Kreasi Puisi Sekalian Jawaban Magusig Untuk Bagong
Sekitar Aktivitas Kreativitas Tulis Menulis Di Luar Garis (13)
Oleh: A.Kohar Ibrahim
*
Ya allah, hatala panutung ranying akukah anakmu yang selalu kau minta berkorban untuk terus berlawan? (Magusig O. Bungai)
*
Kita adalah elang liar terbang jauh ketika hutan terbakar kita bukan sebangsa kelelawar (Suprijadi Tomodihardjo)
*
Jawaban Magusig Untuk Bagong Kussudiardjo: Bukan Kejahatan Menjadi Anggota Lekra
KARYA tulis Magusig O Bungai judul lengkapnya: "Bukan Kejahatan Dan Tidaklah Nista Menjadi Anggota Dan Simpatisan Lekra" yang dimuat bersama kreasi puisinya itu sumbernya dari terbitan "Seri Pers Alternatif" n° 1/89. Sebagai reaksi atas berita "Protes Menjelang Pameran" dan sariberita "Bagong Kussudiardjo memprotes diikutsertakannya lukisan karya tokoh bekas Lekra dalam pameran kebudayaan di AS" yang diturunkan rubrik kebudayaan majalah TEMPO 15 April 1989.
"Pameran kebudayaan Indonesia yang akan diselenggarakan di AS ini pelaksanaannya diketuai oleh bekas menlu Mochtar Kusumaatmadja, telah mendaftar 200 lukisan karya 60 orang pelukis. Pemilihan lukisan yang didaftar dilakukan oleh suatu Dewan Kurator antara lain terdiri dari Soedarso S.P. (pelukis dari Porek II Institut Seni Indonesia), Joseph Fisher (dari Universitas Berkeley), dan Astri Wright (dari Universitas Cornell). Diantara dua ratus lukisan yang masuk daftar ini terdapat lukisan para pelukis Lekra, antara lain, nama-nama yang disebutkan oleh Tempo Jakarta adalah Hendra, Djoko Pekik, dan Lian Sahar. Kemudian disinggung juga nama-nama seperti Affandi dan Sudjojono, tapi yang oleh Bagong Kussudiardjo keduanya tidak dianggap sebagai anggota Lekra," tulis Magusig (hlm 21). Terusnya: "Kehadiran lukisan-lukisan para pelukis Lekra inilah yang menggelitik Bagong Kussudiardjo sehingga memprotes: 'Dulu mereka itu pengkhianat bangsa, kok sekarang mau enak-enak menikmati kelonggaran'. Menurut Tempo Jakarta, alasan Bagong Kussudiardjo memprotes adalah: 'Saya ingin mengikuti anjuran pejabat tinggi untuk tidak mentolerir komunis.' "
Atas dasar protes dan alasan protes Bagong Kussudiardjo tersebut, maka Magusig mengangkat 3 soal, yakni: pertama-tama, soal perkembangan Watak Bagong; kedua, soal Lekra sebagai "pengkhianat bangsa" dan ketiga, soal Lekra sama dengan komunis.
Terkesan bahwa Magusig dengan lancar dan ringan saja dalam menguliti Bagong dengan mengungkapkan tiga persoalan itu. Lantaran, meski asal Borneo, sesungguhnya dia tergolong "wong Yogya", dibersarkan dan terdidik di kota gudeg itu. Sebagai salah seorang aktivis dalam gelora gerakan kebudayaan rakyat, pembina Lekra Jawa Tengah bersama-sama Hersri, Kuslan dan yang lainnya lagi, dia kenal sekali kehidupan di kalangan seni dan budaya di sana. Oleh karena itulah, penjelasan Magusig itu cukup meyakinkan. Apa pula dengan tambahan argumentasi atas kesaksian seniman senior kaliber Basuki Resobowo, konconya Affandi dan Soedjojono alias para tokoh perupa Lekra yang secara sia-sia hendak ditutup-tutupi Bagong. Sayangnya, jangankan untuk coba-coba menutupi para tokoh tersebut, untuk dirinya sendiri saja tak mampu dia. Karena ada bukti kuat dan saksi-mata cukup banyak, bahwa Bagong sesungguhnya pernah turut berkecimpung di alam kebudayaan kiri dalam zaman Orla Bung Karno yang memang berhaluan politik kiri. Akan tetapi, begitu terjadi perubahan kekuasaan dan penguasa -- dari Orla menjadi Orba, maka kontan diapun berpaling selaras terjadinya angin perubahan. Persis seperti dikonstatasi Magusig, bahwasanya Bagong adalah seorang yang memiliki "watak angin-anginan, artinya condong ke mana angin keras bertiup" dengan prinsipnya: "asal diri selamat, kepala sahabat tak enggan dibabat. Buktinya pada tahun 1953 ia mau pergi ke festival pemuda komunis di Bukares, Rumania dan tahun-tahun berikutnya tetap ada hubungan dengan golongan kiri termasuk nasionalis kiri yang sekarang "diharamkan" pemerintah Suharto. Kemudian setelah Orde Baru, angin baru bertiup, ia pun bergoyang menurut arah angin baru itu. Dan mengeluarkan protes, kutukan serta hukuman terhadap orang-orang yang pernah paling tidak menjadi sekutunya, kalau bukan teman-temannya, yaitu sebagai "pengkhianat bangsa". Saya ingin bertanya, kalau mereka itu "pengkhianat bangsa", lantas Bagong sendiri bernama apa yang paling cocok?"
Menurut Magusig O Bungai: "Watak angin-anginan Bagong pun kelihatan sekali ketika wartawan Tempo Jakarta menanyakan alasan hukumannya bahwa 'Lekra pengkhianat bangsa', lalu Bagong mengatakan karena: 'Saya ingin mengikuti anjuran pejabat tinggi untuk tidak mentolerir komunis'. Ukurannya bagi Bagong bukan masalah benar dan salah, tetapi adalah kata-kata penguasa. Atau dengan kata lain, bagi Bagong, kata-kata dan tindakan penguasa adalah ukuran kebenaran. Bagong belum bisa meninggalkan mentalitas keraton feodalnya, mentalitas yang memang dipupuk oleh rezim sekarang dan mempunyai guna untuk melanggengkan kekuasaannya." (hlm 24)
Soal kedua, soal Lekra sebagai "Pengkhianat Bangsa". Magusig juga dengan lancar saja mengutarakan bantahan tuduhan tersebut, dengan menunjukkan sejelasnya betapa keberadaan gerakan kebudayaan dan organisasi yang bernama Lekra itu, yang satunya kata dengan perbuatan dalam keturut-sertaan aktip untuk membina kebudayaan nasional dan ilmiah. Hal mana bisa disimak-lacak dari Mukadimah Lekra sekalian dokumen-dokumen yang dikeluarkannya pun bisa dibanding-buktikan dengan aktivitas-kreativitasnya sejak berdirinya 17 Agustus 1950. Dan selaras dengan pengalamannya sendiri, dengan leluasa Magusig memberikan serangkaian kegiatan di lapangan secara kongkrit dan luas. Seperti turut mengembangkan wayang, ketoprak, ludruk dan kesenian-kesenian rakyat di berbagai daerah, mendorong perkembangan sastra suku bangsa, termasuk sastra dan seni dari etnik Tionghoa, dan masih banyak lagi. Yang kesemuanya merupakan suatu pengabdian dan pembinaan kebudayaan rakyat dan bangsa, bukannya pengkhianatan. Dan menurut Magusig, "nilai nilai yang diperjuangkan Lekra tak akan bisa dihapus oleh kekuatan fisik dan pembunuhan. Nilai-nilainya yang benar akan tetap hidup dan diteruskan walaupun mungkin tidak mutlak harus dengan etiket Lekra." Lebih lanjut, Magusig mengajukan pertanyaan yang akhirnya dijawabnya sendiri: "Apakah Lekra pernah menjual kekayaan negeri ini kepada orang asing? Pengkhianatan dalam bentuk apakah yang dilakukan oleh Lekra kalau ia dikatakan pengkhianat bangsa? Katakanlah dengan terus-terang dan sederhana beserta bukti-buktinya. Saya kira yang berkhianat terhadap rakyat negeri ini justru Suharto sendiri!"
Mengenai soal ketiga, tuduhan "Lekra sama dengan Komunis" atau mengidentikannya dengan PKI, bantahan Magusig O Bungai jelas-tegas: "Tidak! Lekra bukan PKI. Lekra adalah sebuah organisasi massa di mana terdapat anggota-anggota PKI dan non PKI, bahkan ada yang sama sekali tak tahu apa itu Marxisme."
Dan dalam soal inipun Magusig lancar dan gamblang saja memberikan argumentasinya yang selain karena pengalaman langsung berjuang di bidang kebudayaan, juga tergolong seorang intelektual yang memiliki pengetahuan cukup luas dan sikap-pendirian yang teguh lagi tegas.
*
Sajak Sajak Magusig O Bungai
Sungai
tak terduga di sini aku bertemu kau sungai berair biru arus deras menghanyutkan di bawahnya aku anak sungai yang besar di sungai lalu dipontang-pantingkan peristiwa seperti perahu tak punya tepian berhenti kehilangan, kedahagaan dan segala kepahitan menjadi teman-teman setia begitu berjumpa sungai, wanita dengan semua tanda idaman bagai pelaut melihat pantai, akupun mengira di sinilah tepian berlabuh
sungai kutelusuri dengan kegembiraan masa kanak dahulu makin jauh ke hulu, makin tercium wangi hutan kemurnian alami jiwamu ya allah, hatala panutung ranying *) akukah anak itu yang kau lahirkan jadi enggang tak bersarang? sungai sejati dengan hutan dan matahari tak lagi punya tepian! ya allah, hatala panutung ranying akukah anakmu yang selalu kau minta berkorban untuk terus berlawan?
Paris, 1989.
*
Perjalanan Malam
terkatung antara ada dan tiada antara pangkalan dan tujuan malam menebarkan jaring-jaring kesunyian di dalamnya aku terjala jala kecemasan
antara langit dan permukaan sungai hutan dan tebing-tebing tak lagi terbeda temaram kelam membuat jari tak tampak di mata inilah saatnya keteguhan dan bukan perhitungan betul-betul dicoba kata-kata menagih makna.
Paris, 1989.
*
Yang Tak Luluh
kulihat diriku pada seekor enggang luka sayapnya mencari sarang pada kapal patah kemudi mencari pelabuhan berlabuh bukan sarang dan pelabuhan benar yang kurisaukan sarang dan pelabuhan hanyalah arah pulang dan tempat melempar sauh kau yang kucari itulah yang mengatur perjalanan ke bulan, ke bintang-bintang, kendatipun mesti mengitar bumi walau kutahu kau memang ada namun tak sempat kutemui detik-detik terakhir kuucapkan: janji sudah kutunai waktu dan cobaan, mautpun tidak meluluhkan tekad!
Paris, 1989. *
Sajak Sajak Hussein, Nusantari, Suprijadi
Di Kecipak Air Kali
Oleh: Hussein
harapan bagai rusa buruan liar di hutan tanpa nama. jejaknya menggoda bayangan tak nampak
kubujuk hati kalah yang mencinta kesakitan dikeruh air menggenang
pasir di kali menghitung perjalanan jauh penuh liku sesekali tersangkut di bebatuan, berputar di pusaran terdampar di tepian dan hanyut lagi dipapah air. ah, betapa panjang perjalanan sebelum mencapai muara
kujilati pecahan awan di wajah kali jinak
kali mengalir di hutan tanpa nama. rusa buruan mengaso membunuh letih. pemburu menjerat matahari dikecipak air kali.
24.1.80
*
Sikap
Oleh: Nusantari
di kala bendera lunglai terkulai dan sepanjang hari mati mengintai macam-macam polah dan ulah menggelikan den menyakitkan telanjang ke permukaan
yang dahulu harimau mimbar berubah loyo takut resiko bercawat ekor gemetar bertanya tidakkah mentari brenti bersinar?
ada pula yang merangkak rela membudak meski dirinya pipih diinjak dan, oh kasihan ! tega dijilati tetesan darah kawan sendiri
ada yang coba-coba mencuri diri lalu lari bersembunyi menanggalkan tanggungjawab dan meninggalkan kewajiban walau di mulut terus membuih pengakuan ketidakbecusan masa silam, diam-diam hatinya berniat pulang mendahului barisan yang masih gigih bertahan meskipun mati oh masih jauh... baginya belum menanti
bersedih? tak usah kita bersedih! realita betapa pahit harus jantan kita hadapi yang goyah, biarlah masih ragu melangkah asal kegoyahannya tak ia sebarkan sepanjang jalan yang takut, biarlah sementara tidak beringsut asal tak padamlah nyala api di rongga hati dan biarlah cecunguk-cecunguk tetap membudak tetap menunduk bukankah pamor idaman tak terpudarkan kejahatannya sebab yang teguh, tegak dan tegar selalu hadir dan terus lahir melanjutkan kerja di tangan belum selesai merebut cita sampai kapanpun hingga tercapai
1989
*
Kita
Oleh: Suprijadi Tomodihardjo
kita adalah elang liar terbang jauh ketika hutan terbakar
kita bukan sebangsa kelelawar yang siang menghilang dan malam menggelepar
kita adalah elang di langit yang menggugat gugus awan yang mengejar halilintar
sekeliling kita selendang bianglala begitu lembut jalur warnanya menawarkan jerat maut perdamaian
1987
Penjelasan: Sajak "Kita" dipetik dari kusajak "Suara Seorang Anaksemang" Suprijadi Tomodihardjo, terbitan sendiri 1989.
*
Alan: B. Resobowo Dan Buah Renungannya
KREASI opini lainnya yang layak dicatat-ingat dalam Kreasi nomor Tanjidor adalah "B. Resobowo Dan Buah Renungannya" oleh Alan Hogeland alias Kamaludin Rangkuti (hlm 40-47). Dengan terlebih dahulu menunjukkan, bahwa: "Basuki Resobowo sudah belasan tahun hidup di Barat. Dia adalah pelukis sesepuh Indonesia seangkatan S. Soedjojono, Hendra, Affandi dan Henk Ngantung. Di kamarnya yang tidak begitu luas, di Osterpark 63, Amsterdam, di kelder, satu setengah meter di bawah permukaan jalan yang sekaligus menjadi sanggarnya bergantungan lukisan hasil kreasinya. Ada lebih kurang duapuluh lukisan yang tergantung dan tersandar di dinding. Semua lukisan itu bertemakan masalah sosial yang amat akrab dengan kehidupan rakyat banyak."
"Dua di antara duapuluh lukisannya itu adalah gambar pemandangan. Yang satu lukisan alam semata-mata, yang satu lagi dengan manusia. Dua sosok perempuan desa dengan bakul di punggung sedang melangkah di atas jembatan kayu. Kalau lukisan alam Tiongkok selalu mencerminkan keluasan, lukisan alam Basuki terkonsentrasi, terpusat di satu tempat. Lukisan alam dengan sosok perempuan itu hasil imajinasi Basuki tentang Gunung Kidul, daerah paling minus, di selatan Yogya."
"Kedua lukisan alam itu disaput warna suram semuram wajah batin Basuki," lanjut Alan, dengan penegasan, bahwa: "Penderitaan rakyatnya amat dalam membekas di dalam dirinya. Kalau kita ajak dia berbicara tentang seni lukis terasa pada kita bahwa dia adalah pemikir seni Indonesia yang serius. Tapi tidak semua lukisannya digemari." Seperti lukisannya yang diberi judul "Kematian di belakang kawat berduri" dan "Konsentrasi kamp" tidak bisa dinikmati oleh orang awam karena kelainan bentuknya.
Maka, menurut Alan: "Dalam mencari nilai-nilai hakiki guna memuaskan jiwanya, Basuki bisa melahirkan kreasi yang hakikatnya merupakan image simbolik yang dilukiskannya antara khayalan dan kenyataan. Dia bosan dan acuh tak acuh terhadap yang lazim, lalu dia melangkah ke alamnya sendiri. Kemudian memadukan khayalannya itu dengan kenyataan. Dalam Orang-orang Yang Terabaikan, Potret Diri dan Penari, jelas terlihat garis-garis yang menunjukkan ritme linier yang sekaligus membuktikan bahwa Basuki Resobowo adalah pelukis ekspresionisme bebas dengan bobot yang khas. Dikatakan bebas karena dia sudah melampaui ekspresionisme akademis." (hlm 42)
Ketika Alan Hogeland menyusun tulisan tentang pelukis senior itu, Basuki Resobowo sudah berusia 74 tahun. Biasanya, tulis Alan, dalam usia tua orang banyak berbicara tentang kematian yang akan menyongsong. Tapi dia malah terus berbicara tentang hidup, hidup rakyatnya. Jelasnya lebih lanjut, bahwa hampir dalam semua lukisannya, Basuki menampilkan sosok manusia. Manusia-manusia dari berbagai aspek kemasyarakatan... Apa yang dilantunkannya di kanvas adalah sosok manusia bawahan, rakyat biasa yang amat dicintainya. Dengan segala proporsi anatomi dan perwatakannya.
"Memang kekuatan Basuki Resobowo terletak dalam melukiskan manusia, terutama lukisan potret. Lukisan potret yang paling terkenal hasil kreasinya adalah lukisan potret Dr. Sutomo yang cukup kuat dengan latar belakang Gedung Nasional di Surabaya," tulis Alan Hogeland layaknya menggaris-bawahi bakat sang pelukis senior Indonesia itu. *** (April 2008).