MessageTragedi Lampu MerahJan 29, '06 10:35 PM
by AbiMela for everyone
Sedikit menarik ulasan ringkas Farid Gaban ttg Isu Majalah PlayBoy Indonesia.
_________________________________________________________________
Dipost Oleh Farid Gaban di millist Jurnalism

Di tengah hiruk-pikuk kontroversi Playboy, kita lupa pada apa yang
sudah lama disajikan koran-koran seperti "Lampu Merah", "Non-Stop" dan
"Pos Metro". Semua koran ini dijual bebas dan menjadi konsumsi kelas
menengah-bawah perkotaan.

Inilah salah satu judul di halaman muka "Lampu Merah" (Jawa Pos Group)
hari ini, yang merupakan cerita serial:

------------------------------------------------
KISAH MAHASISWA PEMUAS TANTE GIRANG
"Ada Bagian Tubuh Tante yang Membuat Ketagihan"
------------------------------------------------

Cerita ini dilengkapi foto laki-perempuan tengah bersenggama dengan
posisi woman on top yang salah satu teteknya kelihatan jelas.

Saya tidak tahu apakah Dahlan Iskan, yang pernah memperoleh
penghargaan CEO of The Year versi Ernst & Young, pernah meneliti isi
korannya dan tidak risi dengan keuntungan besar yang diperoleh lewat
eksploitasi tulisan-tulisan seperti ini.

Dan tak tahu apakah Mas Goenawan Mohamad, salah satu pemilik saham
Jawa Pos Group, juga pernah membaca dan berusaha mengoreksinya.

Suguhan pornografi yang vulgar seperti itu akan memicu backlash
terhadap kebebasan pers substansial yang lama diperjuangkan media
seperti Tempo. Dan secara ironis menggerogoti oplah media-media yang
lebih serius.

Meningkatnya popularitas "Lampu Merah" mungkin ada kaitannya dengan
merosotnya oplah "Rakyat Merdeka" (Jawa Pos Group juga). Dan itu
merugikan. Meski tidak setuju gaya sensasionalnya, saya menilai koran
"Rakyat Merdeka" memiliki potensi membuat populer tema-tema politik
yang tadinya terlalu elitis.

Sajian model "Lampu Merah" juga memicu perlombaan sajian kevulgaran di
banyak koran, yang ingin efisien (antara lain membayar murah
wartawannnya) dan cepat untung dengan pameran pornografi. Sebuah
perlombaan menuju dasar sumur, race to the bottom.

fgaban

droppingzone wrote on Jan 30, '06
Kalo sekarang ini pada demo soal majalah Playboy, trus si Lampu Merah ini demonya mana ya?
pardedej wrote on Aug 3, '06, edited on Aug 3, '06
Maxim aja kayaknya beti2 tuch.. [beda tipis]
yaaa ini mah sentimen2 gak jelas ajanyah..
typical INDONESIA.. ikut2an org org gak jelas di mideast sana..

buktinya.. bunuh2an di indo dan di lebanon ada bedanya...
kalo membunuh di lebanon lebih berdosa.. tapi gak kalo ngebunuh di POSO.

lucu yach... ada level2nya..
Comment deleted at the request of the author.
aguswiyanto wrote on Mar 11, '07, edited on Mar 11, '07
kayaknya yg bikin kita2 pada ga suka ama tu majalah bukan isinya, tapi karena majalah itu asalnya dari "amrik", iya ngga..?. pada setuju ngga...?
ediagara wrote on Oct 9, '07
Kalau memang banyak orang yang butuh media gituan ngapain repot-repot melarangnya... Yang beli kan toh orang lain, kecuali kalau memang diam-diam kita juga pingin tapi.... malu (hehehehe..) Jaga diri dan kantong masing-masinglah... awas, siapatahu ada copet...!
shika2shadow wrote on Apr 2
Bang Lamer......Keep Gokil Yow
chrasdinisabewa wrote on Apr 25
ah... mereka kan yang penting dapet duit ga peduli bobroknya moral
Add a Comment
   
Indonesian Community
Join this Group!RSS FeedHelp on RSS FeedsAdd to My Yahoo
Report Abuse
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Modified from Mediterranean by John Whittet.
Originally on the CSS Zen Garden.
Used and Modified with permission from the author.