Indonesia
dikenal memiliki kekayaan dan keberagaman budaya. Terdiri dari berbagai
suku bangsa, agama, bahasa, adat istiadat, cara berpakaian, dan
kebiasaan. Karena itu, upaya-upaya meniadakan keberagaman atau upaya
penyeragaman melalui Rancangan Undang-Undang Antipornografi dan
Pornoaksi berarti runtuhnya Indonesia dan wilayah kebangsaan.
"Kami
tidak mau berdebat dengan masalah agama, karena RUU APP wilayahnya
bukan wilayah agama, tetapi wilayah kebangsaan dan identitas bangsa,"
kata Yeni Rosa Damayanti dari Aliansi Bhinneka Tunggal Ika dalam jumpa
pers "Menolak RUU APP" di Museum Sumpah Pemuda Jakarta, Kamis (20/4).
Yeni
mengingatkan, eksistensi Indonesia terkait dengan semangat Sumpah
Pemuda yang mempersatukan pemuda dari bermacam suku bangsa dan budaya
di Indonesia. Ada Jong Java, Jong Ambon, Jong Selebes, Jong Sumatera,
dan lain-lain. Aliansi Bhinneka Tunggal Ika menyatakan, mereka
mengambil tempat di Museum Sumpah Pemuda ini untuk mengingatkan bahwa
kita bersatu menjadi Indonesia karena kekayaan budaya yang kita miliki.
"Kalau keberagaman itu tidak boleh ada, berarti identitas bangsa sudah
tidak ada lagi. Indonesia sudah runtuh," katanya.
Mengenai
pornografi, Ratna Sarumpaet menyatakan, pornografi yang merupakan
bentuk eksploitasi berlebihan atas seksualitas-melalui majalah, buku,
film dan sebagainya-tentu saja harus kita tolak dengan tegas. Namun,
sangat keliru bila ada yang berpikir bahwa untuk mencegah dan
menghentikan pornografi, kita dapat melakukannya lewat UU yang mengatur
moral dan akhlak manusia Indonesia secara pukul rata, sebagaimana RUU
APP.
Kalau
mau menghentikan pornografi, lanjut Ratna, seharusnya negara mengatur
"penyebaran" barang-barang pornografi, dan bukannya mengatur soal moral
dan etika. Karena problematiknya terutama berada pada penyebarannya,
maka lebih tepat pengaturannya di regulasi mengenai penerbitan dan
penyiaran, serta dalam KUHP. Bukan dalam UU yang mengatur moral.
Pengaturan moral dan etika merupakan wewenang lembaga agama dan budaya.
"Yang
kita butuhkan perangkat hukum yang tegas, yang memberi hukuman berat
bagi pelaku tindak pelecehan dan kekerasan seksual, seperti berlaku di
banyak negara. Jadi bukan perempuan yang 'dipenjarakan'," ujarnya.
Menafikan
Aliansi
Bhinneka menilai, RUU APP dianggap sebagai RUU yang dengan sadar
menafikan kebhinnekaan masyarakat Indonesia yang terdiri dari bermacam
suku, etnis, dan agama, cenderung diatur berdasarkan paham satu
kelompok saja. Menurut Aliansi Bhinneka Tunggal Ika, RUU APP berpotensi
menghancurkan budaya bangsa dan mengancam keberadaan Negara Indonesia.
Karena
itu, perlu diingatkan agar semua pihak, yaitu DPR, pemerintah, serta
seluruh rakyat Indonesia akan makna jati diri kita lewat "Pawai Budaya
Menolak RUU APP". "Ini cara kami menyuarakan tekad kami mempertahankan
Indonesia yang jelas-jelas memiliki dasar negara, UUD, Pancasila, dan
Bhinneka Tunggal Ika. Merayakan kebhinnekaan budaya Indonesia adalah
sebuah ajakan untuk kembali menghidupkan kebanggaan nasional atas
kekayaan budayanya," papar Ratna Sarumpaet.
Pawai
Budaya dijadwalkan Sabtu (22/4) pukul 10.000 di lapangan Monumen
Nasional (Monas) Jakarta. Saat ini tercatat 5.000-an peserta dari
berbagai wilayah Indonesia mewakili para seniman tradisi maupun
kontemporer, sanggar musik, komunitas suku dari Aceh hingga Papua,
profesional, pelajar, mahasiswa, desainer, artis, tokoh masyarakat, dan
perwakilan agama-agama se-Indonesia.
Pawai
akan dibuka oleh Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas dari DI Yogyakarta.
Rencananya akan dihadiri Sarwono Kusumaatmadja, Herawati Diah, dan Ny
Supardjo Rustam. Kamal, Ketua Dewan Kesenian Provinsi Nanggroe Aceh
Darussalam yang membawa 25 orang rombongan ke Jakarta menyatakan,
pihaknya turut berpartisipasi karena kesadaran berbangsa.
"Aceh
merupakan bagian dari negeri ini. RUU APP itu mungkin cocok untuk Aceh,
namun tidak untuk Papua atau Bali misalnya," kata Kamal. (LOK)
kalo Islam jadi minoritas, ada yg menghargai gak ya...?
(tanyakanlah pada negara2 pelarang Jilbab)
ada: saya. dan di kawasan dimana saya bermukim -- baik yang lokal, regional maupun inter-nasional yang lebih dari 300-an juta penduduknya, terbukti penganut agama islam yang jumlahnya monoritas kebanding yang mayoritas kristen dihargai dalam artian kongkret: adanya kebebasan menjalankan ibadah.
iya, itu kesan atas observasi saya -- bukan hanya dengar dengar tapi menyaksikan sendiri dalam kehidupan sehari hari. di mana beragam kepercayaan agama dan aliran hidup berdampingan dalam masyarakat multikultural. ini bukan berarti tidak ada kalangan masyarakat yang kontra, tapi jumlah mereekah kecil saja dan yang ekstrimnya apalagi -- meskipun kadang kala bikin ulah menggunakan kekerasan baik dalam kata maupun dalam tindakan. dan kalau terjadi insiden semacam itu, yang jadi kroban berhak mengadu atau melakukan tuntutan kepada pihak yang berwajib.
sayangnya di negara kita kesadaran untuk hidup berdampingan sangat kecil bagi mereka2 yang mengatasnamakan agama dalam melakukan kekerasan, perbedaan adalah sesuatu yang harus dihancurkan..sungguh ironis, negara Indonesia yang dulu dipuja-puja karena Bhinneka Tunggal Ika nya sekarang malah ditertawakan karena kemunafikan-kemunafikan mereka yang merasa dirinya mayoritas tunggal..
sayangnya di negara kita kesadaran untuk hidup berdampingan sangat kecil bagi mereka2 yang mengatasnamakan agama dalam melakukan kekerasan, perbedaan adalah sesuatu yang harus dihancurkan..sungguh ironis, negara Indonesia yang dulu dipuja-puja karena Bhinneka Tunggal Ika nya sekarang malah ditertawakan karena kemunafikan-kemunafikan mereka yang merasa dirinya mayoritas tunggal..
keaneka-ragaman adalah kenyataan obyektif kehidupan di berbagai bidang; keseragaman hanya bisa dalam batas-batas atau hal hal tertentu. dalam hal tanaman saja pun, seperti pohon kelapa misalnya, kebun kelapa nampaknya seragam tapi satu dengan lainnya berbeda juga alias tidak identik. apa lagi manusia di sejagad duni, atu di sebagiannya saja seperti nusantara atau lebih khusus lagi indonesia. kebhinekaan, multikulturalisma, adalah suatu kenyataan obyektif. maka hidup berdampingan, saling hormat hargai sesama manusia sudah selayaknyalah dijalani sebagai pertanda keadaban -- bukan sebaliknya.
andracharoen wrote on Apr 24, '06, edited on Apr 24, '06
Setuju... Aku lihat pawainya kemarin di tv. Ibu Nuriyah Abdurrahman Wahid juga ikut berorasi. Gus Dur juga agaknya kurang setuju dengan RUU APP ini. Apa ini perpecahan di tubuh Islam sendiri? Sedangkan yang mendukung, jelas2 mengatasnamakan agama tsb.
Bisnis pelacuran misalnya, akarnya hampir pasti melibatkan kemiskinan dan kebodohan perempuan. Perempuan2 yang melacurkan diri, sebagian besar bukan karena mereka tidak bermoral, tapi ada banyak alasan ironis dibalik itu. Dari cerita-cerita nyata, kebanyakan karena harus menjadi tombak perekonomian keluarga, dan tidak punya skill/kompetensi untuk mendapat pekerjaan yang "bermoral". [tanya kenapa]
Just curious, apa dulu jaman Nabi Muhammad saw, beliau juga men-sweeping ke tempat2 asusila? Apakah beliau juga mendatangi orang2 yang dianggap musuh lalu melabrak mereka? Ada yg tau gak ya...
Ini ada beberapa link penelitian ilmiah, sekedar mengabsahkan "pendapat asal"-ku tentang bisnis pelacuran di post sebelumnya. Antisipasi aja, biar engga jadi debat kusir.
kalo Islam jadi minoritas, ada yg menghargai gak ya...?
(tanyakanlah pada negara2 pelarang Jilbab)
ada! bahkan banyak lho....orang2 yang asalnya dari marokko,turki,iran,irak,indonesia,dll yang hidup sebagai kaum muslim minoritas di eropa yang mayoritasnya kristen.mereka justru di lindungi oleh hukum negri yaitu:demokrasi,bebas mempunyai agama apa saja entah kamu hitam atau putih...semuanya sama!.mereka lebih bebas pakai jilbab di tempat umum dari pada di turki yang negri mayoritasnya justru islam.heran yah? tapi kita sekarang bukan lagi diskusikan masalah ini mas...nanti gak ada finishnya kalau di campur2 terus seperti gado gado aja tuh nanti level diskusinya mas.
penduduk indonesia terdiri dari berbagai macam suku,agama dan tradisi. penduduk indonesia merayakan setiap tahun hari kemerdekaannya,semuanya!, islam,kristen,budha,hindu,dll....ini adalah persatuannya. hasil ekonomi indonesia bukan dari pulau aceh saja tapi juga dari bali dengan turisnya,ambon dengan mutiaranya,dan pulau2 lainnya yang mempunyai hutan luas dan tambang minyak! coba banyangkan jika penduduk bali merasa tak adil dan ingin keluar dari persatuannya?berarti indonesia bakal tambah miskin lagi bukan saja ekonominya tapi persatuannya bakal pecah sebab bukan saja bali tapi nanti masih banyak lagi pulau2 yang bakal mau keluar dari persatuan indonesia.kasihan kan buat ABRI kita yang nantinya jadi repot terus menjaga persatuan ini gara2 ada saja orang yang mau lebih superior dari pada yang lainnya dan tak respek/hargai penduduk yang mungkin tak sama agamanya atau tradisinya...dll. kita harus justru bangga karna indonesia terkenal uniknya yang terdiri dari seperti gado-gado ini mas....macam2 tradisi,suku dan agamanya! yang saya heran: kenapa hanya gara2 buku playboy (yg haram itu) lantas banyak orang yang jadi sirik satu sama lainnya?sedangkan daging babi (yg haram itu)sudah dari jaman purbakala di jual di seluruh indonesia......apakah nanti pemerintah harus juga membuat undang2 anti babi?haha...jadi lucu juga tuh di mata internasional yah.. bukankah kita harus mikirkan gimana memajukan ekonomi indonesia biar penduduk indonesia makmur dan gak ada lagi kemelaratan? sebab hanya dengan sembahyang saja kita tak bakal di gaji buat beli makanan oleh pak haji,pak pastur,pak pendeta,pak biksu,dll....juga nasi tidak pernah jatuh dari langit..tapi kita musti kerja! dan kalau kamu kerja di perusahaan saya nanti saya yang gajiin kamu setiap bulannya buat kehidupanmu di rumah!tapi syaratnya kamu harus kerja dulu,karna dengan sembahyangin saya saja itu bukan bikin perusahaan jadi tambvah berkembang. amin.
Mungkin yang kurang dimiliki bangsa Indonesia akhir-akhir ini adalah kemampuan untuk menerima perbedaan.
seperti kata alvian: perbedaan adalah sesuatu yang harus dihancurkan..
Di beberapa komunitas, entah berlandaskan agama atau budaya atau apapun, terkadang ditanamkan rasa anti terhadap komunitas lain. Bahwa orang-orang yang tidak termasuk dalam komunitasnya dicap sebagai orang yang kurang baik, dengan segala alasan pembenaran. Padahal GusDur di masa pemerintahannya malah memberikan pengakuan pada masyarakat Tionghoa untuk merayakan Imlek sebagai hari libur nasional. Ini termasuk langkah bagus sebagai pengakuan keberagaman. Namun di lingkup paling kecil, yaitu keluarga/rumah, kemampuan menerima perbedaan ini tidak selalu diajarkan secara lugas. Sebuah contoh kecil, contoh ini bukan bermaksud menimbulkan isu SARA, dulu aku kuliah di sebuah universitas yang mahasiswanya benar2 bhinneka tunggal ika, berasal dari 28 propinsi (waktu itu masih segitu), hampir semua suku/ras/agama ada. Suatu hari sepupuku ikut jalan2 ke kampus, di jalan ketemu ama mahasiswa asal Irian, langsung sepupuku itu bilang: "Wah, itu orang Irian ya mbak, item amat, serem, dst.." Yang jelas sepupuku sangat kaget melihat orang asal Papua sedekat itu...hehehe... sebelumnya dia hanya lihat di TV. Aku jawab: "Iya..disini memang bhinneka tunggal ika." Contoh kecil itu menunjukkan, sesuatu yang belum pernah dilihat/didengar/dirasakan dan berbeda dengan kita, awalnya akan muncul pengingkaran (denial), dengan semangat damai lambat laun akan berubah menjadi penerimaan (acceptance). Semoga semangat damai dan menerima perbedaan ini bisa ditanamkan pada generasi sekarang dan penerusnya.
perbedaan adalah sesuatu yang kaya,jangan melihat perbedaan seperti sesuatu yg negatif. di eropa seperti di perancis,inggris,jerman,belanda,belgia.dll negri ini yang mayoritasnya kristen kini tambah kaya lagi dengan datangnya imigrant2 kaum muslim yang membuat negri2 ini jadi tambah bagus,mereka membawa cultur/tradisi/agamanya ke eropa..dan jangan lupa makanan2nya...ini kan membuat eropa lebih indah lagi. dan memang ada saja orang yg sirik terhadap mereka dan melihatnya seperti sesuatu yg negatif karna mungkin setiap hari di sedorkan oleh media mengenai teroris ini-itu...,tapi yang jelas sebagian luas penduduknya justru senang di warnai dengan kehadiran mereka. p.s:babe saya muslim,nyokap saya kristen. saya merasa kaya karna mempunyai dua agama yg membesarin saya,dan meriah bisa setiap tahun rayakan idul fitri dan natal. perbedaan bukan sesuatu yang menghalangi kita untuk jadi rukun/sejahtera terhadap sesama menusia. lihat perbedaan seperti lukisan,makin banyak warnanya makin bagus bukan?
menurut sekeon: perbedaan bukan sesuatu yang menghalangi kita untuk jadi rukun/sejahtera terhadap sesama menusia.
Setuju.....
masih menurut sekeon: lihat perbedaan seperti lukisan,makin banyak warnanya makin bagus bukan?
Wah kalo dibandingkan dengan lukisan, belum tentu yg banyak warna makin bagus loh...Warna-warna tsb juga harus membentuk kepaduan/harmoni untuk membentuk sebuah karya seni, sekalipun itu lukisan abstrak yang kadang banyak warna & bentuk coretan. But great, I got your point. Kuas dengan warna yang kita bawa masing2 juga harus diusapkan ke kanvas dengan keinginan membentuk karya seni yang indah.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai budayanya sendiri... kalo kita liat sekarang bangsa ini mulai kehilangan budayanya... kasian Indonesia.... padahal banyak banget budaya negeri ini. ...
Tegaknya NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) adalah berkat kekuatan pilar utama pluralisme. Pluralisme adalah sesuatu yang given, yang memang ada, disukai atau tidak disukai, mau atau tidak mau. Pluralisme tidak membutuhkan persetujuan, tetapi pengakuan, dan kemampuan untuk menyikapinya sehingga kita tidak terjebak di dalam konflik-konflik sosial.
indoruwet wrote on Jul 25, '07, edited on Jul 25, '07
Kpd. Pak Akmal
** kalo Islam jadi minoritas, ada yg menghargai gak ya...? **
Tentu ADA! Di kawasan saya bermukim keberadaan minoritas islam sangat mendapat perhatian baik, bahkan mengadakan tempat mereka beribadah dan disubsidi oleh pemerintah kawasan saya. Bagi pekerja beragama Islam diperbolehkan melakukan sholat dikerjaan. Sangatlah wajar dan logis bila minoritas harus mendapat perhatian dan dibantu oleh Mayoritas, asalkan jangan sebaliknya Mayoritas menekan minoritas, menjadi minoritas saja sudah lemah, tidak perlu dibikin lebih menderita lagi.
** tanyakanlah pada negara2 pelarang Jilbab **
Setahu saya tidak ada negara yang melarang Jilbab. Coba dicari informasi yg akurat, apakah ada negara yg mengeluarkan UU melarang Jilbab?
Kalo Pak Akmal bisa sebutkan negara mana saja .. bagi saya sesuatu yg positif utk. menambah pengetahuan saya.
indoruwet wrote on Jul 25, '07, edited on Jul 25, '07
Tidak usah muluk2 .. belajar dulu menghargai Tetangga, ketentraman lingkungan dan kebersihan .. sudah bisa belum? Belajar memupuk NIAT BAIK karena NIAT BAIK inilah sarat utama utk. segalanya.
FUNDAMENTALIS ADA DI SETIAP AGAMA BUKAN HANYA DI ISLAM SAJA, Seperti Di Inggris [irlandia]antara org protestan dan katholik. Di indonesia kadang minoritas menjadi korban kaum fundamental islam, tapi di luar negri seperti thailand (patani) dan filiphina (moro) minoritas islam jadi korbanya termasuk di australia. Utk mas Indoruwet kalau anda bertanya ada negara yang melarang jilbab ada yaitu turki yang justru mayoritas muslim, mereka melarang pegawai negeri dan istri pejabat utk memakai jilbab pada saat bekerja maupun dalam acara resmi. sebenarnya kita cukup berbahagia hidup di Indonesia walau berbeda tapi masih ada sikap toleransi antar umat beragama.