What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag a --.
Jaman Perang Dunia ke III, Amerika merupakan suatu negara yang menjadi sasaran gempuran negara-negara lain. Yang pertama kali menggempur adalah negara Rusia, ketika pesawat tempur Rusia datang, prajurit Amerika bertariak, "Jendral pesawat musuh datang..!". Sang jendral memberi perintah, "Tembak!"..
Datang lagi pesawat tempur dari negara-negara lain, sang jendral memberi perintah untuk menembak.
Terakhir datang pesawat tempur dari INDONESIA, pasukan Amerika teriak lagi, "Jendral pesawat Indonesia datang...!". "Jangan tembak!", perintah sang jendral. Prajurit bingung lalu bertanya, "Kok ngga boleh ditembak...???". Sang jendral dengan enteng menjawab, "ENTAR JUGA JATUH SENDIRI!"
13/03/2008 07:47:13KANTOR Kementerian Komunikasi dan Informatika kini sedang membahas secara insentif upaya pemblokiran atau penangkalan pornografi yang menggunakan media situs internet. Melalui lembaga khusus yang sedang disiapkan diharapkan program pemblokiran situs porno bisa teratasi.
Adanya gagasan tersebut dikemukakan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Muhammad Nuh, usai memberikan sambutan pada acara Maulid Nabi Muhammad SAW di Aula Al Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo Kediri Jawa Timur, Minggu (9/3). Menurut Muhammad Nuh, ada dua langkah yang bisa ditempuh untuk menangkal situs-situs porno yaitu self controlling dan Indonesian Security yang nantinya akan dibuat sebuah lembaga tersendiri. Lembaga tersebut, kata M Nuh, nantinya akan membuat program khusus yang dirancang mampu mencegah dan menangkal situs-situs porno yang semakin marak di internet. Apalagi sampai saat ini Kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika sedang merealisasikan program internet masuk desa di pelosok Tanah Air. "Memang kita tidak bisa memungkiri adanya penyalahgunaan dari sebuah teknologi, tapi kita tetap berupaya menangkalnya," tegasnya. Sedangkan tujuan dari program internet masuk desa, dijelaskan, adalah untuk meningkatkan kemampuan mengakses informasi bagi masyarakat di pedesaan. Untuk merealisasikan program tersebut diperlukan beberapa hal diantaranya ketersediaan infrastruktur, harga terjangkau, dan adanya transformasi sosial atau budaya dalam masyarakat.
Sementara itu Ketua Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BPPN), Dedy Mizwar mengemukakan sudah saatnya Indonesia melakukan pemblokiran situs-situs porno seperti yang sedang dilakukan pemerintah RRC dengan harus mengeluarkan biaya yang sangat besar. "RRC sudah melawan blog-blog situs porno dengan biaya yang sangat besar, meskipun itu belum seluruhnya," kata Dedy kepada KR, belum lama ini. Ia mengemukakan, menurut data yang ada jumlah situs porno di dunia ada sekitar 4,2 juta. Sedangkan yang masuk ke Indonesia baru puluhan ribu situs porno. "Nah, Depdiknas sekarang memasukkan internet ke SMA, apa yang dilihat anak-anak SMA? Kita tidak ngerti," ujar Dedy. Dedy menyatakan sangat setuju jika Pemerintah dan DPR-RI mengeluarkan undang-undang anti pornografi untuk menekan dekadensi moral. "Tapi yang saya pertanyakan maukah pemerintah dengan dana triliunan rupiah memblokir situs porno. Harus konsekuen. Harus dong, DPR harus meloloskan kalau Menkominfo mengajukan anggaran APBN misalnya Rp 30 triliun untuk memblokir ini, saya setuju," tandas Dedy.
Dikemukakan, biaya untuk memblokir situs porno sesungguhnya lebih kecil dibandingkan dampaknya negatif jika situs porno dibiarkan. "Sebab, membenahi dampak moral satu generasi lebih mahal dari seluruh jembatan yang ada di Indonesia. Membenahi rusak moral sangat lama, berapa puluh tahun bisa selesai," katanya. (Cdr)-k
Ini hanya sekedar berbagi saja. Hanya dari sekedar iseng dan sering was-was dengan kelicikan teknologi, akhirnya ada hal baru yang saya temukan. Dan mungkin harus menjadi perhatian jika anak kita menjadi member untuk kartu simpatizone yang dikeluarkan oleh Telkomsel.
Pada newsletter yang dikirimkan oleh telkomsel untuk anggota simpatizone edisi bulan lalu, ada satu tulisan yang membuat saya tertarik untuk mencobanya. Tentang layanan konten di *999#. Dalam newsletter untuk layanan itu tertulis besar dengan cetak tebal, Gratis. Ternyata layanan ini bayar dengan menjebol pulsa yang cukup besar. Untuk Ringtone saja, pulsa disedot Rp6.500 sedangan fitur lainnya Rp1.100.
Ironisnya, jebolnya pulsa baru diketahui terakhir. Saya dari awal sebenarnya sudah menaruh curiga, mana mungkin gratis. Tapi, tangan gatel ingin mencobanya. Pada saat masuk ke display awal dan kedua, saya langsung matikan ponsel untuk cek pulsa. Ternyata benar gratis.
Nah, ternyata layanan ini menjebol pulsa pada saat masuk ke display 3 dan seterusnya. Apalagi saat ada konten yang memang ingin kita ambil. Di saat kita terlena untuk mencoba dan mengambil konten lainnya, layanan ini tidak menginformasikan akan dikenakan tarif menerima konten.
Setelah saya tahu dengan kejadian ini, ternyata informasi yang dibuat oleh pihak Simpatizone, sangat buruk. Bayangkan, tertulis GRATIS. Saya membayangkan berapa juta anak yang tertipu dengan cara ini.
Dengan kejadian ini saya jadi berhitung keras jumlah orang yang akan dirugikan. Jika saja anggota member simpatizone ada satu juta orang saja, maka pemasukan yang diterima perusahaan ini hanya untuk ringtone saja mencapai Rp6,5 Miliar. Dahsyat. Belum konten lainnya. Semakin lama, teknologi semakin dijadikan sebagai sarana memperdayai orang.
Rusman Jurnalis Jakarta Hp : 081384472435 Blog : www.roesman.blogspot.com www.rusmanjurnalis.wordpress.com
Jakarta, Kompas - Kepunahan bahasa, terutama bahasa daerah, menjadi masalah serius yang juga perlu perhatian pemerintah dan masyarakat. Sebab, proses kepunahan bahasa ini akan diikuti dengan kepunahan budaya dan pada akhirnya kepunahan masyarakat.
Hari pertama nan indah di sebuah TK Mawar Merah yang diasuh oleh seorang Ibu guru berjiwa Komunis.
Ibu Guru ini mulai memasuki kelas Nol besar dan ia mulai mengajar kepada anak2 TK tersebut tentang Faham Atheisme (Faham Tidak Bertuhan).
Ia mulai mengambil sebuah penghapus papan tulis, dan mulai berkata pada anak2 TK di kelasnya itu:
"Anak-anak, penghapus papan tulis ini kelihatan gak???", sambil tangannya mengacung-acungkan penghapus di depan kelas...
"KELIHATAAAAAN !!!", kata anak2 TK serempak dan bersemangat.
"Yang terlihat menunjukan Keber-ada-an maka, Kalau penghapus ini kelihatan artinya penghapus ini ada nggaaak?", tanyanya lagi kepada murid muridnya.
"ADAAAAAAAA!!", kata anak2 itu penuh semangat.
Kemudian ia mulai menaruh penghapus papan tulis di meja. Ia lalu mengambil sebuah kapur putih. Kemudian berkata kembali pada murid-muridnya:
"Anak-anak KAPUR ini kelihatan nggaak???", sambil tangannya kembali mengacungkan kapur di depan kelas.
"KELIHATAAAAAN!!!", kata anak2 TK serempak dan bersemangat. "Nah !! Kalau kapur ini terlihat berarti kapur ini ada...nggak? ",tanyanya lagi kepada murid-muridnya.
"ADAAAAAAAA!!", kata anak2 TK itu semangat tanpa tedeng aling2.
Lalu sang guru mulai memasukan doktrin2 komunismenya kepada anak-anak TK tersebut.
"ANAK-ANAK! TUHAN ITU KELIHATAN... NGGAK????" Tanyanya lebih semangat kepada anak muridnya.
"GAAAAAK!!", teriak murid2 dengan polosnya.
"BERARTI TUHAN ITU. ADA GAAAAAAK???? " tanya Ibu Guru lagi bersemangat.
"NGGAK ADAAAAAAAA!! ", kata anak2 TK itu tanpa mikir panjang.
Dipojok belakang kelas tiba2 berdiri Sinchan (murid paling badung).
Lalu ia berjalan dengan gagah ke depan kelas. Dengan lantang dia berkata :
"KAWAN-KAWAN OTAK IBU KELIATAN.. NGGAAK???" tanyanya pada teman-temannya sekelas.
"NGGAAAAAK!! ". teriak teman-temannya langsung dengan suara keras.
Pada suatu ketika dikisahkan ada seorang tua renta yang tinggal dengan anak dan menantunya yang sudah berputra 6 tahun. Sang kakek sudah mengalami kesulitan saat berjalan ataupun menggerakkan tangannya karena stroke yang pernah diderita sebelumnya.
Seperti biasa saat makan malam seluruh keluarga berkumpul dimeja makan diruang tengah. seperti biasa pula karena ketidak seimbangan tangannya ada saja alat makan yang terjatuh, sup atau air tumpah dan membasahi taplak meja makan. Melihat itu semua gusarlah pasangan suami istri tsb. "... kalau begini terus, hilang selera makanku.!!!", begitu keluh sang menantu. akhirnya dengan kesepakatan bersama suami istri tsb membuat meja kecil lalu diletakkan disudut ruangan, tidak lupa pula mereka membeli peralatan makan dari plastik untuk sang kakek.
Sejak itu anak dan menantunya dapat menikmati makan malam tanpa merasa terganggu ulah sang kakek. sementara dari sudut ruangan kerap terdengar isak tangis sedih sang kakek yang makan sendirian dimeja kecilnya. tak jarang bubur yang berhasil masuk kemulutnya sudah bercampur tetesan air matanya. tak jarang sang kakek tidak makan karena sup atau buburnya tumpah ke lantai.hal itu makin membuat anak dan menantunya geram dan mengomel pada sang kakek. melihat itu semua sang cucu yang baru berusia 6 tahun itu hanya diam dan tak satu patah kata pun terlontar dari bibirnya yang mungil.
Suatu malam sebelum tidur, seperti biasa pasangan suami istri tsb masuk ke kamar anaknya untuk mengucapkan selamat tidur. tapi malam itu putranya masik terlihat asyik dengan mainan kayunya. sang ayah bertanya : " Apa yang sedang kau buat nak...sampai kau belum tidur juga ? " dengan penuh semangat sang putra menjawab : " aku sedang membuat meja makan untuk ayah dan ibu kalau aku sudah besar nanti ....dan akan kuletakkan disudut ruangan tempat kakek makan, bagus kan yah...?" Mendengar jawaban putranya suami istri tsb merasa amat sedih dan terpukul. Malam itu mereka sadar harus ada yang dibenahi.
Sejak malam itu suasana diruang makan kembali seperti semula, semua berkumpul dalam satu meja makan, bedanya tak ada lagi terdengar suara omelan meski selalu ada saja alat makan yang jatuh atau sup tumpah mengotori taplak meja. tidak ada lagi meja kecil disudut ruangan dengan suara isak tangis sang kakek yang membuat sang cucu berhenti makan.
Temans...... Anak2 adalah persepsi kita, mata mereka akan selalu mengamati, Telinga mereka akan selalu menyimak dan fikiran mereka akan selalu mencerna setiap hal yang kita lakukan. Mereka adalah peniru ulung. Orang tua yang bijak akan selalu menyadari setiap " Bangunan Jiwa " yang disusun adalah pondasi yang kekal untuk masa depan anak-anak.
Untuk merekalah kita akan selalu belajar, bahwa berbuat baik pada orang lain sama artinya dengan tabungan masa depan.
Anggota DPR: "Mba, laptopnya salah." Customer Service: "Salah gimana pak?" Anggota DPR: "Laptopnya nggak mau hidup." Customer Service: "Sudah tekan tombol power pak?" Anggota DPR: "Tombol powernya sebelah mana mba?"
****
Anggota DPR: "Mba, saya mau konek ke internet nggak bisa, kenapa ya?" Customer service: "Nggak bisanya kenapa?" Anggota DPR: "Saya ketik www.playboy.com, gambarnya nggak keluar." Customer service: "Pesan errornya apa pak?" Anggota DPR: "Nggak ada pesan error, pokoknya saya ketik playboy.com di addressnya, nggak muncul gambar sama sekali." Customer service: "Bapak koneksi internetnya pakai apa, dial up,hotspot?" Anggota DPR: "Pakai gambar yang ada tulisan e (maksudnya internet explorer)." Customer service: "Maksudku, bapak langganan internetnya pakai ISP apa, lalu cara koneksi internetnya pakai dial-up atau hotspot, mungkin settingnya ada yang salah." Anggota DPR: "ISP itu apa sih mba?" Customer service: "Wah ini sih 50 x 2 pak.." Anggota DPR: "Apa tuh mba?" Customer service: "CAPE' DEH!!"
******
Anggota DPR: "Mba' saya ingin daftar account di yahoo.com kok nggak bisa ya?" Customer service: "Nggak bisa kenapa pak?" Anggota DPR: "Ada tulisan, paswort is nat long inof, suld bi mor ten 8 karakter" Customer service: "Itu maksudnya, password bapak minimal 8 huruf." Anggota DPR: "Oooo...oke deh.., saya coba dulu." <tunggu beberapa menit> Anggota DPR: "Mba password minimal delapan huruf itu delapannya pakai angka 8 atau ejaan delapan?" Customer service: "Maksudnya?" Anggota DPR: "Saya suda tulis di kolom password minimal 8 huruf, tapi bingung mau tulis delapannya, pakai angka delapan atau ejaan huruf delapan'." Customer service: "Ketik ini aja pak..C Spasi D." Anggota DPR: "Apa tuh?" Customer service: "CAPE' DEH !!!"
****
Anggota DPR: "Mba' kalau muter film di laptop, gimana caranya ya? Customer service: "Ada dvd playernya kan pak?" Anggota DPR: "Sebelah mana tuh mba?" Customer service: "Disamping kanan, pak. kalau di tekan tombolnya nanti, piringan discnya keluar." Anggota DPR: "Ooooo.... yang keluar itu, piringan disc ya? Udah patah tuh kemarin." Customer service: "Kok bisa patah?" Anggota DPR: "Saya kira tempat buat naruh gelas minuman."
******
Anggota DPR: "Komputer saya rasanya kena virus" Customer service: "Virus apa tuh pak?" Anggota DPR: "Kurang tahu juga, setiap mau cetak ke printer, selalu ada tulisan kennot fain printer." Customer service: "Itu mungkin salah setting pak." Anggota DPR: "Settingnya udah bener kok, kemarin aja bisa nyetak, tapi sekarang nggak bisa. Saya sudah tunjukkin printernya di depan laptop, tetap aja dia terus-terusan "searchng printer not found." Kayanya webcamnya rusak, nggak bisa lihat printer." Customer service: "Mendadak laper nih Pak, ingin makan tape.." Anggota DPR: "Lho..kok begitu?" Customer service: "TAPE DEH !!!!"
********
Anggota DPR: "Mba, kalau mau baca blognya si artist anu dimana ya?" Customer service: "Bapak cari aja di google." Anggota DPR: "Tapi si artist anu nggak kerja di google kok mba, saya tahu persis."
Pertama, subyek imel ini merupakan plesetan dari artikel di situs KOMPAS yang aslinya berjudul : 'Maia ngamuk, Dhani dilempar remote'. Beberapa milis lalu meributkan hal ini dengan menyangkutpautkan dengan masalah KDRT segala. Saya dak mau memperlebar problem internal rumah tangga ini karena arahnya malah bikin wartawan infotainment 'girang' karena dapat bahan gossip.
Sudah lama rakyat menahan kesabaran untuk ngamuk atas musibah di negeri ini yang silih berganti. Banjir, longsor, lumpur, sampai kecelakaan transportasi hanya masuk media massa untuk bisa 'diambil hikmahnya' dan terus berulang. Ketika rakyat menuntut keadilan, meminta bertemu para wakil parpol di parlemen untuk curhat soal kemalangan yang menimpa mereka, eh malah menghindar dan sebagai gantinya 'diadu' dengan aparat keamanan. Kalau rakyat marah, apa yang bisa dilakukan ? Atau dalam kasus ini apa yang musti dilempar ke pejabat negara tersebut ? Piring, botol, telur busuk, tomat, lumpur, '
Btw, kadang saya prihatin ( atau mungkin lebih tepatnya : malu ! ) kalau sampai presiden sendiri yang turun tangan melakukan sidak lalu menemukan kekacauan birokrasi maupun bobroknya pelayanan pemerintah daerah terhadap rakyat. Maksudnya prihatin ( sekaligus malu ) adalah jadi apa kerjanya mereka para aparat di daerah itu ? Apa tugasnya pak camat, pak bupati, pak gubernur, dan anggota DPR(D) itu : membuat aturan agar pajak pendapatan daerah dikerek setinggi mungkin biar mereka bisa nikmatin kenaikan gaji, tunjangan, insentif, dan tur jalan2 yang “dilegalkan†via APBD ?
Untuk kaum Tionghoa, masih saja kalau ngurus perijinan ini itu masih dimintai surat SBKRI. Untuk kaum lemah, ngurusin surat miskin aza berbelit-belit bahkan sudah menjadi rahasia umum musti ada uang sogokan dulu. Beginilah kalau pengabdian untuk pelayanan kepada public dianggap sebagai pekerjaan atau obyekan mengeruk keuntungan kantong pribadi. Tidak mau berkorban, tetapi sering mengorbankan rakyat.
Kerusuhan sosial
antarkomunitas etnis di Kalimantan Barat tahun 1997 merupakan tragedi
kemanusiaan yang menjadi warna kelam sejarah kehidupan bangsa. Sesaat
setelah konflik yang diperkirakan merenggut ribuan nyawa itu, segenap
upaya resolusi konflik terus dibangun berbagai pihak.
Tiga
tahun sesudahnya, masih saja terjadi riak konflik yang merenggut
puluhan nyawa. Relasi kehidupan multietnis menjadi lebih baik setelah
melewati rentang tiga tahun itu.
Setelah
itu hingga satu dekade pascakerusuhan, perdamaian tetap terjaga.
Masyarakat Kalbar semakin menyadari pentingnya perdamaian dan kehidupan
harmonis di tengah kemajemukan etnis.
Kedua
hal itu diyakini sebagai modal dasar membangun daerah. Pada akhirnya,
ada kesadaran di mana masyarakat yang sejahtera dan bermartabat hanya
bisa terwujud jika ada damai.
Pemerhati
sosial, cendekiawan, sekaligus agamawan William Chang menyebut Kalbar
sebagai "laboratorium resolusi konflik". Provinsi itu menjadi tempat
bagi peneliti, ilmuwan, lembaga dalam dan luar negeri, negarawan, atau
masyarakat awam belajar tentang bagaimana membuat resolusi konflik
antarkelompok etnis untuk menuju pranata sosial yang bermartabat.
"Oase
damai" yang terwujud di bumi Borneo ini, menurut Chang, bisa menjadi
pelajaran berharga bagi bangsa Indonesia dalam mengatasi beragam
konflik sosial.
Berikut
petikan perbincangan Kompas dengan William Chang, yang saat ini
dipercaya menjabat Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Pontianak.
Pelajaran apa yang bisa dipetik dari kerusuhan sosial di Kalbar pada tahun 1997 itu?
Kalbar
merupakan "laboratorium pengolahan konflik", terutama sejak konflik
antarkomunitas etnis tahun 1997. Saat itu berbagai pihak dari dalam
maupun luar negeri mulai meneliti dan menggali sebenarnya ada apa
dengan bumi Kalbar. Dalam laboratorium itu, saya menemukan konflik
individual bisa berkembang menjadi konflik sosial gara-gara penanganan
konflik individual ini tidak memakai porsi hukum yang adil. Penegakan
hukum belum diterapkan sebagaimana mestinya. Sementara di dalam itu
sendiri sudah ada trauma sebelumnya yang menimbulkan konflik itu.
Ditambah lagi dengan kepentingan dari luar yang masuk dan memperkeruh
konflik itu sendiri.
Konflik
antarkomunitas etnis pada tahun 1997 itu merupakan letupan akumulasi
kejengkelan individual dan sosial yang pada akhirnya meledak dalam
bentuk kerusuhan sosial. Konflik ini dilatarbelakangi sejarah
kebudayaan dan filsafat hidup yang tidak mampu melahirkan asimilasi
alami atau naturalisasi.
Sementara
dari sudut pandang politik sendiri, ada faktor kepentingan terselubung
dari luar Kalbar yang bermain dan ikut mengeruhkan suasana. Patut
dipertanyakan, mengapa masyarakat yang bertikai mendapat senjata dan
dari mana senjata itu.
Upaya
apa yang dilakukan untuk membuat resolusi atas konflik antarkomunitas
etnis itu sehingga bisa mewujudkan perdamaian di Kalbar?
Sejak
adanya kerusuhan, sejumlah tokoh agamawan dan cendekiawan di Kalbar
membentuk jaringan lintas agama, lintas etnis, dan lintas budaya.
Jaringan ini menjadi tempat berdialog dan selalu mencoba membaca
situasi kehidupan sosial di Kalbar. Dalam perkembangannya, jaringan
yang mengaitkan sejumlah tokoh ini bersifat sistem peringatan dini.
Sementara secara formal, pemerintah melalui Departemen Agama juga
merintis pertemuan antartokoh agama. Kalbar bisa tenang karena hasil
kerja sama dari berbagai pihak itu.
Gereja
Katolik turut mengupayakan perdamaian, di mana para uskup se-Kalbar
waktu itu mengeluarkan maklumat untuk menjunjung tinggi perdamaian dan
menyingkirkan tindak kekerasan, apalagi sampai merenggut nyawa manusia.
Selain
membuat jaringan sistem peringatan dini juga dilakukan gerakan
pembelajaran dan kampanye perdamaian lewat seminar. Hal ini cukup
membantu karena sejak kerusuhan 1997, masalah konflik seperti merebut
pasar dan laku di seminar.
Pada
saat bersamaan, ditekankan pentingnya penghargaan terhadap kearifan
lokal. Dalam sejarah, konflik yang pernah ada di Kalbar sebelum
kemerdekaan adalah konflik melawan penjajah. Setelah merdeka hingga
tahun 1997, praktis tidak ada konflik karena ada kebersatuan bersama
tiga etnis besar di sana, yakni Dayak, Melayu, dan Tionghoa. Prinsip
yang turut berperan dalam menciptakan perdamaian pada masa itu adalah
di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Artinya, harus ada
penghargaan budaya lokal.
Tiga
tahun setelah upaya resolusi konflik dilakukan, Kalbar sempat kembali
bergolak dan konflik antarkomunitas etnis yang merenggut puluhan nyawa
kembali terjadi. Bagaimana Anda melihat hal ini?
Pertama,
harus dipahami bahwa resolusi konflik memang butuh waktu. Kedua, harus
ada jurus pemecahan masalah secara mendalam. Salah satunya bisa juga
menggunakan prinsip win win solution, di mana dari kedua belah pihak
yang berkonflik dicari jalan tengahnya sehingga tidak ada yang
dirugikan. Resolusi konflik harus dikembangkan secara alamiah sehingga
damai bisa tumbuh dengan sendirinya. Kalau penyelesaiannya artifisial,
diskenariokan, disandiwarakan, damai tidak akan terwujud.
Perlu
diperhatikan, pada saat konflik mereda, bukan berarti tidak ada lagi
potensi konflik baru. Oleh karena itu dibutuhkan kesadaran adanya
potensi konflik baru. Setelah ada kesadaran itu, diperlukan upaya
preventif dan menciptakan suasana kondusif dalam kehidupan sosial.
Kalau sudah terbaca kehidupan sosial mulai retak dan kalau dibiarkan
akan menimbulkan konflik, harus segera diambil langkah penyelesaiannya.
Tidak perlu sampai menunggu konflik meledak. Karena itulah pentingnya
sistem peringatan dini.
Pembelajaran di Kalbar apakah bisa diterapkan dalam penyelesaian konflik di daerah lain, di Poso misalnya?
Latar
belakang konflik di Kalbar berbeda dengan konflik di Poso. Di Kalbar
itu konflik antarkomunitas etnis, tetapi di Poso ada persoalan trauma
tempo dulu dan ada unsur ketidakpuasan yang menimbulkan dendam dalam
konteks konflik antaragama.
Suasana
seperti ini belum dicairkan dengan sungguh-sungguh sehingga
sewaktu-waktu bisa meledak. Saya melihat belum ada pengolahan secara
mendasar, mengapa terjadi konflik itu dan ada apa sebenarnya di balik
konflik itu.
Sementara
jika ada konflik kecil, itu seharusnya segera ditangani. Pelakunya
dibekuk dan diberi pendidikan hukum semestinya. Itu yang seharusnya
diterapkan di seluruh Indonesia. Setiap pelaku kejahatan harus
ditangkap dan diadili.
Jika
pelaku kejahatan dibiarkan lari ke tempat lain sehingga masyarakat
merasa tidak puas, potensi konflik terus muncul. Karena itu, sistem
keamanan secara nasional harus diperbaiki.
Satu
hal yang patut dibangkitkan adalah kesadaran bahwa kita ini satu
bangsa, satu cita-cita, dan satu negara. Kesadaran sebagai sebuah
bangsa yang memiliki dan menghargai perbedaan agama dan etnis. Jiwa
kebangsaan dan toleransi harus ditingkatkan kembali.
Dalam konteks kebangsaan, bagaimana membangun toleransi di Indonesia yang majemuk ini?
Asas
dan titik tolak manusia itu ada pada sikap dasar manusia, yakni
menghargai dan menghormati siapa pun sesuai dengan citra penciptaan.
Sikap penghargaan dan penghormatan ini karena manusia memiliki
keluhuran sebagai citra Tuhan yang menciptanya.
Apa
pun yang kita lakukan terhadap orang lain, secara tidak langsung kita
lakukan kepada penciptanya sendiri. Kalau saya menghargai dan
menghormati orang lain, berarti saya menghargai dan menghormati
penciptanya, begitu juga sebaliknya. Ini karena pada dasarnya kita itu
satu, ciptaan sang khalik itu sendiri.
Kalau
pemikiran religius dasar ini tidak diterapkan, manusia melihat dirinya
sebagai serigala bagi orang lain, homo homini lupus, bukan lagi homo
homini socius, di mana seharusnya kita menjadi sahabat dan teman bagi
orang lain. Sikap dasar tadi harus menjadi titik tolak toleransi.
Tak
bisa hanya berbicara tentang toleransi, menulis tentang toleransi,
berkhotbah tentang toleransi, seminar tentang toleransi, tetapi
toleransi harus dihidupkan dengan cara menghargai dan menghormati siapa
pun dan dalam keadaan apa pun.
Bangsa
Indonesia memiliki prinsip sila kedua, kemanusiaan yang adil dan
beradab, dan sila kelima, keadilan sosial. Keduanya sangat kuat karena
menuntut adanya sikap untuk memperlakukan manusia secara adil dan
beradab.
Sebagai
bangsa yang memiliki dasar seperti itu, kemanusiaan yang adil dan
beradab harus benar-benar ditegakkan. Adil itu artinya memperlakukan
manusia sebagai manusia, memperlakukan manusia yang memiliki harkat dan
martabat yang sama, dan menghargai setiap pribadi sesuai kemanusiaan
yang ada.
Keadilan
sosial bagi seluruh rakyat Indonesia itu meliputi keadilan di bidang
hukum, ekonomi, politik, agama, budaya. Konflik bisa muncul karena
ketidakadilan sosial dan perlakuan tidak adil secara hukum.
Kalau
dalam konteks politik di Indonesia sudah ada diskriminasi terhadap
manusia Indonesia, diskriminasi akan melahirkan diskriminasi yang lain.
Yang terjadi dalam republik ini, secara yuridis formal tidak ada
diskriminasi, tetapi secara faktual diskriminasi itu masih ada.
Sepatutnya
sejumlah ketentuan perundang-undangan yang diskriminatif harus
ditiadakan agar toleransi berkembang dengan baik. Kalau toleransi ingin
berkembang, asas keadilan harus ada dalam setiap aspek sosial itu
sendiri.
Gejala
yang patut dicermati saat ini adalah munculnya intoleransi, sikap tidak
toleran. Intoleransi muncul karena latar belakang faktor pendidikan
masyarakat yang belum holistik dan belum mendalam. Keterbatasan
pendidikan membuat cara pandang orang itu terbatas.
Intoleransi
juga muncul karena sifat fanatisme. Orang merasa kelompoknya paling
benar, hebat, berkuasa, mayoritas, minoritas, dan paling berhak
sehingga orang lain bisa disingkirkan. Sikap ini bukan lagi menunjukkan
empati, tetapi sudah antipati.
Intoleransi
juga muncul manakala ada agenda atau program terselubung yang bertujuan
untuk mengembangkan menguasai, mengalahkan, menyingkirkan,
mendiskriminasikan orang, dan menyudutkan orang. Kemunculan gejala
intoleransi inilah yang harus dicermati dan disikapi serius.