ReviewReviewReviewReviewAjari Aku Mencintai KataOct 17, '05 7:03 AM
by asiandi for everyone
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Agus M. Irkham

Menulis: Memintas Waktu Menuju Sukses

Judul Buku : Ajari Aku Mencintai Kata
Penulis : Agus M. Irkham
Pengantar : Bambang Trim
Penerbit : Fastabiq Media bekerjasama dengan FLP
Cetakan : Pertama, April 2005
Tebal : vi + 166 hlm.

Ikatlah ilmu itu dengan menulisnya (Ali bin Abi Thalib).

Untuk mendapatkan suatu ilmu, mendekap atau mengikat ilmu kita disarankan untuk menulis. Sejalan dengan wahyu pertama yang diturunkan Allah kepada Muhammad SAW, di mana Allah meminta kita untuk membaca dengan mengagungkan-Nya. Selain itu Allah juga mengajar manusia dengan perantaraan kalam (baca dan tulis). Oleh karena itu Imam Ali bin Abi Thalib menegaskannya agar kita mengikat ilmu dengan menuliskannya. Maka menulis adalah kegiatan hidup yang amat bernilai tinggi dan mulia.

Sebab dengan menulis hidup kita akan berarti, dengan menulis hidup kita tidak tiada pernah berhenti penuh arti. Maka menuliskan kebermaknaan hidup ini adalah utama sebelum kita pergi ke alam sana. Sebab hidup harus memiliki arti atau nilai. Sekali berarti sudah itu mati seperti kata Chairil Anwar.

Namun demikian menulis bukanlah pekerjaan semudah membalik telapak tangan, sebab menulis membutuhkan latihan dengan semangat dan kerja keras. Hanya dengan semangatlah semua menjadi mungkin. Seperti kata Muhammad Fauzil Adhim,”Gunung pun bisa gemetar dan takluk kalau semangat itu besar di dada. Tetapi kalau sibuk berangan-angan, sementara hati sangat ciut, seekor kecoak pun bisa menakutkan.”

Dengan semangat besar itulah kini Agus M. Irkham berhasil mengahadirkan bukunya yang berjudul “Ajari Aku Mencintai Kata” dengan maksud membagikan pengalamannya terjun ke dunia tulis menulis. Awalnya buku ini diterbitkannya sendiri dengan judul berbeda “Pesta, Cinta, dan Buku”. Agus menuliskan pengalamannya kegagalan, tiada harap, krisis pede, kesepian sekaligus ancaman menjadi generasi yang hilang.

Agus M. Irkham--dalam buku ini mengutip kata-kata Liang Gie,”Semua akan sirna, hilang kecuali yang ditulis,”—mengantarkan kita kepada arti pentingnya menulis agar karya-karya kita masih bisa dinikmati dan dikaji sepeninggal kita sebagaimana karya-karya tokoh semisal Bung Hatta dan Ki Hajar Dewantara. Selain itu menurutnya dengan menulis—di media massa misalnya—akan terjadi diskusi publik yang luas. “Ibarat bola salju, akan terus membesar,” katanya.

Sehubungan dengan media yang semakin membuka peluang bagi kaum muda dalam menyuarakan ide-ide dan cita-citanya, maka tidak lain--seperti disarankan Agus—kaum muda harus menyambutnya dengan bisnis content, yaitu ikut mengisi koran dengan menulis artikel. Memilih untuk berada di depan komputer berjam-jam, menyusun huruf demi huruf menjadi kata, kata menjadi kalimat, dan seterusnya. Sementara orang lainnya hidup santai sajalah.

Maka menurut Agus langkah pertama dalam konteks menulis artikel, temukan alasan yang paling emosional mengapa menulis artikel, inilah bagian dari motivasi. Dengan begitu dengan segala keterbatasan pun akan lahir karya yang fenomenal dan dikenal. Ia mencontohkan karya-karya Tan Malaka, yang banyak lahir dari gubug reot, pensil dan kertas buram seadanya. Harus terus berpindah (mengungsi), sampai ikut merasakan dinginnya laintai penjara, tapi lahirlah karyanya yang berjudul “Dari Penjara ke Penjara”. Demikian terjadi pada Kuntowijoyo (alm.), karyanya “Mantra Penjinak Ular” lahir saat ia mengidap penyakit meningo encephalitis yang mengakibatkan gangguan saraf motorik dan memori otak. Bahkan seorang Harun Yahya harus berhadapan dengan siksa, penjara, fitnah, cibiran, bahkan ancaman pembunuhan karena menulis.

Dalam buku ini diuraikan tentang pengertian artikel dan jenis-jenis artikel. Jenis-jenis artikel berupa artikel deskriptif (menjelaskan suatu masalah atau fakta), artikel eksplanatif (menerangkan tentang suatu masalah dengan detil), artikel prediktif (meramal, menduga hal yang akan terjadi di masa datang) dan artikel preskriptif (menentukan, menuntun, mengajak orang agar mau melakukan sesuai keinginan penulis). Jenis-jenis artikel ini diberikan contoh artikel Agus yang pernah dimuat di media.

Menurut hemat Agus ada tiga hal kesulitan yang sering dialami oleh penulis, yang dikenal dengan 3S (Skill, Sikap, dan Sistem). Kesulitan ini adalah minimnya skill (keterampilan) menulis, semangat menulis yang lembek (masalah sikap/attitude), dan kesulitan mendisiplinkan aktivitas (masalah sistem).

Skill dijabarkan sebagai kemampuan berbahasa tulis; membedakan bahasa Indonesia dan bahasa jurnalistik. Bahasa jurnalistik mempunyai ciri (harus) ringkas, hemat kata, jelas tertib dan singkat sekaligus menarik. Terampil teliti meneliti; melakukan riset (penelitian) sebagai bekal ketelitian dalam tulisan—istilahnya menerapkan jurnalisme presisi (precision journalism). Terampil dalam kemampuan mengakses informasi; memanfaatkan sumber informasi dan menjadikan data-data “berbunyi” (memberikan makna) dan bukan untuk berbohong.

Sikap dijabarkan pula berupa willingness to write (kemauan, niat, ambisi, dan kerja keras) melahirkan artikel. “Kalau anda hanya punya rasa ingin, tetapi tidak ada ambisi, ya biasanya hanya melihat tulisan orang lain,” tulis Agus menyitir pendapat G. Subiyakto. Sikap adalah juga vitalitas. “Melakukan yang biasa dengan cara yang luar biasa,’’ pengertian vitalitas dari Parakitri yang dikutip Agus. Perlu ketahanan dan konsistensi semangat seperti ditunjukkan Romo Mangun.

“...sekian tahun menulis, istirahat, baca ulang, kecewa, menulis lagi, buang sini, tambal itu, robek sini, tambal sana, masuk laci, baca ulang, masuk lagi, diubah lagi sampai putus asa dan seterusnya....”

Adalah Henry Thorpe, representatif teknis untuk British Industries Ltd., di sela-sela tugasnya ia mengumpulkan data-data tentang kekuatan pasukan Jerman. Berbagai informasi detil dikumpulkannya dari perpustakaan Berlin dan membaca surat kabar dari seluruh Jerman. Informasi yang dikumpulkannya terkesan biasa-biasa saja dan sepele tapi menjadi arsip terlengkap tentang angkatan perang Jerman, sampai Jerman mengira Inggris mempunyai lebih seratus agen bawah tanah selama 1935 sampai 1939 yang mampu mendapatkan informasi tersebut. Informasi ini berguna bagi tentara Inggris dalam menggempur tentara Jerman.

“Menjadi penulis adalah menjadi intelijen, menjadi seorang yang cerdas. Seorang yang mampu mencari data, membuat analisis-analisis, sekaligus mampu melakukan upaya-upaya antisipasi, deteksi, memperingatkan, lazimnya intelijen,” tulis Agus. Intinya mempunyai sikap keingintahuan (curiousity) yang tinggi sehingga akan menjadi kreatif, karena seorang penulis harus kreatif. Kreatif dimaksud menurut Edward de Bono mempunyai ciri peka terhadap masalah (problem sensitivity), kelancaran ide (idea fluency), kelenturan pemikiran (idea flexibility), dan keaslian pemikiran (idea originality) (hlm. 61). Lengkap juga dengan kiat melatih kreatifitas suguhan Agus.

Sikap juga adalah seperti pemantauan dari helikopter (helicopter view), mengamati fenomena, melihat, mengumpulkan bukti-bukti hingga memberikan sebuah benang merah dari bukti-bukti tadi dan menganalisisnya, sehingga terhindar dari analisis yang emosional, pragmatis dan dangkal, hitam putih, lebih-lebih over generalisir.

Sistem dijelaskan Agus sebagai aturan-aturan main untuk memudahkan proses mencapai tujuan. Maka dalam pembuatan artikel ada tiga jurus ampuh. Pertama, SMART (Specific, Measurable, Applicable, Reasonable, dan Timetable). Menulis artikel harus spesifik, terukur (struktur, jumlah huruf, data-data, dan bagaimana penyajian konteks), realistis untuk dikerjakan (diselesaikan)—applicable, beralasan dalam penulisannya, dan rela dalam mengalokasikan waktu untuk menulis—timetable. Kedua, masterminds (berkumpul dalam komunitas menulis). Ketiga, minds mapping (pemetaan pikiran), membuat semacam outline artikel.

Dan seterusnya penjelasan terkait dengan kiat-kiat melahirkan suatu artikel berbobot sampai dengan dimuat oleh media dibahas tuntas.

Pada bagian tiga buku ini diajarkan tujuh kebiasaan membiakkan otot menulis. Pertama, dengan membanca. “Membaca hendaknya mencakup kemampuan yang semakin tinggi untuk memahami dan menghargai berbagai macam karangan,” menurut Sapardi Djoko Damono seperti dikutip Agus. Kedua, resensi buku. Ketiga, rekam bahagia dan rekam derita (kliping). Keempat, mengikuti mailinglist. Kelima, jalan-jalan menyapa kehidupan. Keenam, mengikat ide-ide brilian (dalam buku harian). Kedelapan, berolahraga.

Sedangkan pada bagian keempat (jejak langkah) kita akan membaca tentang pintasan waktu seorang penarik becak. Bertutur tentang pria sederhana—yang juga dituliskan pada buku Annida, Buku Sakti Menulis Fiksi—bernama Joni Ariadinata. Menarik karena Kang Joni yang rajin membaca sejak kecil ini pernah menjadi tukang sapu di sebuah bengkel di Jakarta, menjadi tukang becak di Yogyakarta, malam hari mengamen di lorong-lorong Timoho dan Gejayan Yogya. Hingga akhirnya tahun 1993 berkenalan dengan dunia penulisan. Kang Joni memintas waktunya menuju sukses dengan menarget membuat dua cerpen dalam semalam setelah seharian lelah menarik becak. Jadi minimal 60 cerpen sebulan, ditulis seorang penarik becak. Disiplin sepanjang tahun, dan sepanjang tahun itu pula penolakan-penolakan diperolehnya. Sekali pernah dimuat di Surabaya Post, berikutnya baru pada tahun 1994 cerpennya berjudul Lampor menjadi cerpen Terbaik Pilihan Kompas. Selanjutnya mulailah kehidupannya menapak dan menuai keberhasilan hingga kini.

Sama halnya seperti buku-buku bagaimana cara meretas jalan menjadi penulis, buku ini banyak memberikan kiat jitu sukses menjadi penulis. Bermanfaat bagi penulis pemula maupun yang sudah menjalaninya dengan baik. Seperti buku kiat lainnya sulit mencari kelemahan pada buku ini kecuali adanya ketidakjelasan dalam pengurutan sub judul (hlm. 74, 77) dan secara kualitas penjilidan yang jelek (mudah terlepas). Nah, selamat menikmati!

09/10/05

Asiandi
Persembahan kepada mereka yang cinta menulis dan berkarya karenanya ...


baladewa19buckethead wrote on Nov 28, '07
mas mana pengertuan artikelnyaaaa??
sayurbening wrote on Dec 4, '07
asli nehh orang
eroro kale
kan katanya pengertian artikel
payahh
mrdanu wrote on Jan 24
Ass, tlg bantu aq butuh artikel deskiptif computer Trim's
dumaery wrote on Feb 9
wah aku setuju banget tuh. jika perselingkuhan yang dilakukan sesama anak manusia yang lain jenis menjadi aib. maka perselingkuhan antara pena dan kertas akan menjadi surga, dan jendela-jendela bagi pengetahuan yang belum diketahui
Add a Comment
How would you rate this book? (optional)
   
Indonesian Community
Join this Group!RSS FeedHelp on RSS FeedsAdd to My Yahoo
Report Abuse
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Modified from Mediterranean by John Whittet.
Originally on the CSS Zen Garden.
Used and Modified with permission from the author.