ReviewMAKAN - Cerpen Oleh: A.Kohar IbrahimMay 24, '08 2:12 PM
by Ibrahim for everyone
Category:Other
M A K A N


Cerpen
Oleh : A.Kohar Ibrahim


BADAN terasa semakin letih, meski tak melakukan pekerjaan yang berat apapun harini. Kecuali sana sini menjalani pemeriksaan, lantas terbaring di atas ranjang pasien. Ranjang yang berwarna serba putih, baik kasur, seprei, selimut maupun bantal empuknya. Lantaran keletihan, maka seketika mataku terpejam. Terlena. Hanya untuk seketika kemudian kembali terjaga, mendengar suara juru rawat membuka pintu lebar-lebar, membawa nampan berisi makanan dan meletakkannya di sebuah meja kecil, seraya berkata :

« Bonne appetit, Monsiur Riko. Selamat makan, Tuan Riko. »

« Oui, merci beaucoup, » jawab pasien yang terbaring di ranjang sebelah kiriku, dengan nada gembira.

« Maaf, tak ada jatah untuk Tuan Kohar, » ujar sang Jururawat sekaligus penyaji makanan yang nampak masih gadis itu. Lanjutnya sembari senyum : « Masih harus puasa… »

« Oui, d’accord, » balasku menyetujui sang Jururawat yang segera beranjak meneruskan jejak menyajikan nampan berisi santapan makan-siang dari satu ke lain kamar.

Seketika itu pula, pasien sebelah kiriku yang disebut Riko itu sudah sigap siap menyantap sajian makan-siang untuknya. Santapan yang berupa seporsi kentang goreng, sekerat daging, sepiring kecil selada dan semangkuk sup. Dilengkapi sebotol air bening Spa dan sebutir buah apel. Gaya caranya mengunyah makanan itu benar benar menunjukkan orang kemaruk. Begitu bersemangat. Begitu lahap. Begitu menikmatinya. Memancing timbulnya rasa ngiler dan keroncongan di dalam perutku. Perut yang memang sejak beberapa hari sering menimbulkan kengiluan. Perut yang sejak kemarin tak terisikan makanan apapun. Puasa. Puasa untuk pemeriksaan dan pengobatan badan. Untuk di-skan atau difoto demi mendapatkan gambar gambaran keadaan di dalam tubuhku yang jelas sejelas-jelasnya ; terutama sekali justeru yang berkenaan dengan isi perutku. Sebentar lagi, jam setengah empat sore, aku harus mengalami pemeriksaan yang disebut : gastrocopie. Maka itu perut mesti dikosongkan ; dicuci malah.

Melirik seberapa detik Riko yang sedang menikmati makanan dan sesekali meneguk-reguk air bening, rasa laparku kian menjadi-jadi. Aku coba mengalihkan perasan yang juga jadinya menyiksa, dengan memejamkan mata. Tapi sia-sia. « Ah, makan makanan, ah lapar kelaparan, » ujar kata hati bersambutan dengan pikiranku. « Bukankah ragam macamnya sudah kenyang aku rasakan dalam perjalanan hidup kehidupanku ? »

Kata Mbahku, sejak masa bayi aku termasuk orang yang tidak susah atau tidak merepotkan dalam soal makan dan minum ; meski suka makan makanan yang enak, namun tak tergolong kaum yang gembul. Lebih suka mencicipi macam-macam masakan yang enak-sedap namun tidak memanfaatkannya dengan bimbingan pikiran « mumpung-mumpung ». Meskipun di rumah Ibu kandung pintar masak ; malah terkenal sebagai « tukang masak » yang sering diundang untuk mempersiapkan makanan untuk pesta khitanan atau perkawinan. Mempersiapkan masakan dan minuman untuk para tetamu yang jumlah dari puluhan sampai ratusan orang.

« Makanan yang dibikin Ibu selalu enak, » begitulah kesanku. Iya, aku ngaku : mulai dari susu, bubur sampai pada ragam macam masakan lainnya. Terutama sekali sayur masak asem, tumis bayam, gado-gado, karedok, pecak atau pecel lele, pindang bandeng, semur dan opor. Sudah tentu juga : lalap-lalapan dengan sambal terasinya. Ibu juga pintar bikin macam-macam kue., termasuk dodol dan kue lapis yang paling aku senangi. « Dengan Ibu aku selalu enak makan dan tak pernah merasakan kelaparan, » begitulah kesan kesimpulanku.


TANPA Ibu, bisa saja makanan yang aku santap rasanya tidak selalu pas ; kadang kala, aku merasakan kurang makan bahkan lapar kelaparan. Seperti yang terjadi dalam periode singkat dua-tiga bulan menjalankan kegiatan dalam rangka turba atau turun-ke-bawah. Turba yang pernah aku lakukan dalam tahun 1963 ke daerah pertanian dan nelayan Indramayu. Bila mana beberapa kali selagi di kawasan nelayan Rawa Merni yang terpencil itu kami hanya bisa makan makanan tambahan berupa ikan namun tanpa makanan pokok seperti nasi. Untuk lauk-pauk semacam ikan memang bisa dicari dengan mengail di rawa-rawa lingi di situ atau turun ke laut. Namun untuk bahan makanan pokok pada saat itu orang sering kesusahan untuk memperolehnya. Tetapi perihal kekurangan makan makanan itu bukan hanya terjadi di kawasan Rawa Merni atau Kabupaten Indramayu saja, melainkan di daerah-daerah lainnya seperti Gunung Kidul yang terkenal itu. Tetapi juga, keadaan kurang makan atau lapar seperti itu, tidaklah sampai membikin putus asa. Sebaliknyalah. Kami – aku dan teman-teman terus meneruskan kegiatan selayaknya. Begitupun kaum tani atau para nelayan di daerah itu. Terus menjalani kegiatan hidup sehari-hari, lantaran hidup itu sendiri tidak hanya kemudahan melainkan pula kesusahan. Seperti kata orang, bahwa hidup itu perjuangan. Lagi pula, dalam kenyataannya, akan kesusahan, akan kekurangan makan atau lapar kelaparan itu, bisa dialami bukan saja oleh orang penduduk ujung gunung atau pedesaan, melainkan juga oleh orang penduduk kota, bahkan Ibukota ? Seperti yang pernah dirasakan oleh teman-teman sejawatku : Zubir, Iskandar, Nurlan, Amarzan, Fauzi dan Tabrin serta Rahendra. Di antara teman-teman penulis sekaligus jurnalis kotaan itu, yang paling tenar dengan julukan « orang tahan lapar » itu adalah Zubir. Zubir anak Medan yang cukup produktip sebagai penulis tapi sering tongpes alias kantong kempes. Lantaran dia hanya mengumumkan karya tulisnya hanya untuk koran atau terbitan yang tidak memberikan honorarium atau hanya sedikit saja. Agak beda dengan aku, memang, yang mengirimkan tulisan ke beberapa koran nasional dengan honorarium yang lumayan. Seperti koran Bintang Timur atau Bintang Minggu dan Wartabhakti. Maka dari itu, tiap kali ada karya tulisku yang tersiar, yang senang bukan saja diriku sendiri, melainkan juga teman-temanku itu. Senangnya, lebih-lebih lagi terasa, ketika kesempatan untuk pergi ke warteg atau warnas Padang untuk menyantap bersama nasi rames atau sepiring nasi putih dengan lauknya yang paling aku senangi : rendang. Ah, betapa asyik-nikmatnya makan makanan berupa masakan yang memang disenangi ; apa pula mengingat bisa begitu berkat hasil karya tulis ; lebih-lebih lagi bisa mentraktir sobat sejawat. Lebih sering karya tulisku diterbit-siarkan, lebih sering aku kesempatan menikmati makan masakan yang enak dan yang aku senangi. Yang senang dan turut senang bukan saja sobat-sobat sejawat atau terdekatku, tapi juga Ibu kandungku. Setiap kali aku pulang, selalu dibrondong pertanyaan sekaitan dengan kesehatan yang tak lepas dari soal makan makanan yang layak., yakni yang cukup bergizi. Pertanyaan yang selalu aku jawab untuk menenangkannya : « Nggak perlu kuatir, Bu. Soal untuk makan, selain punya gaji juga tambahan hasil tulisan. »

« Syukurlah, kalau gitu, » ujar Ibu, meski nampaknya selalu penasaran. Lantaran menyaksikan betapa gayaku menikmati sajian makan hasil masakannya sendiri. Selalu seperti orang lagi kemaruk.

Aku maklumi Ibu merasa resah kalau saja tahu kesehatanku lagi terganggu pun kalau lagi dalam keadaan ketidakcukupan makan. Kalau sebaliknya, tentulah Ibu merasa senang, bahagia malah bangga. Sekalipun hanya mendengar penjelasanku yang itu-itu juga : soal makan tak usah dikhawatirkan lantaran aku punya pendapatan lumayan -- sebagai jurnalis dan penulis sekalian.

Begitulah, berkat aktivitas-kreativitasku itu pula, betapa Ibu kandungku itu merasa gembira campur bangga menerima suratku dari luarnegeri. Istimesa sekali perihal yang berkaitan dengan kesehatanku dan juga perihal makan makanan. Lebih istimewa sekali semasa berstatus sebagai salah seorang dari rombongan tamu negara. Selain tinggal dari hotel ke hotel kelas satu, juga sering kali menikmati makanan pada jamuan makan-makan ; yang menu-nya memenuhi meja makan yang lebar bundar. Dan yang tak terlupakan, baik kwantitas maupun kwalitasnya, tentulah ketika menerima jamuan makan pada 1 Oktober malam 1965. Pada jamuan makan resmi di ruang Gedung Rakyat di Tienanmen Peking, yang dihadiri para pembesar RRT dan ribuan tamu dari berbagai negeri-negara, termasuk kepala-kepala negara, yang kesempatan menghadiri perayaan ultah ke-16 berdirinya negara Republik Rakyat Tiongkok itu. Dengan ragam makanan dan minuman entah berapa macam jumlahnya, silih ganti selama sekian jam jamuan besar yang bertujuan mempererat tali persahabatan antara rakyat-rakyat sedunia itu.

Meskipun di atas meja makan banyak tersajikan macam-macam masakan seperti pada jamuan makan itu, namun kebiasaanku tak berubah. Aku memang suka makanan enak, tapi kecenderunganku hanyalah lebih suka untuk mencicipinya. Artinya, dengan makan menyantap makanan tersedia secukup-pantasnya saja. Dari kami berlima – Azis, Afif, Sukaris, Kusni dan aku sendiri – Azis lah yang paling bergairah, disusul Sukaris dan Afif. Agak berbeda dengan Kusni dan aku sendiri. Apakah lantaran tinggi-besar badan masing-masing yang menentukan ? Entahlah. Tapi aku punya teman-teman yang sama tinggi dan malah lebih pendek, seperti Fauzi, yang tergolong bukan saja gemar makan tapi sekalian gembul juga. Bahkan tergolong orang yang « berfilsafat : mumpung-mumpung ».

Makan makanan berupa sajian dari tukang masak hotel dari ragam macam perhotelan itu, apakah makan-makan pada acara jamuan makan dari tuan rumah, ataukah bayar sendiri, memang selalu enak-enak. Selagi di Tiongkok, makan makanan sedemikian itu aku alami hampir setahun lamanya. Semasa kesempatan menikmati makan makanan berupa masakan yang enak-enak. Meski kadang kala timbul kerisihan di dalam diri sendiri. Jika mengingat biayanya yang cukup mahal, kebanding upah kaum pekerja yang masa itu, kalau tak salah antara 30—40 Yuan perbulan. Kebanding dengan upah yang aku terima sebanyak 400 Yuan -- ketika untuk beberapa lama dipekerjakan di Majalah Tiongkok Bergambar. Juga risih, teriring rasa resah gelisah, jika ingatan tergugah-gugat keadaan gawat di tanahair. Teringat pada jutaan rakyat yang lapar kelaparan ; pada rekan-sobat sejawat yang pernah lapar dan tentunya sedang susah mencari makan bahkan kelaparan. Seperti Zubir dan kawan-kawan lainnya itu.

Ah, kalau saja orang macam Bang Zubir « sang tahan lapar » ikut rombongan kami, tentulah diapun tergolong seperti aku dan Kusni yang makan enak ya suka, tapi tak gembul.

Makan makanan berupa masakan yang enak-enak dari perhotelan yang cukup mewah selama hampir setahun itu memang tak terlupakan lantaran kecukupan tak pernah terancam kelaparan, meski kerap tergugah-gugat rasa risih dan gelisah. Juga tak pernah terancam kelaparan, lantaran kecukupan makan, ketika aku lebih memilih pindah dari berdiam di perhotelan masuk asrama atau tangsi di Nanking. Berubah status dari pakar kembali sebagai pelajar. Pelajar untuk lebih menambah kecakapan supaya bisa lebih memberikan sumbangan dalam menelusuri perjalanan kehidupan. Maka aku putuskan untuk mengundurkan diri dari pos yang aku duduki ; dengan meninggalkan kamar hotel untuk menghuni kamar tangsi. Sisa gaji yang aku terima tiap bulan, setelah bayar penginapan dan makan di hotel Minzu Fandian itu aku serahkan seluruhnya pada orang yang aku hormat dan percayai : Bung Heru. Sebagai sumbangan untuk mereka yang membutuhkan. Terutama kaum yang tak tahu apa yang hendak dimakan lantaran derita kesusahan yang terpaksa dialaminya.

Makan dan keperluan hidup lainnya seperti pakaian dan perumahan serta pengobatan tidaklah menjadi persoalan selama berada di tangsi Nanking itu memang. Dengan kata lain soal sandang-pangan semuanya tersediakan dari tuan rumah, bahkan kami yang jumlahnya ratusan itu, masih diberi uang saku pula tiap bulannya. Tapi keserba-cukupan itu masih terasa tidaklah mencukupi jika menurut takaran kebutuhan keseluruhan manusia yang normal. Yang justeru menyadari bahwa hidup itu perjuangan. Termasuk yang penting adalah perjuangan justeru untuk cari makan atau memperoleh rezki dengan daya upaya atau dari hasil keringat sendiri. Juga, tak kurang pentingnya jenis makanan lainnya demi kebutuhan sekaligus kesehatan biologis – sebagai lelaki ataupun sebagai perempuan. Sekalipun kami harus tahu diri dan layak selayaknya memiliki kesabaran dalam menanti perubahan situasi supaya bisa pulang kembali ke Indonesia dengan aman, akan tetapi jika penantian berkepanjangan, ah, kesabar-uletan bisa berubah kejenuh-letihan. Siapakah yang tak akan merasa kejenuhan jika setiap bangun pagi situasinya tak juga berubah ubah. Seperti berjalan hanya melangkah di tempat saja. Kalau hanya sebentar, boleh boleh saja. Setahun rasanya cukup lama. Apa pula bertahun tahun sampai tujuh tahun lamanya. Dalam suasana kejenuh-gelisah-resahan itu, ada rasa kerinduan yang sepertinya teramat sangat, yakni justeru dalam soal rasa merasakan makanan sehari-hari. Bayangkan saja, sekian tahun lamanya tak pernah lagi makan dengan menyantap makanan berupa masakan Indonesia. Ragam macam masakan dengan ragam macam bumbu-bumbuannya yang gurih. Pada saat itulah aku menyadari akan makna pentingnya seni-kuliner atau masak-masakan negeri sendiri itu. Suatu bagian yang tak terpisahkan dari kebudayaan Indonesia. Rasa kekurangan bahkan kehilangan rasa sekaitan dengan makan makanan itu memang terasa sekali bukan hanya ketika bermukim di Tiongkok sana, pun ketika dalam perlawatan dengan keretapi Trans Siberia. Selama seminggu, dari ragam makanan atau hasil masak-masakan Rusia yang tersedia di gerbong restoran, hanya semacam yang paling aku suka, yakni yang disebut : gulash.

Rasa yang khas ala Indonesia baru bisa kembali aku nikmati ketika sudah berada di Eroa Barat, istimewa sekali dalam kesempatan berkunjung ke negeri-negara bekas panjajah : Belanda. Negeri yang sekaitan dengan perihal masak-masakan ala Indonesia itu tak ubahnya sebagai gudang bumbu serba ada. Segala bumbu-bumbuan yang bisa diperoleh di mana saja asal uang ada. Apa pula, ketika kesempatan mengunjungi teman-sobat asal berbagai suku. Seperti keluarga Bung Didi yang asal Sunda. Keluarga Bung Noersmando yang asal Minangkabau. Keluarga Mas Djo yang asal Batak. Semua hasil masak masakan Ibu Ibu itu rasanya selalu pas dan lezat untuk dinikmati. Sekalipun tidak bisa disamakan dengan hasil masak masakan Ibu kandungku sendiri. Tak pula seperti hasil masakan perempuan yang aku hormat-sayangi lainnya… Yang justeru asal daerah pencipta masakan pedas-pedas yang lezat, seperti salah satunya merupakan kesenanganku : rendang.

Akan tetapi dari perempuan kekasih terkasih yang jadi biniku ini bukan masakan ala kedaerahannya yang sering terbayang-bayang dalam ingatanku, baik selagi merasa lapar ataupun selagi merasa kangen semata. Makan hasil masakannya yang tak mudah terlupakan itu adalah : pecal lele. Masakan yang dia sendiri suka sekali, dan aku pun begitu pula jadinya. Baru lebih menyadari setelah kesempatan pulang kemabi ke Indonesia dan bersamanya sering ke mana-mana. Sering pula mencapai kesepakatan memilih masakan… « Pecal lele, » begitulah jawabanku pasti dengan suara suka sekaligus kolokan, kalau ditanya olehnya : « Mau makan apa harini, Kohar ? » Meski aku ngaku : pada awal mula pertemuan kami, kalau ke warteg, dia dengan pilihan pecal lele-nya, sedangkan aku memilih sate atau pepes ikan. Tapi berangsur-angsur, kami lebih sering memilih pilihan yang sama. Sekalipun kadang kala aku bilang : « Wah, kalau dah dihadapan sepiring nasi dengan pecal lele, dikau jadi anteng banget, malah seperti lupa daratan aja. Sampai lupa sama mertua… »
« Tapi nggak sampai melupakan puteranya, » tukasnya ringkas tangkas. Rupanya, sebenarnya dia tahu selagi makan aku sering menatap memperhatikannya. Bagaimana gaya-caranya yang apik dan betapa menikmati makanan yang tersajikan atas pilihannya sendiri. Dan dia setuju saja ketika aku mengusulkan supaya nambah lalap daun kemanginya. Persetujuan yang dipahaminya sedemikian rupa, meski teriring balasan tatap sekejap berhias senyum kemesraan. Dan juga dia paham sekali, akan keinginanku yang aku utarakan dalam baris kata-kata yang bukan bersifat « tongkat komando » melainkan kolokan saja : « Ah, tentu aku akan lebih menikmati lagi kalau pecal lele bikinan Lisya sendiri… »

Masukanku segera dijawabnya dengan anggukan dan senyuman seraya bilang : « Iya. Nanti kalau sudah lebih sering ada di rumah, tidak lagi dalam perjalanan peninjauan seperti sekarang ini, yah ? Bikin pecal lele gampang, kok. Kita masak sama-sama, yah ? »
Giliran aku yang ganti mengangguk sembari senyum pula. Dengan keyakinan apa yang diingin-renacakan akan terwujudkan. Dan benar-benarlah kesempatan itu terbuktikan. Bukan hanya di dapur masak-masak bersama, juga bersama pergi belanja. Belanja yang bukan saja di pusat pertokoan modern, tapi juga di pasar. Seperti Pasar Mitra Raya yang letaknya di belakang rumah kediaman kami di Batam ; hanya terpisahkan oleh jalur jalan raya dan beberapa pertokoan saja. Ketika belanja, aku ingat sekali, Kasih-ku itu membeli, selain mentimun muda dan tomat segar, juga dua ikat daun kemangi.

« Beli dua ikat daun kemangi… ! » desisku, tapi hanya di dalam hati. Yang terenyuh oleh sentuhan kehalusan perasaannya juga. Perasaan seorang perempuan yang aku hormat-sayangi lagi pula begitu perhatian akan apa yang aku suka atau ingini. Seperti yang kini aku gandrungi itu : selain memang suka lalap-lalapan, juga jadi suka sekali lalap daun kemangi. Daun yang bermanfaat bagi kesehatan, juga enak dilahap.Sedangkan harum wanginya bukan saja enak ketika dirasa oleh lidah selagi mengunyah, tetapi juga terasa dalam cium harum keindahan yang dianugerahinya dalam ayunan gelombang irama asmara. Ketika aku kepergok menatapinya dengan mesra, dia hanya mengulas dengan senyum sepintas. Teriring sepatah kata yang pantas : « Kohar suka sekali, kan ? »

Aku jadi gagap gugup, hanya mampu mengangguk. Kegagap gugupan yang berubah menjadi gairah begitu megah, baik dalam menikmati makan dari masakan bikinan sendiri maupun selagi menikmati kemesraan sesudah itu. Dalam kebersamaan yang indah keindahannya tak mudah dilukiskan dengan kata-kata yang biasa. Lantaran luar biasa adanya. Padahal, apalah masakan yang dimakan ketika itu kecuali hanya yang sederhana berupa ikan lele dan lalapan seperti daun kemangi ? Namun dalam kesederhanaan semacam itu terkandung maknanya yang amat mendalam dan senantiasa mudah dinikmat selagi di-ingat-selam. Bahkan bisa terhanyut dalam untaian imajinasi berkawinkan variasi kenangan.


KETIKA suara telpon disisi kananku berdering, seketika itu pula kedua pelupuk mataku baru bisa kembali terbuka. Segera mengangkat gagang telpon itu, hanya untuk mendengarkan suara yang terasa begitu dekat dan begitu mesra. Kedekat-mesraan jenis perempuan yang begitu perhatian yang hakikatnya sama dimiliki oleh Ibu kandungku. Suara yang sarat perhatian dengan urusanku, terutama urusan kesehatan dan makan makanan yang aku santap.

Bahkan lebih dari itu. Suaranya terasa penuh getaran magnetis seperti deklamatris yang membawakan kreasi puisi ciptaanku sendiri yang secara istimewa kepadanya aku dedikasi. Meskipun yang aku ungkapkan hanyalah kata-kata yang biasa-biasa saja. Ketika aku menjawab, bahwa hari ini aku mesti meneruskan masa puasa, perempuanku itu masih bertanya sepertinya ingin bercanda yang aku balas dengan nada yang pantas. Bahwa : « Kohar ingin makan pecal lele, lalap timun dan tomat, terutama sekali daun kemangi… »

« Iya. Maklum, deh, » terdengar suaranya kian mesra sarat kolokan. « Nanti kita sama-sama pergi belanja ke pasar lagi ; masak-masak dan makan-minum bersama lagi, yah ? »

Seketika senyumku tersembul sepertinya lagi berhadapan langsung dengan isteriku yang sedang berada di kawasan zamrud katistiwa Kepri itu. Riko, sang pasien teman sekamarku yang barusan usai makan itu hanya bisa menatapku dengan penuh keheranan. Kemungkinan sekali bertanya-tanya sendiri mengenai caraku berkomunikasi via telpon itu : dengan menggunakan bahasa Apaan ?

Tak tahulah dia, meski suaraku kedengaran gembira, tapi sebenarnya perutku sedang menjerit sakit seperti terlilit. Lapar. Sedangkan Riko itu wajahnya sumringah lantaran barusan makan kenyang. Senang. Besok dia sudah boleh pulang ke rumah untuk mengkonsolidasi pemulihan kesehatan.*** (25 05 2008)



Add a Comment
How would you rate this thing? (optional)
   
Indonesian Community
Join this Group!RSS FeedHelp on RSS FeedsAdd to My Yahoo
Report Abuse
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Modified from Mediterranean by John Whittet.
Originally on the CSS Zen Garden.
Used and Modified with permission from the author.