Banyak orang yang selalu menjadikan emosi negatif sebagai kambing hitam atas segala kesalahan yang mereka perbuat. Dan banyak pula orang-orang emosional yang harus mendapat stereotip sebagai orang-orang yang tak dewasa dalam menghadapi hidup. Dan mungkin saya salah satunya yang digolongkan sebagai orang yang emosional. Tak usahlah dibahas apakah saya cukup dewasa dalam menapaki hidup sebagai orang yang emosional, hanya cukup sahabat-sahabat terbaik saya yang tahu siapa dan bagaimana saya dalam hidup sehari-hari, dan bukti itu hanya cukup ada pada mereka.
Namun saya ingin berbagi, bahwa saya perlu rasa takut untuk membuat saya bertahan hidup ketika didera sakit dan kesusahan, dengan rasa takut saya selalu berpikir bahwa amal saya belum cukup untuk menghadap Tuhan, sehingga saya berusaha untuk tetap hidup dan berbuat baik. Saya perlu rasa cemas untuk membuat saya berhati-hati dalam menapaki hidup, saya cemas jikalau ada langkah saya yang salah, kecemasan membuat saya selalu awas dalam bertindak. Saya perlu rasa putus asa untuk sejenak membuat saya beristirahat dan merenungi apa yang telah saya lakukan, putus asa mampu membuat saya berpikir. Saya perlu rasa menyesal dan bersalah agar saya tidak mengulangi kebodohan yang sama dalam hidup saya, rasa menyesal dan bersalah membuat saya lebih dewasa. Saya perlu rasa marah ketika melihat hal-hal yang tidak benar atau tidak dapat diterima bagi akal dan budi saya, kemarahan selalu membuka mata saya dan pada akhirnya membuat saya bersikap lebih bijaksana. Dan saya yakin tidak ada teori manapun oleh siapapun yang dapat mendefinisikan secara khusus manusia macam apa saya dengan segala kombinasi emosi yang saya punyai.
Pernah suatu ketika saya menjadi orang yang selalu mengontrol emosi, dan ketika emosi saya terkontrol, perasaan saya begitu datar. Pernah juga saya, atas himbauan seorang rekan saya yang kebetulan sarjana psikologi mencoba mematikan saluran emosi negatif saya, dan hanya memelihara emosi yang positif, namun itu pun tetap membuat perasaan saya menjadi datar, merasakan kebahagiaan pun akhirnya datar-datar saja, karena tidak adanya perbandingan dengan rasa sedih, tidak ada lagi ketulusan yang saya rasakan dalam kebahagiaan saya. Tanpa emosi yang utuh, saya tidak merasa utuh sebagai manusia. Tanpa emosi yang utuh, saya tidak akan mampu menulis, bahkan satu kalimat puisi pun. Saya selalu perlu emosi saya untuk menulis dan beraktivitas lain. Bagi saya emosi adalah sebuah kekuatan, baik itu rasa bahagia, rasa sedih, rasa marah, rasa takut atau lainnya. Emosi baik positif atau negatif mampu membuat saya bertahan dan menghargai hidup dengan segala kelebihan serta kekurangan yang diberikan kepada saya sebagai seorang manusia.
Bagi seorang seperti saya, anda akan jauh lebih berharga dengan tidak usah menjadi orang yang munafik dengan menutup-nutupi seluruh emosi anda, dan mengklaim diri anda sebagai orang yang dewasa karena mampu menutupinya. Bahkan Nabi Muhammad SAW akan tertawa ketika beliau senang, menangis ketika beliau sedih, dan marah ketika beliau harus marah, namun kita juga harus meniru bahwa beliau tidak pernah berlebihan dalam hal itu. Emosi adalah sebuah karunia yang nilainya berbeda dan sangat spesifik bagi setiap orang. Karenanya tindakan menggeneralisir sebab-sebab kejadian emosi pada orang lain dengan orang yang lainnya adalah sebuah hal yang bodoh. Bahkan lebih bodoh lagi jika seseorang menggeneralisir sebab-sebab kejadian emosi pada orang lain dengan emosi pada dirinya sendiri. Demikian juga kita yang menerima dan mempercayai dengan begitu saja generalisasi itu, akan termasuk kedalam orang yang membodohi diri sendiri.
Kehidupan psikis masing-masing dari kita, dan emosi yang termasuk didalamnya, ada dan terbentuk karena latar belakang yang berbeda pada setiap individu. Karenanya akan selalu tidak adil, jika anda merasa mempunyai hak untuk menilai seseorang yang bahkan tidak anda kenal dengan baik, dan tidak anda ketahui latar belakang hidupnya, hanya karena anda merasa memiliki ilmu yang memadai untuk itu. Terutama sekali jika ilmu yang anda pakai hanya berdasar pada teori dangkal untuk menilai seseorang dari beberapa kalimat yang ia ucapkan beserta diksi, dan pada gesture yang menyertainya, atau bahkan pada tingkah lakunya saat berbicara dengan anda.
Anda harus ingat bahwa ilmu dan peradaban manusia terus berkembang dan anda juga harus ingat bahwa kalimat, gesture, dan tingkah laku bisa diciptakan serta dilatih untuk memperoleh suatu kesan (makanya ada sekolah kepribadian), namun tidak sesederhana itu pada emosi. Karenanya anda justru patut mencurigai ketulusan seseorang yang dalam interaksinya dengan anda tak pernah menunjukkan emosi negatif tapi hanya emosi positif semata, jangan-jangan justru bukan emosi yang sedang ditunjukkan, tetapi sebuah kesan yang sengaja diciptakan bagi anda untuk suatu maksud tertentu. Tidak ada dua manusia yang persis sama bahkan dalam bentukan psikis sekalipun, karenanya tidak akan ada manusia yang dapat menilai orang lain dengan tepat, rahasia seutuhnya tentang seorang manusia hanya diketahui oleh Tuhannya. Ataukah anda merasa memiliki indra ke-enam? Jangan takabur dengan ilmu apapun yang anda miliki, suatu saat Tuhan akan mengingatkan pada kesombongan anda! Berhati-hatilah dengan penilaian anda terhadap orang lain, apalagi jika anda membicarakan tentang penilaian anda tersebut kepada sebagian yang lainnya!
Mungkin saya bukan seorang sarjana psikologi, namun kehidupan mengajarkan saya bahwa emosi, negatif ataupun positif, adalah suatu hal yang perlu, emosi adalah hal yang memanusiakan manusia. Dan masing-masing kita ialah manusia yang kompleks, utuh dan khusus dengan segala kehidupan psikis kita lengkap dengan id, ego, dan superego masing-masing (baca Psikoanalisa oleh Sigmund Freud). Karenanya jangan biarkan diri anda dikelompokkan atau digurui oleh teori-teori dangkal yang diciptakan manusia karena keterbatasannya dalam memahami sesuatu, yang jauh melampaui gejala-gejala fisik yang kasat mata, pahami lebih banyak dan lampauilah ilmu-ilmu itu.
Tak perlu lagi bagi anda untuk terlalu mendengarkan seseorang yang merasa berkompeten dalam bidang ilmu tertentu yang mempelajari emosi manusia, dan tak perlu tersinggung atas segala generalisasi yang dibuat oleh mereka. Masing-masing dari anda adalah karakter spesial dengan kombinasi emosi spesifik yang telah diberikan Tuhan kepada anda, baik itu lewat sifat bawaan, latar belakang keluarga, latar belakang budaya, latar belakang lingkungan, dan atau pengalaman hidup. Jadi kenali dan hargailah diri serta emosi anda masing-masing secara utuh, dan berbuatlah yang terbaik dengannya, lalu kenali dan hargailah diri serta emosi spesifik setiap orang yang berinteraksi dengan anda, juga secara utuh, dan berbuatlah juga yang terbaik dengannya.
Kehidupan psikis masing-masing dari kita, dan emosi yang termasuk didalamnya, ada dan terbentuk karena latar belakang yang berbeda pada setiap individu. Karenanya akan selalu tidak adil, jika anda merasa mempunyai hak untuk menilai seseorang yang bahkan tidak anda kenal dengan baik, dan tidak anda ketahui latar belakang hidupnya, hanya karena anda merasa memiliki ilmu yang memadai untuk itu. Terutama sekali jika ilmu yang anda pakai hanya berdasar pada teori dangkal untuk menilai seseorang dari beberapa kalimat yang ia ucapkan beserta diksi, dan pada gesture yang menyertainya, atau bahkan pada tingkah lakunya saat berbicara dengan anda.
ini aku setuju banget... aku sering banget dinilai sembarangan oleh seseorang. kadang aku mikir... emang dia udah kenal aku berapa lama sih? udah tau perjalanan hidupku apa belum sih? kok semudah itu mengatakan kalo aku begini dan begitu. men-judge aku tanpa dasar sama sekali. hanya melihat lahiriah pada saat itu saja. mana tahu dia apa yang sedang bergolak dalam hati dan pikiran seseorang....
bicara tentang nilai menilai, mendingan dinilai orang negatif tapi aslinya positif, daripada dinilai orang positif tapi aslinya negatif..... lagian apa perlunya penilaian orang!
Mungkin saya bukan seorang sarjana psikologi, namun kehidupan mengajarkan saya bahwa emosi, negatif ataupun positif, adalah suatu hal yang perlu, emosi adalah hal yang memanusiakan manusia.
Waduh, tanpa ada pembatas paragraf, jadinya rada pusing juga .
Memang benar bahwa emosi itu manusiawi. Nah bagi saya sih, emosi adalah alat bantu bagi manusia, baik sebagai daya dorong, asumsi, dll. Dan emosi bisa jadi sebenarnya netral. Soal negatif atau positif, sebenarnya bukan pada emosinya itu sendiri, tetapi penempatan emosinya itu atau kadarnya. Ya seperti pisau, jika dipakai utk pembedahan pada ruang operasi RS, kan positif, ya? Nah kalo dipakai nodong?
Misalnya, rasa takut itu sendiri adalah seperti "early warning system" yg bekerja di alam bawah sadar manusia agar manusia makin berhati2.
Menurut saya, penggunaan kata dalam bahasa juga sebenarnya perlu didiskusikan, karena kata "putus asa" sendiri itu cenderung negatif, ya seperti kata "mencuri". Koq bisa jadi ada "putus asa" yg menyebabkan berpikir? Mungkin kata yg tepat adalah bukan "putus asa", melainkan "menyesal" sehingga berpikir untuk tidak mengulangi kesalahan yg terjadi.
Rasa sesal & marah itu sendiri juga masih netral. Jika pada tempatnya dan pada kadarnya, maka hasilnya positif. Jika tidak pada tempatnya, atau melampaui kadarnya, malah bisa negatif. Penyesalan yg begitu hebat, bisa menimbulkan trauma yg sukar sembuh, yg tentunya menjadi negatif. Penyesalan yg pada tempatnya, justru menambah daya dorong utk memperbaiki diri. Karena itulah muncul teori tentang kecerdasan emosi. Kecerdasan dalam mengelola dan menempatkan emosi pada tempat yg tepat.
Dan setuju bahwa tiap orang punya karakternya sendiri. Dan jika masing2 dibawa menuju positif, akan saling menguatkan dan menjadi satu tim yg hebat. Kalo kata pak Stephen Covey, itu masuk dalam interdependensi, yg lebih unggul daripada independensi, apalagi dari dependensi.
bicara tentang nilai menilai, mendingan dinilai orang negatif tapi aslinya positif, daripada dinilai orang positif tapi aslinya negatif..... lagian apa perlunya penilaian orang!
Seperti kata mbak Rinis : meaning jangan mudah menilai orang ya? dalam luar pikiran kan bisa berlainan, belum tentu yg seneng begitu juga atinya dan sebaliknya Untuk berinteraksi dgn orang lain dgn baik, juga dibutuhkan kecerdasan untuk memahami orang lain. Semakin baik memahami, tentu akan semakin tepat pemilihan respon kita terhadap orang lain, sehingga bisa membangun hubungan yg lebih baik, ya kan?
Penilaian orang itu perlu koq, jika kita ingin lebih baik lagi. Kan perlu ada second opinion mengenai diri kita. Bisa jadi orang lain melihat sesuatu yg tidak kita lihat. Nah kalo memang penilaian orang lain itu salah, ya tinggalkan. Yg benar, ya diambil. Jadi intinya itu mudah saja, yaitu bukan siapa yg berbicara, tetapi apa isinya. Ya kan?
Yg benar, ya diambil. Jadi intinya itu mudah saja, yaitu bukan siapa yg berbicara, tetapi apa isinya. Ya kan?
yap...akur...setuju sekali mas....maksudnya sih kesitu..... jangan sampe penilaian orang yg negatif terhadap kita malah bikin kita emosi.... kalo gak suka dengan penilaian itu, just leave it, right? nah kalo kita mau koreksi diri terhadap kritik org lain, itu mah lebih bagus dan bijaksana...
"Karenanya jangan biarkan diri anda dikelompokkan atau digurui oleh teori-teori dangkal yang diciptakan manusia karena keterbatasannya dalam memahami sesuatu, yang jauh melampaui gejala-gejala fisik yang kasat mata, pahami lebih banyak dan lampauilah ilmu-ilmu itu."
Dalam hati orang tidak ada yang bisa mengukur. Hanya dengan empati dan simpati beserta kompromi sebuah hati "mungkin" bisa dimengerti dengan lebih baik.
Gitu ya kira2 Agnes, ya?.... salam kenal dari Bangalore.... p:)
hanya melihat lahiriah pada saat itu saja. mana tahu dia apa yang sedang bergolak dalam hati dan pikiran seseorang....
wah baru buka lagi postingan yg ini, maaf balesnya telat banget huehehehe... intinya empati itu sangat penting dalam menilai orang lain ^_^, jadi kalau empatinya kurang lebih baik nggak usah menilai orang lain ya kan? Soalnya nanti penilaiannya salah ^_^
Perlu... tapi kita harus mampu memilah-milah penilaian yang kita denger... intinya ngga semuanya dimasukin kehati... dan kita harus mengenal diri kita sendiri lebih dari orang lain ^_^
Untuk berinteraksi dgn orang lain dgn baik, juga dibutuhkan kecerdasan untuk memahami orang lain. Semakin baik memahami, tentu akan semakin tepat pemilihan respon kita terhadap orang lain, sehingga bisa membangun hubungan yg lebih baik, ya kan?
Tambahan sedikit... kecerdasan itu nggak akan ada, tanpa kemampuan untuk berempati ^_^
kalo gak suka dengan penilaian itu, just leave it, right? nah kalo kita mau koreksi diri terhadap kritik org lain, itu mah lebih bagus dan bijaksana...
Siiiiiip ^_^, yang penting jangan sampai kritik itu membuat kita merasa "down" ^_^
Dalam hati orang tidak ada yang bisa mengukur. Hanya dengan empati dan simpati beserta kompromi sebuah hati "mungkin" bisa dimengerti dengan lebih baik.
Betul... dan rahasia hati itu hanya milik Tuhan ^_^, dan Dia yang berkuasa untuk membukanya kepada yang dikehendaki
Setuju sama Agnes, semua emosi seperti rasa takut, sedih, kecewa sejauh masih dapat kita KENDALI kan memang diperlukan. Karena seperti itulah tubuh melindungi kita. Akan tetapi kalo emosi tsb. sudah tidak dapat dikendalikan, baru di anggap negatif. Untuk itu harus dihilangkan / diterapi. Kalau bisa selalu gembira, positif, bahagia, lapang dada mengapa pilih yang takut, sedih, marah dsb.