FlexiCOMBO, Jawaban Keperluan Publik Berkomunikasi Nyaman dan Murah di Era Digitalisasi PDF Print E-mail Ditulis oleh Redaksi 06 Oktober 2006 jam 10:20 Oleh Oki Lenore Di era telekomunikasi digital yang perkembangannya melompat melebihi prakiraan, mobilitas menjadi prioritas pilihan yang diinginkan. Karena mobilitas itu, siapa saja di mana saja berada dapat melakukan aktivitas. Yang jadi soal, mampukah seluruh lapisan masyarakat ikut menikmati semua itu. Sejatinya, kemajuan teknologi di bidang telekomunikasi tak saja sekadar memudahkan berkomunikasi, tapi menghadirkan pengetahuan dengan cara yang cepat, mudah dan efisien. Berlandaskan keinginan tersebut, operator telepon berlomba menghadirkan terobosan. Operator GSM menghadirkan layanan generasi per generasi. Generasi pertama diikuti dengan kelanjutannya: generasi kedua yang dipenuhi fasiltas menggiurkan. Generasi kedua yang berbasis CSD (Circuit Switched Data), berevolusi ke GPRS (Global Packet Radio Service) atau 2 1/2 G (generasi dua setengah) yang berbasis EDGE (Enchanced Data-rate GSM Evolution) atau 2 3/4 G dan WiFi (Wireless Fidelity) sinergi dengan Wireless LAN. Dunia GSm kini memasuki generasi ketiga (3G -triji) yang diperkaya dengan ragam keistimewan, mulai video call, TV live streaming, video on demand hingga high speed access for internet browshing & data download. Operator Code Division Multiple Acces (CDMA) pun melakuan loncatan teknologi dengan merilis layanan transfer data berkecepatan tinggi dengan teknologi Evolution Data Optimized (EVDO).
Pertanyaan mendasar, mengikuti makna kesejatiannya, mampukah loncatan kemajuan telekomunikasi itu mendorong produktivitas bangsa dengan menyediakan sistem telekomunikasi alternatif yang murah, dalam pengertian terjangkau masyarakat Indonesia yang sebagian besar harus berjuang amat keras memperbaiki perekonomiannya? Menunjuk satu contoh, India. Negara dengan jumlah penduduk nomer dua terbanyak di dunia, memberikan pelayanan telekomunikasi yang mudah dan murah, menyusul pemberian lisensi yang mengarah ke unified licensing. Dengan lisensi itu, terjadi penurunan tarif yang dikenakan ke masyarakat sehubungan operator memberlakukan tarif murah.
Di Indonesia, pemegang otoritas (baca: regulator) mestinya melakukan hal serupa. Adalah PT Telkom Indonesia Tbk (melalui Divisi Fixed Wireless menghadirkan TelkomFlexi yang memiliki fitur limited mobility dengan klasifikasi pascabayar untuk FlexiClassy dan prabayar untuk FlexiTrendy yang kemudian mendapat sentuhan evolusi bahkan revolusi dengan diwudukannya FlexiCOMBO) menerapkan pelayanan telekomunikasi berteknologi tinggi dan murah melalui terobosan dengan perilisan FlexiCOMBO yang diikuti pengadopsian teknologi EVDO yang mulai diperkenalkan serta diujicobakan pada Indonesia CDMA Exhibition pada Juli 2005 di Jakarta. Pengadopsian itu untuk menjawab kebutuhan publik berkomunikasi yang nyaman dan murah di era digitalisasi.
Sebagai operator fixed wireless access (FWA), Telkom melakukan terobosan dalam maksud memberi kemudahan dan kemurahan maksimal bagi masyarakat melalui fitur FlexiCOMBO. Fitur itu memungkinkan pelanggan dapat menggunakan nomornya di 665 kota Indonesia dengan tarif lokal. Tarif lokal artinya memberi kemudahan dan kemurahan yang maksimal.
Kemurahan tak semata dalam segi pembayaran tapi dari sisi penggunaan kartu. Pelanggan tidak perlu direpotkan mengganti secara manual kartu RUIM yang ada di ponsel hingga kerusakan lebih dini karena keseringan gonta-ganti kartu dapat dihindari. Hanya saja, operator penyelenggara FlexiCOMBO tidak tegas memberi jaminan pada pelanggannya, bahwa menggunakan fitur tersebut memberi kenyaman permanen. Masalahnya, menyusul perilisan FlexiCOMBO, sejumlah operator kompetitor bersuara miring dengan menuding terjadi indikasi pelanggaran Keputusan Menteri Perhubungan No 35 Tahun 2004. Padahal, hingga saat ini, belum ada indikasi pelanggaran FlexiCOMBO sesuai ketentuan FWA, karena roaming sesuai fitur FlexiCOMBO adalah lokal sesuai area. Istimewa bila dilihat dari sisi asas unified access licensing —sebagaimana India— yang memungkinkan operator FWA (dalam hal ini Telkom dengan fitur FlexiCOMBO) meluaskan jangkauan layanannya tidak terbatas di dalam kode area semata. Apalagi dalam menjalankan bisnisnya, Telkom menjalankan prinsip equal treatment yang memberi keuntungan penuh pada konsumen. Mengurai keuntungan dimaksud, FlexiCOMBO melakukan langkah spektakuler. Secara umum FlexiCOMBO memungkinkan pelanggan memiliki dua nomor anak bersifat temporer dan bisa diganti-ganti setiap saat oleh pelangan saat berada di luar kode area yang mana tagihannya dilakukan secara terpusat di nomor induk. Itu artinya kemungkinan tergandakan tagihan biaya, tertutup. Tentang tarif, memang murah kebanding operator lain. Satu contoh, untuk calling forwardig bertarif Rp250 per 30 detik berlaku tanpa batasan zona dan kapan saja atau dikenal dengan tarif flat. Artinya, pelanggan tetap bisa dihubungi meski sedang berada di luar kode area namun dengan tarif biasa.
Tarif murah tersebut pun diberlakukan untuk perihal lain yang jadi bagian dari fasilitas FlexiCOMBO yakni layanan SMS dan data. Sebagai contoh, biaya SMS dari Flexi ke Flexi hanya Rp100. Layanan data yang kini ngetrend dengan sebutan sebagai Voice over Internet Protokol (VoIP) tersebut memang kebutuhan yang tak terbantahkan selama ini. Bukankan operator seluler dewasa ini sedang mengelukan layanan generasi ketiganya?
Perbandingan kemurahan yang diberikan dapat dirinci. Misalnya biaya ke telepon rumah (PSTN) dan Flexi pada pukul 07.00 - 22.59 WIB per menit cuma Rp260,- Sementara operator lain mengenakan tarif sampai Rp902 per menit. Bertelepon dari Flexi ke seluler lain Rp650,- — Rp810,- per menit sesuai waktu, sementara dari operator lain Rp1.600 — Rp2.057,-. Sama halnya dengan menelepon ke area lain dalam wilayah radius kurang 200 kilometer, Flexi sama dengan PSTN menerakan tarif Rp700,- — Rp1.000,- sementara GSM lain menerakan Rp2.000 — Rp4.455 per menit. Di luar wilayah lebih dari 200 kilometer Flexi dan PSTN menerakan tarif Rp1.600,- — Rp2.500,- per menit sementara operator GSM menerakan tarif Rp3.200,- — Rp4.455,- dan kemurahan itu berlaku untuk fasilitas telekomunikasi lain.
Mengikuti ‘kecenderungan’ dewasa ini, jika murah dapat dinaifkan dengan murahan. Misalnya, murah kalau tidak nyaman, keuntungannya tentu dipertanyakan. Tidak demikian dengan Telkom dengan ragam fiturnya yakni Flexi dengan ragam turunannya, termasuk FlexiCOMBO. Salah satu parameternya adalah pengadaan dan pembangunan BTS yang menjamin keluasan coverage. Dengan perangkat yang sudah terbangun puluhan tahun ditambah BTS baru maka jaringan TelkomFlexi masuk ke seluruh Indonesia, yang dibuktikan diberlakukan FlexiCOMBO di 665 kota di Indonesia. Dari ukuran kuantitas pelanggan, FlexiCOMBO mencapai pertumbuhan yang signifikan. Akhir 2004, pelanggan mencapai 1,429 juta dan 6 bulan kemudian pertumbuhan meningkat lebih 100 persen menjadi 3,458 juta. Jumlah itu mencapai 4.234 juta pada Juni 2005. Sementara itu, khusus FlexiCOMBO ( versi baru yang diluncurkan 1 Agustus 2006) hingga 24 Agustus 2006 mencapai 172.305 nomer. Atau sama artinya penjualan per harinya melebihi 10 ribu satuan sambungan Flexi (SSF). Peningkatan itu pun terjadi dari sisi penggunaan panggilan (ARPU). Pada Juni 2005 pascabayar ARPU Rp102 ribu, pada Juni 2006 ARPU mencapai Rp141 ribu. Di prabayar pun terjadi peningkatan, dari Rp17 ribu menjadi Rp29 ribu. Itu artinya bahwa kenyamanan dan kemurahan berkomunikasi di fitur ini menjamin keuntungan pada pelanggan. Kebanding dengan konsumen nirkabel lain dari sisi kharakteristik, TelkomFlexi dengan ragam fiturnya, memiliki tingkat lebih tinggi dibanding operator lain. Bila pelanggan pascabayar operator lain berkisar 4 - 5 persen, pascabayar TelkomFlexi sekitar 22 persen.
Sama halnya bila diamati dari angka drop call di bawah 1,5 persen yang di bawah standart qualcom, Call Set Up Succes Ratio di atas 96,5 persen Short Message Service (SMS) Deliver di bawah 60 detik.
Khusus untuk wilayah Sumatera, bermotto layanan sepenuh hati dan cinta, pelanggan masih terpuaskan. “Pelayanan dengan cinta sepenuh hati itu berlangsung 24 jam sehari,” ujar General Manager (GM) Area Operasi Telkom Flexi Sumatera Erikson Sianipar sambil mengatakan sistem itu dikendalikan dari Regional Operational Center (ROC) bersistem monitoring yang rangkaian dari Sistem Monitoring skala Nasional di Jakarta yang disebut Network Operational Center (NOC). “Dengan murah tapi bukan berarti murahan menjadikan Flexi memiliki posisi terbaik,” tandasnya. Angka-angka positif itu dapat dijadikan parameter tinginya tingkat kepercayaan masyarakat pada TelkomFlexi.
Yang monumental, sebagaimana jadi pembicaraan positif adalah perilisan FlexiCOMBO yang dapat diberlakukan di ratusan kota seperti disebut di atas. FlexiCOMBO berlaku di ratusan kota dimaksud hanya dengan mengirim SMS ke onkode area kota yang dituju atau onnama kota yang dituju dikirimkan ke 777 maka pelanggan akan memiliki nomor temporer di kota tujuan. Guna mengaktifkan fitur call forwading dengan menekan *77.
Dua anak nomor temporer yang bagian dari FlexiCOMBO dapat memback untuk diganti disesuaikan dengan kota yang kita kunjungi dengan tarif Rp 250 per 30 detik yang dapat digunakan dalam waktu dan zona manapun. Tagihannya pun menyatu, sebagai pemudahan dan perbaikan pada FlexiCOMBO sebelumnya di mana beban penagihan dilakukan secara terpisah sesuai kode area kota yang bersangkutan. Ejawantah dari fasilitas murah tersebut dapat dicontohkan. Pelanggan yang memiliki nomor induk di Medan yang berkunjung ke Jakarta, misalnya, tidak perlu mengganti kartu tapi saat di kota asal (baca: Medan) menuju kota tujuan (baca: Jakarta) pelanggan cukup mengetik On[nama kota] atau On[kodearea] dalam hal ini On Jakarta atau On 0778 kemudian dikirimkan ke nomor 777. Kemudian pelanggan tersebut akan mendapatkan SMS notifikasi yang menginformasikan nomor lokal temporer Jakarta atau Palembang sehingga di kedua kota tersebut nomor lokal temporer sudah aktif dengan tarif percakapan lokal ke nomor telepon setempat demikian juga ke nomor kota lain (berbeda kode area tetap SLJJ).
Selain kemudahan dan kemurahan, fitur istimewa Flexi COMBO tak ada di fitur GSM, sebaliknya fitur yang ada di GSM ada di fitur FlexiCOMBO. Khusus pengoperasian di Sumatera, pelanggan di daerah ini beroleh loncatan kemudahan karena pada semester II 2006, Telkom melakukan perluasan coverage degan penambahan kapasitas melalui pengadaan sedikitnya 200 BTS di sejumlah kota di Sumatera. Pembangunan BTS itu memperkuat yang sudah ada di Sumatera. Sama halnya dengan Suamtera Utara, sejumlah kota kecamatan pun dijangkau FlexiCOMBO yang melayani dengan teknologi tinggi dan murah hingga terjangkau. Daerah itu aalah Tarutung, Balige, Sidikalang, Brastagi, Porsea, Doloksanggul, Labuhanruku, Gunungtua, 50 Kota, Sibuhuan, Penyabungan, Perdagangan yang disatukan dengan pelayanan disejumlah daerah yang selama ini ‘terisolasi’ di wilayah Nanggroe Aceh Darussalam seperti Sibreh, Takengon, Tualang Cut, Matang Glumpang Dua, Geudong Dua, Krueng Geukeh Dua, Lhok Sukon, Pantonlabu, Kuala Baru hingga melebar ke wilayah Sumatera Selatan hingga Riau Kepulauan dan Riau.
Dengan kenyataan itu, maka TelkomFlexi dengan turunannya dan perilisan FlexiCOMBO maka layanan yang diberikan Telkom memiliki coverage terluas ketimbang operator seluler berbasis CDMA yang lain bahkan —jika mau berterus terang— bakal mengalahkan coverage operator seluler berbasis GSM. (tulisan ini diikutsertakan pada Lomba Karya Tulis Jurnalistik Telkom 2006 Divisi Regional I Sumatera/l)