Group's posts with tag: agriculture

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag agriculture
Blog EntryPOTENSI EKONOMI BULAN HAJI Apr 25, '08 1:58 AM
by Agus for everyone

Sumber:

http://www.sebi.ac.id

 

Ditulis oleh. Abdul Aziz Setiawan

 

Momentum ibadah haji sebagai pertemuan sejati kaum muslimin untuk memenuhi panggilan Allah Subhanallahu wa Taalla merupakan kebahagiaan yang tak terkira. Kebahagiaan itu terekspresikan ketika jemaah haji menginjakkan kaki di Tanah Suci dan memasuki Ka'bah di Masjidil Haram sembari mengucapkan Labbaik Allahumma Labbaik, "Ya, Allah aku datang memenuhi panggilan-Mu". Sebuah pernyataan fitrah hamba kepada penciptanya.

 

Para tamu Allah (dhuyufur rahman) pada musim haji tahun ini hendaknya mensyukuri nikmat yang diberikan-Nya karena berkesempatan menunaikan ibadah haji pada saat orang lain antre menunggu (waiting list) pada musim haji berikutnya. Bersyukur diberi kelapangan, ditengah banyaknya saudara-saudara kita yang terhimpi t beban ekonomi yang berat.

 

Kebahagiaan "bulan haji" Allah berikan bukan hanya untuk mereka yang "beruntung" tersebut, Allah juga memberikan kebahagiaan untuk kaum dhuafa', kaum fakir dan miskin, bahkan seluruh lapisan masyarakat muslim. Tentu menarik kalau kita juga memaknai Ibadah Haji dan Qurban dari prespektif ekonomi sebagai sebuah momentum dan instrumen untuk pembangunan ekonomi Umat. Karena ini adalah momentum yang kolosal dan berulang setiap tahun.

 

Potensi Qurban

 

Setiap Hari Raya Qurban, jutaan hewan qurban disembelih. Tentu secara ekonomi hal ini adalah potensi yang sangat besar. Tetapi sayangnya potensi ini belum dipandang dalam prespektif stratejik dalam kerangka perencanaan pembangunan untuk membangkitkan kekuatan ekonomi umat. Sebagai contoh setiap tahun Arab Saudi membutuhkan tiga juta ekor domba pada musim haji, dari kebutuhan tiap tahun nasionalnya sebesar 10 juta ekor domba.

 

Ironisnya, domba-domba itu justru dipasok bukan dari negara-negara muslim. Selama ini semua kebutuhan itu diimpor, terutama dari Selandia Baru, Swiss, dan Swedia. Kemungkinan besar hal yang sama juga terjadi pada negeri-negeri petro-dollar yang lain seperti; Kuwait, Yordan, Uni Emirat, dll. Kalau Indonesia bisa memenuhi dua juta saja, khusus musim haji, niscaya kita akan memperoleh devisa yang sangat besar. Jika tiap domba dihargai 100 dolar AS, maka devisa yang masuk mencapai 200 juta dolar (sekitar Rp 2 triliun). Tentu saja hal ini bukan jumlah yang kecil, dan kebutuhan tersebut bersifat rutin dan pasti.

 

Selain menghasilkan devisa, proyek peternakan domba akan menciptakan lapangan kerja. Menurut perhitungan, untuk memelihara lima ekor domba memerlukan satu orang tenaga kerja. Jadi, kalau total dua juta ekor domba menyerap tenaga kerja tak kurang dari 400 ribu orang. Tentu hal ini sangat membantu mengurangi tingginya angka pengangguran yang terjadi. Bahkan dengan strategi dan manajemen yang baik, tentu akan dapat mengentaskan kemiskinan. Apalagi kalau target ekspor domba ini ditingkatkan dan juga masuk ke target segmen pasar negara-negara muslim pengimpor lainnya.

 

Potensi Dana Haji

 

Dari penyelenggaraan ibadah Haji juga terdapat perputaran dana yang sangat besar. Dengan kuota haji untuk Indonesia sebesar 205 ribu orang, untuk pembayaran peserta haji saja setidaknya terdapat dana sebesar Rp 5,5 triliun per tahun. Tak heran kalau banyak pebisnis yang mencoba memanfaatkan peluang ini. Tahun 2001, jumlah Biro Perjalanan Ibadah Haji (BPIH) khusus -yang sebelumnya dikenal ONH plus- sudah lebih dari 170-an. Jumlah ini belum termasuk ribuan yayasan atau ormas keagamaan yang menyelenggarakan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) sendiri. Jumlah KBIH diperkirakan telah mencapai 1.878 kelompok yang tersebar di seluruh Indonesia. Biasanya pembiayaan untuk jemaah pada KBIH antara Rp 2 juta-Rp 3 juta, atau agregat setiap tahun sekitar Rp 300 milyar (asumsi 50 persen peserta ikut program KBIH).

 

Potensi besar dana haji ini juga diperkuat dengan fakta besarnya dana dalam kasus dugaan korupsi dalam penyelenggaraan ibadah haji yang melibatkan mantan Menteri Agama dan mantan Dirjen Bimas Islam dan Penyelenggaraan Haji sebesar Rp 700 miliar. Bahkan hasil audit BPKP menemukan penyimpangan yang besarnya mencapai Rp 1 triliun. Perlu diberi catatan bahwa dana menguap Rp 1 triliun ini, tiga kali lipat jauh lebih besar dari dana yang dapat dihimpun oleh seluruh Lembaga Amil Zakat (LAZ) dan Badan Amil Zakat (BAZ) seluruh Indonesia setiap tahun.

 

Bayangkan, dengan kuota haji sekitar 205 ribu orang per tahun, juga kelebihan dana haji yang mungkin berkisar antara Rp 4 juta-Rp 5 juta per jamaah per musim haji. Tentu bisa dibayangkan betapa dahsyatnya manfaat atas keuntungan penyelenggaraan haji ini kalau di manage secara benar dengan prespektif kesejahteraan umat.

 

Padahal Malaysia saja, hanya memiliki kuota haji sebesar 2.000 orang per tahun mampu membangun sebuah lembaga Tabung Haji yang berhasil dan memberikan manfaat ekonomi yang besar. Meski bersifat komersial mirip BUMN, Tabung Haji mengedepankan sikap profesional dan amanah terhadap dana umat. Warga yang hendak naik haji pun bisa membayar lebih murah karena bisa mengangsur antara 5 hingga 20 tahun. Tabung Haji ini di belakang hari akan memberi kenyamanan bagi para jamaah. Ini karena ongkos naik haji akan dilipatgandakan lewat investasi bisnis. Tak mengherankan, jika dengan biaya yang lebih murah dengan ONH Indonesia, jamaah haji Malaysia bisa menikmati layanan yang jauh lebih nyaman.

 

Sementara itu, para jemaah haji dari Tanah Air berada dalam kondisi memprihatinkan. Mereka mengeluh soal rumah inap yang tak nyaman. Ditambah jarak yang cukup jauh dari lokasi ritual haji. Terkadang, ada rombongan haji Indonesia yang harus menempuh 4,5 kilometer untuk sampai di lokasi melempar jumrah. Padahal, jarak yang harus dilalui dalam ritual melempar jumrah itu sendiri rata-rata mencapai sembilan kilometer. Saat ini biaya haji di Negeri Jiran tersebut mencapai 8.945 ringgit atau sekitar Rp 21,8 juta. Sedang jamaah haji Indonesia harus membayar ONH sekitar Rp. 27 Juta s/d Rp 30 Juta-an (dengan kurs Rp 10.000/US$).

 

Malaysia adalah kisah sukses pengelolaan dana haji yang bisa dijadikan referensi. Dengan kuota haji hanya seper seratus dari kuota Indonesia dan ongkos naik haji (ONH) yang jauh di bawah Indonesia, Tabung Haji Malaysia mampu berkiprah dalam bidang pembiayaan korporasi dan investasi di sektor agrobisnis, yang profitabilitinya sudah bisa diukur (Idris, 2004).

 

Dengan pengelolaan profesional, transparan, dan akuntabel, Tabung Haji Malaysia mampu menguasai saham beberapa perusahaan yang sangat menguntungkan. Di antaranya Petronas, pabrik pengolahan kelapa sawit, Kuala Lumpur Internasional Airport (KLIA), Sirkuit Sepang, dan banyak sektor lainnya.

 

Keberhasilan Malaysia dalam mengelola dana hajinya, harus menjadi pemicu bagi Indonesia untuk mampu melakukan hal serupa dengan lebih baik. Sedikit demi sedikit, kita harus mulai meninggalkan cara-cara pengelolaan dana haji yang bersifat tradisional (seperti untuk membangun rumah sakit dan asrama haji) atau lebih parah dijarah untuk korupsi dan membiayai haji keluarga pejabat. Sebaiknya dana haji dan tabungan haji masyarakat dikelola dalam bentuk investasi ke beberapa sektor yang tingkat profitabilitinya tinggi. Sehingga multiplier effect dari hasil investasi tersebut bisa untuk meningkatkan kesejahteraan umat, pembangunan sarana sosial dan untuk program sosial lainnya.

 

Potensi ekonomi haji memang luar biasa. Jangan lupa, jumlah permintaan domba Arab Saudi masih membutuhkan alternatif eksportir dari Indonesia. Adakah Pebisnis, Organisasi atau Ormas Islam Indonesia yang tertarik membuat jaringan peternak domba untuk ekspor ke Timur Tengah? Atau ekspor untuk kebutuhan yang lain? Wallahu a'lam bi al-shawab.

 

Abdul Aziz Setiawan. Peneliti pada Pusat Penelitian STEI SEBI dan Analis pada International Institute of Islamic Finance (IIIF). (Telah dipublikasi di Majalah Hidayatullah edisi Januari 2006).

 

BLOG INFORMASI USAHA TERNAK

http://www.dombagarut.blogspot.com

 

BLOG INFORMASI ORGANIK

http://www.organicindonesianvanilla.blogspot.com

 

JEJAK PETANI& PETERNAK

http://agusramadas.multiply.com


Blog EntryPOTENSI EKONOMI BULAN HAJI Apr 25, '08 1:55 AM
by Agus for everyone

Sumber:

http://www.sebi.ac.id

 

Ditulis oleh. Abdul Aziz Setiawan

 

Momentum ibadah haji sebagai pertemuan sejati kaum muslimin untuk memenuhi panggilan Allah Subhanallahu wa Taalla merupakan kebahagiaan yang tak terkira. Kebahagiaan itu terekspresikan ketika jemaah haji menginjakkan kaki di Tanah Suci dan memasuki Ka'bah di Masjidil Haram sembari mengucapkan Labbaik Allahumma Labbaik, "Ya, Allah aku datang memenuhi panggilan-Mu". Sebuah pernyataan fitrah hamba kepada penciptanya.

 

Para tamu Allah (dhuyufur rahman) pada musim haji tahun ini hendaknya mensyukuri nikmat yang diberikan-Nya karena berkesempatan menunaikan ibadah haji pada saat orang lain antre menunggu (waiting list) pada musim haji berikutnya. Bersyukur diberi kelapangan, ditengah banyaknya saudara-saudara kita yang terhimpi t beban ekonomi yang berat.

 

Kebahagiaan "bulan haji" Allah berikan bukan hanya untuk mereka yang "beruntung" tersebut, Allah juga memberikan kebahagiaan untuk kaum dhuafa', kaum fakir dan miskin, bahkan seluruh lapisan masyarakat muslim. Tentu menarik kalau kita juga memaknai Ibadah Haji dan Qurban dari prespektif ekonomi sebagai sebuah momentum dan instrumen untuk pembangunan ekonomi Umat. Karena ini adalah momentum yang kolosal dan berulang setiap tahun.

 

Potensi Qurban

 

Setiap Hari Raya Qurban, jutaan hewan qurban disembelih. Tentu secara ekonomi hal ini adalah potensi yang sangat besar. Tetapi sayangnya potensi ini belum dipandang dalam prespektif stratejik dalam kerangka perencanaan pembangunan untuk membangkitkan kekuatan ekonomi umat. Sebagai contoh setiap tahun Arab Saudi membutuhkan tiga juta ekor domba pada musim haji, dari kebutuhan tiap tahun nasionalnya sebesar 10 juta ekor domba.

 

Ironisnya, domba-domba itu justru dipasok bukan dari negara-negara muslim. Selama ini semua kebutuhan itu diimpor, terutama dari Selandia Baru, Swiss, dan Swedia. Kemungkinan besar hal yang sama juga terjadi pada negeri-negeri petro-dollar yang lain seperti; Kuwait, Yordan, Uni Emirat, dll. Kalau Indonesia bisa memenuhi dua juta saja, khusus musim haji, niscaya kita akan memperoleh devisa yang sangat besar. Jika tiap domba dihargai 100 dolar AS, maka devisa yang masuk mencapai 200 juta dolar (sekitar Rp 2 triliun). Tentu saja hal ini bukan jumlah yang kecil, dan kebutuhan tersebut bersifat rutin dan pasti.

 

Selain menghasilkan devisa, proyek peternakan domba akan menciptakan lapangan kerja. Menurut perhitungan, untuk memelihara lima ekor domba memerlukan satu orang tenaga kerja. Jadi, kalau total dua juta ekor domba menyerap tenaga kerja tak kurang dari 400 ribu orang. Tentu hal ini sangat membantu mengurangi tingginya angka pengangguran yang terjadi. Bahkan dengan strategi dan manajemen yang baik, tentu akan dapat mengentaskan kemiskinan. Apalagi kalau target ekspor domba ini ditingkatkan dan juga masuk ke target segmen pasar negara-negara muslim pengimpor lainnya.

 

Potensi Dana Haji

 

Dari penyelenggaraan ibadah Haji juga terdapat perputaran dana yang sangat besar. Dengan kuota haji untuk Indonesia sebesar 205 ribu orang, untuk pembayaran peserta haji saja setidaknya terdapat dana sebesar Rp 5,5 triliun per tahun. Tak heran kalau banyak pebisnis yang mencoba memanfaatkan peluang ini. Tahun 2001, jumlah Biro Perjalanan Ibadah Haji (BPIH) khusus -yang sebelumnya dikenal ONH plus- sudah lebih dari 170-an. Jumlah ini belum termasuk ribuan yayasan atau ormas keagamaan yang menyelenggarakan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) sendiri. Jumlah KBIH diperkirakan telah mencapai 1.878 kelompok yang tersebar di seluruh Indonesia. Biasanya pembiayaan untuk jemaah pada KBIH antara Rp 2 juta-Rp 3 juta, atau agregat setiap tahun sekitar Rp 300 milyar (asumsi 50 persen peserta ikut program KBIH).

 

Potensi besar dana haji ini juga diperkuat dengan fakta besarnya dana dalam kasus dugaan korupsi dalam penyelenggaraan ibadah haji yang melibatkan mantan Menteri Agama dan mantan Dirjen Bimas Islam dan Penyelenggaraan Haji sebesar Rp 700 miliar. Bahkan hasil audit BPKP menemukan penyimpangan yang besarnya mencapai Rp 1 triliun. Perlu diberi catatan bahwa dana menguap Rp 1 triliun ini, tiga kali lipat jauh lebih besar dari dana yang dapat dihimpun oleh seluruh Lembaga Amil Zakat (LAZ) dan Badan Amil Zakat (BAZ) seluruh Indonesia setiap tahun.

 

Bayangkan, dengan kuota haji sekitar 205 ribu orang per tahun, juga kelebihan dana haji yang mungkin berkisar antara Rp 4 juta-Rp 5 juta per jamaah per musim haji. Tentu bisa dibayangkan betapa dahsyatnya manfaat atas keuntungan penyelenggaraan haji ini kalau di manage secara benar dengan prespektif kesejahteraan umat.

 

Padahal Malaysia saja, hanya memiliki kuota haji sebesar 2.000 orang per tahun mampu membangun sebuah lembaga Tabung Haji yang berhasil dan memberikan manfaat ekonomi yang besar. Meski bersifat komersial mirip BUMN, Tabung Haji mengedepankan sikap profesional dan amanah terhadap dana umat. Warga yang hendak naik haji pun bisa membayar lebih murah karena bisa mengangsur antara 5 hingga 20 tahun. Tabung Haji ini di belakang hari akan memberi kenyamanan bagi para jamaah. Ini karena ongkos naik haji akan dilipatgandakan lewat investasi bisnis. Tak mengherankan, jika dengan biaya yang lebih murah dengan ONH Indonesia, jamaah haji Malaysia bisa menikmati layanan yang jauh lebih nyaman.

 

Sementara itu, para jemaah haji dari Tanah Air berada dalam kondisi memprihatinkan. Mereka mengeluh soal rumah inap yang tak nyaman. Ditambah jarak yang cukup jauh dari lokasi ritual haji. Terkadang, ada rombongan haji Indonesia yang harus menempuh 4,5 kilometer untuk sampai di lokasi melempar jumrah. Padahal, jarak yang harus dilalui dalam ritual melempar jumrah itu sendiri rata-rata mencapai sembilan kilometer. Saat ini biaya haji di Negeri Jiran tersebut mencapai 8.945 ringgit atau sekitar Rp 21,8 juta. Sedang jamaah haji Indonesia harus membayar ONH sekitar Rp. 27 Juta s/d Rp 30 Juta-an (dengan kurs Rp 10.000/US$).

 

Malaysia adalah kisah sukses pengelolaan dana haji yang bisa dijadikan referensi. Dengan kuota haji hanya seper seratus dari kuota Indonesia dan ongkos naik haji (ONH) yang jauh di bawah Indonesia, Tabung Haji Malaysia mampu berkiprah dalam bidang pembiayaan korporasi dan investasi di sektor agrobisnis, yang profitabilitinya sudah bisa diukur (Idris, 2004).

 

Dengan pengelolaan profesional, transparan, dan akuntabel, Tabung Haji Malaysia mampu menguasai saham beberapa perusahaan yang sangat menguntungkan. Di antaranya Petronas, pabrik pengolahan kelapa sawit, Kuala Lumpur Internasional Airport (KLIA), Sirkuit Sepang, dan banyak sektor lainnya.

 

Keberhasilan Malaysia dalam mengelola dana hajinya, harus menjadi pemicu bagi Indonesia untuk mampu melakukan hal serupa dengan lebih baik. Sedikit demi sedikit, kita harus mulai meninggalkan cara-cara pengelolaan dana haji yang bersifat tradisional (seperti untuk membangun rumah sakit dan asrama haji) atau lebih parah dijarah untuk korupsi dan membiayai haji keluarga pejabat. Sebaiknya dana haji dan tabungan haji masyarakat dikelola dalam bentuk investasi ke beberapa sektor yang tingkat profitabilitinya tinggi. Sehingga multiplier effect dari hasil investasi tersebut bisa untuk meningkatkan kesejahteraan umat, pembangunan sarana sosial dan untuk program sosial lainnya.

 

Potensi ekonomi haji memang luar biasa. Jangan lupa, jumlah permintaan domba Arab Saudi masih membutuhkan alternatif eksportir dari Indonesia. Adakah Pebisnis, Organisasi atau Ormas Islam Indonesia yang tertarik membuat jaringan peternak domba untuk ekspor ke Timur Tengah? Atau ekspor untuk kebutuhan yang lain? Wallahu a'lam bi al-shawab.

 

Abdul Aziz Setiawan. Peneliti pada Pusat Penelitian STEI SEBI dan Analis pada International Institute of Islamic Finance (IIIF). (Telah dipublikasi di Majalah Hidayatullah edisi Januari 2006).

 

BLOG INFORMASI USAHA TERNAK

http://www.dombagarut.blogspot.com

 

BLOG INFORMASI ORGANIK

http://www.organicindonesianvanilla.blogspot.com

 

JEJAK PETANI& PETERNAK

http://agusramadas.multiply.com


Blog EntryMEMBANGUN KEKUATAN PETERNAKAN RAKYAT Apr 20, '08 9:31 AM
by Agus for everyone
“Kata kuncinya adalah perkuat jaringan dan buka peluang kemitraan!” demikian pesan sang creator Villa Domba yaitu pak Suhadi Sukama kepada penulis. Alhamdullilah di mana perlahan tapi pasti tentunya tetap dengan tidak terlepas dari rintangan dan kendala maka jaringan pun mulai terbentuk sedikit demi sedikit. “Fungsi pendampingannya kang jangan sampai lalai di tingkat pembina, berikan pembekalan dan pengetahuan kepada mitra kita!” nasihat yang disampaikan oleh pak Purnomo sebagai salah satu senior penulis dalam usaha ternak Domba Garut.

Belajar dari senior Kampoeng Ternak yang telah terlebih dahulu dalam memulainya, faktor kepercayaan menjadi perhatian pada kemitraan di Villa Domba ini, olehkarenanya pemilihan mitra yang dilakukan oleh Villa Domba sementara waktu ini masih terbatas dari pihak yang awalnya sebagai konsumen ternak domba di Villa Domba, dan dikarenakan keseriusannya maka pada periode sekian waktu akhirnya coba ditawarkan untuk menjadi Mitra setelah hasil pengamatan dan penilaian. Keseriusan dilihat dari kesiapan lahan dan kandang yang disediakan, keikutsertaan dalam program pelatihan dan pembekalan peternak, hasil pantauan terkait pemeliharaan ternak tahap awal yang dibeli dari Villa Domba dan olehkarenanya menjadikan 100% mitra yang ada saat ini sementara waktu adalah dahulunya konsumen ternak Villa Domba. Visi yang mempererat Sinergi Kami ! ! !

Villa Domba menyebut mitra ini dengan sebutan Pembina atau Pendamping. Pembina atau Pendamping ini memiliki jaringan lagi di bawahnya yaitu Peternak yang umumnya profesi kesehariannya adalah Petani. Atau Pembina pun bisa sekaligus sebagai Petani. Villa Domba disebut sebagai Inti yaitu Pemilik Ternak, kemudian Pembina atau Pendamping disebut sebagai Sub Inti, dan Petani adalah Plasma.

Secara garis besar konsepnya adalah Villa Domba memberikan amanah Induk Domba Garut Betina melalui Pembina atau Pendamping tersebut kepada Petani. Pembina atau Pendamping berkewajiban menyediakan sarana kandang bersama Petani termasuk di dalamnya Kewajiban Pemeliharaan Ternak dan Pemberian Pakan dengan Tanggungan si pemelihara yang diamanahkan ternak oleh Villa Domba. Di sisi lain Villa Domba pun berkewajiban memberikan pembekalan kepada Pembina dan Jaringan petaninya berikut pertolongan medis dokter hewan dan obat-obatan ternak pada prinsipnya bilamana diperlukan selama kemitraan ini berjalan.

Lalu apa keuntungan yang akan diperoleh pada rangkaian kerjasama ini?

Objek penjualan adalah produksi anak domba yang dilahirkan oleh Induk Domba yang diamanahkan oleh Villa Domba. Menganut konsep bagi hasil maka anak domba yang dilahirkan setelah masuk periode lepas sapih dapat dijadikan sebagai objek penjualan yaitu sebagai ternak bakalan atau bibit. Prosentase Hasil Penjualan diberikan lebih besar kepada Pembina dan Petani dibandingkan dengan yang didapat oleh Villa Domba. Harga Penjualan Ternak Anak Domba adalah mengikuti Harga yang berlaku di pasar pada umumnya. Pembina ataupun Petani pun diperbolehkan membesarkan anak domba misalnya untuk penggemukkan kurban di mana dengan demikian berlaku kesepakatan baru yaitu penggemukkan anak domba. Keuntungan ganda pastinya diharapkan dapat diperoleh bagi pembina ataupun petani. Ilustrasi perhitungannya adalah sebagai berikut:

Misalkan seekor Induk Domba melahirkan 1 ekor anak domba jantan. Setelah anak domba memasuki usia sapih yaitu 5 bulan misalkan harga di pasaran saat itu adalah Rp. 500.000,- per ekor. Sebelum berlanjut pada usaha penggemukkan di mana sesuai kesepakatan awal telah ditentukan prosentase yang didapat masing-masing pihak dari angka Rp. 500.000,- tersebut, misalkan saja petani adalah 40% atau Rp. 200.000,- per ekor kemudian pembina 20% atau Rp. 100.000,- per ekor.

Keinginan petani misalkan adalah dilanjutkan dengan program pembesaran anak domba namun tentunya dengan dilihat juga dari hasil penilaian tim Villa Domba apabila dinyatakan cukup layak, selanjutnya ternak dibesarkan misalkan sampai dengan usia siap kurban di mana harganya menjadi Rp. 850.000,- saat kurban tiba, berarti prosentase pembagian berikutnya adalah senilai Rp. 350.000,- kepada masing-masing pihak:

Rp. 850.000,- ( - ) Rp. 500.000,- = Rp. 350.000,-

Misalkan saja Petani kembali 40%
Berarti Hak Petani adalah Rp. 340.000,- per ekor
(Rp. 500.000,- * 40%) + (Rp. 350.000,- * 40%)

Misalkan saja Petani membesarkan 10 ekor anak domba dari kelahiran 10 ekor Induk Domba pada periode waktu 1 tahun, maka keuntungan yang dapat diperoleh petani dari mulai kelahiran sampai dengan penggemukkan anak domba adalah Rp. 3.400.000,- per tahun atau Rp. 283.000,- per bulan.

Rp. 3.400.000,- per tahun atau Rp. 283.000,- per bulan dari 10 anak domba
(Rp. 340.000,- x 10 ekor anak domba yang dibesarkan)

Tantangan dan tugas mulia bagi pembina untuk memotivasi petani didukung oleh pembekalan Villa Domba tentunya sehingga sanak keluarganya petani akan tertarik terjun dalam usaha ternak Domba.

Apa reward bagi Pembina?

Kata kuncinya kembali adalah pada pendampingan, kemudian didukung oleh pencatatan administrasi ternak seperti tanggal perkawinan, proyeksi tanggal kelahiran, rencana sapih, periode penggemukkan sehingga berfungsi sebagai alat kontrol lapangan bagi Pembina sebagai Pendamping.

Jika 1 pembina memiliki kemampuan dalam memelihara jaringan petaninya setara dengan 50 ekor Induk Domba, diasumsikan 1 ekor Induk beranak 1 ekor tiap 1 tahun sekali, maka keuntungan yang dapat diperoleh pembina mulai dari kelahiran sampai dengan penggemukkan anak domba:

Rp. 8.500.000,- per tahun atau Rp. 708.300,- per bulan
((Rp. 500.000,- * 20%) + (Rp. 350.000,- * 20%) * 50 ekor))

Semakin tekun Pembina mengelola jaringan petani maka akan semakin besar reward yang akan diperoleh. Indahnya saling berbagi. Kekuatan Ternak Rakyat ! ! ! Dan pada periode waktu tertentu di mana Induk Domba ditarik kembali oleh Villa Domba baik dalam rangka peremajaan, perkawinan ataupun seleksi. Reward bagi Pembina tentunya harus diikuti Tanggungjawab apabila terdapat kasus Induk Domba yang meninggal di mana menjadi tanggungan Pembina.

Terimakasih kepada pak Suhadi dan pak Purnomo atas saran dan masukannya. Kemudian kang Andi, kang Nick dan seluruh personil tim Kandaga Organic sebagai Mitra Villa Domba di desa Panaruban, Ciater, semangat selalu dalam berjuang untuk kemajuan usaha ternak dan pertanian organik Indonesia! Tidak lupa kang Budi dari Kampung Domba di desa Cimaung. Saran, kritik dan masukan tentunya sangatlah penulis harapkan. Salam Peternak dan Majulah Usaha Ternak Indonesia ! ! !

http://www.dombagarut.blogspot.com


Indonesian Community
Join this Group!RSS FeedHelp on RSS FeedsAdd to My Yahoo
Report Abuse
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Modified from Mediterranean by John Whittet.
Originally on the CSS Zen Garden.
Used and Modified with permission from the author.