Group's posts with tag: abangan

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag abangan
Event Pengajian Akbar Habib Syech (dari Solo)Jul 20, '07 3:31 AM
by Prabu for everyone
Start:     Jul 23, '07 7:30p
End:     Jul 23, '07 11:00p
Location:     Halaman Masjid Al Falah Margoyoso Kalinyamatan Jepara (Sebelah Barat Bang-Jo Gotri ke Utara)
Diselenggarakan oleh remaja Masjid Al Falah Margoyoso Kalinyamatan Jepara - Jawa Tengah.

for everyone

A s v i    W a r m a n    A d a m :

Sejarawan LIPI, Visiting Fellow pada KITLV Leiden

“Habis Gelap Terbitlah Terang”

Sesungguhnya Adalah Cahaya Islam.


Pembicaraan tentang Kartini seakan-akan tidak pernah habis-habisnya. Berbagai penulis di luar dan dalam negeri menyorotinya dari berbagai aspek dengan berbeda perspektif dan kepentingan. Aspek spiritual keagamaan tokoh emansipasi ini bisa dilihat dari sisi kejawen, komunis, Islam, dan Kristiani. Sebagaimana terlihat dari tiga buku yang ditulis tentang Kartini.

  1. Pertama, Panggil Aku Kartini Saja, karya Pramoedya Ananta Toer (1962, cetak ulang tahun 2000);
  2. Menemukan Sejarah: Wacana Pergerakan Islam di Indonesia yang ditulis Ahmad Mansur Suryanegara (1995); dan
  3. Tuhan dan Agama dalam Pergulatan Batin Kartini oleh Th Sumartana (1993). Tulisan ini juga menyinggung artikel St Sunardi, Ginonjing: Emansipasi Kartini pada majalah Kalam (No 21, 2004).

Sinkretisme

 

Ada usaha untuk menggambarkan figur Kartini sebagai wanita yang menganut faham sinkretisme. Kartini mengatakan bahwa ia anak Budha, dan sebab itu pantang daging.

Suatu waktu ia sakit keras, dokter yang dipanggil tak bisa menyembuhkan. Lalu datanglah seorang nara pidana Cina yang menawarkan bantuan mengobati Kartini. Ayah Kartini setuju. Ia disuruh minum abu lidi dari sesaji yang biasa dipersembahkan kepada patung kecil dewa Cina. Dengan itu ia dianggap sebagai anak dari leluhur Santik kong dari Welahan.

Setelah minum abu lidi persembahan untuk patung Budha itu, Kartini memang sembuh. Ia sembuh bukan karena dokter, tapi oleh obat dari ''dukun'' Budha. Sejak itu Kartini merasa sebagai ''anak'' Budha dan pantang makan daging.

Pramoedya menulis, ''Bagi Kartini semua agama sama, sedangkan nilai manusia terletak pada amalnya pada sesamanya yaitu masyarakatnya.'' Kartini menemukan dan mengutamakan isi lebih daripada bentuk-bentuk dan syariat-syariat, yaitu kemuliaan manusia dengan amalnya pada sesama manusia seperti dibacanya dalam rumusan Multatuli ''tugas manusia adalah menjadi Manusia, tidak menjadi dewa dan juga tidak menjadi setan''.

Menurut Kartini, ''Tolong menolong dan tunjang menunjang, cintai mencintai, itulah nada dasar segala agama. Duh ,kalau saja pengertian ini dipahami dan dipenuhi, agama akan menguntungkan kemanusiaan, sebagaimana makna asal dan makna ilahiah daripadanya: karunia.'' (hlm 235).

Sebelumnya Kartini telah menegaskan bahwa ''agama yang sesungguhnya adalah kebatinan dan agama itu bisa dipeluk baik sebagai Nasrani maupun sebagai Islam dan lain-lain.'' (hlm 234)

Kartini dan Alquran

 

Di dalam buku Menemukan Sejarah: Wacana Pergerakan Islam di Indonesia terdapat sebuah bab yang berjudul 'Pengaruh Al Quran terhadap Perjuangan Kartini'. Pandangan Kartini tentang Islam disoroti secara positif. ''Segenap perempuan bumiputra diajaknya kembali ke jalan Islam. Tidak hanya itu, Kartini bertekad berjuang, untuk mendapatkan rahmat Allah, agar mampu meyakinkan umat agama lain memandang agama Islam, agama yang patut dihormatinya'' (surat kepada Ny van Kol, 21 Juli 1902.)

Menurut Ahmad Mansur Suryanegara, Ny Van Kol berusaha mengajak Kartini beralih kepada agama Kristen. Namun hal ini ditolak oleh sang putri Bupati Jepara itu. Bahkan ia mengingatkan zending Protestan agar menghentikan gerakan Kristenisasinya. Jangan mengajak orang Islam memeluk agama Nasrani.

Sejak lama Kartini resah sebab tidak mampu mencintai Alquran karena Alquran terlalu suci, tiada boleh diterjemahkan ke dalam bahasa manapun. Di sini tiada seorang pun tahu bahasa Arab. Orang disini diajarkan membaca Alquran, tetapi yang dibacanya tiada yang ia mengerti. Demikian pengakuan dirinya tentang kebutaannya terhadap Alquran kepada Stella Zeehandelaar (18 Agustus 1899). Kartini merindukan tafsir Alquran agar dapat dipelajari.

Betapa bahagianya Kartini setelah mendapat penjelasan kandungan isi Alquran, seperti digambarkannya kepada EC Abendanon, ''Alangkah bebalnya, bodohnya kami, kami tiada melihat, tiada tahu, bahwa sepanjang hidup ada gunung kekayaaan di samping kami''. Dirasakannya ada semacam perintah Allah kepada dirinya, ''Barulah sekarang Allah berkehendak membuka hatimu, mengucap syukurlah!''

''Sekarang ini kami tiada mencari penghibur hati pada manusia, kami berpegang teguh teguh di tangan-Nya. Maka hari gelap gulita pun menjadi terang dan angin ribut pun menjadi sepoi-sepoi''. Kata habis gelap terbitlah terang selain tercetus 17 Agustus 1902 juga karena pengaruh cahaya yang menerangi lubuknya hatinya. Minazh zhulumati ilan nur Ini tafsiran Ahmad Mansur Suryanegara.

Akrab dengan ajaran Kristen

 

Di dalam buku yang ditulis Th Sumartana diakui bahwa Kartini lahir dan meninggal sebagai muslimat (hlm 67). Namun ia memiliki kedekatan dengan ajaran Kristen. Bagaimana pendapatnya tentang zending?

Berbeda dengan uraian Ahmad Mansur Suryanegara, Th Sumartana melihat dari sudut pandang lain. Menurutnya, Kartini menganggap tidak jujur apabila zending memancing di air keruh dan mempropagandakan agama Kristen di tengah-tengah orang Jawa yang miskin, penuh penyakit dan bodoh, tanpa lebih dulu mendidik mereka, mengobati dan menolong mereka dari kemiskinan. Iman dan kepercayaan yang benar menurut Kartini hanya bisa dimiliki oleh orang-orang yang sudah benar-benar sadar memilih, dan mereka yang sudah dewasa (hlm 47).

Jadi bagi Th Sumartana, persoalannya bukankah masalah mengkristenkan orang Islam, sebagaimana yang disoroti oleh banyak ulama.

Kartini menggambarkan bahwa ada hubungan yang dekat dan intim antara dirinya dengan Tuhannya. Kedekatannya dengan Tuhan tersebut pada gilirannya memperoleh gambaran tertentu yang diambil dari kehidupan keluarganya sendiri, yaitu hubungan antara bapak dan anak. Ia sendiri amat dekat dengan ayahnya, sekalipun dalam banyak perkara mereka tidak sependapat, hal itu tidak mengurangi rasa kasih sayang dan saling menghormati di antara mereka berdua.

Sebab itu ketika Ny van Kol mengintroduksi ungkapan ''Tuhan sebagai Bapa'', Kartini segera menyambutnya dengan semangat. Ungkapan tersebut dianggap tepat, sebagai cetusan pengalaman batinnya sendiri. Dengan demikian, dapat dipahami jikalau dalam surat-surat Kartini ungkapan Tuhan sebagai Bapa yang penuh kasih sayang tersebar di sana-sini.

Dalam suratnya kepada Ny van Kol tanggal 20 Agustus 1902, ia menulis: ''Ibu sangat gembira... beliau ingin sekali bertemu dengan Nyonya agar dapat mengucapkan terima kasih secara pribadi kepada Nyonya atas keajaiban yang telah Nyonya ciptakan pada anak-anaknya; Nyonya telah membuka hati kami untuk menerima Bapa Cinta Kasih!''

Pada surat lain, Kartini menulis ''Agama dimaksudkan supaya memberi berkah. Untuk membentuk tali persaudaraan di antara semua makhluk Allah, berkulit putih dan cokelat. Tidak pandang pangkat, perempuan atau lelaki, kepercayaan semuanya kita ini anak Bapa yang Satu itu, Tuhan yang Maha Esa!''

Dari Ny van Kol pula Kartini belajar membaca Bijbel. Dan mengerti sebagian dari beberapa prinsip teologis dari ajaran Kristen. Malahan turut pula mengambil alih beberapa kata yang punya arti tertentu dalam cerita Al-Kitab, seperti Taman Getsemane, tempat Yesus berdoa dan menderita sengsara.

Dalam surat kepada Ny van Kol, Agustus 1901, Kartini menyebut bahwa derita neraka yang dialami oleh kaum perempuan itu disebabkan oleh ajaran Islam yang disampaikan oleh para guru agama pada saat itu.

Agama Islam seolah membela egoisme lelaki. Menempatkan lelaki dalam hubungan yang amat enak dengan kaum perempuan, sedangkan kaum perempuan harus menanggungkan segala kesusahannya. Perkawinan cara Islam yang berlaku pada masa itu, dianggap tidak adil oleh Kartini. (hlm 41).

Itu bukan dosa, bukan pula aib; ajaran Islam mengizinkan kaum lelaki kawin dengan empat orang wanita sekaligus. Meskipun hal ini seribu kali tidak boleh disebut dosa menurut hukum dan ajaran Islam, selama-lamanya saya tetap menganggapnya dosa. Semua perbuatan yang menyebabkan sesama manusia menderita, saya anggap sebagai dosa. Dosa ialah menyakiti makhluk lain; manusia atau binatang. (hlm 41)

Kritik Kartini yang keras terhadap poligami mengesankan ia anti-Islam. Tetapi sebetulnya tidak demikian, ujar Haji Agus Salim.

''Suara itu haruslah menjadi peringatan kepada kita bahwa besar utang kita dan berat tanggungan kita akan mengobati kecelakaan dan menolak bahaya itu. Dan kepada marhumah yang mengeluarkan suara itu, tidaklah mengucapkan cela dan nista, melainkan doa mudah-mudahan diampuni Allah kekurangan pengetahuannya dengan karena kesempurnaan cintanya kepada bangsanya dan jenisnya.'' (hlm 43).

St Sunardi dosen Universitas Sanata Dharma Yogyakarta mengulas aspek emansipasi yang dilancarkan oleh Kartini yang mencakup emansipasi kelembagaan dalam bidang pendidikan, emansipasi keluarga, bahasa, dan olah rasa.

Ginonjing adalah nama gending kegemaran Kartini dan adik-adiknya yang menggambarkan pengalaman batin yang tidak menentu. Ada suasana muram saat Kartini mengunyah ide emansipasi di Eropa dan membandingkan dengan keadaan di Jepara saat itu.

''Siapa pun yang terpilih oleh nasib menjadi ibu ruhani untuk melahirkan yang baru harus menanggung derita. Ini adalah hukum alam siapa yang melahirkan harus menanggung kesakitan saat melahirkan bayi yang teramat sangat kami cintai.''

Ternyata kemudian Kartini tidak jadi belajar ke negeri Belanda. Ia menerima lamaran Bupati Rembang yang sudah beristri tiga dan punya anak tujuh. Kartini memang manusia biasa dengan segala keterbatasannya. Namun wacana tentang perempuan yang satu ini masih tetap hidup baik di kalangan penganut aliran kepercayaan, Islam, Protestan, Katholik, dan komunis, dengan berbagai versi dan beraneka kepentingan.

Bagi Kartini semua agama sama, amal terhadap sesama manusia lebih penting dari syariat. Demikian interpretasi Pram.

''Habis gelap terbitlah terang'' disebabkan oleh karena lubuk hati Kartini telah memperoleh nur Ilahi, demikian pendapat Ahmad Mansyur Suryanegara.

''Tuhan sebagai Bapa'', merupakan cetusan hati Kartini, begitu ujar Th Sumartana. ''Ibu rohani menanggung derita'', ucap St Sunardi.

Meskipun bersuara keras menentang poligami, Kartini bukan anti-Islam, kata Haji Agus Salim.

Kartini tampaknya ditakdirkan menjadi milik semua golongan dan diperebutkan oleh berbagai kepentingan.

 

Pertanyaan yang dapat diajukan di sini, mana yang lebih penting apakah label agama/ideologi seseorang atau perjuangannya untuk emansipasi bangsa? (RioL)

 

 

 

A g a m a   ' K a r t i n i '

Sejarah  Oleh :Redaksi 25 Apr 2005 - 8:30 am

 

Sesungguhnya di akhir hidup Kartini, Kartini sedang semangat-semangatnya mempelajari Islam, dengan Kyai yang ada di keratonnya. Ketika Kartini mempelajari Islam, dia katakan bahwa sesungguhnya agama Islam tidak memarjinalkan perempuan. Sehingga sesungguhnya semangat Kartini bukan semangat emansipasi, tetapi menuntut bahwa perempuan juga seharusnya diberikan hak untuk mendapatkan pendidikan, karena pendidikan adalah jendela dari seluruh kemajuan.

Tanggal 21 April oleh bangsa Indonesia di abadikan sebagai hari Kartini. Dengan maksud untuk mengenang semangat Kartini dalam memberdayakan kaum perempuan. Apa sebenarnya yang diperjuangkan oleh Kartini? Apa kaitannnya dengan semangat perjuangan Islam.

Berikut ini adalah wawancara PKS Online, dengan Anggota Komisi A DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PKS, Maria Ahdiati. Berikut nukilannya.

Bagaimana pendapat Ibu tentang perayaan Hari Kartini di Indonesia?

Saya melihat perayaan hari Kartini itu harusnya lebih di lihat lagi substansinya. Jadi bukan sekedar pada acara-acara seremonial, atau pemakaian kebaya. Bukan berarti saya anti itu. Tapi marilah kita lihat, bahwa perayaan hari Kartini itu kita lihat secara subtansinya. Kalau Kartini punya semangat pemberdayaan wanita, maka itu juga yang seharusnya diperhatikan oleh kita.

Sekarang inikan bangsa Indonesia dengan berbagai krisis, termasuk yang sedang hangat yaitu kenaikan BBM, saya merasa bahwa yang kena dampak langsung dari kenaikkan BBM adalah kaum perempuan. Karena contoh terkecil di rumahnya, perempuanlah yang paling depan menghadapi itu. Mulai dari kemampuan dia mengatur keuangan supaya bisa mencukupi seluruh kebutuhan keluarganya, termasuk anak-anaknya. Jadi saya melihat, yang mestinya ditekankan sekarang adalah semangat pemberdayaan perempuan di semua lini kehidupan.

Jadi hal apa yang harus dilakukan oleh perempuan Indonesia di hari Kartini ?

Saya pikir tidak terbatas pada kegiatan di hari Kartininya saja. Sepanjang tahun, sepanjang waktu, semestinya semangat pemberdayaan perempuan itu harusnya ada. Bukan saja pada saat hari Kartini itu ada seminar, ada hal-hal yang sifatnya formalitas, tapi lebih kepada penyadaran. Bolehlah di hari Kartini ada semacam seminar atau lokakarya tentang pemberdayaan perempuan, tapi itu bukan hanya selesai di atas kertas, selesai ketika seminar itu usai, tapi harus ada tindak lanjut yang nyata.

Sebenarnya sosok Kartini itu di mata Ibu seperti apa?

Saya melihat Kartini sosok perempuan yang baik, yang ketika itu pada jamannya, Kartini adalah sebuah fenomena yang tidak umum. Karena pada zaman itu, wanita itukan hanya diberikan peluang untuk lebih banyak dikehidupan domestik, sampai untuk sekolah pun Kartini harus berjuang begitu tingginya untuk menyelesaikan Sekolah Rakyat. Jadi saya melihat sosok Kartini adalah sosok yang memang memiliki semangat pemberdayaan wanita, yang saat itu memang belum umum. Apalagi ketika saya membaca, bahwa sesunggunya di akhir hidup Kartini, Kartini sedang semangat-semangatnya mempelajari Islam, dengan Kyai yang ada di keratonnya. Saya pikir, bila Kartini hidup lebih lama lagi, dia akan menemukan bahwa “Habis Gelap Terbitlah Terang” itu sesungguhnya adalah cahaya Islam.

Yang dipahami selama ini, apa yang diperjuangkan Kartini adalah emansipasi, persamaan derajat antara pria dan wanita. Pendapat ibu?

Inilah yang kemudian orang dengan mudah membelokkan sejarah. Maka, kita harus benar-benar jeli mempelajari sejarah dan mensosialisasikannya kepada perempuan dan bangsa ini pada umumnya. Bahwa sesungguhnya, Kartini ketika belum begitu dalam mempelajari Islam, mungkin saja emansipasi yang sekarang ditafsirkan seperti itu. Tapi sesungguhnya ketika Kartini mempelajari Islam, dia katakan bahwa sesungguhnya agama Islam tidak memarjinalkan perempuan. Sehingga sesungguhnya semangat Kartini bukan semangat emansipasi, tetapi menuntut bahwa perempuan juga seharusnya diberikan hak untuk mendapatkan pendidikan, karena pendidikan adalah jendela dari seluruh kemajuan.

Berarti apa yang diperjuangkan Kartini sesuai dengan ajaran Islam?

Ya, kalau kita baca sejarahnya secara rinci, bahwa Kartini itu tidak meminta emansipasi, tapi menuntut hak perempuan untuk memperoleh pendidikan, dan itu oleh Islam 15 abad yang lalu sudah diberikan keleluasaan bagi perempuan untuk mendapatkan pendidikan.

Apa yang bisa dipetik perempuan Indonesia umumnya dan perempuan PKS khususnya, dari perjuangan yang sudah dilakukan oleh Kartini?

Sesungguhnya, ketika nilai-nilai kebaikkan itu datangnya dari mana saja, ketika itu sesuai dengan nilai-nilai Islam, ya kita harus junjung. Begitu juga ketika kita lihat Kartini begitu gigih memperjuangkan hak memperoleh pendidikan kita dukung itu. Apalagi sekarang kesempatan perempuan untuk memperoleh pendidikan itu sudah terbuka sangat luas. Sehingga tentu saja kita harus dorong kaum perempuan, minimal pemahaman kesadaran pada pendidikannya itu harus terus kita bangun. Karena bagaimanapun karena perempuannya terdidik dalam artian bukan saja dari segi teknologi, tapi iman dan taqwanya juga, maka Insya Allah ke depan nasib bangsa ini akan lebih baik.

Apa yang bisa dimanfaatkan oleh perempuan PKS pada momen ini, untuk mengembangkan dakwah?

Sekali lagi kita tidak ingin terjebak dengan momen-momen tertentu, tapi tidak ada salahnya ini dijadikan momen untuk terus memperjuangkan, terus mensosialisasikan tentang perlunya pemberdayaan perempuan Dan saya pikir kader-kader PKS sudah berbuat di lapangan, tanpa mendengung-dengungkan bahwa ini adalah cita-cita Kartini. Saya melihat bahwa kader-kader PKS dengan dana sendiri, dengan tenaga yang mereka miliki, dengan kegiatan Pos Keluarga Keadilan, majelis taklimnya atau TPA-TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an - Red) yang mereka bina, saya pikir itu adalah sebuah kerja nyata untuk  melanjutkan perjuangan Kartini. (Ningsih/PKS)

   Beri Komentar Artikel ini

   Beritahu Teman     

   Print Artike

   Arsip Komentar

 

Forum Swaramuslim.net

 

 

ada 0 thread komentar 756 hits - dibaca 6667 hits

 

 

K a r t i n i :

Dari Kegelapan Menuju Cahaya

 

Oleh : Hilal Achmad *

 

Dalam surat Al Baqarah Ayat 257, Kartini menemukan kata-kata yang amat menyentuh nuraninya; "Orang-orang yang beriman dibimbing Allah dari gelap menuju cahaya ( Minadzdzulumaati Ilaan Nuur )*". lalu kenapa kita tak pernah mengetahui nya ?

DOOR DUITERNIS TOT LICHT ( Habis Gelap Terbitlah Terang )
Tinta Sejarah Belum Lagi kering menulis namanya, namun wanita-wanita negerinya sudah terbata-bata membaca cita-citanya. Tujuh tahun yang lalu namanya kembali mencuat ke permukaan setelah seorang sejarawan Indonesia mempermasalahkan gelar kepahlawanannya. Lepas dari kaitan itu kita tak perlu mempermasalahkan dia benar atau salah atau pantaskah ia mendapat gelar pahlawan atau tidak, yang pasti sejarah harus diungkapkan baik dan buruknya & terserah kepada pendengar sejarah utk menilai dan berinterpretasi terhadap sejarah tersebut.


Kartini tidak dapat diartikan lain kecuali sesuai dengan apa yg tersirat dalam kumpulan suratnya; "*DOOR DUISTERNIS TOT LICHT*", yang terlanjur diartikan oleh Armijn Pane sbg, "*Habis Gelap Terbitlah Terang*".

 

Sedangkan Prof. Dr. Haryati Soebadio, Dirjen Kebudayaan Depdikbud, yang notabene cucu RA Kartini mengartikannya sebagai "*Dari Gelap Menuju Cahaya*", yang kalau kita lihat dalam Al Qur'an akan tertulis sbg, "*Minadzhdzhulumati Ilaan Nuur*". Ini merupakan inti ajaran Islam yang membawa manusia dari kegelapan menuju cahaya (iman).

Kartini ada dlm proses kegelapan menuju cahaya, tapi cahaya itu belum sempurna menyinari karena terhalang oleh usaha westernisasi . Kartini yang dikukung oleh adat dan dituntun oleh Barat telah mencoba meretas jalan menuju ke tempat yang terang. Dan apakah yang kita lakukan kini merupakan langkah-langkah maju ataukah surut ke belakang...?


KARTINI : "...IBU ADALAH SEKOLAH BAGI ANAK-ANAKNYA"

Berapa banyak dewasa ini jabatan dan kedudukan penting yang pada mulanya dipegang oleh kaum pria kini dipegang oleh kaum wanita. Berapa banyak pula jumlah pekerjaan yang dimasuki oleh kaum wanita sehingga banyak kaum pria yang harus kehilangan pekerjaannya.


Seorang wanita sekalipun tidak bekerja maka ia tidak akan kehilangan nafkahnya, karena ia hidup dari tanggungan hidup suaminya. Tapi apa artinya jika seorang pria kehilangan pekerjaannya. .? Maka mulut yang ada di belakangnya, yaitu mulut istri dan anak-anaknya akan tetap menganga menanti kehadirannya, mengharapkan sesuatu yang dibawanya. Apa jadinya negeri ini jika kaum prianya menganggur ? Kalau bukan petaka, tentu paling tidak negeri ini menjadi "Lembah Amazone ".


Padahal wanita lebih diperlukan sebagai "sekolah" bagi anak-anaknya. Dan bukan sebagai kuda beban atau ayam-ayam pengais yag tertatih-tatih dan tersuruk-suruk menanggalkan pribadinya yang asli. Kartini tidak pernah mengimpikan wanita-wanita sesudah generasinya menjadi bebas tanpa kendali atau merebut hak lelaki hingga mengingkari fitrahnya.

SURAT  KEPADA STELLA ( tertanggal 18 Agustus 1899 )

"Sesungguhnya adat sopan santun kami orang Jawa amatlah rumit. Adikku harus merangkak, bila hendak berlalu di hadapanku. kalau adikku duduk di kursi, saat aku lalu, haruslah ia turun duduk di tanah dengan menundukkan kepala sampai aku tidak terlihat lagi. Mereka hanya boleh menegurku dengan bahasa kromo inggil. Tiap kalimat haruslah diakhiri dengan "sembah".  Berdiri bulu kuduk, bila kita berada dalam lingkungan keluarga Bumiputera yang ningrat.


Bercakap-cakap dgn orang lain yang lebih tinggi derajatnya haruslah perlahan-lahan, jalannya langkah-langkah pendek-pendek, gerakannya lambat-lambat seperti siput. Bila berjalan cepat dicaci orang, disebut sebagai kuda liar. Peduli apa aku dengan segala tata cara itu.....Segala peraturan itu buatan manusia dan menyiksa diriku saja. Kamu tidak dapat membayangkan bagaimana rumitnya etiket keningratan di dunia Jawa itu....

 

Tapi sekarang mulai dengan aku, antara kami (Kartini, Roekmini dan Kardinah) tidak ada tatacara itu lagi. Perasaan kami sendirilah yang akan menunjukkan atau menentukan sampai batas mana cara Liberal itu boleh dijalankan.

Bagi saya hanya ada dua macam keningratan, keningratan pikiran (fikroh), dan keningratan budi (akhlaq). Tidak ada manusia yang lebih gila dan bodoh menurut persepsi saya daripada melihat orang membanggakan asal keturunannya. Apakah berarti sudah beramal sholeh orang yang bergelar macam Graaf atau Baron..? Tidaklah dapat dimengerti oleh pikiranku yang picik ini,.."

Sebelum kita melanjutkan surat-surat Kartini yang lain ada baiknya kita melihat sahabat pena Kartini yang merupakan musuh-musuh dalam selimut yang berusaha mempengaruhi Kartini dengan cara dan pahamnya masing-masing.


Mereka itu adalah : 

1. Mr. J.H Abendanon
Datang ke Hindia tahun 1900. Diutus oleh pemerintah Belanda untuk melaksanakan politik Ethis. Tugasnya adalah sebagai Direktur Departemen Pendidikan, Agama dan Kerajinan. Karena masih baru ia meminta nasehat teman sehaluan politiknya yaitu Snouck Hurgronje.

Snouck memiliki konsepsi politik Asosiasi, menurutnya memasukkan peradaban Barat dalam masyarakat pribumi adalah cara yang paling ampuh untuk membendung dan mengatasi Islam di Hindia Belanda. Tapi tidak mungkin mempengaruhi rakyat, sebelum kaum ningratnya dibaratkan, agar semakin mudah membaratkan rakyat Bumi Putera.

Untuk itu maka langkah pertama yang harus diambil adalah mencari orang-orang ningrat yang Islamnya tidak teguh lalu di-barat-kan. Dan pilihan pertama adalah Kartini.

2. Annie Glassor
Seorang guru yang mempunyai akte bahasa dan mengajar secara privat bahasa Perancis kepada Kartini. Annie Glasser dikirim oleh Abendanon untuk memata-matai dan mengikuti perkembangan Kartini. Melalui Annie Glasser-lah Abendanon mendidik, mempengaruhi dan menjatuhkan Kartini.

3. Stella (Estalle Zeehandelaar)
Sewaktu dalam masa pingitan ( + 4 tahun ) Kartini banyak membaca untuk menghabiskan menghabiskan waktunya. Tetapi Kartini tdk puas mengikuti perkembangan pergerakan wanita di Eropa hanya melalui majalah & buku-buku.
Karena ingin mengetahui keadaan sesungguhnya maka Kartini memasang iklan disebuah majalah negeri Belanda, yaitu Hollandsche Lelie. Dengan segera iklan itu disambut oleh Stella, wanita Yahudi anggota pergerakan Feminis di Belanda yg bersahabat karib dgn gembong Sosialis, Ir H. VAn Kol.

4. Ir H Van Kol
Pernah tinggal di Hindia Belanda selama 16 tahun. Ia berkenalan dengan Kartini dan berusaha memperjuangkan Kartini agar dapat pergi ke Belanda atas biaya  pemerintah Tinggi Belanda. Tapi rupanya ada udang di balik batu. Ia berharap dapat mengajak Kartini ke Belanda sebagai saksi hidup tentang kebobrokan pemerintah Hindia Belanda di tanah jajahan. Melalui Kartini, Van Kol ingin mengungkapkan penyelewengan yang dilakukan para pejabat Hindia Belanda. Sehingga partai Sosialis, tempatnya bercokol, dapat berkuasa di parlemen & menjatuhkan partai yang berkuasa.

5. Ny Van Kol ( Nellie Van Kol )
Seorang penulis berpendirian humanis dan progresif. Orang yang paling berperan mendangkalkan aqidah Islamiah Kartini. Pada mulanya ia bermaksud menjadikan Kartini sebagai seorang Kristen tapi gagal. Mulanya ia berbuat seolah-olah sebagai penolong yang mengangkat Kartini dari keadaan tidak mempedulikan agama menjadi penuh perhatian. Bahkan ia berhasil mengakhiri "Gerakan mogok sholat dan mogok ngaji" yang dilakukan Kartini.

Kita buka kembali beberapa cuplikan surat Kartini yang sedikit membuka siapa dan mau apa ia.

 

"...Orang kebanyakan meniru kebiasaan orang baik-baik, orang baik-baik itu meniru perbuatan orang yang lebih tinggi pula, dialah orang Eropa "

(kepada Stella, 25 Mei 1899)

"Aku mau meneruskan pendidikan ke Holland, karena Holland akan menyiapkan aku lebih baik untuk tugas besar yg telah aku pilih".

(kepada Ny Ovinksoer, 1900)

" Sekarang”  kami merasakan badan kami lebih kokoh, segala sesuatu tampak lain sekarang.

Sudah lama cahaya itu tumbuh dalam hati kami.

Kami belum tahu waktu itu dan Ny Van Kol yang menyibak tabir yang tergantung di hadapan kami.

Kami sangat berterimakasih kepadanya, "

(kepada Ny Ovinksoer, 12 Juli 1902)

" Ny Van Kol banyak bercerita kepada kami tentang Yesus yang Tuan muliakan itu, tentang rasul-rasul Petrus dan Paulus, dan kami senang mendengar itu semua,"

(kepada Dr Adriani, 5 Juli 1902)

" Malaikat yang baik beterbangan disekeliling saya dan Bapak yang ada dilangit membantu saya dalam perjuangan saya dengan bapakku yang ada di dunia ini,"

(kepada Ny Ovink Soer, 12 Juli 1902)

Itulah beberapa surat yang Kartini layangkan kpd orang-orang yang menjadi "sahabat"nya, dan yang berkiblat kepada Kristen atau yang berusaha menggiringnya ke arah pemikiran Barat.

BERUSAHA MENJADI MUSLIMAH SEJATI

 

Kartini memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan semasa belajar mengaji. Ibu guru mengajinya memarahi dia dan menyuruhnya ke luar karena Kartini menanyakan makna ayat Al Qur'an yang dibacanya tadi.

Inilah suratnya kepada Stella tertanggal 6 November 1899 dan kepada Abendanon tertanggal 15 Agustus 1902 ;


"Mengenai agama Islam, Stella, aku harus menceritakan apa.

Agama Islam melarang umatnya mendiskusikannya dengan umat agama lain.

Bagaimana aku dapat mencintai agamaku kalau aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya.

Al Qur'an terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apapun.

Di sini tidak ada yang mengerti bahasa Arab.

Orang-orang di sini belajar membaca Al Qur'an tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Kupikir, pekerjaan orang gilalah, orang diajar membaca tapi tidak mengerti apa yang dibacanya.

Sama saja halnya seperti engkau mengajar aku membaca buku berbahasa Inggris, aku harus menghafal kata demi kata, tetapi tidak satupun kata yang kau jelaskan kepadaku apa artinya.

Tidak jadi soleh pun tidak apa-apa asalkan jadi orang baik hati, bukankah begitu Stella..?? “


" Dan? ” Waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yg aku tidak mengerti sedikitpun. Aku tdk mau lagi melakukan hal-hal yang aku tidak tahu apa perlu dan manfaatnya.

Aku tidak mau lagi membaca Al Qur'an, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan bahasa asing yang aku tidak mengerti apa artinya,

dan jangan-jangan ustadz-ustadzahku pun tidak mengerti artinya.

Katakanlah kepadaku apa artinya nanti aku akan mempelajari apa saja.

Aku berdosa.

Kitab yang mulia itu terlalu suci sehingga kami tidak boleh mengerti artinya.".


Sampai pada suatu ketika Kartini berkunjung ke rumah pamannya, seorang Bupati Demak. Saat itu sedang berlangsung pengajian bulan khusus untuk anggota keluarga. Kartini ikut mendengarkan pengajian bersama Raden Ayu yg lain dari balik Khitab (tabir). Kartini tertarik kepada materi yang sedang diberikan, tafsir Al Fatihah, oleh *Kyai Saleh Darat*, ulama besar yang sering memberikan pengajian di beberapa kabupaten di sepanjang pesisir utara.

 

Setelah selesai pengajian, Kartini mendesak pamannya agar bersedia untuk menemaninya untuk menemui Kyai Saleh Darat.  " Kyai” perkenankan saya menanyakan sesuatu, “bagaimanakah hukumnya apabila seseorang yang berilmu namun menyembunyikan ilmunya..? “


Tertegun sang Kyai mendengar pertanyaan Kartini yang diajukan secara diplomatis. Kyai Saleh Darat paham betul akan maksud pertanyaan yang diajukan Kartini karena sebelumnya pernah terlintas dalam pikirannya. (Dialog ini dicatat oleh Ny. Fadillah Bc. Hk Cucu Kyai Saleh Darat)


Singkat cerita tergugahlah sang Kyai untuk menterjemahkan Al Qur'an ke dalam bahasa Jawa. Dan ketika hari pernikahan Kartini tiba, Kyai Saleh Darat memberikan kepadanya terjemahan Al Qur'an juz pertama. Mulailah Kartini mempelajari Al Qur'an. Tapi sayang sebelum terjemahan itu rampung, Kyai Saleh Darat berpulang ke rahmatullah.

Dalam surat Al Baqarah Ayat 257, Kartini menemukaan kata-kata yang amat menyentuh nuraninya ;  " Orang-orang yg beriman dibimbing Allah dari gelap menuju cahaya (Minadzdzulumaati Ilaan Nuur) "

Kartini amat terkesan dengan ayat ini, karena ia merasakan sendiri proses perubahan dirinya, dari pemikiran jahiliyah kepada pemikiran terbimbing oleh Nuur Ilahi. Dan sebelum wafatnya Kartini, dalam banyak suratnya mengulang kata-kata " Dari gelap menuju cahaya ",  yang ditulis dalam bahasa Belanda sebagai " Door Duisternis Toot Licht ".

Yang kemudian dijadikan kumpulan surat Kartini oleh Abendanon yang sama sekali tidak mengetahui bahwa kata-kata itu dikutip dari AlQur'an. Ditambah lagi diterjemahkan sebagai "Habis Gelap Terbitlah Terang”:  oleh Armijn Pane.

Setelah pengajian tersebut terjadilah perubahan besar dalam diri Kartini. Kini ia mulai memahami Islam. Coba simak beberapa suratnya lagi :

" Sudah lewat masanya, tadinya mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik tiada taranya,  maafkan kami, tetapi apakah Ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna..??

Dapatkah Ibu menyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam masyarakat Ibu terdapat banyak hal yang sama sekali tidak patut dinamakan peradaban ?? "

(kepada Ny Abendanon, 27 October 1902)


" Bagaimana pendapatmu tentang Zending, jika bermaksud berbuat baik kepada rakyat Jawa semata-mata atas dasar cinta kasih, bukan dalam rangka Kristenisasi. ......... ......bagi orang Islam, melepaskan kepercayaannya sendiri dan memeluk agama lain merupakan dosa yang sebesar-besarnya. .......pendek kata, boleh melakukan zending, tetapi janganlah meng-kristen- kan orang lain. Mungkinkah itu dilakukan ? "

(kepada E.C Abendanon, 31 january 1903)

Memang kumpulan surat-surat Kartini bukanlah kitab suci. Tapi kalau kita telaah kembali maka akan nampaklah apa cita-citanya yg luhur.


Sayang itu semua sudah mengalami banyak deviasi sejak diluncurkan dahulu, setelah berlalu tiga generasi konsep Kartini tentang emansipasi semakin hari semakin hari jauh meninggalkan makna pencetusnya.

 

Sekarang dengan mengatasnamakan Kartini para feminis justru berjalan di bawah bayang-bayang alam pemikiran Barat, suatu hal yang malah ditentang oleh Kartini.

 

Bagaimana tanggapanmu wahai para wanita..??

* Penulis adalah Redaksi www.swaramuslim.net


Indonesian Community
Join this Group!RSS FeedHelp on RSS FeedsAdd to My Yahoo
Report Abuse
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Modified from Mediterranean by John Whittet.
Originally on the CSS Zen Garden.
Used and Modified with permission from the author.