Sedikit menarik ulasan ringkas Farid Gaban ttg Isu Majalah PlayBoy Indonesia. _________________________________________________________________ Dipost Oleh Farid Gaban di millist Jurnalism
Di tengah hiruk-pikuk kontroversi Playboy, kita lupa pada apa yang sudah lama disajikan koran-koran seperti "Lampu Merah", "Non-Stop" dan "Pos Metro". Semua koran ini dijual bebas dan menjadi konsumsi kelas menengah-bawah perkotaan.
Inilah salah satu judul di halaman muka "Lampu Merah" (Jawa Pos Group) hari ini, yang merupakan cerita serial:
------------------------------------------------ KISAH MAHASISWA PEMUAS TANTE GIRANG "Ada Bagian Tubuh Tante yang Membuat Ketagihan" ------------------------------------------------
Cerita ini dilengkapi foto laki-perempuan tengah bersenggama dengan posisi woman on top yang salah satu teteknya kelihatan jelas.
Saya tidak tahu apakah Dahlan Iskan, yang pernah memperoleh penghargaan CEO of The Year versi Ernst & Young, pernah meneliti isi korannya dan tidak risi dengan keuntungan besar yang diperoleh lewat eksploitasi tulisan-tulisan seperti ini.
Dan tak tahu apakah Mas Goenawan Mohamad, salah satu pemilik saham Jawa Pos Group, juga pernah membaca dan berusaha mengoreksinya.
Suguhan pornografi yang vulgar seperti itu akan memicu backlash terhadap kebebasan pers substansial yang lama diperjuangkan media seperti Tempo. Dan secara ironis menggerogoti oplah media-media yang lebih serius.
Meningkatnya popularitas "Lampu Merah" mungkin ada kaitannya dengan merosotnya oplah "Rakyat Merdeka" (Jawa Pos Group juga). Dan itu merugikan. Meski tidak setuju gaya sensasionalnya, saya menilai koran "Rakyat Merdeka" memiliki potensi membuat populer tema-tema politik yang tadinya terlalu elitis.
Sajian model "Lampu Merah" juga memicu perlombaan sajian kevulgaran di banyak koran, yang ingin efisien (antara lain membayar murah wartawannnya) dan cepat untung dengan pameran pornografi. Sebuah perlombaan menuju dasar sumur, race to the bottom.
Kalau memang banyak orang yang butuh media gituan ngapain repot-repot melarangnya... Yang beli kan toh orang lain, kecuali kalau memang diam-diam kita juga pingin tapi.... malu (hehehehe..) Jaga diri dan kantong masing-masinglah... awas, siapatahu ada copet...!