ReviewReviewReviewMalam Panjang - Cerpen oleh A.Kohar IbrahimMay 17, '08 4:20 AM
by Ibrahim for everyone
Category:Other
MALAM PANJANG


Cerpen
Oleh: A.Kohar Ibrahim




MALAM Panjang Servis Urgen.
Untuk beberapa lama kadang kala aku merasa entah di mana, di sini ataukah di negeri entah berantah. Kepalaku seperti berputar mengitari planit bumi, membawa tubuhku terbang mengawang melayang-layang tak ubahnya seperti sehelai bulu burung atau seperti daun kering runtuh melayang dari ranting kering. Maka dari itu aku lebih sering memejamkan mata. Meski telinga masih bisa menangkap suara namun kadang kala terasa pula pendengaran melemah, samar atau lamat-lamat saja. Namun demikian, ketika dibangunkan atau disapa oleh orang-orang berbusana puith-putih di sisi kanan dan kiriku, aku bisa memberi jawaban selayaknya yang diperlukan. Seperti apakah aku alergi pada ini dan itu; obat apakah yang lagi aku gunakan belakangan ini; apakah pula aku menggunakan gigi-palsu -- suatu pertanyaan yang membuat aku nyengir, meski hanya dalam hati. Pertanyaan-pertanyaan itu aku jawab dengan kata "Non. Tidak." sembali menggelengkan kepala perlahan. Tapi ketika ditanya apakah aku pernah di-operasi, aku mengangguk, bilang pelan-pelan: "Oui. Iya. Tahun 2006. Lantaran....prostat."

"Golongan darah Anda?" tanya seseorang di sebelah kiriku, jururawat wanita rupanya.

Aku terdiam seketika, lupa-lupa ingat. Kataku: "Kalau tak salah: O...."

"Golongan darah O plus," ujar si penanya, seperti lagi senyum ramah, berupaya mengurangi cengkaman rasa was-wasku. "Terimakasih, hanya untuk konfirmasi," lanjutnya, seraya beranjak pergi. Rekan-rekannya, juga jururawat perempuan yang mengenakan pakaian putih-putih datang silih berganti -- entah untuk mencek temperatur tubuhku ataukah untuk mendeteksi debar jantungku. Pun entah untuk memeriksa apakah aliran oksigin lewat lubang hidung terletak secara baik. Entah pula sudah berapa kali aku menerima suntikan. Yang pasti ada jarum suntikan yang tetap menancap di ujung lekuk lengan kiriku. Ketetap-tancapannya yang terbalut tiga perban. Jarum suntikan itu bersambungkan pipa plastik kecil bak kabel transparan pengalir cairan dari botol plastik yang menggelantung di tiang-pipa-besi bercabang empat alias tempat sangkutan botol plastik. Botol yang juga transparan, berisi cairan bening, entah apa nama isinya, yang pasti semacam obat atau zat nutritif untuk ditranfusikan ke dalam tubuh pasien. Aku tak ambil pusing. Maksudku: aku pasrah menerima pengobatan apa dan dengan cara apa saja. Karena aku percaya akan keprofesionalan mereka -- dari dokter sampai pada tim jururawatnya. Maka begitulah aku hanya memperhatikan dalam ke-diam-an ketika botol-botol plastik itu bertambah menjadi dua, untuk selanjutnya datang yang ketiga. Sebenarnya, untuk botol yang ketiga ini, yang disangkutkan oleh seorang jururawat perempuan dengan didampingi oleh seorang jururawat lelaki, keningku berkerut, bibirku tergerak-gerak hendak mengucap sepatah kata. Tapi belum lagi terucap kata pertanyaanku, lelaki yang aku duga juga jururawat itu ternyata seorang dokter. Nampak dari insinyal berupa kartu-plastik yang tersemat di atas kantong baju putihnya. "Karena anemie, maka tranfusi darah ini Anda perlukan. Setelah habis, besok pagi akan dilanjutkan. Tenangkan diri dan coba istirahat, meski tak mudah. Maaf, kamar hotel klinik kami sudah komplit. Besok baru bisa pindah menggantikan kamar pasien yang pulang."

"Setuju, Tuan Dokter," jawabku perlahan. "Terimakasih banyak."

"Kalau Anda membutuhkan bantuan kami, untuk apa saja, tekan tombol yang berwarna merah ini," ujar jururawat perempuan sembari menaruh alat yang mirip tombol untuk pesawat televisi itu. Hanya saja, alat ini khusus untuk manggil bantuan, mematikan lampu dan kaitan kepetingan praktis lainnya, yang sesaat itu aku tak mau pusingkan adanya.

Setelah mereka pergi, aku pejamkan mata. Tapi bukan pejamkan mata untuk tertidur, melainkan menahan perasaan ngilu dan dikerumuni ragam macam perasaan dan pikiran yang menggelisahkan. Sebenarnya baik dokter maupun jururawat tidak benar-benar meninggalkan ruang perawatan urgen atau ruang Service des Urgences yang cukup luas itu. Mereka kembali ke ruang kantor mereka atau ke ruang-ruang khusus para pasien. Jelasnya: ke tempat-tempat tidur dimana para pasien masing-masing terbaring, yang hanya dilindungi oleh gorden-gorden putih sebagai dinding pemisah satu dengan lainnya. Aku baru tahu kemudian, bahwa tempat tidurku hanyalah salah sebuah dari deretan lima tempat-tidur untuk orang dewasa. Sebelah sana, selang-seling ruang kantor, ada ruangan untuk perawatan pasien anak-anak. Meski belum pernah aku lihat atau kunjungi, tapi kentara sekali perbedaannya dengan ruangan untuk orang dewasa. Yakni, terutama sekali dalam perbedaannya dengan suara tangis atau teriak kesakitan atau bahkan umpatan dari sementara pasien yang baru datang atau yang sudah lebih dulu datang. Yang tiada beda adalah suara tik-tik dan tak-tak alat pendeteksi detak jantung yang kadang sebentar saja, tapi kerap kali lama juga. Suara-suara yang sungguh tidak untuk menenangkan, selang-seling suara langkah bergegas teriring percakapan meski tidak riuh namun cukup jadi penumbuh suasana sebentar-sebentar gaduh. Lantaran adanya pergi-datang atau keluar-masuk-nya para pasien dengan derita sakit atau penyakit yang merajamnya masing-masing. Ada yang lantaran sakit penyakitnya dari dalam dirinya sendiri. Ada pula yang sakit lantaran kesakitan akibat kecelakaan. Celaka akibat kecelakaan disebabkan tingkah-ulahnya sendiri, seperti cekcok-kelahi ataupun karena akibat orang lain -- sengaja maupun tak sengaja, seperti tabrakan kendaraan di jalanan. Ada pula lantaran kecelakaan yang terjadi di dalam rumah atau tempat kediaman, seperti kebanyakan kecelakaan yang dialami bocah-bocah tersiram air panas atau tersulut api lantaran keteledorannya sendiri pun keteledoran orangtua mereka. Kerap pula terjadi kejadian dramatis cekcok rumahtangga suami-isteri saling tikam-bacok hingga darah tak terelakkan tertumpah. Dengan konsekwensi salah satunya ataukah kehilang-habisan darah hingga mati selagi masih di rumah ataukah yang lainnya masuk rumah-sakit, dengan terlebih dulu menerima perawatan di ruang Service des Urgences seperti ini.

Tubuhku masih saja lemah, payah, tanpa pedulikan waktu yang terus berjalan seperti biasanya. Entah sudah pukul berapa. Tapi kiranya malam sudah merangkak jauh. Mungkin pula sudah dinihari. Tapi aku, meski bisa pejamkan mata namun tidak bisa tidur nyenyak. Lantaran penyakit yang aku derita? Lantaran penyakit-penyakit para pasien lainnya yang mengisi ruang Service des Urgences itu? Yang pergi datang keluar masuk tanpa henti. Ah, malam nampaknya seperti tanpa ujung. Dalam kesendirian terbaring di atas tempat-tidur-pasien yang mobil itu -- yang bisa digerakkan ke sana-sini ke luar-masuk ruangan, termasuk ruang lift -- sesekali aku memasang telinga dan melirik melepas pandang lewat belah-celah dinding-gorden. Hanya untuk meyakinkan diri, betapa sibuknya para pekerja kesehatan -- dokter, kepala jururawat dan tim perawat sekalian -- yang begitu siap-sigap dan cakap-cakap dalam pelayanan perawatan kesehatan para pasien yang datang secara urgent itu di situ. Sejak sore tadi sampai larut malam bahkan dinihari, belum pernah aku dengar ada keluhan atau sikap salah-kaprah apa pula marah-marah dari mereka. Sebaliknyalah, mereka senantiasa menunjukkan keseriusan, kesabaran dan keramah-tamahan. Hanya sekali telingaku menangkap suara jururawat laki-laki, yang rupanya kepala jururawat, bilang kepada pasien yang cerewet:

"Sabarlah, Madame. Jangan kuatir, pasti dapat giliran -- satu persatu, ya...."

"Saya sudah beberapa kali manggil minta bantuan," tukas sang Madame alias sang Ibu-ibu bersangkutan.

"Kami tahu, saya perhatikan, Madame," balas sang kepala jururawat, tegas tapi dengan nada tenang, "Anda masih bisa dikit bersabar. Ada yang minta lebih dulu dan lebih gawat, oke? Dan tak usah menggerutu dalam bahasa asing yang macam-macam...."

"Siapa yang menggerutu?" sang Ibu-ibu itu bertanya keheranan.

"Siapa, ah, siapa siapa saja lah... Tak usah menggerutu apa pula ngomel -- meski dalam bahasa asing," jelas sang kepala-juru-rawat. "Kami mengerti sih -- kerna umumnya kami bisa dua tiga bahasa lebih. Saya bisa tujuh bahasa, termasuk Italia...."

Sang Ibu-ibu itu, yang terkesan dari aksen-nya asal Italia, terdiam seketika. Segera sang kepala jururawat mendekati tempat-tidur Madame Italiana itu seraya bertanya: "Madame perlu bantuan apa?"

"Tolong saya ke depan pintu toilet itu....," jelas Sang Ibu-ibu itu dengan nada perlahan seperti kemalu-maluan. Yang segera mendapatkan bantuan yang diingininya.

Beberapa saat kemudian, sang kepala jururawat yang dipanggil rekannya dengan nama Mijnheer Jan, datang sejenak menjengukku; mencek apakah segalanya beres. Terutama sekali alir-tetes-an dari botol-botol plastik yang bergelantungan itu. Melirik aku belum pejamkan mata, dia senyum ramah: "Tak bisa tidur, yah? Tapi tenangkan diri lah."

"Ya Mijnheer Tujuh-bahasa," jawabku sepontan dengan nada usil. Terkesan bahwa orang ini gampang komunikasi. "Tapi ada orang lain yang aku kenal bisa tigabelas bahasa," kataku, namun hanya dalam hati. Selintas aku teringat sosok berbadan besar kekar. Ahli bahasa itu seorang Indo: bapaknya asal Breda sedang ibunya asal Purwokerto.

"Benar, Monsieur Ibrahim. Saya bisa tujuh bahasa, disamping bahasa Perancis dan Belanda; termasuk bahasa Arab. Kerna saya pernah dinas di negeri Arab Saudi. Dan Anda asal Asia, yah?"

Aku mengangguk, seraya memperjelas: "Iya. Asal Indonesia."

"Wah! Negeri yang indah," ujarnya dengan wajah sumringah.

Melihat gelagatnya itu membikin aku terdorong untuk mengungkap-ucap apa yang tadinya hanya sebagai kata hati akan perihal seseorang yang melebihi kelebihannya dalam soal bahasa. Terbukti bisa tigabelas bahasa, termasuk bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. "Tuan itu namanya Schoonhoven," jelasku.

"Schoonhoven?" tanyanya dengan nada sarat keheranan. "Jan Schoonhoven? Itu dari keluarga kami. Persisnya: Oom-ku..."

"Jan, Jan," tiba-tiba terdengar suara perempuan memanggil. Dalam tempo sebentar saja, seorang jururawat perempuan datang mendekatinya, seperti bisik-bisik, minta dia ke ruangan untuk anak-anak.

"Oke," katanya, lalu mengulang kata itu juga kepadaku seraya pamit sembari bilang: "Sudah jam tiga pagi. Coba istirahat dengan tenang, yah? Besok Anda akan di pindah, ke tingkat lima, dan akan mengalami pemeriksaan intensip lebih lanjut."

Aku mengangguk. Anggukan orang yang selain tercengkam rasa penasaran juga sudah letih dan ngantuk sekali. Dalam sekejap terlelap, kedua belah pelupuk mataku berubah seperti dari layar hitam jadi lukisan pemandangan. Suatu kombinasi komposisi ruang angkasa antara bumi dan langit. Gumpalan-gumpalan mega mendung mengitari gumpalan-gumpalan mega putih ke-abu-biru-biruan, sedangkan beberapa bidadari wara-wiri sana-sini kadang seperti bergegas kadang seperti lagi riang menari-nari. Aku jadi begitu tergelitik, terpesona malah: bidadari-bidadari itu ada yang berwajah putih, ada yang berwajah cokelat bersih dan ada pula yang berwajah hitam legam. Tapi semuanya begitu cantik, begitu ramah yang tertandakan dari wajah-wajah semuanya yang sumringah dan pandang mata yang cerah penuh perhatian senantiasa. Perhatian yang dengan ragam caranya masing-masing untuk memecah kebekuan, mengurangi ketegangan, melonggarkan cengkeraman rasa kesakitan ataupun kewas-wasan. Perhatian selayaknya kaum perawat jururawat dalam menunaikan profesi yang manusiawi.

Di sepanjang malam -- malam yang aku rasakan seperti tanpa kenal ujung itu -- para pelayan kesehatan sitoyen yang ragam macam itu menunaikan missi keprofesiannya sepertinya juga berkiprah tanpa kenal lelah. Hingga cahaya pagi hari merekah cerah. ***

Catatan :
Madame : Nyonya, Bu(Ibu). Mijnheer, Monsieur : Tuan, Pak. Oom : Paman. Orang Indo : Keturunan campuran Belanda-Indonesia.
*




Add a Comment
How would you rate this thing? (optional)
   
Indonesian Community
Join this Group!RSS FeedHelp on RSS FeedsAdd to My Yahoo
Report Abuse
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Modified from Mediterranean by John Whittet.
Originally on the CSS Zen Garden.
Used and Modified with permission from the author.