ReviewReviewReviewRabu Sore - Cerpen oleh A.Kohar IbrahimMay 16, '08 4:48 AM
by Ibrahim for everyone
Category:Other
RABU SORE


Cerpen

Oleh: A. Kohar Ibrahim



RABU 19 Maret 2008 Sore. Diliputi rasa khawatir, bahkan was-was itu bisa saja, wajar dan manusiawi. Bagi orang yang perhatian seperti perempuanku itu, meski berada jauh nun di negeri Jambrud Katulistiwa Nusantara, pun bagi diriku sendiri. Iya begitulah itu. Was-was itu bisa membikin orang bertindak serba-salah atau bicara salah kaprah malah bisa mudah marah-marah, sebaliknya bisa tidak mudah tidur apalagi nyenyak terlena. Kurang tidur, bahkan tak bisa tertidur, membikin badan lemah, mudah payah. Seperti kejadian beberapa hari yang lalu -- pada hari Rabu sore itu.

Bukan lantaran tekanan polusi atau langit mendung yang seperti mau runtuh saja layaknya. Bukan pula lantaran jalanan licin barusan tersiram hujan dan temperatur yang masih dalam musim-dingin, melainkan lantaran lututku seperti mau patah dan nafasku sesak. Maka dari itu rasanya payah sekali untuk beranjak langkah melangkah sekalipun hanya untuk menempuh jarak seratusan meter saja -- dari tempat kediamanku ke depan pintu dokter traitant Delille. Dokter yang selama belasan tahun sebagai tempat untuk konsultasi mengenai keadaan kesehatanku. Meskipun aku ngaku selaku orang yang malas untuk melakukannya, kecuali jika aku rasa sakitku memang berat atau gawat. Tapi rasanya segan sekali, ah, jika hanya merasa pening saja, batuk-batuk atau flu ringan saja. Mending langsung ke apotik dan beli obat sendiri. Lebih cepat dan lebih menghemat. Lantaran kalaupun ke dokter, paling-paling hanya ditanya ini dan itu dan disuruh mangap, lantas sudah mesti membayar ongkos konsultasi dan cuma dapat secarik kertas daftar obat yang harus dibeli di apotik.

"Mangap sekejap sudah mesti bayar delapan belas Euro," begitu biasanya aku menggerutu, sama seperti kebanyakan orang yang juga enggan ke dokter, meski sebagian besar ada penggantian dari kantor Mutuelle atau assuransi kesehatan.

Tetapi sekali ini, ketika badanku nyaris tumbang di depan pintu sang dokter karena terasa lemas sekali, nafas terengah-engah dan mata kunang-kunang, ada rasa penyesalan memiliki kebiasaan malas ke dokter itu. Aku hanya bisa masuk dan duduk di kursi ruang tunggu hanya karena mendapat bantuan papahan dari seseorang yang datang dan juga berkonsultasi kepada dokter traitant itu.

"Syukran, merci," kataku mengucap terimakasih pada sang penolong, lelaki potongan Arab, kemungkinan besar asal Maroko, seraya menampak sekilas seorang perempuan muda kira-kira umur duapuluhan yang sudah lebih dulu mengisi ruang tunggu itu.

"De rien," balas lelaki itu. "Tak mengapa."

Lelaki itu kemudian duduk di sisi sang perempuan berbusana muslimah, yang kuduga sebagai isterinya. Ketika jam lima tepat Dokter Delille muncul, memberi salam seraya menanya siapa yang lebih dulu, pasangan Arab itu menyilakan supaya aku dilayani lebih dulu. Sekali lagi aku mengucapkan kata "syukran" seraya melangkah mengikuti sang dokter masuk ke ruang-periksa-nya. Menanyakan pertanyaan yang kujelaskan apa adanya. Bahwa belakangan ini aku sering cepat merasa letih, kurang tidur karena kerap kali terbangun untuk buang air kecil. Juga mudah terengah-engah sekalipun hanya untuk mengayunkan langkah menelusuri jalanan yang sedikit agak menanjak. Seperti menelusuri Avenue Rogier atau Avenue Dailly.

"Sejak kapan?" tanya Dokter.

"Sejak kurang lebih tiga bulan lalu," jawabku. "Seingat saya, sejak kunjungan saya yang terakhir."

"Tapi ketika itu kesehatan Anda masih cukup lumayan," kata Dokter sambil menyimak layar-kaca ordinaturnya. "Normal. Tak ada indikasi yang mengkahawatirkan."

"Iya," aku menurutinya. "Bahkan Monsieur menasihati supaya saya mengurangi berat badan, supaya tidak melebihi 70 kilo. Ketika itu 74 kilo. Supaya terhindar serangan diabet."

"Betul. Nampaknya Anda lebih kurus dan pucat," kata Dokter seraya menyilakan aku mengukur berat badan kembali, setelah menanggalkan jaket dan pakaian luar lainnya. Untuk duduk agak berbaring di kursi pemeriksaan kesehatannya. Dan aku menuruti saja. Pemeriksaan mulai dari kelopak mata, temperatur badan, tekanan darah, air kencing dan darah. Alhasil bukan sekedar konsultasi tanya-jawab dan memangapkan mulut saja. Hebatnya, kabinet medikal atau ruang-kerja-periksa kesehatan Dokter ini dilengkapi dengan peralatan modern yang diperlukan olehnya. Meskipun tidak begitu luas, tapi sudah seperti mini-klinik saja adanya. Selagi sang dokter melakukan analisanya, kembali aku kenakan pakaian dan duduk menunggu. Dia nampak begitu serius. Begitulah beberapa lama kemudian, ketika dia kembali duduk di hadapanku, seraya menjelaskan dengan suara berat: "Dari analisa pengambilan darah Anda, nampak Anda menderita kekurangan butir-butir darah merah. Anda perlu segera sekarang juga ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih baik dan lebih intensip. Anda terkena anemie.
..."

Seketika aku terperanjat. Meski lidahku terasa kelu. Rupanya dia menyimak wajahku yang pucat tambah pucat dan cahya mataku redup tercengkam waswas.

"Tak usah terlalu gundah," katanya meyakinkan. "Belum terlambat. Saya siapkan surat dan formulir supaya Anda diterima di bagian Le Service des Urgences sekarang juga."

"Oui, Docteur," ujarku nyaris berbisik.

Dan dia segera pula menghubungi Rumah Sakit disebut Clinique Saint-Jean yang terletak di pusat kota Brussel. Bicara dengan seseorang Dokter, dengan nada begitu serius tapi tetap menjaga keramah-tamahan dan nyaris memohon meski secara profesional. Bahwa hendaknya sang dokter yang berdinas di sana, meski waktunya sudah sore dan banyaknya pasien yang berdatangan, mau menerimaku. Lantas dia menatapku, senyum lega, katanya: "Beruntung sekali, mereka mau menerima Anda sekarang juga. Karena kalau harus menunggu besok, saya khawatir... Sekarang Anda kembali pulang, siapkan apa-apa yang diperlukan kalau-kalau Anda harus bermalam di RS. Tentu seperlunya saja, yah? Lantas segera berangkat ke sana. Courage...!"

"Merci, Docteur. Infinimment," ujarku seraya beranjak pamit, mengayun langkah dengan payah diiringinya sampai ke depan pintu ruang-tunggu dan pintu ke luar. Ucapan kata "courage"nya, jadi penumbuh ketabahanku.

Di depan pintu ruang tunggu itu, pasangan pasien Arab sudah berdiri, tiba-tiba sang perempuan menyapa: "Monsieur..."

"Oui?" aku menatapnya sekilas.

"Mungkin Tuan sudah lupa, saya tidak," kata perempuan muda itu. "Saya Minah. Yasminah. Dulu pernah satu grup dengan rombongan anak-anak yang pernah Anda pimpin. Grup atelier kreatif-rekreatif. Kita pun pernah rekreasi ke Taman Diest...."

"Oh, iya? Iya...?" kataku terbata-bata, mencoba memeras ingatan, namun sia-sia.

"Au revoir, Monsieur," ujarnya seraya beranjak melangkah mengikuti Dokter masuk ke ruang-kerja-nya. "Sampai jumpa lagi."

"Oui, au revoir," aku sempat membalasnya. "Ah, ada-ada saja," desisku, dalam keragu-raguan. Tapi suara ujar kata sang perempuan muda itu begitu jernih, begitu lugu. Menggelitik hati dan pikiranku. Sampai aku kembali ke appartemen dan sampai usai menyiapkan apa-apa yang diperlukan, seperti pakaian pengganti dan odol, sikat-gigi dan sandal, wajah anak Arab itu terus mengisi kelopak mataku. Tapi aku belum juga berhasil mengingat masa kanak-kanaknya yang pernah ikut serta rombongan untuk tamasya ke Taman Diest. Aku agak terkejut, sesaat hendak berangkat ke luar, telpon berdering. Dokter Delille memberitahukan, supaya aku segera siap berangkat. Tak boleh nyetir mobil sendiri. Pun tak usah panggil taxi. Ada yang mau mengantarku ke RS Klinik Saint-Jean. "Di depan pintu Anda sudah ada yang menunggu," katanya.

Aku agak terheran-heran. Siapa pula adanya. Ah, sungguh di luar dugaanku: yang menunggu di depan pintu dan siap mengantarku itu ternyata lelaki potongan Arab yang menolongku tadi dan si perempuan muda bernama Minah itu. Lelaki usia kurang lebih tigapuluhan itu ternyata memang suaminya. Pemegang setir, didampingi Yasminah. Aku duduk di bangku belakang. Di sepanjang perjalanan menuju RS Klinik Saint-Jean yang berjarak kurang dari sepuluh kilometer itulah, sekalipun kepala terasa pening dan nyaris tertidur, aku bisa menangkap penjelasan Yasminah lebih jauh. Bahwa mereka barusan menikah, boleh dikata masih pengantinan baru. Suaminya bilang, kejadian di Taman Diest, dimana Minah dan juga temannya Nora nyaris mati tenggelam di kolam renang, tak pernah terlupakan olehnya. "Suatu kejadian yang tak mungkin terlupakan, Wawlah," ujar Yasminah. "Maka dari itu, Minah takkan pernah bisa melupakan Tuan," suaminya menegaskan. "Karena Tuanlah penolongnya...."

Seketika aku mengkerutkan kening, berusaha menyegarkan ingatan. Tapi aku tak mampu mengingat kembali secara jelas sejelas-jelasnya. kejadian yang diutarakan oleh pasangan suami-isteri itu. Kunang-kunang semakin mengerumuni kelopak mataku. Pening. Nafas terasa kian menyesak. Letih sekali. Yang masih bisa kembali aku ingat iyalah, di suatu hari, hari Sabtu musim panas, selalgi wara-wiri mengamati anak-anak rombongan kami yang lagi mandi di kolam renang, seketika aku menampak sesosok tubuh kecil ramping melonjak-lonjak. Bukan dalam kegirang-riangan menikmati air bening lagi hangat, melainkan sedang megap-megap gelagapan lantaran sudah banyak menelan air. Bocah gadis cilik itu memberontak, mencoba lolos dari gelut-dalamnya air kolam, di tengah-tengah para pemuda-pemudi lainnya yang sibuk sendiri-sendiri. Secepat kilat aku lompat untuk mengangkat-selamat-kannya. Dibantu oleh kolega lain yang sigap memanggil team palang-merah yang berdinas di tempat pusat rekreasi itu. Sungguh, sulit memperbandingkan betapa perasaan si bocah Minah ketika mengalami insiden itu; ketika air masuk lewat tenggorokannya dan dengan paksa menggelembungi perutnya. Ketika dia tergeletak, pejamkan mata, direjam kelemahan setelah air kolam renang dikeluarkan kembali dari perut mungilnya.

"Ya Allah. Tuhan Maha Pengasih Lagi Penyayang," kataku nyaris berbisik. Persis mengulang ucap-kata-ku ketika kejadian duabelas tahun lampau.

"Amiiin....yarabbal alamin," masih sempat kutangkap lamat-lamat suara Yasminah dan suaminya nyaris bareng. Kedua belah kelopak mataku rapat tertutup. Gelap. Hanya kembali terang ketika sudah terbaring di atas salah sebuah tempat tidur pasien. Di ruang besar perawatan urgent. Le Service des Urgences. ***

Catatan:
Digubah dalam bentuk cerpen dari naskah kisah biografis A. Kohar Ibrahim: "Sitoyen Saint-Jean -- Antara Hidup Dan Mati".
Docteur traitant : dokter yang berurusan dengan pasien bersangkutan.
Anemie : kekurangan darah. Monsieur : tuan, pak. Merci : terima kasih. Syukran : terima kasih. Oui : iya. Non : tidak. Service : layanan, bagian. Courage : berani, tabah. Euro : mata uang Uni Eropa. Au revoir : sampai jumpa lagi.


Add a Comment
How would you rate this thing? (optional)
   
Indonesian Community
Join this Group!RSS FeedHelp on RSS FeedsAdd to My Yahoo
Report Abuse
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Modified from Mediterranean by John Whittet.
Originally on the CSS Zen Garden.
Used and Modified with permission from the author.