Group's posts with tag: agama

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag agama
Link: http://pormadi.wordpress.com/2008/05/23/pemuka-agama-diminta-selesaika...

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta pemuka agama menjadi contoh untuk menyelesaikan konflik secara damai dan tanpa kekerasan.....

Media massa suplemen harian Italia “La Repubblica” edisi Bulan April telah mengulas mengenai Sunatan masal untuk anak- anak perempuan muslim di Indonesia dengan judul “Lebih dari 100 Juta Perempuan di Dunia Melakukan Penyunatan Genital".

Diberitakan bahwa setiap tahun di Bandung diadakan acara penyunatan massal untuk anak-anak perempuan, dengan alasan kepercayaan dan adat kebiasaan. Penyunatan missal ini merupakan sebuah fenomena yang sering dipraktekan dinegara-negara muslim

Hari Minggu tanggal 13 April 2008, di Bandung telah diadakan acara penyunatan massal untuk anak-anak perempuan yang diadakan oleh sebuah yayasan keagamaan Assalaam, yang banyak membantu dalam memberi bantuan keagaman dan juga pendidikan agama Islam, sunatan massal ini diadakan secara gratis pada bulan April bertepatan dengan setiap peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW.

Kurang lebih dari 200 anak perempuan, pada hari Minggu pagi itu melakukan sunatan yang diadakan di sebuah sekolah Sekolah Menengah Pertama (SMP), dimana sebuah kelas disulap menjadi ruang praktek penyunatan yang dilakukan oleh beberapa bidan dan perawat. Anak- anak itu datang dengan ditemani oleh ibu mereka. Setelah melakukan penyunatan, anak-anak itu diberi hadiah berupa mainan, buah-buahan dan pakaian bekas.

Menurut ketua Yayasan Assalam, Lukman Hakim, praktek penyunatan yang dilakukan untuk anak perempuan itu mempunyai beberapa keuntungan positif untuk masa depan mereka, bila mereka telah tumbuh dewasa, maka hasrat libido yang tinggi akan teredam, disamping memberikan keseimbangan moral dan menambah keindahan dimata suami mereka.

Menurut organisasi kesehatan dunia, saat ini tercatat lebih dari 100 sampai 140 juta wanita di lebih dari 140 negara di Afrika dan Yaman yang mengalami praktek penyunatan dan tercatat lebih dari 91 juta wanita dan anak wanita di seluruh dunia yang mengalami praktek penyunatan yang selalu dilakukan setiap tahun pada anak wanita dibawah umur 9 tahun atau bahkan sering dijumpai pada bayi perempuan yang baru lahir.

Indonesia, India, Irak, Malaysia, Saudi Arabia, Israel, adalah negara-negara yang dianggap kerapkali mempraktekan ritual ini, namun tidak dilaporkan statistik secara pasti, karena tidak adanya data yang akurat. Akan tetapi di 15 negara di Afrika dan negara di Eropa praktek ini dianggap illegal, sementara di Perancis dan Amerika Serikat beberapa keluarga imigran asing sedang diproses hukum karena mempraktekan ritual ini. Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam, keabsahan ritual penyunatan untuk anak-anak perempuan mulai diperdebatkan.

Pada tahun 2003, menurut penelitian Badan Kependudukan Nasional, di Indonesia hampir 96% dari keluarga yang beragama Islam, melakukan praktek ritual ini untuk anak perempuan mereka, sebelum mereka menginjak usia 14 tahun. Namun saat ini telah ada undang-undang yang dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan yang melarang para dokter untuk melakukan penyunatan di rumah sakit-rumah sakit setempat, khususnya untuk para bayi-bayi yang baru lahir, Akan tetapi belum ada undang-undang yang mengatur pelarangan penyunatan ini, untuk para bidang yang menolong persalinan yang dilakukan dirumah-rumah. Dengan demikian kasus ini sangat dilematik sekali, apalagi untuk sebagian masyarakat muslim di Indonesia yang beranggapan bahwa penyunatan untuk anak perempuan juga merupakan bagian dari rukun iman yang mutlak dilakukan oleh seorang muslim yang taat.

Para antropolog dunia yang menpelajari kasus ini mengatakan bahwa asal muasal upacara ini telah ada sebelum lahirnya agama Islam, dimana dari hasil penelitian tersebut menjumpai bahwa praktek-praktek penyunatan baik untuk anak lelaki dan perempun banyak ditemukan di setiap suku bangsa di setiap negara, bahkan menurut Atashendartii Hapsya, pemilik sebuah rumah sakit swasta, menyatakan bahwa kasus ini juga banyak dijumpai dikalangan agama Kristen di Pulau Jawa, dengan demikian maka kesimpulanya bahwa disetiap daerah merupakan hal biasa apabila kebudayaan mempengaruhi agama.

Para ahli menyatakan bahwa di Indonesia, ritual penyunatan baik untuk anak lelaki maupun untuk anak perempuan adalah ritual upacara penyucian dan pembersihan diri. Tetapi dibeberapa daerah di Nusantara, penyunatan untuk anak perempuan ini dilakukan hanya sebagai simbul, dimana pemotongan sebagian kecil dari bagian alat vital perempuan, yaitu clitoris diganti dengan pemotongan bagian kecil dari batang buah kuncit atau bisa juga dengan menusukkan sebuah jarum pada bagian kecil dari alat vital itu, (tanpa perlu memotongnya) sampai keluar sedikit darah. Namun, menurut beberapa saksi yang sering menyaksikan upacara penyunatan ini, menyebutkan bahwa pemotongan benar-benar dilakukan bukan hanya secara simbul dan besar kecilnya bagian yang dipotongpun bervariasi antara sebesar setengah biji beras, setengah kacang polong atau seujung daun.

Menurut Siti Rukasitta, dari Yayasan Assalam yang telah bekerja lebih dari 20 tahun dan telah sangat berpengalaman dalam memimpin ritual penyunatan ini mengatakan bahwa pemotongan hanya dilakukan sebagaian kecil saja yaitu tidak lebih dari seujung kuku kecil dengan bantuan alat-alat potong yang telah disterilkan.

Akan tetapi menurut dokter kandungan Italia, Laura Guarenti yang mewakili LSM Jakarta, penyunatan yang dilakukan untuk anak perempuan tidak memberikan keuntungan seperti yang dilakukan untuk anak lelaki, karena untuk anak lelaki bila dilakukan bisa mencegah penyakit kanker dikemudian hari. Sementara untuk anak perempuan bila tidak melakukan penyunatan tidak akan menimbulkan dapak negatif dikemudian hari bahkan dianjurkan untuk tidak melakukan penyunatan untuk anak perempuan.

Sementara itu, di Eropa dan Amerika berkembang upaya memberantas penyunatan untuk anak perempuan. Para antropolog, perangkat hukum dan paramedis bersama-sama berupaya memberi pengertian kepada masyarat yang masih percaya untuk melakukan penyunatan untuk anak perempuan agar segera menghentikan praktek itu.

Pengarahan yang diberikanpun menitikberatkan bukan pada keuntungan apa yang diperoleh pada praktek penyunatan untuk anak perempuan, karena seperti telah dibahas sebelumnya, bahwa tidak ada keuntungan yang dapat dipetik dari praktek itu.Tetapi pengarahan diberikan lebih pada memperhatikan hak-hak azasi anak-anak yang harus dilindungi, melindungi apa yang akan rampas pada diri anak-anak itu.” Tetapi masalahnya, di Indonesia,” menurut Laura Guarenti, “masih ada para ibu yang percaya bahwa bila mereka melakukan penyunatan pada anak-anak perempuan mereka berarti mereka telah melakukan hal yang mulia untuk anak-anak mereka, sebuah tradisi yang bagi masyarakat barat sangat sulit dimengerti”.

Masalah Hak Asasi Manusia di Eropa khususnya di Italia sangat didengungkan keras olah sebagian besar masyarakatnya terutama masalah penyunatan genital terhadap kaum perempuan karena mendapat pertentangan yang kerasa, mengingat menurut masyarakat dan asosiasi pembela wanita di Italia bahwa penyunatan genital terhadap wanita ini tidak akan membawa dampak yang ditimbulkan.

Masalah penyunatan genital terhadap perempuan tidak lepas dari masalah penekanan terhadap kaum wanita, khususnya kepada perempuan wang berusia dibawah 9 tahun. Meskipun belum pernah dilakukan oleh masyarakat Italia karena mayoritas penduduk Italia adalah beragama Katolik yang tidak menganjurkan umatnya untuk melakukan penyunatan baik terhadap laki laki atau wanita, namun kemungkinan terjadi penyunatan wanita ini dapat dilakukan oleh para imigran yang beragama Islam. Saat ini di Italia, Rumah-rumah sakit dilarang keras melakukan praktek penyunatan khusus terhadap wanita

Blog EntryYang Sesat dan Yang NgamukApr 27, '08 8:33 PM
by fandhie for everyone
Saya bukan Islam namun saya tidak pernah setuju dengan jenis2 kelancangan model Gert Wilders dengan film 'Fitna'nya. Tapi bukan berarti saya tidak sependapat sepenuhnya dengan Gert Wilders.

Kalau mau jujur, nalar saya sering membawa kepada pemikiran yang sama dengan pemikiran Gert. Namun bukan hak saya untuk menyimpulkan konsep dan pola pikir agama yang bukan agama saya. Apalagi kalau kemudian mendiskreditkan agama tersebut. Sama sekali tidak pantas, dan memang tidak diajarkan di agama saya.

Namun kejadian demi kejadian khususnya di tanah air kita ini, termasuk berita yang sedang hangat2nya mengenai JAI (Ahmadyah) terus mengusik nalar saya karena saya semakin tidak memahami pola pikir Islam.

MUI dan Bakor Pakem  gencar memberikan rekomendasi agar JAI segera dibubarkan krn dianggap tidak sesuai dengan aqidah Islam.Mereka cukup ngotot, dan kemudian ditambah lagi dengan pernyataan2 provokatif dari FPI. Dari sejarahnya FPI bukan hanya vokal tapi juga cenderung 'kasar' dan mengedepankan kekerasan dalam setiap tindak-tanduk mereka.

Beberapa waktu lalu sempat terdengar kabar bahwa aparat akan membubarkan FPI ditambah adanya pernyataan pimpinan salah satu organisasi Islam terbesar dinegara ini bahwa FPI hanyalah kelompok preman berjubah.

Namun kenyataannya saat ini, justru usaha dan kengototan untuk membubarkan JAI jauh lebih besar dibandingkan FPI dan ini sangat mengusik nalar saya. Sepertinya tidak masuk akal.

Saya bukan Islam dan tidak bermaksud mencampuri. Ini hanyalah kebingungan yang menggelayut di pikiran saya yang terbatas.

Saya hanya tidak mengerti manakah yang paling sesuai dengan aqidah Islam antara tindak tanduk FPI dan JAI, dan berdasarkan common-sense saja manakah yang lebih pantas untuk segera dibubarkan oleh pemerintah antara FPI dan JAI?

Entahlah, mungkin artikel yang ditulis oleh Gus-Mus Mustofa Bisri di bawah ini akan dapat mewakili kebingungan saya, dan mungkin dapat memberikan gambaran buat saya dan orang2 lain yang tidak mengerti Islam.

Entahlah, dengan melihat ketidak-mengertian seorang Gus-Mus bagaimana saya bisa mengerti?

Salam Damai



Yang Sesat dan Yang Ngamuk
Oleh A. Mustofa Bisri

Karena melihat sepotong, tidak sejak awal, saya mengira massa yang ditayangkan TV itu adalah orang-orang yang sedang kesurupan masal. Soalnya, mereka seperti kalap. Ternyata, menurut istri saya yang menonton tayangan berita sejak awal, mereka itu adalah orang-orang yang ngamuk terhadap kelompok Ahmadiyah yang dinyatakan sesat oleh MUI.
Saya sendiri tidak mengerti kenapa orang -yang dinyatakan- sesat harus diamuk seperti itu? Ibaratnya, ada orang Semarang bertujuan ke Jakarta, tapi ternyata tersesat ke Surabaya, masak kita -yang tahu bahwa orang itu sesat- menempelenginya. Aneh dan lucu.
Konon orang-orang yang ngamuk itu adalah orang-orang Indonesia yang beragama Islam. Artinya, orang-orang yang berketuhanan Allah Yang Mahaesa dan berkemanusiaan adil dan beradab. Kita lihat imam-imam mereka yang beragitasi dengan garang di layar kaca itu
kebanyakan mengenakan busana Kanjeng Nabi Muhammad SAW.
Kalau benar mereka orang-orang Islam pengikut Nabi Muhammad SAW, mengapa mereka tampil begitu sangar, mirip preman? Seolah-olah mereka tidak mengenal pemimpin agung mereka, Rasulullah SAW.
Kalau massa yang hanya makmum, itu masih bisa dimengerti. Mereka hanyalah mengikuti telunjuk imam-imam mereka. Tapi, masak imam-imam -yang mengaku pembela Islam itu- tidak mengerti misi dan ciri Islam yang rahmatan lil 'aalamiin, tidak hanya rahmatan
lithaaifah makhshuushah (golongan sendiri). Masak mereka tidak tahu bahwa pemimpin agung Islam, Rasulullah SAW, adalah pemimpin yang akhlaknya paling mulia dan diutus Allah untuk menyempurnakan akhlak manusia.
Masak mereka tidak pernah membaca, misalnya ayat "Ya ayyuhalladziina aamanuu kuunuu qawwamiina lillah syuhadaa-a bilqisthi…al- aayah" (Q. 5: 8). Artinya, wahai orang-orang yang beriman jadilah kamu penegak-penegak kebenaran karena Allah dan saksi-saksi
yang adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu kepada suatu kaum menyeret kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah; adil itu lebih dekat kepada takwa. Takwalah kepada Allah. Sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang kau kerjakan.
Apakah mereka tidak pernah membaca kelembutan dan kelapangdadaan Nabi Muhammad SAW atau membaca firman Allah kepada beliau, "Fabimaa rahmatin minaLlahi linta lahum walau kunta fazhzhan ghaliizhal qalbi lanfaddhuu min haulika… al-aayah" (Q. 3: 159). Artinya, maka disebabkan rahmat dari Allah-lah engkau berperangai lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau kasar
dan berhati kejam, niscaya mereka akan lari menjauhimu…"
Tak Mengerti
Sungguh saya tidak mengerti jalan pikiran atau apa yang merasuki pikiran mereka sehingga mereka tidak mampu bersikap tawaduk penuh pengayoman seperti dicontoh-ajarkan Rasulullah SAW di saat menang. Atau, sekadar membayangkan bagaimana seandainya mereka yang merupakan pihak minoritas (kalah) dan kelompok yang mereka hujat berlebihan itu mayoritas (menang).
Sebagai kelompok mayoritas, mereka tampak sekali -seperti kata orang Jawa- tidak tepa salira. Apakah mereka mengira bahwa Allah senang dengan orang-orang yang tidak tepo saliro, tidak menenggang rasa? Yang jelas Allah, menurut Rasul-Nya, tidak akan merahmati
mereka yang tidak berbelas kasihan kepada orang.
Saya heran mengapa ada -atau malah tidak sedikit- orang yang sudah dianggap atau menganggap diri pemimpin bahkan pembela Islam, tapi berperilaku kasar dan pemarah. Tidak mencontoh kearifan dan kelembutan Sang Rasul, pembawa Islam itu sendiri. Mereka malah
mencontoh dan menyugesti kebencian terhadap mereka yang dianggap sesat.
Apakah mereka ingin meniadakan ayat dakwah?
Ataukah, mereka memahami dakwah sebagai hanya ajakan kepada mereka yang tidak sesat saja?
Atau? Kelihatannya kok tidak mungkin kalau mereka sengaja berniat membantu menciptakan citra Islam sebagai agama yang kejam dan ganas seperti yang diinginkan orang-orang bodoh di luar sana. Tapi…

KH A. Mustofa Bisri, pengasuh Pesantren Roudlatut
Thalibin, Rembang
Sumber: Jawa Pos

Linkperkembangan agama 5000 tahun terakhir 90 detikMar 25, '08 8:24 AM
by ganes for everyone
Link: http://www.mapsofwar.com/images/Religion.swf

pekembanagan agama2 di atas bumi dalam 5000 tahun terakhir

Blog Entry,,,Negara Bukan-bukan,,, Sep 22, '07 5:22 AM
by Beautiful for everyone
negara agama,,,
bukan!
negara kerajaan,,,
bukan!
negara federal,,,
bukan!



jangan-jangan, ini adalah negara yang bukan-bukan!

Blog EntryMANA YANG SAMA MANA YANG BEDAMay 30, '07 2:00 AM
by tatang for everyone
    

Persoalan penggolongan satu makluk dengan makluk yang lain, atau antara anggota suatu makluk dengan anggota yang lain suatu makluk,  sudah sejak manusia merasa berbeda yang satu dengan yang lainnya. Bukan untuk keperluan ilmu pengetahuan, tetapi suatu legalitas atas perbedaan yang ada atau yang diada-adakan. Yang sederhana dijadikan rumit, yang rumit dijadikan sederhana.

Mari kita lihat! Anjing = binatang, kucing = binatang, maka dapat diambil kesimpulan Anjing  =  kucing. Jangan protes dulu atas dalil di atas. Sampai sekarang kucing dan anjing belum mengajukan keberatan atas dalil di atas. Dalil di atas diambil dari persamaan matematika. Jika A = B dan B = D, maka A = D apapun konfigurasi A dan D. Demikian juga dengan konfigurasi anjing dan kucing, yang ras atau bukan.

Mungkin sedikit menjernihkan jika kita menggunakan teori himpunan. Kita himpun kenyataan yang ada di dunia ini ke dalam golongan melalui apa yang sama dan apa yang beda. Masing-masing yang berhasil dihimpun kita jadikan satu dan disebut satu golongan. Jika ada beberapa golongan yang masih ada apa yang sama dengan golongan yang lain, maka kita intergralkan dengan menjadikannya sebagai anggota dari anggota yang lebih besar dan lebih tinggi kedudukannya.

Binatang adalah himpunan yang lebih tinggi kedudukannya dari pada himpunan yang terdiri dari kucing dan atau himpunan yang terdiri dari anjing. Demikian juga dengan B adalah himpunan yang lebih tinggi kedudukannya dari pada A dan atau D. dengan demikian anjing apa saja dan kucing apa saja tidak boleh protes kalau mereka diposisikan sebagai anggota dari himpunan yang sama yang mempunyai kedudukan lebih tinggi dari himpunan sebelumnya di mana anjing atau kucing menjadi anggotanya.

Bagaimana jika kita sebagai manusia (suatu himpunan yang lebih tinggi kedudukannya dari pada himpunan yang terdiri dari Negara atau Propinsi atau Kabupaten/Kotamadya atau Kecamatan atau Kelurahan/Desa atau Rw atau Rt atau Keluarga anda/ Keluarga saya, atau anda/saya) dipakai untuk menelaah siapakah kita dengan segala yang melekat di dalamnya melalui persamaan matematika di atas ?. Ternyata tidak sederhana. Hanya anggota manusia yang ngotot, mempunyai sesuatu yang “lebih” dari anggota manusia yang lainnya. Mengapa tidak yang mempunyai “kekurangan” yang ngotot bahwa mereka berbeda. Yang mempunya sesuatu yang lebih akan senang jika yang mempunyai kekurangan membedakan diri. Tidak perlu dengan ngotot, yang merasa lebih langsung menyetujuinya (hanya ada beberapa anggota manusia yang secara diam-diam menginginkan hal tersebut, atau semuanya. Silahkan periksa diri kita sendiri).

Manusia yang manusia, ya, tidak berbeda, terutama ketika lahir. Bukan siapa-siapa kok. Hanya makluk lemah. Yang dicari Cuma susu dari sang Ibunda. Embel-embel mulai dirasakan ketika bedak, popok, dan lain-lain yang diberikan mulai berbeda dengan yang diberikan kepada bayi yang lain. Tetapi itu tetap bukan kemauan sang bayi yang tidak berdaya, tetapi keputusan anggota manusia yang lain. Setidaknya produsen popok dan bedak akan berpretensi demikian selama ada pesaing dari produk yang sama.

Ketika masih kecil, ketika belum memiliki pengetahuan apa-apa tentang kepentingan pribadi, anggota manusia itu (anak kecil) memiliki segalanya (dalam term yang lain juga dapat dipakai term “Kerajaan Surga” , tetapi semuanya saya kembalikan kepada pembaca). Pada fase ini sudah ada proses belajar yang didorong keinginan tahu dan mempertahankan diri. Polusi mulai tercipta yang tergantung kepada siapa pemberi ajaran. Apakah memberikan garis tegas atau halus atau tidak sama sekali antara anggota keluarga, antara keluarga dengan keluarga yang lain, antara embel-embel yang diberikan dengan embel yang dipunyai oleh anggota manusia yang lain, atau embel-embel yang diberikan kepada anggota manusia yang lain oleh pemberi ajaran. Di sini kita mulai belajar mengenal sesama manusia yang sangat tergantung oleh pemberi ajaran dengan catatan tetap ada kemungkinan adanya pembelajaran secara pribadi di kemudian hari yang bisa saja merubah embel-embel yang telah ada sejak kecil.

Mari kita mencoba kembali ke persamaan di atas, A ( nama sebuah agama / kepercayaan) =  agama itu sendiri (un sich , kalau salah tulis diperbaiki sendiri), B (nama sebuah agama / kepercayaan) =  agama itu sendiri , maka A = B . Secara matematika adalah benar nilai tersebut, tetapi tidak semua anggota manusia yang mempunyai sesuatu dalam pemikirannya sendiri dapat menerima penarikan kesimpulan tersebut . Mengapa ? apakah ada yang salah dengan logika matematikan tersebut di atas. A atau B boleh saja mempunyai sesuatu yang lebih dibanding B atau A dalam pengertian masing-masing anggota A atau B. tetapi semua itu tidak dapat mengganti kesimpulan matematika di atas.

Tidak semua anggota apapun dari suatu himpunan akan bersedia menarik diri ke dalam himpunan yang lebih tinggi derajatnya, bahkan dari anggota itu yang termasuk ke dalam anggota irisan himpunan tersebut dengan himpunan yang lain. Kemampuan menarik jarak dengan diri sendiri sangat menentukan. Embel-embel hanyalah yang melekat yang dapat diciptakan sendiri dan hampir tidak ada yang diberikan oleh orang lain dalam konteks yang sama. Jika seseorang rajin belajar tidaklah perlu diketahui orang lain, sebab hasil dari rajin belajar akan nampak dengan sendirinya. Jika anda ingin berbeda dengan anggota satu himpunan atau himpunan yang lain, yang terpenting bukan lagi yang bersifat embel-embel, tetapi sekeliling anda tanpa terasa mencari sandang pangan mudah, masuk rumah sakit sudah ada yang mengurus, dan lain sebagainya yang mencerminkan adanya sesama manusia.


Blog EntryMengurus jenazah a la MuslimMay 11, '07 8:57 PM
by susi for everyone

Seperti  biasanya tiap hari jumat  jam 10 pagi sampai habis dhuhur ..ibu ibu muslim yang tinggal di bangkok datang ke acara pengajian, tempatnya dirumah para ibu2 itu…secara bergantian, yang datang rutin kira2 20 orang. Acara ini dimulai membaca Alqur’an satu persatu, setiap orangnya kebagian 4-5 ayat…setelah kelar.. ndengerin siraman rohani deh.. dan dilanjutkan tanya jawab, tapi hari ini lain, gak ada acara siraman rohani melainkan praktek…..praktek memandikan mayat………....wek..spooky…..pocong…pocong……..untungnya yg dipake  cuman boneka……

 

Peralatan yangdiperlukan untuk memandikan:

Air, ember, gayung, sabun,  kain panjang, 2handuk besar dan kecil, masker mulut, sarung tangan

 

Pelaksanaan:

  • Yang mandiin pake sarung tangan dan masker.
  • Jenazah di tidurkan diatas bed kayu, sambil baca niat …guyur pelan2…dari kepala ke kaki
  • Tekan bagian perut biar kotoran keluar, bersihkan, guyur sampe bersih…
  • Guyurkan air sabun keseluruh badan dan kepala, ratakan sambil digosok pelan2, bilas sampai bersih.
  • hamparkan 2 handuk besar di usungan, tempatkan jenazah diatasnya dengan posisi tangan sesekap, lilitkankan sisa handuk, balut rambutnya dengan handuk kecil. Tutup dengan kain panjang. Bawa ketempat pengkafanan.

Bahan yang diperlukan untuk pengkafanan:

  • Kapas 3-5 gulung - gulungannya sebesar tissue dapur .
  • Kain putih  15 sampai 20 meter, potong lebar kira 2-3 cm sepanjang kedua tepi kain, ini untuk pengikat/tali. Potong 1 ½ lingkar badan sebanyak 5 potong (untuk badan), potong kira2 3 kali lingkar badan sebanyak 3 potong (unutk tikar)
  • Potong  lebar kira 4 x badan jenazah, panjangnya seukuran jenazah ditambah 2 jengkal diatas kepala dan 2 jengkal dibawah kaki. - sebanyak 3 potong
  • Potong kain 3 x lebar badan, 2x panjang badan, lipat jadi persegi empat, potong tengahnya untuk jalan masuk kepala. Ini untuk baju jenazah.
  • Potong kain seukuran kerudung, tempelkan kapas sepanjan bagian depan kepala, jahit pake tangan.
  • Potong kain lebar 2 jengkal panjang 3 jengkal, taruh kapas dibagian tengah kira2 lebar 10 cm memanjang, tutup dg sisa kain dari sisi kiri dan kanan. Lipat jadi 2. ini untuk celana.
  • Tikar pandan
  • Kapur barus
  • Minyak wangi cendana
  • Bunga bungaan

Pelaksanaan:

  • Gelarkan tikar, tempatkan tali dibagian bawah tikar atas, tengah dan bawah.
  • Tempatkan 5 potong tali diatas tikar. Gelarkan kain kafan diatasnya, tiga lapis kain, gelar kain baju dengan posisi dibuka, tempatkan kain celana diposisi dimana kira2 pantat jenazah ditempatkan. Letakkan jenazah tanpa handuk, tutupkan bajunya, betulkan posisi celana seperti memakai popok. Pakaikan kerudungnya. Letakkan kapas sehingga menutup semua muka jenazah. Taburkan minyak wangi dan kapur barus serta bunga.
  • Bungkus dengan kain tiga lapis dan ikat dengan ke 5 tali. Bungkuskan tikar dan ikat dengan ke tiga tali yang ada. Tempatkan di keranda danjenazah siap untuk disholatkan.

Aku tahu aku nggak bakalan bisa ngurus jenazah sanak saudaraku mungkin akan kelewat sedih ato bahkan pingsan ..paling gak aku tahu apa aja yang di perlukan…..


Blog EntryReengineering The ReligionFeb 27, '07 12:03 AM
by Roland for everyone

Krisis Yang Selalu Eksis

Dunia yang damai merupakan tujuan luhur manusia yang diajarkan dalam agama manapun. Agama mana yang mengajarkan untuk melakukan pembantaian, dan menumpahkan darah orang-orang yang berbeda agama? Penulis yakin tidak ada agama yang sekejam itu. Buddha mengajarkan kesederhanaan, Kristen mengajarkan cinta kasih, Konfusianisme mengajarkan kebijaksanaan, dan Islam mengajarkan kasih sayang bagi seluruh alam.

            Bila tujuan luhur manusia dan semua agama sangat ingin menghendaki perdamaian dan memiliki komitmen kuat terhadap anti-kekerasan, lalu mengapa kekerasan agama itu kerap terjadi dengan korban yang tidak terhitung jumlahnya? Ini menjadi sesuatu yang bertolak belakang dengan falsafah agama yang banyak mengajarkan nilai-nilai luhur. Namun ironisnya, ternyata agama sendiri juga bertanggung jawab terhadap terjadinya pelbagai kerusakan di segala bidang di muka bumi ini. Agama yang yang seyogyanya mengajarkan kesejukan, kedamaian, kesentosaan, kasih sayang dan nilai-nilai ideal lainnya, saat ini sudah berevolusi dalam wajah yang keras, garang dan menakutkan. Agama  juga kerap dihubungkan dengan radikalisme, ekstrimisme, bahkan terorisme. Agama pun dikaitkan dengan bom bunuh diri, pembantaian, penghancuran gedung, dan lain-lain yang menunjukkan wajah baru agama masa kini.

            Jalaludin Rakhmat dalam sampul bukunya yang berjudul Psikologi Agama mengatakan agama sebagai sebuah kenyataan terdekat dan sekaligus sebuah misteri terjauh. Lebih lanjut ia mengatakan:

 

   “Begitu dekat: ia senantiasa hadir dalam kehidupan manusia sehari-hari—di rumah, kantor, media, pasar, di mana saja. Begitu misterius: ia menampakkan wajah-wajah yang sering tampak berlawanan—memotivasi kekerasan tanpa belas atau pengabdian tanpa batas; mengilhami pencarian ilmu tertinggi atau menyuburkan takhayul dan superstisi; menciptakan gerakan massa paling kolosal atau menyingkap misteri rohani paling personal; memekikkan perang paling keji atau menebarkan kedamaian paling hakiki” (Bandung: Mizan Pustaka, 2003).

 

            Jadi sebenarnya ada apa dengan agama? Apakah ada yang salah dalam agama?

 

Agama: Pemicu Konflik Dalam Peradaban

Peran agama sebagai perekat heterogenitas dan pereda konflik sudah lama sepatutnya dipertanyakan. Tidak dapat dipungkiri, bahwa manusia yang menghuni muka bumi ini begitu heterogen terdiri dari berbagai suku, etnis, ras, penganut agama, kultur, peradaban dan sebagainya. Samuel P. Huntington mengatakan bahwa perbedaan tidak harus berakhir dengan konflik, dan konflik tidak selalu identik dengan kekerasan. Dalam dunia baru, konflik-konflik yang paling mudah menyebar dan sangat penting sekaligus paling berbahaya bukanlah konflik antarkelas sosial, atau antar golongan kaya dengan golongan miskin, ataupun juga antara kelompok-kelompok (kekuatan) ekonomi lainnya, tetapi konflik antara orang-orang yang memiliki entitas-entitas budaya yang berbeda-beda. Namun, selama berabad-abad, perbedaan entitas agama justru telah menimbulkan konflik yang paling keras, paling lama, paling luas, dan paling banyak memakan korban. Dalam citranya yang negatif, agama telah memberikan kontribusi terhadap terjadinya konflik, penindasan dan kekerasan. Agama telah menjadi tirani, di mana atas nama Tuhan orang melakukan kekerasan, menindas, melakukan ketidakadilan dan pembunuhan.

Dalam konteks kekinian, bentuk-bentuk konflik, kekerasan dan perang agama itu acapkali dihubungkan dengan bangkitnya fundamentalisme agama. Fundamentalisme agama mengekspresikan cita-cita sosial-politiknya dalam bentuk ekstrimisme dan kekerasan sebagai reaksi terhadap kondisi kehidupan manusia yang dianggapnya tidak ideal. Fundamentalisme, sebagaimana dikatakan Karen Armstrong, merupakan salah satu fenomena paling mengejutkan di akhir abad 20. Ekspresi fundamentalisme ini terkadang cukup mengerikan. Para fundamentalis menembaki jamaah yang sedang salat di masjid, membunuh dokter dan perawat dalam klinik aborsi, membunuh presiden, dan bahkan mampu menggulingkan pemerintahan yang kuat. Peristiwa paling mutakhir yang menghebohkan dunia, yaitu hancurnya gedung World Trade Center (WTC) di New York, Amerika Serikat, September 2001 lalu, juga dihubungkan dengan gerakan fundamentalisme. 

Ciri-ciri umum yang dapat memberi beberapa penjelasan tentang makna fundamentalisme adalah sebagai berikut:

ü      Mereka meyakini agama (ajaran, dogma, dan kitab sucinya) adalah yang paling benar.

ü      Mereka meyakini agama mereka saja yang dapat menyelesaikan pelbagai

permasalahan dunia.

ü      Mereka menentang penafsiran, pendekatan, dan kritik yang dilancarkan oleh arus

modern kepada agama mereka.

ü      Mereka menekankan pentingnya untuk menjadi penganut agama yang sejati dengan

pengamalan doktrin yang paling murni.

ü      Mereka memimpikan terciptanya masyarakat ideal yang dibangun berdasarkan ajaran

agama mereka.

ü      Mereka adalah orang-orang yang dangkal dan superfisial, anti intelektual, dan pemikirannya sebenarnya tidak bersumberkan Kitab Suci dan budaya intelektual tradisional agama mereka.

 

Reengineering The Religion—Jalan Untuk Dunia Yang Lebih Baik

Sebuah mobil yang memiliki kerusakan pada mesinnya, seyogyanya dibawa ke bengkel dan diperbaiki sehingga kerusakannya tidak bertambah parah. Demikian pula halnya jika tujuan luhur dari agama ternyata tidak sejalan dengan praktek kehidupan umat, maka pastilah ada yang salah pada agama. Oleh karena itu ia harus segera diperbaiki, karena jika tidak segera diperbaiki, maka agama akan menjadi monumen usang yang disfungsional. Dalam hemat penulis, setidaknya ada dua pilihan yang bisa diterapkan pada agama terkait dengan kerusakan padanya.

Pilihan pertama, membunuh agama. Jika sebuah barang sudah tidak bermanfaat, disfungsional, dan justru membebani si pemilik barang tersebut, lebih baik barang tersebut dibuang. Demikian pula jika agama tidak bisa lagi mendatangkan perdamaian, mewujudkan dunia yang lebih baik, dan membebaskan manusia dari dominasi dan pengaruh keduniawian yang menyebabkan tumpulnya kesadaran transendental manusia, maka lebih baik agama disingkirkan saja dari kehidupan individu dan sosial.

Sigmund Freud sudah pernah menyampaikan pemikiran untuk menyingkirkan agama dari kehidupan manusia. Ia mengatakan mengatakan bahwa agama itu tidak lebih dari sekadar obsesi neurotis manusia yang tidak ubahnya seperti seorang anak-anak yang memiliki kerinduan kepada bapak yang mengayomi dan melindungi. Kerinduan ini akhirnya diproyeksikan kepada suatu citra khayalan yang manusia sebut Tuhan. Karena itu menurut Freud agama adalah ilusi yang berbahaya baik bagi individu maupun masyarakat. Hanya dengan meninggalkan agama dan ajarannya yang dogmatis dan bertumpu pada sains dan akal, individu dan masyarakat akan berkembang melewati tahap kekanak-kanakannya.

Sudah barang tentu, pilihan ini akan menuai protes keras dari kalangan rohaniwan yang khususnya telah mendapat manfaat ekonomi dari agama formal yang ada. Alasan selanjutnya jika agama formal yang ada saat ini dibunuh, diruntuhkan, diberangus—apapun istilahnya—maka barang tentu sudah harus tersedia bagi manusia substite’s religion sebagai pengganti agama formal yang ada. Yang menjadi masalah, agama sampai sekarang masih merupakan komoditi yang kuat yang bisa memberikan kelegaan batiniah bagi manusia. Selain itu sains yang menurut Freud bisa menggantikan agama ilusi ataupun agama formal yang ada, belumlah cukup kuat untuk menyangga peradaban.

Bagaimana dengan pilihan kedua? Pilihan kedua adalah menata ulang agama formal yang ada sekarang—penulis menggunakan istilah “reengineering the religion”. Pilihan ini lebih masuk akal dan masih bisa memuaskan pelbagai pihak yang berkepentingan. Mengapa? Karena dalam reengineering the religion, yang utama harus dilakukan adalah pembenahan dogma-dogma yang ofensif, atau doktrin-dokrin yang berpotensi menyebabkan suatu umat beragama merasa lebih superior dibandingkan dengan umat beragama yang lain. Seperti istilah bangsa pilihan atau umat kepunyaan Tuhan, adalah sedikit contoh dari istilah keagamaan yang harus ditata ulang karena ternyata istilah tersebut berpotensi menimbulkan pelbagai konflik dan keretakan sosial. Dan jangan dilupakan juga istilah penginjilan ataupun dakwah merupakan kegiatan yang rentan menimbulkan friksi dalam hubungan sosial masyarakat. Karena sering kali tanpa disadari mandat penginjilan atau dakwah itu disusupi dengan semangat penaklukan yang biasa ada dalam mentalitas penjajah yang selalu ingin menaklukan negeri yang dijajahnya.  

Yang terutama harus disadari oleh semua umat beragama untuk terwujudnya dunia yang penuh dengan kedamaian dan tanpa kekerasan, haruslah diciptakan sebuah format keberagamaan masa depan yang lebih mengedepankan sikap menghargai persamaan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam tiap-tiap agama. Karenanya tidak satu orang pun yang pantas dan merasa berhak mengatakan bahwa agamanya lebih baik dari agama yang lain. Sejatinya, agama adalah relatif. Ia terbatas, parsial, dan tidak lengkap. Agama itu dapat diibaratkan seperti sebuah puzzle yang di saat terpisah-pisah tidak memiliki nilai estetika sama sekali. Tetapi ketika kepingan-kepingan puzzle itu disatukan, maka ia baru dapat membentuk sebuah gambar yang indah. Doktrin-doktrin yang terdapat dalam agama-agama formal yang ada sebenarnya tidak bisa berdiri sendiri. Ketika doktrin itu berdiri sendiri, terpisah dari yang lain, maka doktrin itu tidak dapat memberikan pencitraan yang lengkap tentang Tuhan, tentang manusia, dan tentang ciptaan-Nya. Agama juga tidak ubahnya seperti sebuah cermin kecil yang tidak cukup jika digunakan oleh seseorang untuk melihat seluruh tubuhnya. Bukankah untuk melihat seluruh tubuh, seseorang harus melihatnya melalui sebuah cermin yang besar? Bahkan untuk melihat benda-benda mikroskopis, dibutuhkan sebuah mikroskop dengan pembesaran yang bisa diatur-atur.

Dengan demikian jika manusia ingin memahami Tuhan secara utuh, ia harus melihatNya dengan menggunakan pelbagai sudut pandang agama. Sebagai contoh dalam konteks kekristenan, untuk melihat Tuhan yang penuh kasih sayang, maka seseorang dapat melihatnya di dalam pribadi Kristus. Tetapi jika manusia ingin melihat sosok Tuhan yang murka terhadap dosa manusia, maka ia bisa berkaca kepada Tuhan di dalam Judaisme yang tidak segan-segan memerintahkan umat-Nya untuk membunuh orang-orang yang hidup dalam penyembahan berhala. Oleh karena itu menganggap suatu agama dengan pelbagai doktrinnya secara intrinsik lebih baik dari yang lain, merupakan sebuah sikap yang salah, ofensif, dan merupakan pandangan yang sempit.

Jadi apa yang harus dilakukan oleh umat agama untuk mewujudkan dunia yang lebih tenang untuk dihuni? Ini bisa terjadi jika saja umat beragama tidak sibuk saling beradu kontes kecantikan doktrin-doktrin yang mereka miliki. Dunia akan menjadi dunia yang damai ketika doktrin dan pelbagai polemik yang ditimbulkannya dikesampingkan terlebih dahulu. Alih-alih beradu argumentasi mengenai agama yang diridhoi Tuhan dan agama yang tidak diridhoi, bukankah lebih baik jika umat beragama duduk bersama dan menitikberatkan konsentrasi mereka pada penyelesaian permasalahan-permasalahan lingkungan hidup, etika sosial, dan masa depan kemanusiaan. Tidak ada satu agama pun yang tidak mengajarkan umatnya untuk saling bertolong-tolongan. Ketika agama menjadi dasar pijakan bagi para umat beragama untuk bergandengan tangan menyelesaikan krisis lingkungan hidup, mengentaskan kemiskinan, memerangi kebodohan, dan pelbagai penyakit-penyakit sosial lainnya, maka dunia yang damai dan tanpa kekerasan bukan lagi impian di siang bolong.

 

Dunia Baru Dengan Agama Baru

Sudah terbukti agama memiliki andil dalam pelbagai konflik di planet bumi yang sudah semakin uzur ini. Dari perang salib, perang saudara Serbia-Bosnia, sampai konflik di Ambon. Puluhan juta jiwa telah terbunuh sia-sia. Anak-anak yang seharusnya dipelihara agar menjadi harta masa depan, tewas dibunuh dengan sadis hanya karena perbedaan agama, dan ketidaksetujuan atas sebuah doktrin. Perempuan yang diciptakan untuk menjadi penolong seorang pria dan seharusnya dilindungi, diperkosa dengan sadis oleh pria-pria brengsek yang mengaku kaum beragama. Atas nama Tuhan seseorang bisa mencabut nyawa seseorang. Inikah dunia dan peradaban yang benar? Dunia yang katanya dihuni oleh manusia-manusia agamis, justru berubah menjadi medan peperangan yang mengerikan. Peradaban yang katanya sudah beradab, tetapi atas nama agama sanggup melakukan tindakan yang biadab. Bagaimana jalan keluar dari semua permasalahan ini? Biarkan agama tetap menjadi agama yang personal. Halangi usaha agama yang berusaha menyeruak masuk dalam ruang publik. Format ulang doktrin-doktrin yang berpotensi menimbulkan ketegangan dalam interaksi sosial. Dan pusatkan energi untuk mengatasi masalah-masalah kemanusiaan. Inilah agama masa depan. Agama yang tidak sibuk mengurusi kepercayaan orang lain. Agama dengan doktrin-doktrin yang mengedepankan semangat persaudaraan tanpa mencerca perbedaan yang dimiliki oleh agama lainnya. Dan agama yang duduk bersama guna memikirkan solusi yang efektif bagi penyelesaian masalah-masalah kemanusiaan.

 

***

 

 

(Penulis adalah seorang praktisi agama dan aktif terlibat dalam DPD Barisan Muda Damai Sejahtera Jawa Barat. Jabatan yang saat ini dipegangnya adalah Ketua Departemen Pemberdayaan Seni Budaya dan Lingkungan Hidup).


Blog EntryAgama Baru di Masa DepanFeb 21, '07 3:12 AM
by Roland for everyone

Kegagalan Agama

Suatu hari nanti, peradaban umat manusia tidak lagi membutuhkan dimensi spiritual atau agama—meskipun para rohaniwan selalu mengatakan agama adalah hal yang paling esensial dalam kehidupan manusia. A.N. Wilson dalam bukunya yang berjudul “Against Religion: Why We Should Try To Live Without It ?” , dengan pesimis menyatakan demikian:

 

         “Marx menggambarkan agama sebagai candu rakyat; tetapi agama,” kata Wilson, ”jauh lebih berbahaya daripada candu. Agama tidak membuat orang tertidur. Agama mendorong orang untuk menganiaya sesamanya, untuk mengagungkan perasaan dan pendapat mereka sendiri atas perasan dan pendapat orang lain, untuk mengklaim bagi diri mereka sendiri sebagai pemilik sejati sebuah kebenaran.”

 

            Terlepas dari pernyataannya yang bagi sebagian orang terasa menyakitkan, tetapi harus disadari ada potensi destruktif yang amat berbahaya dari sebuah agama. Jika ditinjau dari sudut sosiologis, agama harus diakui memang telah berhasil menimbulkan pelbagai konflik sosial, yang membawa berbagai macam perang antar agama yang sampai sekarang masih menjadi sebuah realita sosial di jaman modern ini. Krisis ini berakar pada claim of truth dan claim of salvation yang dilakukan oleh agama-agama mainstream.

Dawam Rahardjo, budayawan Islam sekaligus tokoh Islam Liberal Indonesia mengatakan kegagalan agama dalam mengatasi permasalahan sosial, dan juga dalam mengusahakan dialog antar agama yang berkelanjutan, menyebabkan manusia modern—seperti A.N. Wilson—menjadi skeptis terhadap klaim-klaim agama mainstream tersebut (Artikel-artikelnya dapat diakses di situs http://islamlib.com). Akibat kegagalan agama-agama tradisional itu, secara ekstrim manusia modern akan menjauhi agama. Mereka akan hidup hanya di pinggir lingkaran eksistensi, dimana manusia modern melihat segala sesuatu hanya dari sudut pandang pinggiran eksistensinya; tidak pada pusat spiritualitasnya sendiri. Memang dengan apa yang dilakukannya—memberi perhatian pada dunia dan eksistensi di luar dirinya—manusia memperoleh pengetahuan dunia material yang secara kuantitatif sangat mengagumkan, tetapi secara kualitatif dan keseluruhan tujuan hidupnya ternyata dangkal. Akibat kedua—seperti yang disampaikan oleh Jalaluddin Rakhmat dalam bukunya “Psikologi Agama”—ketika agama betul-betul tak sanggup lagi memberi pedoman bagi masa depan kehidupan manusia, manusia bisa terinspirasi untuk menciptakan agama baru, atau setidaknya melakukan berbagai eksperimen baru sebagai jalan keluar dari berbagai problem yang menghimpit kehidupan. Oleh kaum fundamentalis, kemunculan agama baru ini akan diberi label sesat.

            Masih segar dalam ingatan yaitu tentang meruaknya sebuah agama baru, yaitu Komunitas Eden yang digagas oleh Lia Aminuddin, yang serta-merta dilabeli sesat oleh kaum fundamentalis. Pada masa awal, ajaran ini banyak menggalang pengikut yang terdiri dari pelbagai latar belakang agama, termasuk pelbagai latar belakang pendidikan. Karena dianggap sangat meresahkan, sejak 22 Desember 1997 MUI telah memberikan fatwa. Fatwa yang ditandatangani Ketua MUI saat itu KH Hasan Basri dan Sekretaris Umum MUI Nazri Adlani, menyatakan dengan jelas bahwa Komunitas Eden adalah sesat. Tentu yang menjadi suatu bahan permenungan yang menarik, mengapa para pengikut Komunitas Eden yang notabene memiliki latar belakang yang terpandang baik secara akademis maupun status sosial—sangat bertolak belakang dengan latar belakang pengikut Pondok Nabi di Dayeuh Kolot—bersedia meninggalkan agama mereka dan mengenakan agama baru tersebut walaupun di dalamnya terdapat pelbagai ajaran yang aneh. Ini mengindikasikan bahwa manusia modern mulai muak dengan keberadaan agama yang gagal menjadi representasi Tuhan dalam peradaban manusia.

            Padahal agama sejatinya merupakan pertaruhan terakhir bagi kedamaian dalam peradaban manusia. Paling tidak hal tersebut dilatarbelakangi oleh dua hal. Pertama, alasan teologis. Selama ini semua agama selalu membawa misi perdamaian. Walaupun pada praktiknya tidak jarang agama menjadi bendera yang diarak untuk kekerasan, tetapi dimensi substansial agama tetap bergeming. Di dalam kitab suci agama-agama tersurat jelas tentang perdamaian dan penghargaan terhadap pluralitas agama. Dan hal tersebut tak akan pernah terhapus oleh ulah segelintir orang yang mengatasnamakan agama dan berobsesi untuk menciptakan satu agama. Oleh sebab itu, agama tetap dapat dipertaruhkan untuk kepentingan perdamaian dunia saat ini. Kedua, alasan teleologis. Berbagai ideologi dunia telah menorehkan sejarah yang telah ikut mencarut-marutkan nilai kemanusiaan. Agama dengan konsep teleologisnya selalu bisa memberikan harapan yang tak pernah habis-habisnya untuk menghadirkan perdamaian dan kedamaian dunia. Namun belakangan, dengan merebaknya isu terorisme, agama menjadi ajaran yang menakutkan dan mengerikan. Hal ini karena adanya kecenderungan pengatasnamaan agama atas tindakan-tindakan terorisme yang sejatinya bertentangan dengan substansi agama itu sendiri. Kenyataan ini merupakan agenda agama-agama untuk meng-clear-kan ajarannya yang agung dari "pencemaran" segelintir orang yang mengatasnamakan agama.

 

 

Agama dalam Perspektif Filsafat Perennial

Setidaknya ada empat perspektif keagamaan yang sedang berkembang dewasa ini. Pertama adalah perspektif persatuan agama-agama (unity of religions). Persepktif ini sudah banyak diwacanakan di Barat, juga di kalangan Islam. Di kalangan Islam juga sudah dikenal konsep “Kesatuan Agama-Agama” (wahdatul adyân) yang berkembang terutama di kalangan sufi. Tujuan dari perspektif ini adalah agar agama-agama itu tidak terpecah-belah dan bertengkar satu sama lain, lalu bersatu menghadapi, misalnya ateisme, agnostisme, dan marjinalisasi eksistensi dan peran agama-agama di dunia modern. Namun dalam persatuan itu, identitas agama-agama tidak perlu dilebur seperti dalam sikretisme.

Kedua, terbentuknya “Agama Kewargaan” (civil religion). Kalangan Kristen banyak yang keberatan dengan Agama Kewargaan ini. Namun konsep ini sudah berkembang di Amerika Serikat. Hanya saja, bahan bakunya berasal dari ajaran agama Kristen dan Yahudi yang telah dibumikan (mengalami rasionalisasi dan objektivikasi dalam bumi AS). Dalam masyarakat yang lebih plural agama, bahan bakunya bisa digali dari semua agama-agama dunia. Konsep ini menghimpun semua elemen kebenaran inklusif dari semua agama untuk dijadikan pedoman perilaku bagi warga negara. Tapi “agama” ini tidak disucikan sebagai suatu akidah keagamaan. Namun kaum Kristen juga keberatan dengan konsep ini, karena dianggap melemahkan kedudukan agama-agama, khususnya Kristen. Dalam kenyataannya, agama Kristen formal justru berkembang sangat marak di AS, dengan indikator tingkat kunjungan ke gereja yang makin tinggi.

Ketiga adalah harapan terbentuknya Etika Global (global ethics). Konsep ini dikembangkan oleh Hans Kung dan Leonard Swindler, keduanya adalah rohaniawan Katolik. Konsep ini sebenarnya berlatarbelakang Eropa, karena di kawasan itu, agama—khususnya Kristen—telah mengalami marjinalisasi yang ditandai oleh tutupnya gereja-gereja karena sepi pengunjung. Masyarakat Eropa tidak lagi menjadi penganut agama formal, tapi mengikuti etika umum. Masyarakat AS dianggap paling religius tetapi kurang etis, sebaliknya masyarakat Eropa dianggap tidak religius tetapi sangat etis. Di Jepang, agama-agama Sinto, Buddha, atau Konfusianisme, juga menyurut sebagai agama formal, tetapi masyarakat Jepang memiliki etika yang sangat tinggi. Di tingkat global, agama formal tampaknya juga menyurut karena saling berkelahi, tetapi spiritualisme marak.

Keempat, berkembangnya “Agama Publik” (public religion). Gagasan ini sebenarnya adalah reaksi terhadap sekularisasi agama yang sebagai kredo dan sistem peribadatan memang telah mengalami sekularisasi dan privatisasi, namun doktrin sosial agama ingin dihidupkan kembali, sehingga agama punya peran dalam wacana publik, di tingkat kebangsaan maupun global. Tetapi berbeda dengan agama privat yang sifatnya suci, konsep agama publik bersifat profan. Di dunia Islam, konsep “ekonomi syari’ah” umpamanya, dapat disebut sebagai salah satu contoh Agama Publik yang bisa diikuti tidak saja oleh orang Islam, tetapi juga pemeluk agama lain.

Jadi, agama yang telah gagal memperbaiki tatanan masyarakat—walaupun telah melakukan pelbagai klaim dengan segala klaim kebenarannya—secara tahap demi tahap niscaya akan mengalami evolusi yang pada akhirnya akan membentuk sebuah “spesies” agama yang baru. Dan embrio agama baru ini hanya bisa dibidani oleh sebuah filsafat yang akhir-akhir ini ramai mengisi ruang wacana agama-keagamaan, yaitu filsafat perennial. Ia dalam hal ini memberikan janji untuk pengisian visi ini.

Filsafat perennial—secara etimologis berarti kekal, selama-lamanya, atau abadi—dalam hal ini memberikan janji bagi dunia yang lebih baik di masa yang akan datang. Inti pandangan filsafat perennial adalah bahwa dalam setiap agama dan tradisi esoterik ada suatu pengetahuan dan pesan keagamaan yang sama, yang muncul melalui beragam nama dan dibungkus dalam berbagai bentuk dan simbol. Oleh karena itu, agenda pembicaraan yang diwacanakan dalam filsafat perennial adalah, pertama, tentang Tuhan, Wujud yang Absolut, sumber dari segala wujud. Tuhan Yang Maha Benar adalah satu, sehingga semua agama yang muncul dari Yang Satu, pada prinsipnya sama karena datang dari Sumber yang sama.

Kedua, filsafat perennial ingin membahas fenomena pluralisme agama secara kritis dan kontemplatif. Bagi penganut filsafat ini, agama itu tidak ubahnya seperti cahaya matahari yang terspektrum dalam pelbagai warna. Oleh karena itu, setiap agama memiliki kesamaan dengan yang lain, tetapi sekaligus juga memiliki kekhasan sehingga berbeda dari yang lain.

Ketiga, filsafat perennial berusaha menelusuri akar-akar kesadaran religiusitas seseorang atau kelompok melalui simbol-simbol, ritus, serta pengalaman keberagamaan.

Semangat yang dijaga oleh para penganut filsafat perennial kurang lebih berbunyi seperti ini, ”Anda tidak dapat mengatakan bahwa agama yang satu lebih baik dari yang lain. Semua agama pada dasarnya adalah relatif—yaitu terbatas, parsial, tidak lengkap—sebagai jalan dalam melihat segala sesuatu. Menganggap bahwa sebuah agama secara intrinsik lebih baik dari yang lain, merupakan sebuah sikap yang agak salah, ofensif, dan merupakan pandangan yang sempit.”

 

 

Ciri-ciri Agama Masa Depan

Menurut Komaruddin Hidayat, keberadaan filsafat perennial ini akan merenovasi cara pandang dan aspek spritual manusia modern. Melaluinyalah format agama yang baru akan terbentuk. Namun ini tidak berarti agama masa depan yang muncul merupakan agama yang terpisah dari dan berbeda samasekali dari agama-agama tradisional. Tidak! Ia mungkin akan tetap mengenakan baju yang sama dengan agama tradisional. Bahkan bisa saja ia berbentuk plural akibat perkawinan bermacam-macam agama—seperti Lia Aminuddin yang berusaha mempersatukan agama Islam dan Kristen. Bagaimanapun wujud agama masa depan—entah mengalami perubahan atau tidak—yang pasti pada tataran esoteris dan puncak-puncak peradaban itu akan muncul suatu paham keberagamaan eklektis dan sikap keberagamaan yang lebih humanistik-universal. Agama masa depan yang akan muncul adalah agama yang mengedepankan usaha untuk menghargai persamaan nilai-nilai luhur pada setiap agama; sementara agama parokhial pada tingkat tertentu cenderung melihat perbedaannya dari agama lain karena kepentingan ideologis. Agama masa depan juga akan lebih menitikberatkan pada permasalahan-permasalahan lingkungan hidup, etika sosial, dan masa depan kemanusiaan, dengan mengandalkan pada kekuatan ilmu pengetahuan empiris dan kesadaran spiritual yang bersifat mistis. Karena di dalam agama masa depan yang didasarkan atas filsafat perennial, mereka tidak akan mengenal semacam beauty-contest dari doktrin-doktrin normatif. Karena sejatinya daya tahan agama seharusnya diletakkan pada kemampuannya menjawab masalah-masalah kemanusiaan, bukannya pada upaya keras menjaga kemurnian doktrin-doktrin keagamaan. Agama masa depan adalah sebuah agama yang akan dihayati sebagai sebuah wadah, ekspresi, dan manifestasi pencarian makna hidup manusia melalui aktualisasi kemanusiaannya. Bagi sekelompok orang, agama akan terbingkaikan dalam simbol-simbol baru yang lebih dihayati dan lebih cocok dengan pilihan dan tingkat peradabannya. Jika di masa lalu Kitab Suci dijadikan sumber justifikasi dan sumber otoritas untuk menentukan perilaku umat beragama secara dogmatis, maka di masa yang akan datang Kitab Suci akan mengalami pergeseran peran. Ia akan diposisikan sebagai mitra dialog hermeneutik. Pada akhirnya, manusia modern akan menyadari bahwa yang merekalah yang akan membentuk makna pada seluruh isi Kitab Suci.

Sebagai akhir dari tulisan ini, tentu masa depan agama dan bentuk agama yang bagaimana yang dibutuhkan di masa yang akan datang, atau apakah betul agama tidak dibutuhkan lagi oleh manusia modern, masih meninggalkan sebuah misteri besar. Pada akhirnya memang tidak ada yang baru dalam filsafat perennial. Mereka hanya menerjemahkan apa yang secara tradisional telah menjadi keyakinan seluruh umat manusia, yaitu adanya Yang Suci atau Yang Satu dalam seluruh manifestasi kehidupan manusia. Penerimaan adanya the common vision ini berarti menghubungkan kembali the many—dalam hal ini adalah realitas eksoteris agama-agama—kepada asalnya The One, Tuhan yang diberi berbagai macam nama oleh para pemeluknya, sejalan dengan perkembangan kebudayaan, kesadaran sosial dan kesadaran spiritual manusia. Pada dasarnya, agama yang diperlukan oleh manusia pada setiap zaman adalah agama yang bisa memberikan sebuah pencerahan hati dan akal; agama yang mampu membebaskan manusia dari dominasi dan pengaruh keduniawian yang menyebabkan tumpulnya kesadaran transendental manusia. Semoga kisah agama-agama di muka bumi dapat terjalin dengan mesra, saling menerima, dan penuh kasih persaudaraan. Inilah fitrah agama sesungguhnya; ketika agama tradisional tidak dapat menjalani fitrah sesungguhnya, maka mungkin di masa depan kisah indah itu dapat tetap terjalin dan terlihat dalam wajah baru sebuah agama masa depan. Semoga saja.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

  1. Hidayat, Komaruddin dan M. Wahyudi Nafis. Agama Masa Depan: Perspektif Filsafat Perennial (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2003).
  2. Rakhmat, Jalaluddin. Psikologi Agama (Bandung: Mizan, 2003).
  3. Coward, Harold. Pluralisme: Tantangan Bagi Agama-agama (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1989).
  4. Smith, Huston. Agama-agama Manusia (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1991).

 


Blog EntryKebencian Sebagai Pemersatu UmatDec 21, '06 1:28 PM
by Wadehel for everyone
Desember 20th, 2006

Dewan Sekte yang sangat saya hormati,

Sadarkah anda akan bencana yang mengancam kelestarian kelompok kita? Semakin hari kesetiaan umat kita makin berkurang. Penghormatan mereka terhadap kita mulai meluntur. Mereka mulai berbuat seenaknya. Dan yang paling mengerikan, mereka mulai menganggap kita sebagai manusia biasa! Mereka tidak lagi mengagungkan kita sebagai wakil Tuhan!

Dipastikan, beberapa hal ini yang jadi penyebabnya,

  • Bosan dengan ajaran yang tidak manusiawi
  • Bosan dengan aturan basi yang hanya cocok untuk binatang purba
  • Bosan ditakut-takuti siksa neraka
  • Bosan diimingi janji-janji surga

Kita harus waspadai gejala ini. Bila hal ini kita biarkan, pelan tapi pasti, umat kita akan bubar! Umat kita akan habis! Mungkin malah direkrut oleh sekte lain. Yang pasti, pada akhirnya kita tidak dibutuhkan lagi! Anda tidak ingin hal itu terjadi kan? Hah?! HAH?!?

Lalu apa yang harus kita lakukan? Merevisi ajaran sama sekali BUKAN pilihan, karena ajaran itu setara dengan Tuhan. Merevisi ajaran sama saja dengan merevisi Tuhan! Karena itu saya tawarkan jalan keluar lain. Saya tawarkan “KEBENCIAN” sebagai solusi. Caranya begini:

  1. Tanamkan kebencian dan prasangka buruk, semakin buruk, semakin baik. Yakinkan umat bahwa kelompok lain selalu ingin menyesatkan dan menghabisi kita. Dalam ketakutan, mereka akan selalu berlindung dan setia dalam kelompoknya. Hal ini juga membuat mereka lebih resisten dari cuci otak yang dilancarkan kelompok lain.
  2. Selalu memupuk dendam. Ingatkan selalu akan penganiayaan terhadap saudara-saudara mereka. Pastikan kelompok lain tampak kejam dan selalu mencari gara-gara. Semangat membalas dendam yang selalu berkobar adalah investasi bagus. Dengan sedikit menarik picu, mereka bisa kita ledakkan kapan pun dan dimanapun.
  3. Tak ada keselamatan bagi mereka yang tidak mengikuti kita. Yakinkan mereka, hanya ajaran kita lah yang ber-ujung surga. Kita habisi mereka yang mulai ragu. Lenyapkan mereka yang mulai kritis. Kita tak perlu umat yang bisa berpikir, yang kita perlukan hanyalah umat yang bisa nurut!

Benamkan semua ke dalam benak mereka, secara intensif dan repetitif. Secara berkelanjutan. Tanamkan hal yang sama pada anak-anak mereka untuk memastikan generasi mendatang yang lebih beriman. Kalau perlu kita buat asrama-asrama dan kurikulum khusus untuk itu. Kita pastikan semuanya tertanam permanen dalam otak dan jiwa mereka.

Bila hal tersebut sukses kita terapkan, maka kita akan mempunyai umat yang solid dan setia. Pasukan berani mati yang rela melakukan apapun perintah kita. Sekte kita akan sukses luar biasa!

Sebagai tambahan, sadarkah anda bahwa umat seperti itu memiliki nilai komersil? Bila mau, kita bisa saja menerima order penghancuran dari pihak manapun yang bersedia membayar mahal! Tinggal tarik picu dan umat kita akan melesat tanpa ragu, menghancurkan apun sesuai pesanan klien kita. Bayangkan… bayangkanlah saudara-saudara! Betapa kita akan kaya raya!!

Oke, sekian dari saya. Saya harap kita bisa secepatnya mengambil keputusan.

Terimakasih.

Diambil dari http://wadehel.wordpress.com

Setelah baca alasan-alasan itu, apakah anda setuju dengan diadakannya pengiriman para agamawan fanatik dan umatnya untuk berjuang di jalan Allah?
   

Kenapa harus dukung Pasukan Bom Jihad?

July 24th, 2006

Pasti ada beberapa manusia berhati nurani yang masih bertanya-tanya, kok bisa-bisanya gw mendukung Pasukan Bom Jihad Palestina? Berikut ini adalah penjelasannya:

  1. Lokalisasi konflik agama.
    Para fanatik dimanapun mereka berada, pasti menimbulkan ketidaknyamanan bagi manusia-manusia yang ada di sekitarnya. Lihat saja fatwa-fatwa MUI, tingkah laku FPI dan MMI, juga kelompok lain. Para fanatik selalu memicu konflik. Dengan diberangkatkannya mereka semua kesana, konflik agama bisa dipusatkan, mereka juga bisa bersatu-padu melawan musuh bersama: si Bangsat Pukimak Israel. Setelah nanti menang, silahkan mereka menetap disana, bangunlah region kekhalifahan madani, lengkap dengan syariah hidup sesuai pemahaman agung mereka.
  2. Memudahkan para fanatik masuk surga
    Para fanatik, dari agama dan aliran apapun, pasti merindukan surga. Nah, kalaupun dalam jihad nanti mereka terbunuh, mati di jalan Allah akan membuat mereka bisa langsung tinggal di syurga. Penuh dengan bidadari yang selalu perawan, lengkap segala kenyamanan yang selama ini mereka impikan. Semua bahagia. Semua bisa langsung dinikmati tanpa birokrasi berbelit! Hanya orang GOBLOK yang menolak iming-iming surga seperti itu!
  3. Memelihara Persatuan dan Kesatuan Indonesia
    Dengan perginya semua orang beriman kuat dan para maniak keseragaman dari bumi Indonesia, tidak akan ada lagi orang-orang pemaksa yang doyan sok ngatur bagaimana memilih kepercayaan ataupun beribadah sesuai pemahaman tertentu. Tidak adanya saling paksa dalam beragama jelas membuat Indonesia sejuk dan jauh dari perpecahan karena agama.
  4. Membersihkan Indonesia dari Agamawan Palsu yang berisik!
    Semua orang yang beragama kuat pasti tidak rela saudara seimannya di bantai semena-mena, selain itu mereka juga pasti sangat ingin masuk surga, so pasti mereka akan berangkat dong. Jadi kalau masih ada agamawan yang tinggal disini lalu teriak-teriak memaksakan aturan agama atau ngecap orang/golongan lain sebagai kafir, atau nuntut-nuntut dengan alasan penistaan agama, tapi beliau tidak ikut berangkat jihad membela agama dan saudara seimannya, gebukin aja, pasti dia agamawan imitasi, calo surga palsu!

Bagaimana dengan efek negatif? Ya pasti ada, tapi paling-paling hanya untuk Israel. Gak masyalah, toh dalam kitab yang diyakini suci Yahudi juga dilaknat-laknat. Biar mampus aja sekalian. Salah mereka sendiri, kenapa juga mau dilahirkan sebagai Yahudi terlaknat.

Mungkin ada manfaat positif lain? Silahkan menambahkan!
Yang jelas, pemerintah harus mendukung misi suci ini!



Blog EntryDUKUNG PASUKAN BOM JIHAD PALESTINA !!!Jul 24, '06 9:21 AM
by Wadehel for everyone

Setelah gw ngeliat tujuh puluh tujuh buah gambar mengerikan tentang kekejaman zionis Israel terhadap manusia-manusia Palestina, maka (setelah sedikit berpikir) gw putuskan untuk mendukung diberangkatkannya Pasukan Bom Jihad Palestina!

Gw harap seluruh umat beragama (tidak hanya Islam, karena Yarusalem adalah kota suci) yang mengaku beriman agar segera berangkat seluruhnya dan secepatnya. Terutama seluruh anggota MUI, MMI dan FPI, sangat gw harapkan semuanya bisa segera bergabung dalam misi suci ini. Tidak ketinggalan, yang terhormat Habib Rizieq dan yang mulia Abu Bakar Ba’ashir, gw sangat berharap beliau-beliau ini bersedia turun dan memimpin langsung sebagai ujung tombak misi suci ini.

Mari berjihad!

Yakinlah, pahala yang didapat dari membunuhi para zionis bangsat laknat yang keji itu pasti lebih besar daripada nyomasi grup boyband gak jelas atau pun mengurusi pantat artis kampung yang tak berdaya. Surga yang akan anda dapat dari misi ini pasti jauuuh lebih indah daripada surga hasil merusak kafe-kafe milik kaum yang kurang iman! Daripada sibuk ngurusi majalah porno dan hal-hal kayak gituan, lebih baik anda berjihad dalam bentuk nyata, mumpung ada kesempatan!

Surga menanti anda!!! InsyaAllah!!

Alasan lain kenapa gw bisa sampai mendukung bisa dibaca di sini, kalau anda baca, pasti ikut setuju, pasti!! hehehehe...


Blog EntryDarah Ulama Buta Mata dan HatiJun 26, '06 3:24 AM
by Wadehel for everyone
Beberapa bulan belakangan ini, media massa dihiasi, drama para ulama yang saling adu bicara, bahkan ada yang dituntut agar masuk penjara. Di internet para anggota mailing list tak kalah hebat, saling serang dan menjelekkan agama satu dengan yang lain. Organisasi saling adu massa, bersilang sengketa, tentang moralitas. Porno aksi dan porno grafi, seolah menggetarkan Nusantara, sebelum gempa bumi menggetarkan tanah Jogya.

Para oknum brahmana, pendeta dan ulama laknat, sekarang lagi mengendap-endap, mumpung perhatian media terfokus pada bencana, memasang strategi pemaksaan kehendak, mengegolkan aturan pengerem syahwat. Jelas ini pertanda, para ulama sudah putus asa, lari dari tugas tanggung jawab sebagai penjaga moralitas. Melemparkan tanggung jawab, karena tahu, bahwa moralnya sendiri rusak nan bejat. Banyak yang ngaku ulama, tapi kalau ada kesempatan nyoblos janda atau perawan, hukum agama dibelokkan untuk pembenaran. Memang begitulah brahmana mabok arta-brana, tinggal glanggang colong playu, meninggalkan tugas dan tanggung jawab sosio-kultural, tetapi sangat getol masuk ke area politik, baik jadi pemain atau dibayar murah sebagai pengumpul suara saat pilkada..

Sodara-sodaraku,

Tidak pernahkah kamu tahu, perilaku syeikh kaya raya, di tenda mewah padang pasir Dubai? Sekali jentikan jari, gadis-gadis cantik asal Lebanon bergoyang gemulai, berpakaian minim, perut pusar terbuka – pengundang syahwat luar biasa. HEI para brahmana lupa agama, tidakkah kau rasakan sakit hati para TKW, berlinang air mata, diperkosa, disodok paksa tongkat maksiat, pria tanah Arab ? Kalau engkau tahu tapi purah-purah tidak tahu, maka engkau tergolong Ulama Buta Mata dan Buta Hati.

Akankah kita mengacu pada nilai-nilai padang pasir, dimana aturan cadar dan pakaian, ternyata tidak bisa menghentikan gejolak nafsu syahwat lelaki bejat ? Bukankah di jazirah Arab, yang kita jadikan acuan, penyedot devisa wisata moral, tumbuh bagai jamur di musim hujan, tempat bejat pemuas syahwat ? Sementara kita di tanah Nusantara, ribut gontok-gontokkan, mencontoh aturan yang jelas-jelas gagal diterapkan di tanah Arab. Aturan yang tak mampu, mengurangi kebejatan moral oknum disana. Kalau disana aturan agama saja tak digubris, bahkan oleh para penguasa padang pasir, yang katanya keturunan orang suci, lalu kenapa kita seperti dicokok hidung, ikut model mereka ?

Tidakkah lebih baik mencontoh laku prihatin ? Prihatin terhadap keadaan bangsa kita yang saat ini terpuruk tanpa jalan keluar. Akankah kita terus cakar-cakaran, berdebat tentang cocok tidaknya budaya padang pasir ? Sementara jelas-jelas kita tahu, tlatah Nusantara beda dengan padang pasir, sehingga model sorban, cadar, pakaian panjang, tidak cocok untuk daerah tropis seperti ini. Tidakkah aneh, kalau ada warga gunung kidul, kurus kudisan, petani ketela, memelihara jenggot panjang, meniru wajah-wajah tanah Arab, dimana jenggot lebat memang menjadi pemanis struktur wajah warga padang pasir ?

Kemulian karya-karya orang suci tanah Arab, tidaklah saya abaikan. Akan tetapi saya simpan dalam hati, dan saya gunakan dalam melaksanakan kehidupan. Apakah kita perlu menonjolkan jati diri, membanggakan identitas, berbondong-bondong ke tempat suci, sambil membawa niat, hanya untuk mengharap mukjizat, kejatuhan pangkat dan derajat ? Akankah kita terus mempelajari sareat, tarik urat mempertahankan pendapat, tetapi tidak memahami hakekat ?

Warga bangsa yang saya cintai,

Anak bangsa, bagai domba bodoh yang digiring kesana kemari, oleh ulama yang buta mata dan hati. Karena tak paham arti kiasan dari karya suci nan indah, lalu para manipulator ayat, menggiring rakyat jelata ke jurang sesat yang akhirnya mendapatkan laknat. Diajarkan membaca ayat-ayat suci, akan tetapi, lidahnya lidah jawa, syair arab dilagukan dandang gula ala palaran.

Sudah terlalu jauh langkah yang telah dilakukan oleh anak-anak bangsa. Sepertinya bukan lagi meneladani Kanjeng Nabi, tetapi sudah terlalu banyak digiring dan dicekoki oleh ulama bejat. Brahmana laknat, hanya mempertajam sarengat, tanpa tahu hakikat, meneriakkan seruan jahat, yang dibalik itu, hanya ada niat untuk menjadi jongos para ningrat pejabat laknat.

Hei anak-anak Nusantara ! jangan kau ikuti, tingkah polah brahmana ulama buta mata dan buta hati. Sebentar lagi, para danyang-danyang tanah Nusantara, akan datang menyantap habis satu persatu, ulama penjual ayat, pejabat bejat, pedagang penggarong duit rakyat. Janjinya pasti dipenuhi, seperti dipenuhinya, pertanda yang diberikan sejak 500 tahun yang silam, yang saat ini terbukti yakni Gunung Merapi Meletus, Laharnya Berbau Amis. Setelah gunung meletus, maka tanda berikutnya adalah, darah mengucur dari tubuh ulama buta mata dan hati. Sebagai tumbal bagi para Danyang Tanah Jawi. Tak ada yang akan bisa menghalangi.

Rakyat jelata Nusantara, jauhilah para ulama buta mata dan buta hati. Jauhilah brahmana bejat, yang suka mengail di air keruh, penikam kawan seiring, penggunting dalam lipatan. Pendeta bejat yang mengesampingkan budi pekerti, untuk meraih uang dan kekuasaan. Jaga hati nurani, agar tidak ikut terseret perintah pendeta gila. Tetaplah teguh walau hidupmu terasa berat, bahkan melarat. Jangan percaya pinandita mabok harta, tinggalkan ulama bejat, biarlah dia berkoar di padang pasir dan sendirian terkena laknat. Sahabat, ingatlah selalu, bahwa sebaik-baiknya orang yang lupa daratan, akan lebih bahagia orang yang tetap ’eling’ dan selalu ’waspada’.

Oleh para pendeta, wahyu suci sering disalah gunakan. Brahmana munafik mengaku penganut kerohanian, akan tetapi wahyu yang tadinya merupakan sumber air yang jernih, dikeruhkan oleh lumpur tabiat manusia dusta yang berpura-pura menjadi penganutnya. Agama hanya alat angkara murka sang Brahmana. Perbuatan munafik para ulama, brahmana, pendeta dan sebangsanya, adalah penyebab, terjadinya penghisapan, penindasan dari suatu golongan terhadap sesamanya di Nusantara.

Hei Ulama Buta Mata dan Hati, setelah Gunung Merapi, Meletus Laharnya Berbau Amis, maka tiba giliran Danyang Tanah Nusantara akan melenyapkanmu. Darahmu akan tercecer dalam waktu dekat, sebagai tumbal tanah Nusantara.

Maktub.

Salam Hormat,

Ki Jero Martani - http://360.yahoo.com/kijeromartani




Indonesian Community
Join this Group!RSS FeedHelp on RSS FeedsAdd to My Yahoo
Report Abuse
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Modified from Mediterranean by John Whittet.
Originally on the CSS Zen Garden.
Used and Modified with permission from the author.