Ditulis oleh. Abdul Aziz Setiawan
Momentum ibadah haji sebagai pertemuan sejati kaum muslimin untuk memenuhi panggilan Allah Subhanallahu wa Taalla merupakan kebahagiaan yang tak terkira. Kebahagiaan itu terekspresikan ketika jemaah haji menginjakkan kaki di Tanah Suci dan memasuki Ka'bah di Masjidil Haram sembari mengucapkan Labbaik Allahumma Labbaik, "Ya, Allah aku datang memenuhi panggilan-Mu". Sebuah pernyataan fitrah hamba kepada penciptanya.
Para tamu Allah (dhuyufur rahman) pada musim haji tahun ini hendaknya mensyukuri nikmat yang diberikan-Nya karena berkesempatan menunaikan ibadah haji pada saat orang lain antre menunggu (waiting list) pada musim haji berikutnya. Bersyukur diberi kelapangan, ditengah banyaknya saudara-saudara kita yang terhimpi t beban ekonomi yang berat.
Kebahagiaan "bulan haji" Allah berikan bukan hanya untuk mereka yang "beruntung" tersebut, Allah juga memberikan kebahagiaan untuk kaum dhuafa', kaum fakir dan miskin, bahkan seluruh lapisan masyarakat muslim. Tentu menarik kalau kita juga memaknai Ibadah Haji dan Qurban dari prespektif ekonomi sebagai sebuah momentum dan instrumen untuk pembangunan ekonomi Umat. Karena ini adalah momentum yang kolosal dan berulang setiap tahun.
Potensi Qurban
Setiap Hari Raya Qurban, jutaan hewan qurban disembelih. Tentu secara ekonomi hal ini adalah potensi yang sangat besar. Tetapi sayangnya potensi ini belum dipandang dalam prespektif stratejik dalam kerangka perencanaan pembangunan untuk membangkitkan kekuatan ekonomi umat. Sebagai contoh setiap tahun Arab Saudi membutuhkan tiga juta ekor domba pada musim haji, dari kebutuhan tiap tahun nasionalnya sebesar 10 juta ekor domba.
Ironisnya, domba-domba itu justru dipasok bukan dari negara-negara muslim. Selama ini semua kebutuhan itu diimpor, terutama dari Selandia Baru, Swiss, dan Swedia. Kemungkinan besar hal yang sama juga terjadi pada negeri-negeri petro-dollar yang lain seperti; Kuwait, Yordan, Uni Emirat, dll. Kalau Indonesia bisa memenuhi dua juta saja, khusus musim haji, niscaya kita akan memperoleh devisa yang sangat besar. Jika tiap domba dihargai 100 dolar AS, maka devisa yang masuk mencapai 200 juta dolar (sekitar Rp 2 triliun). Tentu saja hal ini bukan jumlah yang kecil, dan kebutuhan tersebut bersifat rutin dan pasti.
Selain menghasilkan devisa, proyek peternakan domba akan menciptakan lapangan kerja. Menurut perhitungan, untuk memelihara lima ekor domba memerlukan satu orang tenaga kerja. Jadi, kalau total dua juta ekor domba menyerap tenaga kerja tak kurang dari 400 ribu orang. Tentu hal ini sangat membantu mengurangi tingginya angka pengangguran yang terjadi. Bahkan dengan strategi dan manajemen yang baik, tentu akan dapat mengentaskan kemiskinan. Apalagi kalau target ekspor domba ini ditingkatkan dan juga masuk ke target segmen pasar negara-negara muslim pengimpor lainnya.
Potensi Dana Haji
Dari penyelenggaraan ibadah Haji juga terdapat perputaran dana yang sangat besar. Dengan kuota haji untuk Indonesia sebesar 205 ribu orang, untuk pembayaran peserta haji saja setidaknya terdapat dana sebesar Rp 5,5 triliun per tahun. Tak heran kalau banyak pebisnis yang mencoba memanfaatkan peluang ini. Tahun 2001, jumlah Biro Perjalanan Ibadah Haji (BPIH) khusus -yang sebelumnya dikenal ONH plus- sudah lebih dari 170-an. Jumlah ini belum termasuk ribuan yayasan atau ormas keagamaan yang menyelenggarakan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) sendiri. Jumlah KBIH diperkirakan telah mencapai 1.878 kelompok yang tersebar di seluruh Indonesia. Biasanya pembiayaan untuk jemaah pada KBIH antara Rp 2 juta-Rp 3 juta, atau agregat setiap tahun sekitar Rp 300 milyar (asumsi 50 persen peserta ikut program KBIH).
Potensi besar dana haji ini juga diperkuat dengan fakta besarnya dana dalam kasus dugaan korupsi dalam penyelenggaraan ibadah haji yang melibatkan mantan Menteri Agama dan mantan Dirjen Bimas Islam dan Penyelenggaraan Haji sebesar Rp 700 miliar. Bahkan hasil audit BPKP menemukan penyimpangan yang besarnya mencapai Rp 1 triliun. Perlu diberi catatan bahwa dana menguap Rp 1 triliun ini, tiga kali lipat jauh lebih besar dari dana yang dapat dihimpun oleh seluruh Lembaga Amil Zakat (LAZ) dan Badan Amil Zakat (BAZ) seluruh Indonesia setiap tahun.
Bayangkan, dengan kuota haji sekitar 205 ribu orang per tahun, juga kelebihan dana haji yang mungkin berkisar antara Rp 4 juta-Rp 5 juta per jamaah per musim haji. Tentu bisa dibayangkan betapa dahsyatnya manfaat atas keuntungan penyelenggaraan haji ini kalau di manage secara benar dengan prespektif kesejahteraan umat.
Padahal Malaysia saja, hanya memiliki kuota haji sebesar 2.000 orang per tahun mampu membangun sebuah lembaga Tabung Haji yang berhasil dan memberikan manfaat ekonomi yang besar. Meski bersifat komersial mirip BUMN, Tabung Haji mengedepankan sikap profesional dan amanah terhadap dana umat. Warga yang hendak naik haji pun bisa membayar lebih murah karena bisa mengangsur antara 5 hingga 20 tahun. Tabung Haji ini di belakang hari akan memberi kenyamanan bagi para jamaah. Ini karena ongkos naik haji akan dilipatgandakan lewat investasi bisnis. Tak mengherankan, jika dengan biaya yang lebih murah dengan ONH Indonesia, jamaah haji Malaysia bisa menikmati layanan yang jauh lebih nyaman.
Sementara itu, para jemaah haji dari Tanah Air berada dalam kondisi memprihatinkan. Mereka mengeluh soal rumah inap yang tak nyaman. Ditambah jarak yang cukup jauh dari lokasi ritual haji. Terkadang, ada rombongan haji Indonesia yang harus menempuh 4,5 kilometer untuk sampai di lokasi melempar jumrah. Padahal, jarak yang harus dilalui dalam ritual melempar jumrah itu sendiri rata-rata mencapai sembilan kilometer. Saat ini biaya haji di Negeri Jiran tersebut mencapai 8.945 ringgit atau sekitar Rp 21,8 juta. Sedang jamaah haji Indonesia harus membayar ONH sekitar Rp. 27 Juta s/d Rp 30 Juta-an (dengan kurs Rp 10.000/US$).
Malaysia adalah kisah sukses pengelolaan dana haji yang bisa dijadikan referensi. Dengan kuota haji hanya seper seratus dari kuota Indonesia dan ongkos naik haji (ONH) yang jauh di bawah Indonesia, Tabung Haji Malaysia mampu berkiprah dalam bidang pembiayaan korporasi dan investasi di sektor agrobisnis, yang profitabilitinya sudah bisa diukur (Idris, 2004).
Dengan pengelolaan profesional, transparan, dan akuntabel, Tabung Haji Malaysia mampu menguasai saham beberapa perusahaan yang sangat menguntungkan. Di antaranya Petronas, pabrik pengolahan kelapa sawit, Kuala Lumpur Internasional Airport (KLIA), Sirkuit Sepang, dan banyak sektor lainnya.
Keberhasilan Malaysia dalam mengelola dana hajinya, harus menjadi pemicu bagi Indonesia untuk mampu melakukan hal serupa dengan lebih baik. Sedikit demi sedikit, kita harus mulai meninggalkan cara-cara pengelolaan dana haji yang bersifat tradisional (seperti untuk membangun rumah sakit dan asrama haji) atau lebih parah dijarah untuk korupsi dan membiayai haji keluarga pejabat. Sebaiknya dana haji dan tabungan haji masyarakat dikelola dalam bentuk investasi ke beberapa sektor yang tingkat profitabilitinya tinggi. Sehingga multiplier effect dari hasil investasi tersebut bisa untuk meningkatkan kesejahteraan umat, pembangunan sarana sosial dan untuk program sosial lainnya.
Potensi ekonomi haji memang luar biasa. Jangan lupa, jumlah permintaan domba Arab Saudi masih membutuhkan alternatif eksportir dari Indonesia. Adakah Pebisnis, Organisasi atau Ormas Islam Indonesia yang tertarik membuat jaringan peternak domba untuk ekspor ke Timur Tengah? Atau ekspor untuk kebutuhan yang lain? Wallahu a'lam bi al-shawab.
Abdul Aziz Setiawan. Peneliti pada Pusat Penelitian STEI SEBI dan Analis pada International Institute of Islamic Finance (IIIF). (Telah dipublikasi di Majalah Hidayatullah edisi Januari 2006).
BLOG INFORMASI USAHA TERNAK
http://www.dombagarut.blogspot.com
BLOG INFORMASI ORGANIK
http://www.organicindonesianvanilla.blogspot.com
JEJAK PETANI& PETERNAK



