalis dari Harian Sijori Pos (kemudian menjadi Harian Batam Pos) yang selain menghargai naskah-naskah sumbangan saya juga sangat ingin tahu akan pengalaman saya selama berada di mancanegara sejak terjadinya Peristiwa 30 September 1965.

 

Lebih lanjut, ada pula anjuran dari sementara sahabat dan pembaca di Indonesia, yang juga bernada serupa – terutama sekali dari kalangan generasi yang lahir atau dibesarkan di zaman Orde Baru. Di antara mereka itu ada yang ingin tahu bagaimana orang-orang seperti kami bisa terus survive dan bahkan kreatif, maka ingin pula mengetahui proses kreativitas saya. Yang lainnya, ada pula yang secara jujur merasa selama ini telah tertipu oleh rezim Orde Baru dalam hal ihwal yang berkaitan dengan sejarah. Dan mereka sangat ingin mengetahui dari orang-orang seperti kami – sebagai saksi-mata sekaligus pelaku sejarah. Kerna sejarah memang lantaran tingkah-ulah masyarakat manusia.

 

Catatan ini pun dimaksudkan sebagai pembuktian lebih lanjut dan lebih luas lagi sikap saya terhadap aktivitas dan kreativitas para penulis, khususnya mereka yang untuk jangka waktu yang cukup panjang telah dibungkam dan yang secara terpaksa menjadi kaum eksilan, namun senantiasa tak pernah putus asa. Terus menulis sekuat bisa, sebagai yang tercermin dalam upaya penerbitan yang tergolong pers alternatip yang antara lain kami kelola. Dengan motto : menyambut, menghargai dan menyebarluaskan kreasi.

 

Maka, dengan memperhatikan semua itulah saya susun rangkaian tulisan ini. Yang pertama-tama, untuk edisi pertama Tahun Baru 2003, disiarkan oleh Harian Batam Pos – edisi cetak dan edisi elektronik. Dengan maksud untuk menemukan pembacanya lebih banyak lagi, maka « Catatan dari Brussel » ini diulang-siarkan oleh Swara.net, Cybersastra.net, dan DepokMetro.Com. Serta di ABE-Kreasi Multiply Site : http://www.16j42.multiply.com Desember 2006 – Maret 2007.

 

Rangkaian tulisan ini merupakan salah satu dari rencana rangkaian-rangkaian tulisan lainnya yang bersifat catatan-kenangan perjalanan kehidupan, berupa pengalaman aktivitas dan kreativitas, pertemuan-pertemuan saya maupun apa yang saya rasa, pikir,  dengar dan ketahui lewat bacaan dan lain sebagainya.

 

Kami sajikan sebagai salah satu bahan pertimbangan kepada segenap pembaca yang berminat. Silakan.

 

 

Brussel, 18 Maret 2007.

 

A. Kohar Ibrahim

 

*

 

Biodata:

 

A.Kohar Ibrahim

(Abe)

 

 

Nama lengkap : Abdul Kohar Ibrahim

Nama pelukis (tandatangan karya lukis) : Abe

 

Lahir  1942 di Jakarta, Indonesia.

 

Menerima pendidikan Seni Rupa di : Académie Royale des Beaux-Arts de Bruxelles,  Brussel, Belgia.

 

Alamat:

Belgia : Bruxelles, Belgique.

Indonesia : Batam, Jakarta.

 

Penghargaan / Diploma:

(1) Brevet d’Exellence & Diplôme de Fin d’Etude de l’Académie Royale des Beaux-Arts de Bruxelles (1975, 1979).

(2) Prix de Gouden Pluim (Spectraal, Gent, 1981).

(3) Médaille d’Argent du Mérite Artistique Européen (Coxyde, 1987).

(4) Médaille d’Argent de l’Académie Internationale des Arts Contemporains et Diplôme d’Officier (pour reconnaître et protéger sa valeur artistique) 1986.

(5) Médaille d’Or (1987) et Médaille de Platine de l’AIAC (Enghien, 1988).

 

Biodata. Bibliographie :

(1) Media Massa, antara lain : Le Soir, La Lanterne, La Dernière Heure, L e Pourquoi Pas ? Le Jalon des Arts, Gazet Van Antwerpen, Het Laste Nieuws, De Autotoerist, Sontags Kurier, Cellerche Zeitung. Minggu Pagi, Kedaulatan Rakyat, Harian Sijori Pos, Harian Batam Pos, Majalah Gema Mitra, Majalah Budaya Duabelas, KB Antara dan media online: SwaraTV, DepokMetroNet, CybersastraNet, CimbuakNet.

(2) Spectraal Kunstkijkboek VI, éd. Spectraal, Gent 1984.

(3) 50 Artistes de Belgique, par Jacques Collard, critique d’art, éd. Viva Press Bruxelles 1986.

(4) Art Information, éd. Delpha, Paris 1986.

(5) Who’s who in Europe, éd. Database, Waterloo 1987.

(6) Who’s who in International Art, international biographical Art dictionary, éd. 1987-1996, Lausanne, Suisse.

(7) Dictionnaire des Artistes Plasticiens de Belgique de XIXe et XXe Siècles – Editions Art in Belgium 2005.

(8)  Artiste Peintre Abe alias A.Kohar Ibrahim dan karya lukisnya – Editor : Lisya Anggraini, Batam, 2005.

 

Exposisi :

Sejumlah eksposisi individual maupun kolektif. Antara lain : Galerie Hendrik De Braekeler (Antwerpen, 1977). Galerie Rik Wauters (Bruxelles, 1977). Galerie Van de Velde (Gent, 1979). Les Arts en Europe (Bruxelles, 1979). Galerie APAC (Schaerbeek, Bruxelles, 1980). Mérite Artistique Européen (Coxyde, 1980, 1987, 1990). Galerie Escalier (Bruxelles, 1980). Spectraal (Gent, 1981). Galerie Gouden Pluim (Gent, 1982). Galerie Erasme (Anderlecht, 1983, 1990). Galerie Schadow (Celle, RFA, 1986). Europa Bank (Gent, 1987, 1988, 1990). 50 Artistes de Belgique (Bruxelles, 1986). A.I.A.C. (Enghien, 1987). Spectraal (Nieuwpoort, 1988). Galerie Het Eeuwige Leven (Antwerpen, 1993). De Kreiekelaar (Schqerbeek 1997). Parcours d’Atistes (Commune de Schaerbeek, 1998). En Modus Vivendi (Oude Kerk, Vichte, 2003). Galeri Novotel (Batam, Kepri, 2004). Museum Haji Widayat (Magelang, Indonesie, 2004). Galeri Novotel (Batam, Kepri, 2006).

 

Sebagai Penulis:

Sebagai penulis, A. Kohar Ibrahim mulai banyak menulis prosa dan puisi serta esai atau kritik sastra dan seni sejak akhir tahun 50-an di beberapa media massa Ibukota, antara lain Bintang Timur, Bintang Minggu, HR Minggu, Warta Bhakti dan Zaman Baru. Setelah Era Reformasi, berkas-berkas karya tulisnya ada yang disiarkan di media massa cetak dan online. Anatara lain : Minggu Pagi, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Sinar Harapan, Harian Sijori Pos, Harian Batam Pos, Majalah Gema Mitra, Majalah Budaya Duabelas, Cybersastra.net, Depokmetro.com, Swara.tv.

Sejumlah esai budayanya yang dibukukan, antara lain :  “Sekitar Tempuling Rida K Liamsi », telaah buku kumpulan puisi Rida, terbitan Yayasan Sagang, Pekanbaru 2004. « Identitas Budaya Kepri », terbitan Dewan Kesenian Kepri, Tanjungpinang 2005. « Kepri Pulau Cinta Kasih », karya bersama Lisya Anggraini, Yayasan Titik Cahaya Elka, Batam 2006.

 

WEBSITE/BLOG

Mengenai aktivitas-kreativitas tulis-menulis & lukis A. Kohar Ibrahim bisa disimak beberapa website atau blog, antara lain :

ABE-Kreasi Multiply Site : http://www.16j42.multiply.com

http://painting.multiply.com

http://cerpenonline.multiply.com

http://writers.multiply.com

http://indonesiancommunity.multiply.com

http://fr.360.yahoo.com/kohar_be

http://artsCad.com/@/AKoharIbrahim

http://allartonline.com

 

Dan website DepokMetro (Kolom Bung Kohar), SwaraTv, Cybersatra.net dan Harian Batam Pos (Edisi Minggu Ruang Budaya, Apresiasi, Cerpen & Puisi). ***

 

Copyright Hak Cipta: Pada Pengarang A. Kohar Ibrahim

 

(Release: 18/03/2007)



 

A.Kohar Ibrahim :

 

Sikap Terhadap Kebenaran Sejarah

Korban Pembantaian

 

 

Esai Sastra

Catatan dari Brussel

(40)

 

 

SALAH satu ciri utama dari seorang cendekiawan itu memang kegelisahannya terhadap hal ihwal yang terjadi di dalam masyarakat manusia. Kegelisahan atas ketidak-beresan atau yang dirasa dan dipikirnya tidak benar dan tidak adil. Begitulah salah satu sosok prominen cendekiawan semacam W.F. Wertheim. Salah satu buktinya adalah sikapnya terhadap Peristiwa 30 September 1965 yang diiringi serangkaian panjang tindakan kekerasan yang diawali oleh propaganda hitam berisi dusta-fitnah.

 

Dusta-fitnah itu berkembang hingga menjadi salah satu budaya Orde Baru yang memutarbalikkan sejarah. Dengan memberangus kebebasan pers dan dijadikan alat propaganda untuk mempersolek sekalian melanggengkan kekuasaan hasil kudetanya. Lebih jauh, bukan hanya dunia pers atau media massa yang dijadidkan alat penindasannya secara permanen, bahkan juga buku-buku pelajaran di sekolah dan beragam sarana penyiaran lainnya. Dampaknya sudah bisa dipastikan, pers dan lembaga pendidikan dan penerangan bukannya berfungsi menjadi sarana pencerdasan bangsa selaras Undang-Undang Dasar Republik Indonesia, melainkan sebaliknya. Kebenaran dan keadilan sekalian segala pernyataan untuk menegakkannya telah digelapkan dan atau dibrangus. Sejarah telah dibengkokkan atau diputar-balik !

 

Dalam kerangka pikiran yang berkaitan dengan sejarah itulah, pernyataan dari W.F. Wertheim seperti yang terpateri dalam Kata Pengantar buku kumpulan sajak Magusig O Bungai « Sansana Anak Naga dan Tahun-Tahun Pembunuhan » itu sangat bermakna penting. Makna sangat pentingnya memang tak lain tak bukan kecuali demi menemukan seraya menegakkan kebenaran dan keadilan bagi sang korban dan agar kejahatan yang dahsyat itu takkan terulang lagi. Semua itu pun demi terbinanya kehidupan masyarakat manusia yang lebih baik. Lebih beradab.

 

Ketika menyusun naskah ini, saya memang menyadari, bahwasanya daya upaya untuk mengungkap dan menegakkan kebenaran dan keadilan, untuk mengkaji dan meluruskan sejarah, tidaklah mudah semudah orang berdakwah. Karena, disamping memang hal ihwalnya rumit, juga lantaran dampak propaganda hitam sekalian pendidikan yang diberikan di sekolahan dan indoktrinasi pembodohan itu telah berlangsung sekian luas sekian lama pula. Maka selain ada yang mampu menggunakan nalar sebagai anugerah Tuhan YME dan Maha Tahu serta Maha Pengasih-penyayang, ada pula yang bersitegar untuk menerima racun dusta dari propaganda hitam Orba ; segan berpikir atau bertanya – « kenapa ? ». Mengapa di bumi Nusantara ini bisa terjadi tindakan kebiadaban yang belum pernah terjadi dalam lembaran sejarahnya ? Padahal pembunuhan terhadap sesama insan ciptaan Tuhan – apalagi yang secara sistematis, berangkai-rangkai dan secara massal – adalah suatu tindakan terkutuk.

Yang patut sangat disesalkan ialah, bahwa penyebaran dusta dan fitnah yang mengobarkan kebencian dan pembunuhan itu berlangsung sangat lama dan permanen. Bahkan, setelah sebagai rezim Orde Baru telah tumbang, namun tradisi buruknya masih diteruskan oleh sementara kalangan. Sekalipun, negeri ini terkenal sebagai agamis. Namun rupanya mereka cuek saja terhadap makna Hadis riwayat Abdullah bin Mas’ud ra, yang berkata : Rasulullah saw. Bersabda : Perkara yang pertama kali akan diselesaikan di antara manusia pada hari kiamat nanti, ialah perkara darah (pembunuhan).

 

Sementara kalangan itu pun cuek saja terhadap larangan untuk berdusta seraya melakukan kekejaman. Semua itu amat bertolak belakang dari ajaran akan kelayakan berbuat kebaikan terhadap sesama umat manusia. Dalam kaitan ini, dalam membaca sajak-sajak Magusig yang ditulis 1990 berjudul « Masakre’66 »,  maknanya terasa menjadi semakin signifikan untuk direnungkan :

 

pernah di sungai ini tiap hari bangkai-bangkai mengapung hanyut ke muara

ikan terpancing di dalam perut menyimpan jari-jari

sampai penduduk sungai menunggu langit mencurahkan hujan untuk melerai dahaga dan menanak nasi

 

pernah di sebuah kota pulau merica

orang-orang main bola dengan kepala komunis dipancung

fanatisme membutakan orang menurunkan harkat diri

 

di negeri ini semenjak itu, kiri bermakna kejahatan

karena pemenang dari pertarungan sengit siap menjual kampung-halaman

siap memperbudak dan meperlacurkan sanak keluarga, handai taulan

 

Coba kita lanjutkan dari menyimak sajak yang termuat dalam halaman 34 itu ke halaman selanjutnya yang berjudul « Sebuah Busut Jantan », sebagai berikut :

 

ratusan di sini orang-orang dibunuh di satu lobang

dan lobang itu kemudian membentuk sebuah busut jantan

rerumputan di atasnya di bawah pohon-pohon menyemak

berwarna hijau, hijau harapan dan cinta terbawa mati

 

mereka yang tewas dan kami yang masih tersisa

tak pernah meyesalkan cinta yang sungguh kepadamu nusantara

sebab kedaulatan memang seharga nyawa

dan hidup adalah ukiran yang harus ditatah sendiri

 

tumbuh bunga di atas busut berwarna merah

wanginya menjangkau keluar daerah

yang dulu bocah kini membesar

gemetar pembunuh rahasia busut terbongkar

 

 

Baik yang diutarakan oleh Magusig lewat karya puisinya maupun oleh cendekiawan Belanda W.F. Wertheim dalam kata pengantar « Sansana Anak Naga dan Tahun-tahun Pembunuhan » itu terkandung makna yang kuat berupa semangat bagi penegakan kebenaran dan keadilan. Hal itu pun merupakan bukti, bahwasanya  bahkan dalam situasi dan kondisi kegelapan yang diciptakan rezim Orba yang paling gelap pun, ada berkas-berkas kecerahan yang kian lama kian membesar.

 

Buka ! Bongkar ! Ungkap ! Untuk membela yang benar demi tegaknya keadilan. Demikianlah semangat yang hakiki yang mencerminkan semangat perjuangan manusia demi kehidupan yang lebih baik dan manusiawi.

 

« Masih cukup banyak hal yang harus dibukakan di depan mata seluruh rakyat Indonesia, » demikian kata Wertheim belasan tahun yang lalu, yang senantiasa bermakna, faktual lagi aktual. Bahwa : « Sejarah peristiwa 1965 dan lanjutannya, seperti yang tertera di dalam tulisan resmi para pendukung Orde Baru, seluruhnya harus ditinjau kembali dan dikoreksi. Misalnya tentang pembunuhan terhadap para anggota PKI atau BTI (Barisan Tani Indonesia) yang selalu dibenarkan dengan dalih, seakan-akan mereka dibunuh karena ‘terlibat dalam Gestapu/PKI 1965’. Barangkali benar, ada beberapa kader PKI yang telah ikut memainkan peranan dalam peristiwa 1 Oktober 1965 itu. Tetapi bisakah ratusan ribu kaum tani di Jawa dituduh terlibat dalam peristiwa penyerangan terhadap rumah 7 orang jenderal pada pagi-pagi buta 1 Oktober saat itu ? »

 

Bisakah? Sungguh ! pertanyaan yang  diajukan itu sangat signifikan lagi mendasar. Terutama sekali bagi insan yang benar-benar beriman seraya mensyukuri anugerah ilahi berupa kemampuan nalar.  Dan mau serta mampu mengajukan pertanyaan itu seringkali sudah mengisyaratkan jawaban atasnya. Untuk kemudian, setelah memahami persoalannya, dapat mengambil sikap selayaknya terhadap hal-ihwal yang penting dan genting seperti kasus pembunuhan massal itu.

 

Apalagi jika diingat masalahnya bukan hanya kasus pembunuhan massal terhadap kaum komunis, simpatisan komunis atau hanya diduga-duga komunis yang kesemuanya diduga-duga terlibat « G30S/PKI », tapi juga terhadap serangkaian kasus kejahatan atas manusia dan kemanusiaan lainnya.

 

Seperti diketahui, selain kasus pembantaian PKI yang korbannya diperkirakan dari 800.000 sampai 3 juta jiwa, juga telah terjadi peristiwa-peristiwa biadab lainnya. Seperti kasus pembantaian massal Tanjung Priok 1984 yang menelan korban 250 jiwa. Kasus peristiwa 27 Juli 1996 dengan korban 30 jiwa. Kasus peristiwa Makasar 1985 yang menghilangkan nyawa 4 mahasiswa. Kasus peristiwa Haur Koneng yang menelan korban 25 orang. Kasus Peristiwa DOM Aceh 1980-1990 dimana 30.000 jiwa melayang. Kasus peristiwa Waduk Nipah yang menelan 47 jiwa. Kasus peristiwa Lampung yang menghabisi 25 jiwa. Kasus Irian/Papua 1970-1990 berupa pembantaian massal menewaskan 8.000 jiwa. Kasus Trisaktu 1998 4 jiwa melayang. Kasus Tim Mawar 1996-1997 berupa penculikan dengan korban 22 orang. Kasus pembunuhan Marsinah aktivis gerakan kaum buruh. Kasus pembunuhan atas wartawan Udin Bernas dan kasus lain-lain 1970-1990 sekitar 1.000.000 jiwa korban yang dituduh sebagai PKI/NII/GKP.

 

Begitulah daftar para korban tindakan kejahatan atas manusia dan kemanusiaan yang bisa disimak di http://www.geocities.com/frontnasional/kasusorba. Yang juga menegaskan, bahwa berbagai kasus lain sampai saat ini diperkirakan sekitar 200 kasus pembunuhan/pembantaian yang dilakukan oleh Orde Baru dengan berbagai motif, total perkiraan korban mencapai tidak kurang dari 1.000.000 (meninggal). Dengan demikian maka selama 32 tahun Orde Baru berkuasa tidak kurang dari 4.000.000 jiwa rakyat telah menjadi korban. Bahkan sejarawan Ong Hok Giam dalam suatu kesempatan pernah menyampaikan bahwa, jika dibandingkan antara jumlah korban saat kekuasaan kolonial Belanda selama 350 tahun dengan kekuasaan Orde Baru selama 32 tahun maka jumlah korban saan Orde Baru berkuasa jauh lebih besar dibandingkan dengan saat kolonial Belanda menjajah Indonesia.

 

Di hadapan peristiwa-peristiwa kebiadaban yang tiada taranya dalam sejarah bumi Nusantara itu, memang tipk insan mau tak mau harus menentukan sikap. Bersikap terhadap kejahatan pembunuhan dan pembantaian massal itu sendiri, juga bersikap terhadap daya upaya untuk mengungkap kebenaran dan menegakkan keadilan demi rekonsiliasi yang dampaknya pastilah memperkuat persatuan nasional dan tegaknya NKRI.

 

Setelah sekian lama, ide fundamental seperti yang diutarakan oleh Prof. Dr. W.F. Wertheim, maka kian nyata makna pentingnya. Terbuktikan dengan sikap-sikap, selain yang diutarakan dan diperjuangkan kaum aktivis HAM, juga adanya sambutan dari tokoh-tokoh beragam kalangan. Seperti dari mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid dan Prof. Dr. Aquil Siradj dari kalangan NU yang humanis.

 

Bahkan, Ketua DPR Akbar Tandjung yang juga sebagai pemimpin Golkar, mengutarakan nada searah. Yang menghendaki agar berbagai persoalan konflik di masa lalu segera dituntaskan agar bangsa Indonesia dapat segera bangkit dan membangun ketinggalan dari bangsa lain. Pendapatnya yang disiarakan Swara.net 11 Desember 2003 itu, diapun menganjurkan  « adanya pengungkapan kebenaran, penegakan hukum dan kebesaran hati, serta keikhlasan bersedia meminta maaf dan memaafkan dari pihak-pihak yang pernah terlibat maupun yang mengalami penderitaan akibat konflik. » ***

 

Catatan : Catatan Dari Brussel (40) dipajang galeri esai Cybersastra.net 03.08.2004. ABE-Kreasi Multiply Site : http://www.16j42.multiply.com  18.03.2007.

 

 



 

A.Kohar Ibrahim :

 

Wertheim-Magusig : Tahun Tahun Pembunuhan

 

 

Esai Sastra

Catatan dari Brussel

(39)

 

 

PERHATIAN Prof. Dr. W.F.  Wertheim serta simpatinya terhadap rakyat Indonesia memang merupakan bukti tipikal seorang cendekiawan yang selalu gelisah terhadap hal ihwal yang terjadi di dalam kehidupan masyarakat manusia. Terutama terhadap kaum yang lemah, sengsara lagi tertindas. Apalagi penindasan itu dilakukan oleh suatu penguasa yang tahtanya melampung di atas telaga keringat dan darah rakyat. Dengan diawali dan diiringi serta hendak dilanggengkan dengan penyebaran dusta dan fitnah secara permanen. Propaganda hitam yang dilancarkan dengan pembrangusan kemerdekaan pers seraya melakukan penghegmonian atasnya.

 

Oleh karena itulah, salah satu sikap kesimpatiannya terhadap perjuangan rakyat Indonesia dibuktikan oleh dukungannya terhadap daya upaya kami untuk melakukan kegiatan penerbitan yang tergolong pers alternatip. Selain penerbitan majalah berkala, juga berupa brosur atau buku-buku dari para penulis. Salah satu diantaranya, seperti sudah dikemukakan pada bagian terdahulu, ialah berupa sumbangan Pak Wertheim untuk memberi kata pengantar buku kumpulan sajak Magusig, penyair Indonesia asal etnis Dayak,  berjudul « Sansana Anak Naga dan Tahun-tahun Pembunuhan », Stichting ISDM Culemborg Nederland 1990.

 

Arti penting penerbitan buku kumpulan sajak Magusig O Bungai itu bukan hanya terletak pada kwalitas sastranya yang tinggi, melainkan juga isi dari pengantar yang diberikan oleh Prof. W.F. Wertheim yang menekankan perlunya kebenaran sejarah dibela dan ditegakkan.

 

Terlebih  dulu, ada baiknya diketahui siapa sang penyair asal etnis Dayak tersebut. Atas dasar perkenalan saya dan bahan-bahan yang diberikannya sendiri, sebagai editor saya susun catatan « dari penyaji » yang saya tandatangani dengan pen-name : Dipa Tanaera.  Dengan judul : « Magusig O Bungai, orang Sahawong ? Anak Naga ! » Sebagai berikut :

 

Berapa banyak orang tahu tentang Magusig O Bungai ? Panggilan yang berirama itu adalah bukti dari sekian banyak nama baginya. Dan tak pula banyak yang tahu bahwa dia dilahirkan 25 September setengah abad yang lalu di tepi Sungai Katingan, Kalimantan Tengah.

 

Biasanya orang dari daerah lain menamakan suku bangsa asal Magusig adalah Dayak. Tapi, sesungguhnya mereka sendiri menamakan diri Sahawong. Dan dalam puisi, termasuk dalam salah satu bentuk puisi Dayak Ngaju, yaitu sansana kayau, mereka melambangkan diri sebagai anak enggang dan anak naga. Sedangkan pahlawan dan nenek-moyang mereka bernama Bungai. Maka wajarlah seseorang dari sana beroleh panggilan Magusig O Bungai. Itulah pula sebabnya mengapa kumpulan kreasinya yang mutakhir ini diberi judul „Sansana Anak Naga dan Tahun-tahun Pembunuhan.“

 

Jika kumpulan sajak-sajak yang secara kwalitas ini membuktikan kreativitas seni sekaligus kematangan Magusig, maka hal hal ini adalah wajar saja. Kerna ia memang bukan seorang pendatang baru di arena kesusastraan khususnya, arena budaya umumnya.

 

Magusig dikenal oleh sahabat-sahabat terdekatnya sebagai salah seorang yang lazim disebut pekerja kobar sekaligus pekerja tekun. Aktivitas dan kreativitasnya cukup beragam, jalin berjalin dan lika-liku. Jejak-langkahnya terbuktikan baik dalam sekala lokal, nasional maupun internasional. Untuk itu dia selalu membekali diri.

 

Di masa muda remaja dia pernah mengikuti pendidikan kejuruan seperti pembukuan, journalisme, teater di Indonesia. Di Universitas Gajah Mada belajar sampai tingkat terakhir pada Fakultas Sosial & Politik. Sekarang di Paris sedang menulis tesis Ph.D. pada l’Ecole des Hautes Etudes En Sciences Sociales.

 

Karya-karya tulisnya tersebar di sejumlah media massa, kumpulan-kumpulan puisi dan terbitan-terbitan lainnya di dalam maupun di luar negeri. Beberapa diantaranya adalah : puisi, « Sajak dan Bunga », bunga rampai puisi penyair-penyair muda Jogja (1961), « Indonesian Progressive Contemporary Poems », Yayasan Pembaruan, Jakarta 1963 ; drama, « Api di Pematang » (1963), « Tanah Ketaon » (1964), « Bukit Belleville » (1968) ; essei, « Di Tengah Pergolakan » (Limburg, 1981), « Popular Knowledge, Mobilisation & Development » (Geneva, 1987), « Study Note on the PKI’s Line On Literature and Arts from 1950-1965 » (1967).  Selain itu Magusig juga menterjemahkan beberapa karya Pearl S. Buck, Maxim Gorki, Lu Sin dan lain-lain. Sedangkan karya akademi adalah : « Le Mouvement des Actions Unilaterales Pour les Réformes Agraires des Paysans de Klaten, Java-Centre, Indonésie, 1963-1965. Son Commencement, Sa Chute et Ses Leçons », EHESS, Paris, 1987, dan dalam proses penulisan, « Rural Contestations in Indonésie – Party Politics and Religions 1960 till today : The Case of Java ».

 

Dapat diketahui bahwa selama di Paris Magusig pernah turut membangun sebuah koperasi dan yang berjalan terus hingga kini. Juga, untuk menggalang persahabatan dengan rakyat Prancis dan memperkenalkan kebudayaan Indonesia mengajar bahasa Indonesia di beberapa institut di Paris.

 

Betapapun lika-liku dan banyak suka-dukanya, setengah abad kehidupan Magusig kiranya cukup membuktikan kesungguhannya sebagai seorang Sahawong. Sebagai anak enggang yang tak takut akan kesunyian dan gigih meneruskan perjalanannya. Juga sebagai anak naga yang dinamis dan puitis.

 

« Sansana Anak Naga dan Tahun-tahun Pembunuhan » adalah bukti mutakhir aktivitas dan kreativitas Magusig. Bukti semangat dan sikapnya sebagai manusia sekaligus sebagai penyair yang anti kebiadaban di satu pihak, di pihak lain mendambakan kebenaran, kebebasan, keadilan dan kehidupan manusia yang manusiawi.

 

« Kumpulan sajak yang bersemangat juang », demikian kesimpulan Prof. Dr. W.F. Wertheim dalam uraian Kata Pengantar. Demikianlah pula antara lain yang saya tulis sebagai catatan dari penyaji. Sedangkan Pak Wertheim memulai uraiannya dengan mengutarakan, bahwa « Dalam sajaknya Hutanpun Bukan Lagi Di Mana Rahasia Bisa Berlindung », Magusig O Bungai menulis :

 

« 50 tahun berlalu 50 tahun hutan Katyn menutup rahasia / 15000 prajurit polan dimasakre di tengah rimba / 50 tahun kemudian waktu memaksa kekuasaan terkuat membuka suara menutur kebenaran »

 

Selanjutnya beliau menegaskan, « Penting sekali bahwa Magusig mendorong anak-anak negerinya agar mencari kebenaran. Ahli sejarah Abdurrachman Suromihardjo dalam Editor 2 Juni 1990 menulis, bahwa ‘pembukaan dokumen yang semula rahasia itu sangat membantu rekonstruksi sejarah’… Akan tetapi duduknya perkara masakre di Indonesia 25 tahun yang lalu agak berlainan dari pembunuhan Katyn yang menimpa 15.000 orang perwira Polandia. Kelainannya ialah oleh karena masakre di Indonesia itu pada hakikatnya tidak ada rahasianya sama sekali. Pembunuhan massal di Indonesia atas tanggungjawab Jenderal Suharto bukanlah suatu rahasia. Si penanggungjawab ini justru terus-menerus bangga akan perbuatannya. Tentang ini terbukti dengan jelas dalam tahun yang silam. »

 

« Kita perhatikan saja, » lanjut Wertheim, « misalnya pendirian Suharto tentang perkara ‘Petrus’. Walaupun telah diketahui umum bahwa pembunuhan itu terjadi atas perintah atasan militer, namun lima tahun yang lalu, demi perintah Suharto, Jenderal Murdani memungkiri duduk perkaranya yang demikian. Tetapi sejak otobiografi Suharto terbit, tahulah semua orang tentang pengakuannya sendiri : pembunuhan-pembunuhan itu terjadi atas perintahnya. »

 

Tudingan Wertheim ke arah Suharto memang jitu ! Serangkaian pembunuhan selama rezim Orde Baru yang dikepalainya memang merupakan bukti dari tindakan yang anti-kemanusiaan sekaligus sebagai pertanda budaya kekerasan yang dijadikan tradisinya. Dalam salah sebuah sajaknya yang diberi judul „49“, Magusig O Bungai melukis kisah tragis dengan baris-baris puitisnya sebagai berikut:

 

Peleton penembak menutup matanya dengan kain putih / detik terakhirpun terlarang menatap tanahair / warna putih di negeri ini berarti kesucian / dan begitulah warna kasih sayang kepadamu, o indonesia / kecintaan terbawa sampai mati

 

Peleton penembak mengikat kakitangannya di sebuah tiang / mengharap harapan di degup jantungnya tak lagi bergerak / tertembak bersama peluru-peluru menembus dada dan kepala lelaki itu / tapi angin yang lewat ketika itu tak peduli ancaman militer / tahun demi tahun kemudian terus menyebarkan harapannya ke seluruh pulau / harapan itulah yang kini menggugah hutan, gunung dan kota-kota

 

Peleton penembak dengan kain putih menutup mulut lelaki itu / tak ingin detik terakhir tanahair mendengarkan pekik penyinta / karena memang lebih leluasa bertindak semena apabila semua diam / tapi harapan yang tak tertembak disebarkan angin / telah menggugah laut, sungai, hutan, gunung, pelabuhan, jalan-jalan kota negeri kepulauan ini / menggugah alam memekikkan kata tanahair tak sempat terucap

 

Keadilan jadinya tak obah bagai muara ke mana sungai mengalir / kebenaran dan bukan kejahilan seperti matahari seketika mungkin tertutup awan / jutaan dan jutaan jantung berdegup adalah titik-titik air yang mengalir / jutaan dan jutaan hati yang merintih adalah / tangan perkasa penyibak kelam menangkap cahaya / hanya karena si pandir di tampuk kuasa bisa menembak semena-mena / bukan memadam keberanian bila kukatakan melawan dan menang perlu pandai-pandai

 

Sajak Magusig tersebut ditulis tahun 1990. Dengan seberkas sajak-sajaknya yang lain yang juga dari periode serupa yang terkumpul dalam “Sansana Anak Naga dan Tahun-tahun Pembunuhan” ini adalah merupakan hasil kreasi puisinya yang monumental. Yang kekuatannya ditunjang pula oleh Kata Pengantar dari Prof. Dr. W.F. Wertheim. Kuat karena hal-ihwal yang diungkap-angkatnya memang mendasar dan benar.***

 

Catatan: Catatan Dari Brussel (39) -  “Wertheim-Magusig, Tahun Tahun Pembunuhan” dipajang galeri esai Cybersastra.net 27.07.2004. ABE-Kreasi Multiply Site: http://www.16j42.multiply.com 17 Maret 2007.

 



 

A.Kohar Ibrahim:

 

Wertheim, Guru Besar Pembela Yang Benar

 

 

Esai Sastra

Catatan dari Brussel

(38)

 

 

BERKAT observasi dan pengalaman langsung maupun tak langsung, akhirnya saya memang tidak lagi mudah silau atau apalagi terkagum-kagum seraya memberikan pujian yang keterlaluan pada seseorang yang bertitel atau berkedudukan tinggi, sekalipun orang tersebut adalah pakar luarnegeri. Kerna, dalam kenyataan kehidupan yang senyatanya, orang atau orang-orang yang bertitel atau berkedudukan tinggi tidak selalu benar dan tidak selalu menunaikan  tugas kewajibannya sebagai mana layaknya bagi pembinaan peradaban manusia. Bahkan, seringkali turut atau malah melakukan kebiadaban yang tiada taranya.

 

Demikianlah dalam kenyataan kehidupan masyarakat Indonesia, ada masanya dimana tak terbilang banyaknya kaum yang bertitel dan berkedudukan tinggi bukan saja tidak mau dan tidak mampu mencegah datangnya kebiadaban di Indonesia, melainkan telah turut aktip menegakkan rezim yang zalim. Sehingga bangsa Indonesia kembali mengalami hidup di alam kegelapan dan belenggu kesengsara-nistaan yang skalanya belum pernah terjadi dalam sejarah kawasan ini.

 

Semua itu hanya untuk demi tegaknya suatu rezim diktatorial, suatu rezim yang merupakan varian dari otoriterisme dan bahkan totaliterisme. Dengan ciri-ciri utamanya adalah pemberlakuan tindakan kekerasan bersenjata dan penggelapan yang membodohkan masyarakat dengan propaganda-hitamnya lewat pers yang dihegemoninya serta perampokan atas kekayaan bangsa dan negara Indonesia.

 

Pada masa berkuasanya alam kegelapan dan kepengapan, seberapalah adanya kaum yang bertitel, cerdik pandai atau cendekiawan yang mau dan mampu serta berani menunaikan tugas kewajibannya ? Selain yang memang telah tersingkirkan atau malah dibunuh, yang dianggap musuh kaum penguasa, sebagian besar lainnya hanya tiarap atau malah mengabdi sang rezim Orde Baru yang disebut  juga sebagai Suhartokrasi.

 

Sementara orang-orang yang seharusnya menjalankan tugas kewajiban untuk membela kebenaran dan keadilan, untuk melakukan pencerahan, pencerdasan dan humanisasi bangsa malah bertindak sebaliknya. Dan hal itu berlangsung dalam tempo cukup  panjang. Selama tiga dasa warsa lebih. Hanya belakangan ini saja ada suara yang menuntut, antara lain, supaya dilakukan pengoreksian atas pembengkokan sejarah, misalnya. Suatu poin yang penting, kalau bukan yang sangat penting. Lantaran adanya pembengkokkan sejarah, adanya budaya dusta atau penggelapan itulah maka bisa terjadi pembantaian massal dalam rangka pelaksanaan kebiadaban lainnya berupa budaya kekerasan yang permanen !

 

Justeru dalam konteks inilah, antara lain, penghargaan tinggi saya berikan kepada seorang Belanda yang bertitel Profesor yang bukan saja pernah sebagai Guru Besar tapi juga berjiwa besar bernama Wim F. Wertheim itu. Seorang cendekiawan yang sejati. Yang memiliki sikap dan pendirian yang layak dan tepat terhadap kebenaran dan keadilan. Yang memiliki simpati dan solidaritas kemanusiaan yang manusiawi, terutama sekali terhadap kaum yang terhina dan tertindas.

 

Salah satu bukti yang takkan terlupakan adalah terhadap daya upaya yang kami lakukan di bidang penerbitan yang tergolong pers alternatip, sikap Pak Wertheim sangat menyambut hangat. Karena tujuan kami memang untuk turut serta dalam perjuangan melawan penggelapan yang memodohkan demi pencerahan  dan demi mengembangkan semangat demokrasi serta dihormatinya hak-hak azasi manusia.

 

Sambutan Pak Wertheim diutarakan dengan segala kerendahan hati seraya memberikan dukungan selayaknya. Dukungan yang diberikan secara lisan, langsung atau via telpon, juga berupa tulisan. Seperti yang sudah diutarakan di bagian terdahulu. Seperti juga tulisan yang termuat dalam Kreasi nomor 32 berjudul « Beberapa pertimbangan atas terbitan Yayasan Budaya dan ISDM ».

 

« Telah sejak lama saya dapat mengikuti terbitan-terbitan dari Yayasan Budaya dan Yayasan ISDM, yaitu Kreasi dan Arena. Seringkali saya jumpai dalam majalah-majalah itu karangan, yang penting dan benar berharga.» Demikian tulis Pak Wertheim seraya menegaskan, bahwa :  «Oleh karena saya bukan ahli dalam lapangan sastra, perhatian saya selalu khususnya mengenai karangan-karangan di dalam majalah Arena, yang memuat peristiwa bersejarah dan politik. »

 

« Misalnya dalam Arena yang terakhir ini, N° 21, saya dapat membaca tiga karangan  tentang peristiwa bersejarah, yang penting sekali bagi banyak pembaca. Ketiganya membuktikan bahwa tuduhan-tuduhan dari penguasa Orde baru, seolah PKI itu yang sejak kelahirannya ‘memberikan citra berdarah’ kepada masyarakat Indonesia adalah omong kosong belaka, dan memutar-balik sejarah yang aslinya ; yang tangan-tangannya berlumuran darah dalam hal-hal yang disebut, sebenarnya selalu bukan komunis, melainkan rejim yang berkuasa, sedangkan komunis selalu menjadi korban dari ‘teror resmi’. »

 

Selanjutnya Pak Wertheim mengutarakan, bahwa : « Karangan yang pertama dari A. Kohar Ibrahim membantahi pendapat seorang ‘Pakar sejarah’ bertitel ‘Dr’, yang dalam suratkabar Mutiara mendiskreditkan pemberontakan rakyat terhadap kekuasaan kolonial Belanda pada tahun 1926-1927, seolah pemberontakan itu merupakan suatu bukti bahwa PKI selalu ‘memberikan citra berdarah’. Sebenarnya, pemberontakan itu merupakan tanda yang terpenting bahwa rakyat Indonesia ingin berjuang demi kemerdekaannya dari pendudukan asing yang kolonial. Mustahil para pendukung Orde Baru yang sekarang rupanya berpihak pada penguasa kolonial, dan bukan pada rakyat ! Tetapi kita harus ingat, bahwa sang pencipta ‘Orde Baru’ itu, Suharto dalam tahun 1940, sesudah Negeri Belanda telah diduduki oleh Jerman (Nazi, Red.), secara sukarela menjadi anggota KNIL, yakni tentara kolonial Belanda. Apakah ini bukan menjadi suatu bukti yang jelas sehingga ‘orde’ yang disusun militer Suharto itu, sebenarnya bukan menjadi Orde ‘baru’, melainkan suatu ‘Orde Lama Sejati’, yang sangat menyerupai ‘Orde Kolonial’ ? Sesungguhnyalah, yang ‘berlumuran darah’ dalam peristiwa 1926-1927 bukanlah yang memberontak, melainkan, seperti Kohar dengan terus terang menegaskan, penguasa kolonial yang mereaksi atas pemberontakan rakyat dengan ‘penculikan, panangkapan, penyiksaan, pembuangan dan pembunuhan’.»

 

Lebih lanjut, Prof. Wim F Wertheim menunjukkan, bahwa : « Karangan lain yang penting, yaitu karya S. Kromorahardjo Peristiwa Madiun 1948. Dalam mana dijelaskan, bahwa strategi Pemerintah Hatta dalam tahun 1948, yang menekankan ‘re’ dan ‘ra’ – yaitu reorganisasi dan rasionalisasi TNI – bukan tercipta kebetulan saja oleh kabinet baru itu. Karangan ini dengan jelas membuktikan, bahwa dari semula kabinet-Hatta pada waktu itu menuruti suatu diktee yang dirumuskan oleh penguasa asing, yaitu Amerika Serikat (AS) dan Belanda, dengan maksud akan menyingkirkan Sayap Kiri. Perjanjian dari pemerintah AS yaitu agar Indonesia akan menerima bagian dari ‘Bantuan Marshall’. Sangat penting cerita si penulis bahwa strategi itu telah disediakan dalam beberapa pertemuan-pertemuan rahasia antara wakil AS dan pemerintah Indonesia bersama Dewan Siasat Militer, pertemuan yang terakhir terjadi di suatu hotel di Sarangan, dalam kabupaten Madiun, jauh sebelum ‘Peristiwa Madiun’. Jadi telah terbukti, seperti ditulis dalam judul karangan ini, bahwa ‘Peristiwa Madiun’ itu sebenarnya ‘Hasil persekongkolan dan provokasi kaum reaksioner’. »

 

Dengan cermat Pak Wertheim menunjukkan : « Sayang bahwa dalam cerita tentang prolog peristiwa itu, mengenai penculikan Sjahrir pada 3 Juli 1946, terdapat suatu kekeliruan (hlm 38). Benar bahwa grup Tan Malaka terlibat dalam ‘kup’ itu. Tetapi tidak benar, bahwa ‘Suharto gagal dalam menangkap Tan Malaka’, oleh karena Tan Malaka sebenarnya sudah sejak Maret 1946 ditangkap Pemerintah Sjahrir-Sjarifudin, dan pada awal Juli berada dalam tahanan di suatu rumah di Tawangmangu. Tetapi dari tempat itu dia punya cukup keluangan akan mempersiapkan kup itu bersama konco-konconya… »

 

« Karangan ketiga yang sangat penting, » tulis Profesor Wertheim, « yaitu wawancara dengan Profesor Ben Anderson yang termasyhur sebagai ahli sejarah Indonesia. Beliau dalam tahun 1987 di majalah Indonesia, dengan judul ‘How did the generals die ?’, mengumumkan laporan otopsi jenasah jenderal-jenderal yang dibunuh pada tanggal 1 Oktober 1965. Pertanyaan yang baru ini ditujukan kepadanya, yaitu : ‘Apakah laporan otopsi itu asli ? Dari mana Pak Ben mendapat laporan otopsi itu ?’ »

 

« Jawaban Ben Anderson bahwa laporan ini benar asli. Teks yang beliau terima dari orang-orang CSIS merupakan dokumen resmi yang ditanda-tangani oleh dokter-dokter Universitas Indonesia. Mereka disuruh Suharto untuk mengadakan pemeriksaan mayat-mayat yang ditemukan di Lubang Buaya. Otopsi selesai pada siang hari tanggal 5 Oktober 1965. Tanda-tangan Suharto memang ada di situ. »

 

« Segala cerita di koran dan TV dalam bulan Oktober dan Nopember 1965, seolah mata para korban dicungkil dan kemaluan disayat, adalah bohong melulu. Menurut laporan sama sekali tidak terdapat tanda siksaan atau penganiayaan. Dan Anderson juga yakin bahwa pembunuhan, baik di rumah jenderal maupun di Lubang Buaya, semuanya dilakukan oleh anggota tentara sendiri, bukan oleh orang PKI, Gerwani atau Pemuda Rakyat. »

 

« Ucapan dari Ben Anderson ini sepenuhnya cocok dengan penyelidikan ilmiah oleh pakar sosiologi Belanda, Saskia Wierenga, yang pada 6 Oktober 1995 mendapat gelar Dr Ilmu Kemasyarakatan dari Universitas Amsterdam dengan disertasinya yang berjudul The Politicization of Gender Relations in Indonesia. Studi itu mengenai sejarah pergerakan perempuan di Indonesia, dan khususnya sejarah Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) sampai Orde Baru. Ben Anderson dalam wawancaranya menjelaskan bahwa sesudah peristiwa 1 Oktober 1965 serta-merta oleh oknum tentara diciptakan suatu taktik untuk melawan pandangan bahwa peristiwa itu terjadi sebagai akibat perselisihan di dalam angkatan bersenjata. Dosanya harus ditujukan kepada golongan di luar angkatan bersenjata itu, yaitu PKI dan Gerwani. Menurut Wieringa jelas sekali bahwa khususnya Gerwani yang menjadi sasaran fitnah yang tanpa batas, oleh karena pemimpin militer sangat kuatir terhadap kekuatan yang di bawah Orde Lama presiden Sukarno tumbuh di kalangan pergerakan wanita, dan khususnya di kalangan Gerwani. ‘Gender aspect’ ini merupakan inti dari analisis Saskia Wieringa dalam disertasinya, yang kelak juga akan terbit dalam edisi yang ditujukan kepada umum. »

 

Setelah menunjukkan ketepatan penilaian dalam beberapa tulisan lainnya dalam Arena nomor 21 itu, seperti dari Hasibuan dan S. Salaman yang masing-masing menilai rezim Orde Baru adalah sebagai Suhartokrasi dan wataknya yang neo-kolonial, seiring dengan itu sudah ada gejala-gejala ‘Desuhartokrasi’.  Dan beliaupun menyambut baik Kreasi edisi khusus yang memuat kumpulan cerpen Sobron Aidit berjudul « Kaum Agustus dan Cerita-cerita Lainnya ». Terutama sekali cerpen-cerpen berjudul « Ziarah » dan « Bu Tam ». Karena « kedua cerpen ini dengan terang menjelaskan bagaimana keadaan yang sekarang bagi semua korban pembunuhan massal yang dilakukan dalam tahun 1965-1966. » ***

 

Catatan : CdB 38 « Wertheim, Guru Besar Pembela Yang Bnear » dipajang galeri esai Cybersastra.net  20.07.2004. Dipajang ABE-Kreasi Multiply Site : http://www.16j42.multiply.com 17.03.2007.

 

 

 

 

 



 

A.Kohar Ibrahim :

 

Belanda Yang Terpuji : Wertheim

 

 

Esai Sastra

Catatan dari Brussel

(37)

 

 

BENAR ada masanya, keterbatasan usia dan pengalaman serta pengetahuan itu bisa menimbulkan sentimen dan pikiran yang picik serta tindakan yang negatip. Apalagi jika ditambah dengan anutan nasionalisme yang anti-kolonialisme. Dalam hal ini, kongkretnya anti kaum penjajah Belanda. Yang dijalin dengan anti-nekolim seperti yang dikobar-kobarkan oleh Bung Karno dalam periode 1950-1960-an.

 

Dalam situasi demikian, dalam memandang kaum yang berkulit putih sepertinya semuanya sebagai orang Belanda saja. Dan orang Belanda sepertinya semuanya sebagai kaum penjajah yang layak dibenci dan dilawan.  Generalisasi sedemikian itu tentu saja tak selaras dengan kenyataan obyektip.

 

Dari masa kanak-kanak menjadi muda remaja berkembang menjadi dewasa, selaras dengan bertambahnya usia dan pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman langsung maupun tak langsung – berkat pelajaran di bangku sekolah maupun bacaan secara umum – maka wawasan pun bertambah luas bentangannya. Pandangan kita terhadap sesuatu atau hal-ihwalpun tidak lagi seperti masa keserba-terbatasan. Apalagi jika hal itu dilengkapi dengan langkah peninjauan atau kunjungan langsung. Untuk mengobservasi lebih dekat atau berada di tengah-tengah realitas kehidupan alam dan masyarakat.

 

Demikianlah halnya sikap dan pendirian saya jauh sangat berbeda dibandingkan ketika masih masa muda remaja dengan yang setelah memperoleh pengetahuan yang lebih luas dan lagi pula sesudah berkesempatan mengunjungi benua Eropa. Memang dalam kenyataannya, tidak semua orang Eropa, juga tidak semua orang Belanda itu sejiwa dengan kaum penjajah. Baik selama masa kekuatan penjajahan bercokol di Indonesia maupun sesudah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya.

 

Dalam kenyataannya pula, bukankah dalam periode penjajahan Belanda pun ada kekuatan yang anti-kolonialisme dan anti-fasisme, ada orang-orang Belanda  yang tidak setuju dengan politik penjajahan pemerintahnya? Salah satu sosok yang luarbiasa lagi masyhur adalah sastrawan Multatuli.